
Pria itu menggendong tubuh putra nya yang terluka, punggung yang terus memberikan cairan merah kental di tangan nya dan terlihat beberapa bekas sayatan di tubuh anak malang itu.
"Sebentar lagi yah sayang..." ucap nya sembari mengecup kening putra nya dengan pelan.
Jantung nya berdegup kencang, ia merasa panik, takut dan gelisah di saat yang bersamaan saat melihat kondisi putra nya.
Pemeriksaan seluruh tubuh, dan juga perawatan intensif segera di jalankan pada Axel yang masih belum sadar sama sekali.
Pria itu hanya diam namun ia berharap agar putra nya bisa kembali seperti semula.
......................
Suara ban ranjang yang terdengar memenuhi lorong sebelum memasuki ruang operasi membuat pria itu melihat dengan tatapan khawatir dan kesal pada pria berlumuran darah di depan nya.
Para dokter dengan pasien yang berada di atas tempat tidur yang bisa bergerak itu pun menghilang di balik pintu.
"Argh! Kenapa dia harus ikut campur hal seperti itu?" decak sekertaris Jhon dengan kesal.
Awal nya ia ingin memberi tau Daniel tentang masalah putra nya namun Sean yang sudah lebih dulu memberi tau nya untuk tidak mengabari apapun.
Walaupun awalnya hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan namun semakin lama ia bekerja ia pun mulai terbangun hubungan kekerabatan dan keakraban satu sama lain hingga membuat nya bisa ikut merasa khawatir
......................
Mansion Zinchanko
Ainsley terlihat gelisah, ia tak bisa keluar ataupun menanyakan kondisi putra nya, malam yang semakin larut namun belum ada kabar apapun.
"Dia berhasil kan?" gumam nya lirih sembari tenggelam dalam rasa takut nya.
Jika saja ia kehilangan putra nya maka hal itu sudah sama seperti kehilangan segala kehidupan yang ia miliki.
Wajah nya memerah karna tangis nya yang semakin luruh, hati nya terus berharap keselamatan putra nya.
...
Pagi mulai menyingsing, namun tak ada tanda-tanda suami nya kembali dari tadi malam.
Ia terbangun di tengah tidur nya yang tak nyenyak sama sekali, ia bahkan tak tau kapan ia memejam karna hanya menangis semalaman.
Tak ada yang bisa ia lakukan, ia terkurung dan tak ada sambungan informasi yang di berikan pada nya.
Bahkan ponsel pun juga tak boleh ia pegang.
"Kau tidak tidur di kamar?"
Suara yang sangat ia kenali membuat nya terperanjat, ia pun langsung berbalik menoleh menatap ke arah pintu ruang utama itu menatap pria yang terlihat penuh dengan noda adalah di sekujur tubuh nya.
Ainsley terkejut, ia mendekat ke arah pria itu dan meraih tangan nya.
"Kau baik-baik saja? Axel bagaimana?" tanya nya lirih dengan buliran cairan bening yang jatuh dari kelopak mata nya.
Tak ada jawaban, pria itu hanya mengangkat tangan nya dan ingin mengusap air mata yang jatuh ke pipi istri nya namun tangan nya terhenti begitu melihat sisa darah yang belum terhapus nya.
"Aku mendapatkan nya," ucap nya sembari menarik tangan nya tak jadi mengusap air mata istri nya.
"Dia baik-baik saja? Di mana dia?" tanya Ainsley dengan mata yang sangat membutuhkan jawaban tentang kabar putra nya yang menggemaskan
Pria itu kembali bungkam tak menjawab apa yang menjadi pertanyaan istri nya, ia hanya menatap dengan iris yang penuh pertanyaan.
Richard pun menatap ke arah lain tak melihat wajah istri nya, ia memilih berlalu dan membersihkan diri nya lebih dulu.
Ainsley mengikuti langkah pria itu, ia membutuhkan jawaban dengan segara sembari menatap dalam wajah pria yang seakan mengabaikan kekhawatiran nya.
"Richard! Tunggu aku! Axel bagaimana?" tanya Ainsley pada pria itu.
