Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Karna saya mencintai nya


__ADS_3

Brak!


Ainsley terkejut saat pria itu masuk ke ruangan nya dengan membanting pintu.


"Paman, tidak memukul Sean kan?" tanya nya lirih dengan takut.


Richard langsung menarik tangan nya dan mencengkram dengan kuat lengan gadis itu.


"Bukan nya aku pernah bilang jangan menemui nya lagi?!" tanya nya dengan penuh penekanan.


Auch!


Gadis itu meringis merasakan lengan nya yang ingin remuk saat di genggam kuat oleh pria tampan itu.


"Bukan nya itu hanya peringatan saat aku masih mengandung? Sekarang kan aku sudah melahirkan anak paman? Berarti aku bebas kan?" tanya Ainsley seraya membela dirinya sendiri.


Richard terdiam sejenak dan kemudian tertawa mendengar nya, rasa cemburu dan amarah nya memuncak namun ia malah tertawa yang semakin membuat gadis itu menjadi takut.


"Benar, aku lupa itu." ucap nya setelah berhenti tertawa dengan tatapan yang menghunus bagai pedang pada gadis cantik itu.


Ainsley tersentak perubahan pria itu membuat nya takut, Richard pun melepaskan genggaman nya perlahan dan membuat gadis itu langsung mundur ke belakang beberapa langkah tanpa sadar.


"Sekarang, kau tidur saja sudah malam kan?" bisik pria itu lirih di telinga Ainsley.


Iris gadis itu bergetar sesaat namun ia tak mengatakan apapun dan beranjak ke ranjang pasien nya.


Richard pun mengikuti langkah gadis itu dan menaikkan selimut yang di gunakan Ainsley untuk menghangatkan tubuh nya.


"Good night," ucap nya dengan suara berbisik dan mengusap kening gadis itu.


"Aku akan tidur, pa-paman bisa keluar." Ainsley yang merasa perubahan mendadak pria itu adalah hal yang menakutkan.


"Tidak, aku akan tunggu sampai kau benar-benar tidur." jawab Richard menolak pergi sembari terus mengusap kening gadis itu.


10 menit...


15 menit ...


30 menit...


Tak ada lagi suara ataupun ucapan menolak usapan tangan nya, hanya suara napas lirih yang teratur terdengar dari gadis itu.


Richard mendekat menatap wajah yang kini sudah tertidur itu, tangan yang awal nya mengusap rambut nya kini menyentuh bibir merah muda tersebut.


"I'm crazy about you," ucap pria itu sembari mengecup bibir merah muda itu tanpa di ketahui sang pemilik.


Ia pun beranjak bangun dan melihat ke arah keranjang bayi nya.


"Mulai besok kau akan bersama Daddy, kita berikan hukuman untuk Mommy mu yang nakal," ucap pria itu sembari membelai lembut pipi putra kecil nya yang tengah tertidur.



Richard merapikan topi kuning di kepala putra kecil nya dan menggoyangkan keranjang bayi nya.

__ADS_1


......................


Keesokan hari nya.


Ainsley terkejut, ia langsung mencari ke segala arah.


"Axel mana?" gumam nya gelisah, ia pun langsung keluar mencari keberadaan putra nya.


Menanyakan pada perawat dan dokter nya.


"Kalian lihat putra ku? Kemarin dia masih ada?" tanya nya dengan gelisah pada para perawat.


Clarinda yang melihat putri nya dengan gelisah pun langsung datang.


"Kenapa sayang?" tanya Clarinda pada putri nya.


"Anak ku gak ada Mah," jawab Ainsley dengan gelisah.


"Maaf, Bu anak anda sudah di ambil suami anda kemarin." terang seorang perawat pada gadis itu.


"Apa?" tanya Ainsley terkejut.


Pria yang baru datang melihat kekacauan pagi itu langsung beranjak mendekat.


"Kenapa kau terlihat panik?" suara bariton yang membuat Ainsley langsung menoleh.


Ia pun langsung bergegas mendekat, "Axel mana?" tanya nya tanpa basa basi.


Richard menunjukkan smirk nya pada gadis itu, "Kita bicara di dalam."


"Maksud perawat tadi apa?" tanya Ainsley saat sudah masuk ke kamar nya.


"Apa lagi? Tentu saja mengambil putra ku, seperti yang sudah kita bicarakan sebelum nya." jawab Richard dengan enteng pada gadis itu.


Ainsley tersentak, ia menggeleng dan meraih tangan pria itu, "Dia dimana sekarang? Aku mau ketemu Axel dulu."


