
Rumah sakit.
Gadis itu terdiam sembari menautkan jemari nya satu sama lain dengan takut dan tak memandang wajah pria itu serta hanya menundukkan pandangan nya.
"Kak?" panggil nya lirih.
Tak ada jawaban, pria itu hanya melihat ke arah putra-putri nya yang di tengah di periksa, sang dokter pun bertanya mengapa bayi-bayi malang itu bisa hampir terkena hipotermia dan bisa saja dapat mengakibatkan hal yang lebih buruk jika terlambat sedikit saja.
Pria itu menjelaskan beberapa hal yang ia ketahui, sedangkan gadis yang berada di balik punggung nya terus terdiam tak mengatakan apapun.
Jemari nya luka saat ia terus menautkan satu sama lain sembari menggesek dengan kuku-kuku nya tanpa ia sadari.
"Saat ini mereka bisa menjalani perawatan untuk sementara." ucap sang dokter sembari melirik gadis yang berada di balik punggung pria itu dan mulai keluar.
"Tunggu, bisakah anda mengobati tangan nya dulu." ucap nya yang melihat sekilas gadis itu melukai jemari tangan nya karna gugup.
Sang dokter pun melihat dan mulai mengobati tangan gadis itu sedangkan Celine hanya terdiam dan sesekali melihat ke arah sang kakak yang terus menatap nya.
Setelah selesai mengobati luka kecil itu sang dokter memberi isyarat agar berbicara berdua saja dengan Steve.
"Seperti nya, di bandingkan dokter yang seperti saya, istri anda memerlukan dokter yang lain." ucap sang dokter pada Steve, ia mengira pasangan di depan nya telah menikah karna pria itu memang mengatakan jika mereka adalah pasangan.
Steve mengangguk dan mengerti maksud yang di katakan sang dokter, ia pun beranjak ke arah gadis nya dan menarik tangan gadis itu, dan membawa nya ke tempat yang lebih sunyi.
Celine terus diam, ia begitu takut sang kakak akan memarahi nya.
"Sekarang bilang kenapa kamu buat mereka jadi seperti itu?" tanya nya pada gadis yang terus menunduk.
"Ma..maaf kak..." ucap nya lirih yang terus menunduk dan berani melihat mata yang terus menatap nya, "Celine gak sengaja..." ucap nya lirih.
"Kamu yang bawa mereka ke air terus ninggalin itu yang namanya gak sengaja?" tanya nya pria itu lagi.
Gadis itu pun menoleh langsung melihat ke arah sang kakak, mata biru nya berkaca dan bergetar melihat pria yang datar tak memberikan ekspresi apapun.
"Celine gak sengaja kak, Celine gak tau harus gimana..."
"Mereka terus nangis, padahal Celine udah berusaha nenangin..."
"Ce..Celine gak sengaja kak..." ucap nya lirih yang mulai menangis pada sang kakak.
Steve membuang napas nya perlahan melihat gadis yang bertubuh kecil itu gemetar karna tangis nya.
"Kalau kamu gak sanggup urus mereka dari awal kenapa gak bilang sama kakak? Kakak bilang mau sewa pengasuh kamu nya gak mau tapi sekarang?" tanya nya yang tak mengerti gadis itu.
"Ce...Celine takut kakak marah sama Celine karna gak bisa urus mereka, pa..padahal kan cuma jagain anak tapi Ce..Celine gak bisa..." ucap nya terputus-putus karna tangis nya.
"Kenapa kamu pikir kakak bakalan marah?" tanya pria itu mengernyit.
__ADS_1
"Ka...kakak kan sayang sama mereka..." jawab nya lirih yang terus menangis.
"Kakak juga sayang kamu Celine, kakak gak tau karna kamu gak pernah bilang, kalau kamu bilang sama kakak, kakak juga gak akan suruh buat kamu jagain mereka kalau kamu gak bisa."