Richard berbalik menatap sang istri dan melihat iris hijau yang penuh khawatiran.
Sedangkan ia juga sama, rasa khawatir, gelisah takut dan juga penuh dengan rasa curiga menjadi satu pada nya.
Ia mendekat ke arah wanita itu, aroma anyir darah pun langsung tercium bagai parfum yang melekat di tubuh nya namun hal itu tak membuat Ainsley takut karna semua ketakutan nya tengah tertuju pada putra nya.
"Pria kesayangan mu yang membuat anak mu terluka," bisik nya pada sang istri.
Bukan tak mungkin ia berpikir seperti itu, putra nya yang penuh dengan darah, tempat utama penyandraan dan juga kiriman lokasi semua itu bahkan ada pria yang dulu nya menjadi saingan cinta nya.
Tak ada alasan yang bisa di gunakan dan alasan yang cukup logis di pikiran nya untuk mengerti jika pria itu mau menyelamatkan anak yang menjadi penghalang hubungan nya.
Di bandingkan menyelamatkan anak yang menjadi penghalang hubungan nya, lebih cocok dan logis jika membunuh anak yang menjadi penghalang hubungan nya sekaligus darah daging dari pria yang mengambil wanita yang dia cintai.
Ainsley menggeleng mendengar nya, ia tak percaya apa yang di katakan pria itu, karna ia tau sejahat apapun mantan kekasih nya pada dirinya dulu namun pria itu tak pernah menargetkan anak-anak.
"Bohong! Sean itu bukan orang seperti itu!" sanggah nya langsung menolak apa yang di katakan suami nya.
Richard hanya tersenyum sinis mendengar nya, ia berbalik dan memilih membersihkan diri nya lebih dulu.
Seperti sebuah kebiasaan baru dari nya semenjak ia menikah, jika ia tak ingin menunjukkan sisi gelap nya yang seperti ini pada wanita itu.
Ainsley terdiam beberapa saat, ia tak percaya bahkan tak mau percaya hal tersebut.
Suara guyuran air terdengar dari balik kamar mandi di kamar nya itu, ia melihat ke arah suara sembari menunggu di ujung ranjang.
__ADS_1
Pria itu keluar menggunakan mantel mandi nya dan melewati nya tanpa sepatah kata pun, namun wanita itu tak akan memiliki kesabaran lagi jika menunggu untuk selesai berpakaian karna ini memang bukan waktu yang tepat untuk bersantai.
Bentuk otot yang sempurna nya perut yang berbentuk terlihat jelas serta bekas luka dan juga banyak lebam yang ikut terlihat di tubuh bidang itu karna perkelahian nya dari pria yang kini ingin mengambil pakaian atas nya.
"Axel di mana?" tanya nya lagi menatap ke arah suami nya.
Masih diam tak ada jawaban dari bibir pria itu, "Kau sangat suka dengan mantan mu kan? Sekarang anak mu kritis karna pria yang sangat kau cintai itu!"
Kali ini ia membalas ucapan wanita nya, ia memang sengaja tak mengatakan apapun agar tak tersulut emosi apa lagi istri nya yang jelas-jelas membela pria yang ia anggap sudah mencelakai putra nya.
"Cukup! Berhenti mengatakan hal buruk! Aku kenal Sean! Dia tidak akan melukai Axel!" jawab nya tanpa sadar pada suami nya.
Richard tertawa pahit mendengar nya, kini istri nya sudah menyebut dengan jelas nama dan juga membela pria itu terang-terangan.
"Aku menembak nya, ku harap dia bisa mati kali ini." ucap nya dengan tatapan tajam.
Deg!
Ainsley tersentak belum lagi masalah putra nya selesai, kini pria yang bahkan masih tersimpan di hari sudut hati nya yang lain juga sedang terluka.
Ia menggeleng meraih pria itu, "Kali ini percaya aku, aku yakin dia tidak ada hubungan nya. Lalu kita? Kita harus fokus ke Axel juga kan?" ucap nya dengan nada memohon.
