
Prancis
Prang!
"Padahal kan aku sudah bilang mau hati-hati! Kenapa bisa sampai begini?!" tanya wanita itu dengan amarah nya.
"Sayang? Karna sudah begini kau batalkan saja yah pertunangan mu? Bukan maksud ku perjodohan itu," ucap pria yang masih memakai pakaian tidur yang di lilitkan di tubuh nya.
Wanita cantik itu berdecak kesal, ia tak mau melepaskan ikan besar seperti tangkapan paus itu.
"Marilyn? Kau dengar aku? Aku juga bisa menghidupi mu, aku bisa memberikan semua yang kau inginkan! Kenapa harus sama dia?!" tanya Josh yang tak mengerti dengan jalan pikiran kekasih nya.
"Josh? Kau mencintai ku kan? Kau mau aku bahagia kan? Anak ini jangan sampai ada yang tau, aku akan mengurus nya jadi kau hanya per-"
"Tunggu? Maksud mu kau mau mengugurkan nya? Tidak! Aku tidak mau!" ucap pria itu yang langsung memotong.
"Bukan! Aku tidak akan melakukan nya, aku punya rencana lain, kita juga bisa mendapatkan nya sekaligus!" ucap Marilyn tersenyum.
Josh membuang napas nya dengan kasar, ia tak mengerti kenapa wanita itu sangat memiliki ambisi dan obsesi yang besar untuk mendapatkan kekuasaan.
"Apa yang membuat mu sangat berambisi?" tanya Josh dengan kesal pada wanita yang memiliki hubungan rahasia nya.
"Kalau saja kau punya perusahaan yang besar seperti Sation aku juga tidak seperti ini!" ucap Marilyn berdecak.
Ia tau kekasih nya saat ini memang bukanlah seseorang yang memiliki kekuasaan yang penuh seperti Sation karna pria itu berasal dari keluarga terhormat bukan konglomerat.
Ayah yang merupakan anggota dewan dan Ibu yang merupakan profesor di sebuah universitas tentu nya hal seperti itu tak akan bisa memuaskan ambisi nya.
Josh diam sejenak, "Kau juga mencintai ku kan? Kau hanya memerlukan kekuasaan nya saja kan?" tanya pria itu sembari memeluk wanita di depan nya.
"Tentu," jawab Marilyn dengan smirk nya.
......................
Netherland
Aroma mawar dengan kepulan asap yang memiliki wangi kopi harum di pagi yang hangat.
"Aku juga mau kopi nya," ucap Ainsley saat melihat suaminya menyeduh teh hangat dan meminum nya.
"Ini bukan kopi yang biasa kau minum, kopi pahit." jawab Richard sembari mendekat ke arah wanita itu.
"Tapi Mau..." jawab Ainsley lirih.
"Tumben mau yang gak biasa nya? Hamil?" tanya pria itu tersenyum menggoda istri nya yang masih memiliki wajah pucat pasi.
Buk!
Tangan kecil dengan tenaga lemah itu memukul pundak kekar pria di depan nya.
Richard tertawa, ia masih bingung bagaimana caranya menghilangkan perasaan wanita itu dengan mantan kekasih nya, bahkan saat mengingat sepenggal ingatan tentang percakapan mereka semalam rasa nya ia masih sangat kesal.
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi wanita itu, "Lagi pula aku juga tidak berencana ingin punya anak lagi."
Masalah pinggul kecil yang di miliki istri nya membuat nya merasa khawatir saat persalinan sebelum nya.
Dan baginya memiliki satu pengikat saja sudah cukup untuk membuat wanita itu tidak kabur dari nya.
"Kenapa?" tanya Ainsley yang lolos keluar begitu saja.
Pria itu tersenyum, "Kenapa tanya? Kau mau punya anak dari ku lagi? Apa kita beri Axel adik saja?"
"Ha? Apa? Ti-tidak!" jawab Ainsley terkejut.
"Nanti aku pesankan latte untuk mu," ucap Richard dengan tawa nya.
Ainsley diam tak menjawab nya, rasa nya ia kesal namun ia tak bisa menang dalam pembicaraan ini.
Pukul 08.35 pm
Bayi mungil menggemaskan dengan mata binar dan senyum cerah nya.
"Axel? Kangen Mommy?" tanya Ainsley sembari bermain dengan putra nya yang menggemaskan.
Wajah gemas dengan pipi bulat serta senyuman yang membuat wanita itu mencium putra nya berkali-kali.
"Sudah? Sini, dia di bawa pulang saja." ucap Richard yang ingin mengambil putra nya dari gendongan sang ibu.
