Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
I'm so sick


__ADS_3

"Akhhh!!!!" teriak Ainsley menggema di kamar nya ia pun langsung menghancurkan komputernya tanpa sadar.


"Tidak! Tidak! Video itu tak boleh tersebar! Aku harus...


A-aku...." ucap Ainsley panik dan gelisah.


Setelah beberapa lama dalam kepanikan dan kekhawatiran berlebih dan menangis takut akhirnya Ainsley mulai memesan ponsel baru dari laptop nya, ia sangat takut untuk keluar.


Namun ia perlu ponsel untuk menghubungi seseorang, setelah pemesanan ponsel baru nya dan ketika ponsel itu sampai tak lama ponsel tersebut pun berdering, tak memiliki nama di pemanggil telpon tersebut.


Ainsley pun mulai mengangkat nya dan.


"Kau sudah lihat video nya kan? Bagaimana? Karna kau memutuskan untuk kabur, menurut mu hukuman apa yang cocok ku berikan untuk mu? Menyebarkan video nya?" ucap seorang pria dari telpon tersebut.


Ainsley sontak panik, belum ada satu jam ia mendapat ponsel baru nya sudah mendapat teror lagi. Tubuh nya langsung gemetar mendengar ucapan pria tersebut, reputasi nya benar-benar akan hancur jika sampai video dirinya tersebar.


"Ja-jangan....


Ku mohon...


A-aku akan bayar berapa pun yang kau minta..." jawab Ainsley dengan suara yang bergetar dan bercampur dengan tangis nya.


Bukan nya jawaban nominal yang ia terima, Ainsley malah mendapatkan suara tawa yang membuat gadis itu semakin gemetar ketakutan.


"Aku tak mau uang! Aku mau sesuatu yang lain!" jawab pria tersebut dari telpon.


Sekarang Ainsley sadar jika ia belum bisa kabur sama sekali dari iblis tersebut, ia hanya semakin dimainkan saat ia mencoba kabur.


Ainsley yang panik pun langsung mematikan panggilan telpon nya, ia benar-benar takut sekarang dan tak tau harus berbuat apa.


................


Skip time.


3 Hari kemudian.


Ainsley benar-benar terkejut, panggilan dan pesan ancaman terus saja berdatangan pada nya, hingga membuat nya mendengar suara ponsel saja sudah ketakutan dan tak berani memeriksa ponselnya.


Selama 3 hari terakhir ia tak bisa tidur sama sekali, setiap kali ia tertidur karna efek obat yang ia minum ia akan terbangun karna mimpi buruk, bahkan makan saja ia tak bisa. Ainsley selalu memuntahkan makanan yang ia masukkan ke mulutnya tak tau apa alasan nya. Ia hanya mengandalkan minum air putih dan vitamin saja selama 3 hari.


Ainsley tak datang kuliah atau pun berlatih piano, ia benar-benar takut keluar hingga membuatnya terus mengurung dirinya sendiri fi apart mewahnya.


Wajah nya yang semakin pucat dan tubuh yang tak memiliki tenaga serta bekas cekikan dan pukulan yang ia terima terlihat jelas, namun ia selalu menggunakan pakaian yang tertutup dan hingga menutup leher nya agar tak terlihat bekas cekikan tangan dari pria yang menculiknya.


Saat Ainsley keluar dari kamar ia pun mendengar sandi pintu nya yang berusaha di buka dari luar.


"Mamah?" ucap Ainsley saat sandi pintu nya di buka dari luar, yang tau sandi apartnya hanya orangtua nya dan Sean.


Saat pintu terbuka Ainsley pun melihat sang Ibu yang berjalan ke arah nya dengan wajah yang penuh amarah.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di wajah pucat hingga membuat tubuh nya yang lemah itu langsung tersungkur ke lantai.