"Kamu tau kan? Kakak gak bisa seharian penuh sama kamu, dan kakak juga gak bisa tebak apa isi hati kamu. Kalau kamu butuh sesuatu atau mau sesuatu kamu cukup bilang ke kakak." ucap nya pada gadis itu.
Selain harus menjaga putra-putra nya ia juga memiliki tanggung jawab yang lain, yaitu pemenuhan materi keluarga nya, memiliki 4 anak tentu nya ia juga harus memikirkan biaya hidup dan akomodasi yang akan segera keluar nanti nya. Belum lagi biaya hidup gadis nya yang dapat terbilang cukup boros, dan ia juga berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari sang ayah.
Tak hanya itu, kini organisasi gelap yang mulai mengincar nya karna menginginkan kemampuan nya yang bisa meretas apapun dan ia pun harus mengindari hal itu selama beberapa waktu terakhir namun tak bisa mengatakan hal tersebut karna takut membuat gadis nya panik.
Maka dari itu ia secepatnya ingin membangun kekuatan nya sendiri agar tak bisa seorang pun yang dapat mengincar nya lagi, bermain sesuatu yang berbahaya mungkin tak sedikit membuat nya tertarik namun ia tak mau tas ketertarikan singkat nya itu mengambil orang-orang yang ingin ia lindungi.
Tentu nya dengan semua beban yang berada di pundak nya itu dalam beberapa waktu terakhir membuat nya berpikir keras dan tak begitu peka dengan sekitar nya kecuali gadis itu mengatakan langsung pada nya agar ia bisa mengerti.
"Maaf kak..." gadis itu terus mengulang kalimat yang sama.
"Sekarang mau kamu gimana? Kakak gak akan marah sama kamu, jadi coba bilang mau kamu apa sekarang? Hm?" tanya Steve pada gadis itu sembari menggenggam tangan nya.
"Ce..Celine gak mau urus mereka lagi boleh kak?" tanya nya lirih hampir tak bersuara dan hanya seperti gumaman kecil.
Steve hanya mendengar ujung kalimat yang di katakan oleh gadis nya, ia tak tau kalimat persis nya seperti apa namun ia bisa menebak nya.
"Celine? Mau gimana pun mereka itu anak kita, kalau kamu gak bisa urus mereka dan mungkin kamu gak mau urus mereka gak apa-apa kakak bakalan sewa pengasuh buat mereka. Tapi kamu juga jangan begini lagi..." ucap nya lirih pada gadis itu.
Yah awal nya ingin memarahi namun melihat tubuh kecil yang gemetar karna tangis dan wajah yang ketakutan membuat nya tak tega untuk membaut gadis itu merasa lebih takut lagi.
"Kamu mau periksa? Hm?" tanya nya pada gadis itu lagi.
"Udah kamu nurut aja sama kakak, mau Kaka marah sama kamu?" tanya nya pada gadis itu.
Gadis itu langsung menggeleng cepat dengan mata nya yang masih berkaca.
"Ssttt, udah jangan nangis lagi, kakak juga gak makan kamu." ucap nya sembari mengusap air mata gadis nya.
Mau ia bawa kemana lagi jika bukan menemui psikiater untuk konseling karna sikap gadis nya yang hampir saja membunuh ke empat putra nya sekaligus tanpa sengaja.
...
3 Hari kemudian.
Ke empat bayi mungil itu masih dalam perawatan sang dokter dan juga sang ibu yang sudah beberapa kali menjalani terapi konseling.
"Seperti nya istri anda mengalami sindrom Baby blues karna baru melahirkan, dan setelah yang saya amati selama beberapa hari seperti nya kini bertahap ke yang yang lebih lanjut dan di namakan PPD atau di kenal sebagai Postpartum Depression (PPD), sama seperti sindrom Baby blues namun PPD memiliki perasaan yang lebih kuat." terang sang dokter.
"Tapi kenapa dia bisa jadi seperti itu?" Steve tak mengerti, ia sudah berusaha memperhatikan gadis nya sebaik mungkin walaupun bisa saja ia juga kurang dalam hal itu beberapa waktu terakhir.