"Aku bisa ikut pulang kan? Lagi pula aku juga cuma kebanyakan minum obat aja," ucap Ainsley pada pria itu.
"Di sini saja dulu sampai benar-benar pulih," jawab Richard pada Ainsley.
"Tapi obat yang di sini beda sama yang biasa ku minum!" jawab Ainsley tak suka, ia secara naluriah sudah kecanduan akan obat-obatan yang di berikan suami nya.
"Beda nya? Sakit kepala mu hilang juga kan?" tanya pria itu yang sedang pura-pura tak tau tentang obat-obatan yang ia berikan.
"Beda, aku gak tau beda nya di mana..." jawab Ainsley lirih yang juga bingung kenapa ia sangat ingin meminum obat yang di berikan pria itu di bandingkan dengan dokter.
Richard hanya bernapas kasar, ia pun bangun dan mulai mendekat ke arah putra yang berada dalam gendongan wanita cantik itu.
Ainsley memeluk putra nya dengan erat seakan enggan memberikan nya, "Axel di sini saja yah? Aku masih mau main sama dia."
Richard tak membalas perkataan apapun, ia mendekat dan hanya mengecup dahi wanita itu.
"Hari ini saja, lingkungan rumah sakit tidak bagus untuk nya." ucap nya sembari mengusap rambut wanita itu.
Pukul 11.35 pm
Pria itu menatap ke arah wanita yang hanya melihat ke arah putra menggemaskan mereka yang sedang tertidur di pertengahan tubuh mereka.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" tanya Richard sembari menatap ke arah istri nya.
"Paman juga belum tidur kan?" jawab Ainsley tanpa melihat ke arah pria itu dan hanya terfokus pada putra nya.
Cup!
Wanita itu terperanjat, satu kecupan melayang di bibir nya dengan tiba-tiba hingga membuatnya menoleh.
"Kalau dia bangun bagaimana?" tanya Ainsley yang kini membalas iris yang tertuju pada nya.
Ranjang sebenarnya hanya cukup untuk dua orang berpelukan itu kini harus menyusahkan ruang lagi untuk bayi mungil menggemaskan yang tidur di tengah nya.
"Kau lupa panggilan? Kita sudah menikah jadi kau bisa berhenti memanggil ku dengan paman," ucap pria itu saat melihat ke arah wanita di depan nya.
"Kapan aku panggil paman?" tanya Ainsley mengernyit.
Memang terkadang seseorang melupakan kebiasaan panggilan apa yang baru saja ia ucapkan.
"Barusan," jawab pria itu singkat.
"Benarkah?" tanya Ainsley sembari menginat apa yang baru ia katakan.
"Panggil nama ku," jawab pria itu dengan pandangan lekat tanpa ingin melepaskan nya.
"Richard," Ainsley yang langsung refleks menyebut nama pria itu saat di minta.
Deg!
Pria itu selalu suka jika nama nya di sebut oleh wanita di depan nya, rasa nya berbeda di bandingan orang lain.
"I Love you," ucap pria itu lirih.
Tak ada balasan, Ainsley sendiri bingung jika harus menjawab nya.
Sejenak tatapan mata yang melihat ke arah nya membuat nya tak bisa memalingkan nya sejenak.
"I Know," jawab singkat wanita itu, entah kenapa lidah nya merasa kelu untuk membalas pengakuan pria itu.
"Aku boleh tanya satu hal?" tanya Richard pada wanita itu.
Ainsley tak membalas namun ia tetap menatap menandakan membiarkan pria itu bertanya.
"Kalau misal nya aku memberikan hak asuh Axel pada mu dulu, apa kau akan menikah dengan nya?" tanya pria itu.
Ainsley diam sejenak dan menarik napas nya lalu membuang pandangan mata nya.
Kalau ia bisa jujur tentu nya ia ingin kembali pada 'rumah lama' nya namun tak mungkin ia meninggalkan putra nya.
"Kau benar-benar akan melakukan nya?!" tanya pria itu lagi dengan nada ketus dan tawa ringan.
"Dari pada berpikir untuk sesuatu yang tidak terjadi kenapa kita tidak fokus untuk yang saat ini saja? Seandainya atau kata-kata misal nya, bukan nya itu untuk sesuatu yang belum terjadi?" tanya Ainsley sembari membuang napas nya.
"Berarti aku tidak pernah masuk dalam pilihan mu?" tanya pria itu lagi.
"Kau yang harus nya berhenti untuk perasaan mu dengan nya!" ucap Richard pada wanita cantik di depan nya.
"Aku juga lagi berusaha! Siapa yang bahas duluan?" tanya Ainsley tak habis pikir hingga mengeraskan suara nya tanpa sengaja.