"Sebenar nya kau itu memang menyayangi Axel? Atau menggunakan dia sebagai tameng mu? Hm?" tanya nya menatap wanita di depan nya.
Ainsley mengernyit tak mengerti sedangkan pria itu menatap nya dengan tatapan marah, kecewa dan juga gelisah.
Banyak hal yang terjadi dan ia tau dalam waktu sekejap membuat nya semakin mencurigai sekitar nya.
"Apa maksud mu? Aku menyayangi Axel! Dia anak ku!" ucap Ainsley seketika.
Pria itu masih diam, tak mengatakan apapun dan menatap wajah sang istri.
"Kalau misal nya aku melepaskan mu saat ini juga kau akan tetap tinggal dengan ku atau pergi dengan pria itu?" tanya Richard.
Selagi menunggu operasi putra nya yang mengalami patah tulang, pendarahan, dan juga gegar otak karna pukulan sebelum nya. Liam datang memberikan rekaman di sekitar sekolah.
Walau tak semua nya terekam titik cctv termasuk kejadian penculikan karna berada cukup jauh dari wilayah jangkauan sekolah namun ada beberapa rekaman yang membuat nya terkejut.
Putra nya yang terlihat dekat dengan pria yang ia benci dan juga pertemuan istri nya dengan pria itu.
Bahkan mereka sempat berbincang sejenak berdua saja ketika putra nya terlihat senang saat membeli makanan yang tak jauh di sekitar mereka.
Ainsley menatap bingung ke arah pria itu, tapi ia tetap menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku memilih mu," ucap nya menatap pria di depan nya.
Richard diam sejenak menatap iris hijau itu yang terlihat tak ragu sama sekali.
Yang ada di pikiran nya bagaimana cara nya menjaga senyuman menggemaskan milik putra nya tetap ada.
Deg!
Kini pria itu tau, selagi masih ada pengikat nya wanita itu tak akan meninggalkan nya, namun walaupun itu jawaban yang ingin ia dengar entah kenapa hati nya merasa sakit.
"Kalau aku bukan Daddy Axel, kalau aku melepaskan kalian berdua, kau akan tetap bersama ku?" tanya nya lagi.
Ainsley diam, ia menatap bingung ke arah pria itu yang tiba-tiba menanyakan hal yang lain sedangkan pikiran nya dipenuhi dengan putra nya.
"Kau ini kenapa? Ini bukan hal yang harus di bahas! Sekarang Ax- Ugh!" ucapan nya terputus, rahang nya di cengkram kuat oleh pria itu hingga membuat nya meringis.
"Apa kalian merencanakan ini sebelum nya? Kau tau kalau dia terus menemui Axel tapi tidak mengatakan apapun!" ucap nya sembari mendorong perlahan wanita itu ke dinding.
Ainsley meringis, ia tersentak menatap pria itu. Ia memang tau dan tak mengatakan nya karna ia pikir tak ingin menambah perseteruan dan juga sudah mengatakan pada putra nya untuk tak lagi menemui paman baik nya.
Dan ia pikir putra kesayangan nya mendengar kan ucapan nya karna Axel yang mengiyakan apa yang ia katakan.
"Kenapa kau tidak bisa percaya aku?! Rencana? Kau pikir aku mau melakukan sesuatu yang menyakiti Axel!" ucap nya yang kini tak bisa menahan rasa emosional nya.
Rasa curiga, cemburu, posesif yang berlebihan sungguh membuat nya lelah hingga ia tak bisa menahan nya, kesalahan dan kecurigaan walau ia tak melakukan apapun selalu menjadi lawan pria itu bersikap kasar.
"Siapa yang tau? Kau sangat menyukai nya kan? Kalian bahkan punya pertemuan diam-diam lalu tidak lama setelah itu Axel di culik itu pun dengan pria sialan itu!" bentak pria jtu yang juga sedari tadi menahan rasa emosi nya.
Ainsley diam mendengar, diantara semua tuduhan, tuduhan ini lah yang paling menyakiti nya.