"Kemana kau tiga hari ini?! Kenapa tak datang latihan ataupun kuliah?! Kau mau bermalas-malasan sekarang?! Sudah merasa pandai?! Ha?!" cerca Fanny yang merupakan ibu Ainsley, ia menanyai putri nya sambil memukuli kepala Ainsley yang terduduk di lantai karna terjatuh akibat tamparan nya tadi.


"Sakit mah....

__ADS_1


Jangan di pukul lagi...." ucap Ainsley dengan suara tertahan hampir sembari melindungi kepala nya dari pukulan sang ibu.


"Nangis! Kalau sudah begini kau hanya bisa menangis! Konser mu sebentar lagi! Dan kau tau siapa saja yang datang?! Semua politisi dan rekan ayah mu juga datang! Kau mau membuat malu keluarga mu sendiri?! Ha?" cerca Fanny dan semakin mengeraskan pukulan di kepala putri nya, tak peduli apapun.


"Maaf mah...


Maaf..." ucap Ainsley lirih pada sang ibu dan sudah menjatuhkan semua bulir bening nya dari mata sayunya. Ia terus saja berusaha melindungi kepala nya dari pukulan ibunya.


"Dasar anak sial!" ucap Fanny semakin kesal saat melihat putrinya dan semakin memukul putrinya secara bertubi-tubi, ia sudah terbiasa menjadi Ainsley sebagai objek pelampiasan amarah nya, terutama jika ia bertengkar dengan suaminya.


"Mah...


Berhenti mah...


Sakit....


Ainsley sakit mah...


Sakit sekali...." ucap Ainsley lirih dengan suara yang tertahan karna tangis nya.


Fanny pun memberhentikan pukulan nya sebentar ketika mendengar rintihan Ainsley, ia tau putrinya tak pernah memohon seperti itu walau sebanyak apapun pukulan yang ia layangkan pada putri nya. Walau kadang Ainsley juga sesekali memohon pada nya untuk berhenti memukul dirinya.


Ainsley sendiri merasa tak tahan dengan semua tekanan yang ia terima, trauma karna penculikan nya dan pelecehan yang ia alami saja belum sembuh di tambah lagi dengan pesan dan panggilan ancaman setiap hari semakin membuat gadis cantik itu tertekan.


Dan kini ia harus menghadapi amarah dari nyonya Belen? Ia lebih suka memanggil ibunya dengan sebutan nyonya Belen karna dengan begitu ia tak akan terlalu mengharapkan kasih sayang ibunya.


"Kau benar-benar sakit?" tanya Fanny dan mulai berjongkok melihat wajah putrinya yang tertutup rambut panjang nya.


Ia pun melihat wajah pucat putrinya yang benar-benar tak terlihat segar sedikit pun dan memar di wajah putri nya, memar yang bercampur dengan pukulan Richard dan pukulan nya barusan.


Deg...


"Kau tak demam, lalu sakit di bagian mana?!" tanya Fanny dengan nada acuh tak acuhnya.


"Semuanya mah...


Fisik sama hati ku sakit mah..." batin Ainsley saat sang ibu menanyai nya, namun ia tak dapat mengatakan apa yang terjadi padanya sebenarnya.


"Mah...


Ainsley sakit mah...


Sakit sekali..." ucap Ainsley menangis sembari menatap sendu ibunya.


Fanny memalingkan wajahnya, ia tak bisa memandang wajah Ainsley yang menatapnya dengan penuh sayu seperti itu, karna ia akan merasa bersalah telah membuat Ainsley merasa sakit, dan ia juga tak menginginkan perasaan itu sama seperti tak menginginkan kelahiran Ainsley.


"Kalau kau sakit yah kerumah sakit! Aku bukan dokter! Untuk apa kau mengeluh pada ku?!" ucap Fanny ketus pada Ainsley.


Ainsley hanya diam dan memejamkan mata nya sesaat mendengar jawaban ketus ibunya, bulir nya semakin meleleh ketika melihat ke arah sang ibu, ia tau jika ibunya memang tak pernah mengucapkan kalimat manis pada nya, namun saat ini ia benar-benar membutuhkan seseorang, ia benar-benar membutuhkan sosok ibu.