Enhh...
Baby Axel mulai menggeliat, ia seperti ingin terbangun karna terganggu dengan pertengkaran kecil orang tua nya.
"Sstt..."
"Mommy di sini," Ainsley yang langsung menoleh dan menepuk-nepuk bayi nya agar tak sempat bangun dan menangis.
"Sebaiknya kau lebih cepat melupakan nya, karna aku tidak punya niatan sedikitpun untuk melepaskan mu!" ucap pria dengan penuh penekanan dan nada ancaman yang tersirat di dalam nya.
Ainsley tak membalas ia hanya diam sembari berfokus pada bayi mungil nya saja, ia tak tau kenapa sekarang seperti posisi nya yang salah.
Padahal ia sama sekali tak mengungkit sedikitpun tentang mantan kekasih nya, da perasaan nya? Ia sedang mencoba mengendalikan nya.
"Yang perlu kau pikirkan sekarang hanya aku, anak kita dan diri mu saja." ucap pria itu mendekat sembari mengusap pipi bulat putra mereka yang kembali tertidur pulas.
"Kau mau Axel bahagia kan?" sambung nya lagi sembari melihat kelemahan terbesar wanita cantik itu.
Ainsley menjawab dengan satu anggukan kecil sembari terus menepuk putra nya.
"Kalau begitu dia harus punya orang tua yang saling mencintai kan? Kalau dia tau orang tua nya menikah tanpa cinta atau mungkin kelahiran nya tidak di inginkan dia pasti terluka, kau mau melukai nya?" tanya pria itu lagi.
Hanya permainan pola pikir yang ia berikan secara terus menerus, jika semua yang akan terjadi itu karna kesalahan wanita di depan nya.
"Keluarga?" ucap Ainsley lirih, "Kita harus jadi keluarga kan? Dia harus di besarkan dengan kasih sayang seperti itu kan?"
"Hm, seperti itu." jawab pria itu sembari mengecup sekilas dahi istri nya.
......................
Prancis
Aroma wine yang tercium bersamaan dengan aroma asap daging lembut yang yang di panggang bersamaan tentu nya menyatu dan dapat membuat siapa pun menginginkan nya.
Pembicaraan yang bagi pria itu sangat membosankan tentu nya ingin segera membuat nya pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kami masih dalam pendekatan," ucap Marilyn dengan senyum tipis nya yang menampilkan kesan elegan semakin membuat Daniel ingin menjadikan nya sebagai menantu.
Para orang tua itu bahkan sudah berencana mengatur tanggal pertunangan anak-anak mereka.
"Aku tidak setuju," ucap Sean menyela.
"Sean!" bentak Daniel seketika.
__ADS_1
"Ini hidup ku! Bukan hidup mu, tidak usah bersikap seperti ayah ku sekarang," ucap nua dengan sepenggal kalimat singkat dan kemudian beranjak keluar dari dinner room di hotel mewah tersebut.
Marilyn mengusap bibir nya dengan tissu dab menyimpan senyum di balik nya, sembari melirik ke arah gelas wine pria itu yang berkurang.
"Aku akan mengejar nya," ucap Wanita itu sembari beranjak meninggalkan sang ayah dengan calon ayah mertua nya.
Suara langkah yang beradu memakai heels tersebut terdengar memenuhi lorong, ia tau pria itu tak akan bisa pergi lebih jauh.
"Sean? Kau baik-baik saja?" tanya Marilyn yang langsung menangkap tubuh kekar itu.
Ia tersenyum dan mulai memapah tubuh kekar itu ke salah satu kamar yang sudah ia pesan sebelum nya.
...
Bruk!
Tubuh yang berat dan penuh dengan otot itu di rebahkan nya ke atas ranjang empuk berukuran besar.
"I got you!" ucap nya tersenyum tipis sembari membuka jas yang di kenakan pria itu.
Kepala Sean terasa berputar seperti ingin kehilangan akal sehat nya.
Ainsley?
Batin nya saat melihat pandangan wanita yang kini mulai membuka kemeja nya.
Deg!
Obat bius nya mulai dapat ia kendalikan, alasan ia berusaha semaksimal mungkin untuk menahan bius kesadaran seperti ini agar tak di celakai oleh ibu atau saudara tiri nya dulu.
"Mau apa kau?" tanya nya yang langsung memegang tangan lentik itu dan menghentikan gerakan yang ingin melepas kemeja nya.
Sean memegang tangan nya lalu menarik dan membalik tubuh nya hingga Marilyn berada di dalam kungkungan nya.
"Kau bersikap seperti pelacur hanya karna ingin tunangan?" tanya Sean dengan senyum yang seakan merendahkan wanita tersebut.