"Maksud mu aku membuat rencana menyingkirkan anak ku sendiri?" tanya nya dengan suara tertahan dan tercekat di tenggorokan nya.
"Bukan nya begitu? Kalau saja Axel tidak ada, kau juga tidak akan ragu meninggalkan ku kan?" tanya Richard pada wanita itu.
Ainsley tak bisa berkata-kata begitu mendengar tuduhan dah pikiran pria itu pada nya.
Mencelakai putra nya?
Bahkan melihat anak itu menangis saja ia sudah tak sanggup, apa lagi sampai berpikir untuk menghabisi nyawa nya hanya agar visa berasal pria yang ia inginkan.
"Kau tidak merasa cemburu mu sudah lewat batas?" tanya nya menatap pria itu.
"Kau mengkhianati ku lebih dulu," jawab pria itu yang juga menatap nya dengan tatapan yang sama.
"Apa bicara dengan pria lain juga di anggap mengkhianati?" tanya nya lagi meminta jawaban.
"Dia bukan sekedar pria lain bagi mu! Dia pria yang kau cintai! Bukan dengan mulut mu seperti pengakuan yang biasa kau katakan padaku tapi di sini!" ucap nya sembari menunjuk ke dada wanita itu.
__ADS_1
Ainsley diam namun walau begitu bukan keinginan nya juga untuk mengatur siapa pria yang ia sukai. Namun ia bukan berarti ia tak pernah goyah akan sikap manis suami nya selama hampir 6 tahun.
"Kenapa yakin sekali? Mungkin saja aku memang pernah mengatakan nya dengan tulus, tapi kau tidak bisa melihat nya karna selalu mencurigai ku?" jawab Ainsley menatap pria itu.
"Karna dari seratus pengakuan mu mungkin hanya satu kali kau mengatakan yang benar-benar untuk ku!" ucap nya menatap dengan tatapan yang tidak bisa di baca.
"Lalu sekarang? Kau sedang berpikir aku selingkuh? Merencakanan penculikan putra ku sendiri dengan nya?" tanya Ainsley lagi mengulang.
Tak ada jawaban namun, pria itu hanya diam menatap nya seakan-akan mengiyakan pertanyaan nya.
Ainsley tersenyum getir melihat nya, ia selalu mendengar pria itu menuduh nya karna kecurigaan dan cemburu buta nya. Lalu kali ini ia akan mewujudkan kecurigaan pria itu.
"Hm, aku memang bertemu dengan nya, apa juga menemukan riwayat chek-in kami? Kau terlalu mengurung ku, aku jadi tidak bisa sering bertemu dengan nya," ucap nya tersenyum pahit yang kali ini tak memberikan kalimat sangkalan.
Namun mengatakan kebohongan yang membuat amarah pria itu memuncak.
Tak ada jawaban Richard terlihat tersentak dan menatap dengan tatapan tak percaya jika istrinya mengatakan hal tersebut begitu lancar.
"Kau juga mau tau sesuatu? Aku lebih suka tidur dengan nya dari pada dengan mu, kalau kau tanya apa aku merencanakan sesuatu tentang Axel, mungkin Iya." sambung nya lagi.
"Aku sudah muak dengan mu, lagi pula kenapa aku harus peduli dengan anak itu kan? Kalau aku bersama dengan nya aku juga akan memiliki anak lain nya." ucap nya dengan linangan air mata.
Kebohongan dan ucapan yang bahkan tak pernah terlintas di pikiran nya kini keluar dengan begitu lancar.
Ia mengabulkan kecurigaan suami nya dengan pengakuan palsu yang ia buat.
Plak!
Satu tamparan keras melayang di pipi nya hingga membuat nya jatuh ke lantai.
Ia tak mengatakan apapun dan hanya memegang pipi nya yang terasa perih dan panas di saat yang bersamaan.
Ukh!
Ringis nya tertahan saat rambut nya ditarik dengan kuat oleh pria itu. Ia di paksa bangun dan berdiri dengan keadaan rambut yang di tarik.
Duk!