"Mah..." panggil Ainsley lirih dengan suara serak karna tangis nya.


Fanny tak menjawab dan hanya melirik ke arah Ainsley.


"Ainsley boleh gak mah, peluk mamah sekali? Sekali aja mah..." pinta Ainsley sembari menggapai tangan ibunya yang sedang di hadapan nya dengan wajah penuh pengharapan yang besar.


Ia benar-benar menginginkan pelukan ibunya, pelukan hangat yang hanya ia tau dari buku dan film yang ia lihat tanpa pernah merasakan nya sendiri. Pelukan yang bisa menenangkan nya saat ia sedang kalut seperti ini.

__ADS_1


"Ckk, tidak usah cengeng! Jangan terlalu manja!" ucap Fanny ketus dan langsung menepis tangan Ainsley yang sedang memegang erat tangan nya.


"Ainsley manja gimana mah? Ainsley selalu berusaha jadi anak mandiri, biar gak ngerepotin mamah..." batin Ainsley yang semakin terluka karna ucapan sang ibu.


Ainsley pun mencoba menggapai tangan ibunya lagi, namun Fanny langsung menepis nya lagi.


"Mah..." panggil Ainsley lirih dengan suara serak nya.


Fanny hanya menatap datar ke wajah putrinya yang sedang menangis dan melihat penuh pengharapan padanya.


"Kau tau? Aku seperti ini bukan salah ku sepenuhnya! Kau seharusnya tak pernah lahir...


Aku tak pernah menginginkan mu! Jadi jangan pernah salahkan sikap ku." ucap Fanny sembari mengelus rambut Ainsley perlahan.


Deg...


Dada Ainsley semakin sesak mendengar ucapan ibunya, ucapan yang lembut namun sangat menusuk di hatinya. Ia tau kata-kata seperti.


*Anak Sial!


Kau seharusnya tak pernah lahir!


Pembawa Sial!


Dasar anak bodoh*!


Selalu ia dengar dari mulut ibunya, namun apakah ia harus mendengar kata-kata sekarang? Saat ia benar-benar terjatuh dan sangat membutuhkan sosok seorang ibu?


Fanny pun mulai bangun dan melihat ke arah Ainsley yang masih terduduk di lantai dan semakin menjatuhkan bulir bening nya.


"Aku akan memangil dokter untuk memeriksa mu, setelah itu pastikan kau kembali latihan! Aku tak mau ada kesalahan apapun selama konser mu!" ucap Fanny dengan wajah datar dan berbalik meninggalkan Ainsley.


"Oh ya, kau juga sebentar lagi ujian kan? Aku juga tak ingin melihat nilai mu turun! Awas saja jika sampai aku menemukan sedikit kesalahan!" ucap Fanny saat ia di ambang pintu keluar apart Ainsley.


BLAM!!!


Fanny yang menutup keras pintu Ainsley hingga membuat gadis cantik itu tersentak kaget.


Ainsley hanya mengikuti kemana arah punggung ibunya pergi dengan semakin menjatuhkan bulir bening nya.


"Mah...


Ainsley salah apa mah? Kenapa mamah benci sama Ainsley...


Karna Ainsley lahir yah mah?


Karna Ainsley ada?


Ainsley juga ga pernah minta di lahirin mah..." ucap Ainsley lirih saat ia sudah kembali sendirian di apart nya dan terus memandang ke arah pintu tempat dimana ibunya baru keluar.


...****************...


Ya ampun mbak Ainsley🤧


Kuat yah sampe babang Sean pulang, biar kamu di peluk dia🤧🤧


Jangan lupa like komen vote fav rate 5 dan dukung othor🥰🥰❤️❤️

__ADS_1


Happy Reading❤️❤️❤️


__ADS_2