Pria itu menyeringai kecil saat melihat wajah panik gadis itu, ia tau kini putra nya telah menjadi kelemahan terbesar untuk mengunci hidup gadis itu.


"Tunggu? Maksud nya apa ini? Kenapa Calesta tidak boleh bertemu anak nya?" tanya Clarinda yang tak mengerti tentang apa yang terjadi saat ini.


Richard menoleh ke arah wanita itu lalu melihat ke arah wajah Ainsley, "Anda bisa tanyakan pada putri anda."


Clarinda pun menatap ke arah putri nya dengan bingung.


"Aku akan memberi tau mu, mulai sekarang kau bisa lakukan apapun semau mu, dan sesuai yang Kita BICARAKAN dulu kalau kau sudah bebas dan aku mengambil putra ku." ucap Richard yang menekankan kata pada gadis itu.


Deg!


Ainsley tersentak, "Aku masih bisa bertemu Axel kan?" tanya nya lirih dengan suara bergetar.


"Tentu tidak, bukan nya kau tidak menginginkan nya?" tanya pria itu dengan sindiran halus nya.


Dada gadis itu terasa sakit, kata-kata yang di berikan pria itu memang langsung mengenai nya, dengan semua sikap yang dulu ia lakukan saat tengah hamil.

__ADS_1


"Tapi aku..." ucap Ainsley lirih.


Richard menampilkan smirk nya dan meninggalkan gadis yang tengah kebingungan itu.


"Kau kan tidak mau anak mu, bagi mu dia hanya penghalang hubungan mu kan?" tanya pria itu yang memberikan sindiran kecil sebelum ia keluar.


Clarinda bingung, ia melihat putri nya yang terkejut sembari meneteskan bulir bening nya dan melihat pria itu yang keluar dari kamar putri nya.


"Calesta di sini dulu yah, Mamah mau bicara sama dia." ucap nya pada putri nya dan bergegas menyusul Richard.


...


Cafe rumah sakit.


Clarinda menatap ke arah pria itu sembari memperhatikan sudut wajah yang terpancar jelas jika pria itu menyukai putri nya.


"Kau menyukai Calesta kan? Lalu kenapa sekarang membuat nya tidak bisa bertemu dengan anak nya sendiri?" tanya Clarinda membuka suara.


Richard tersenyum tipis menanggapi pertanyaan tersebut, "Bukan nya anda seorang bangsawan? Mengadopsi anak yang sudah dewasa apa lagi yang hampir di daftarkan sebagai orang yang sudah meninggal akan menimbulkan masalah?"


"Aku sedang bertanya, bukan meminta mu untuk menanyai ku." jawab Clarinda pada Richard.


"Karna anda menyayanginya jadi anda ingin dia tetap tinggal bersama anda dan tidak ingin dia kembali ke keluarga nya, kan?" tanya Richard lagi.


"Sebaiknya kau jawab saja, tidak baik memisahkan mereka seperti itu." ucap Clarinda menghela napas nya.


"Alasan anda melakukan apa yang saya katakan tadi walaupun penuh resiko karna anda menyayanginya kan?" tanya Richard pada wanita itu.


"Kenapa kau selalu memut-"


"Sama, alasan saya melakukan hal ini karna saya mencinta nya." potong Richard sebelum Clarinda sempat menyelesaikan perkataan nya.


"Cinta tidak bisa hanya di lakukan satu pihak saja," jawab wanita itu setelah mendengar ucapan pria di depan nya.


"Saya bisa mencintai putri anda hanya satu pihak asalkan dia bersama saya," jawab pria itu kukuh.


"Sepertinya pembicaraan kita selesai, saya kata pergi lebih dulu." jawab Richard pada wanita itu dan beranjak bangun.


Clarinda tak bisa mengatakan apapun lagi, ia hanya menatap punggung yang kini semakin jauh dari nya.


"Aku harap Calesta bisa bahagia..." gumam nya lirih saat melihat pria itu menjauh.


Perasaan pribadi dengan perasaan sebagai ibu tentu nya berbeda, jika hanya perasaan pribadi mungkin gadis itu akan sangat senang saat ia tak lagi di kekang namun memiliki konsekuensi yang harus ia bayar.


Yaitu jauh dari putra nya atau mungkin harus memilih salah satu, rasa cinta nya atau memilih menjadi menjadi seorang ibu yang berarti memilih anak yang ia lahirkan.


...****************...



Ainsley Setya Bellen / Calesta Queta


__ADS_1


Richard Zinchanko


__ADS_2