Marilyn menggertakkan gigi nya karna ia merasa harga dirinya terluka namun ia juga harus menahan sedikit hinaan untuk mendapatkan tangkapan yang lebih besar.
"Walaupun kau bisa tahan dengan obat tidur kau mungkin tidak akan tahan dengan obat perangsang," ucap nya terang-terangan dengan senyum tipis nya.
"Apa tujuan mu?" tanya Sean mengernyit sat ia mulai merasakan panas dingin di tubuh nya ketika obat perangsang tersebut mulai menyebar.
"Tentu saja menikah dengan mu," jawab wanita itu dengan ringan.
"Ku rasa tidak sesederhana itu," jawab Sean sembari mulai melepaskan kungkungan nya dan beranjak bangun.
Marilyn diam sejenak, sebenarnya alasan memang hal yang seakan sepele namun baginya hal itu merupakan alasan yang cukup kuat.
Diabaikan di kencan pertama nya membuat harga diri wanita itu terluka dan tentu nya hak tersebut memberikan kesan yang kuat ingin membuat nya menaklukan pria tersebut.
Belum lagi sifat serakah nya yang selalu ingin mendapatkan hal lebih tentu nya semakin ingin menikah dengan seseorang yang memiliki kekuasaan serta harta yang melimpah.
"Anggap saja sederhana dan nikmati malam ini," ucap nya tersenyum sembari menyusul langkah pria itu.
Ia menarik tangan kekar itu dan membalik nya lalu mel*mat bibir Sean tiba-tiba hingga mendorong nya ke dinding.
Sean tersentak namun ia mendorong tubuh ramping itu hingga lum*tan agresif itu terlepas.
Ia mulai tertawa lepas sejenak lalu berhenti dan menatap datar, "Dasar pel*cur, baik aku akan memberikan nya."
Senyuman simpul tertarik di wajah pria itu dan memandang rendah, namun ia juga membutuhkan pelepasan karna ia di berikan obat yang membangkitkan gairah nya.
Cinta?
Tentu saja ia tidak mencintai wanita di depan nya saat ini dan masih mencintai mantan kekasih nya, namun ia tau gadis menggemaskan milik nya dulu tidak akan kembali pada nya dan ia harus menjalani hidup nya juga.
Entah itu dengan alkohol, pekerjaan ataupun wanita untuk menghilangkan rasa kesepian nya.
Bruk!
Ia melempar kasar tubuh ramping itu ke ranjang dan mulai menindih nya.
"Kau tau? Aku suka bermain kasar, terkhususnya lagi untuk jenis wanita seperti mu." ucap pria itu sembari menarik gaun berwarna biru gelap yang melekat di tubuh ramping itu.
Marilyn tersenyum, permainan kasar atau lembut ia menyukai semua nya karna ia sudah pernah mencoba semua nya dengan pria-pria lain sebelum nya.
Dan ia hanya tinggal mengakui jika anak yang berada dalam perut nya saat ini adalah anak pria itu dan melangsungkan pernikahan.
...****************...
Oh iya jangan lupa dukungan nya buat othor yah biar othor nya makin semangat nulis nya.
Othor bukan nya ga mau up tiap hari tapi memang lagi ga punya waktu untuk itu aja.
Kalau di tanya, "Thor mau dobble up gak?" atau "Crazy up dong Thor," othor mau banget yah jawaban nya.
Tapi karna sekarang memang lagi di semester akhir jadi buat nya juga curi" waktu senggang,
Othor nya juga lagi buat proposal terus PBL belum lagi revisi nya sesuai terus dalam waktu dekat ini juga bakal sempro abis sempro lanjut PKL abis itu penelitian sesuai dengan yang othor buat.
Padet banget pokok nya, kemarin juga sempet drop waktu PBL, mungkin karna terkejut badan othor nya tiba-tiba di press buat ngerjain semua deadline nya.
Dan kalau ada yang di sini baca novel ketiga othor yang "(Love hurts!)Trapped by Mr mafia" pasti tau kalo yang itu lebih lama up nya karna memang othor mau fokus buat tamarin di sini dulu.
Tapi othor mau lebih fokus lagi buat tamarin kuliah othor dulu, biar bisa tamat tepat waktu๐คง
Jadi sekian curhatan othor nya, dan othor mau bilang kalo othor ttp luv kok sama readers kesayangan othor๐๐๐
Happy reading & happy weekend๐๐๐
Oh iya othor juga mau minta maaf untuk ketidaknyamanan atas up yang tidak menentu๐๐๐
__ADS_1
Mohon maklum yah๐
Salam penuh cinta dari othor๐๐๐๐๐๐