"Banyak alasan yang bisa menjadi alasan nya, salah satu nya karna istri anda baru pertama kali menjadi seorang ibu dan setelah beberapa terapi yang di jalani seperti nya istri anda juga belum siap untuk menjadi seorang ibu."
__ADS_1
"Bukan berarti dia tidak bisa menjadi ibu yang baik nanti nya, namun dari beberapa pengamatan yang saya lihat istri anda masih belum memiliki pola pikir yang lebih dewasa." terang sang dokter.
Steve masih diam dan mendengarkan nya, wanita itu pun mulai menjelaskan apa saja yang harus ia lakukan dan juga apa saja yang akan membuat rasa keibuan gadis itu untuk tumbuh.
"Baik, saya akan coba lakukan." ucap nya pada sang dokter.
...
Gadis cantik itu terdiam melihat ke empat bayi nya yang menggeliat menatap nya.
"Celine?" panggil Steve yang mendekat pada gadis itu.
"Kenapa? Kamu lihat mereka terus? Mereka lucu kan?" tanya Steve sembari memeluk gadis itu dari belakang.
"Kak? Kalau mereka gak ada dari awal aku bisa pergi main kan kak? Sama kakak, gak harus jagain mereka..." ucap nya lirih.
"Sekarang pun kamu bisa main sama kakak, Celine? Kamu mau mau main, mau kuliah, kakak bolehin..."
"Mereka bukan penghalang kamu, dan kamu tetap bisa bahagia walaupun mereka ada, bukan berarti karna mereka itu sekarang ada kakak udah gak sayang kamu lagi..." ucap nya lirih sembari terus memeluk gadis nya dengan erat dari belakang.
"Maaf yah, kakak kurang perhatian sama kamu..." bisik nya lagi di telinga sang kakak.
Gadis itu diam tak mengatakan apapun, ia menatap wajah sang kakak menatap nya lurus.
"Celine mau keluar sama kakak, mau makan di cafe, mau belanja, mau main juga..." ucap nya lirih sembari memeluk pria itu yang membutuhkan perhatian lebih dari sang kakak.
"Iya, nanti setelah kakak pulang kerja yah?" tanya nya sembari membalas pelukan gadis nya.
"Kakak pulang cepat hari ini?" tanya gadis itu sembari menatap sang kakak.
Pria itu tersenyum tipis, ia mengusap wajah cantik yang menggemaskan itu, "Iya, kakak pulang cepat yah..." ucap nya pada gadis itu.
Celine pun tersenyum, langkah nya beranjak ke arah lain meninggalkan sang kakak dan juga ke empat bayi nya.
Pria itu tak mengatakan apapun, walaupun belum kembali sepenuh nya namun tidak separah dulu saat sinar wajah gadis itu mulai menghilang.
Ia menatap ke empat bayi nya yang menggeliat di dalam keranjang, "Dua hari lagi kita pulang, anak-anak Daddy udah mau pulang juga kan?" tanya nya sembari bermain dengan ke empat bayi mungil nya.
Tes...
Mata nya mengernyit, menatap cairan merah kental yang jatuh di atas tubuh bayi mungil nya.
"Darah?" gumam nya lirih namun ia melihat tetesan yang semakin banyak.
"Sial..." umpat nya lirih saat menyadari tetesan cairan merah itu datang dari hidung nya.
Beberapa waktu terakhir, ia bahkan hanya tidur beberapa jam sehari untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda dan juga menumpuk belum lagi harus memperhatikan gadis nya yang saat ini terkena masalah dalam psikologis nya dan juga bayi-bayi nya yang tengah menjali pengobatan.
__ADS_1
"Kakak? Celine nanti pakai baju yang mana?" tanya gadis itu yang kembali dengan membawa dua gaun berwarna merah muda dan putih.
"Kamu pakai apa aja cantik," jawab Steve tersenyum sembari menutup hidung dan mulut nya dengan tangan.