Suara benturan keras terdengar hingga membuat pandangan nya mengabur, dinding marmer berwarna putih keemasan di ruang ganti itu pun mulai mengalirkan warna lain.
Ia tak mengatakan apapun, pria itu diam namun tak melepaskan rambut yang baru ia hantamkan ke dinding.
Tak hanya itu ia pun kembali menarik, meja kaca dan juga lemari kaca yang berisi barang-barang mewah itu ia benturkan beberapa kali ke tubuh istri nya.
Prang!
Semua barang mahal dan kaca yang awal nya rapi kini sudah berserakan berhamburan.
Ainsley tak lagi menahan rasa sakit di tubuh nya, serpihan kaca yang mengenai nya ketika pria itu tanpa ragu menghantam tubuh nya membuat nya hampir terjatuh.
Ugh!
Tak sampai di situ ketika ia jatuh pun pria itu menaiki tubuh nya mencengkram erat leher nya dengan kedua tangan nya.
Napas nya terasa sesak, namun ia menatap pria itu dengan mata nya yang masih terbuka walau wajah nya sudah tertutup dengan darah.
"Bunuh saja..." ucap nya lirih tanpa suara namun dapat di baca dari gerakan dalam bibir nya.
Deg!
Pria itu tersentak, ia melepaskan tangan nya perlahan namun tangan kecil yang terluka berlumuran darah itu mencegah nya tangan nya untuk pergi.
"Kenapa berhenti? Padahal tadi lebih bagus kalau kau membunuh ku, kau pernah meracuni ku kan?" tanya nya menatap pria itu dengan suara semakin melemah.
Richard diam tak mengatakan apapun, walaupun ia pernah meracuni istri nya karna cemburu namun ia tetap tak mau melihat wanita itu mati.
"Bagaimana? Aku sudah mengatakan apa yang mau kau dengar kan? Apapun yang ku katakan kau tidak akan percaya, kau hanya percaya yang ingin kau percayai saja," ucap nya tersenyum getir dan terlihat jelas jika ia menahan rasa sakit di tubuh nya.
"Kau bilang aku tidak mencintai mu selama 6 tahun? Lalu kau? Kau pernah mempercayai ku?" sambung nya dengan menanyakan hal selama ini tertahan.
Tak ada balasan namun terlihat jelas jika tatapan tajam yang seakan mengatakan segala nya pada wanita di depan nya.
"Kenapa kau marah? Aku sudah mengatakan apa yang ingin kau dengar," ucap nya sekali lagi.
"Aku mau kau jujur!" ucap pria itu yang kini membuka suara nya.
Ainsley tersenyum mendengar nya, "Jujur? Dibandingkan ucapan yang jujur kau lebih ingin mendengar kebohongan, bukti nya kau mempercayai ucapan ku tadi kan?"
Wanita itu diam sejenak sebelum melanjutkan perkataan nya, "Walaupun ucapan tadi kebohongan tapi kau lebih mempercayai nya di bandingkan aku yang menyangkal." sambung nya lirih.
Kali ini ia melihat sorot tersedih dari mata wanita itu, sorot asing yang baru pertama kali ia lihat.
"Kau tau aku punya penyakit mental kan? Sekarang, aku sedang tidak takut apapun, jadi kau bisa membunuh ku..." sambung nya lagi yang mengungkit tentang penyakit mental nya dulu.
"Kau juga bilang Axel kritis? Kalau kau membunuh ku mungkin aku bisa membawa nya nanti, kau juga tidak perlu selalu curiga kan? Aku hanya akan menutup mata dan tetap di sisi mu." ucap nya yang seakan mempengaruhi pria itu sembari perlahan mengambil serpihan kaca yang berserak di dekat nya.
Ia membuat memegang nya ketika tengah berfokus hanya pada dirinya saja dan perlahan menuntun tangan pria itu untuk mencapai kaca tajam itu ke leher nya.
Deg!
Richard tersentak, ia langsung menepis dan membuang kaca tajam di tangan nya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan mu atau pun membiarkan mu mati!" ucap nya sembari bangun dari tubuh wanita yang perlahan memejam tersebut.