Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Who is she?)


__ADS_3

"Hey? Kenapa masih cemberut?" tanya Steve sembari mencubit kecil pipi chubby gadis itu.


"Mereka enak yah kak? Bisa pergi main sama temen nya? Bisa sekolah normal gak kayak aku sekolah nya di rumah, bisa jalan nya cepet gak perlu bawa-bawa perut besar kayak aku gini." jawab gadis itu dengan wajah yang masih cemberut.


Steve membuang napas nya, menepikan mobil nya dan menatap ke arah wajah gadis itu.


"Kamu kan bisa juga nanti, jangan marah terus, kasihan baby nya kalau Mommy nya terus ngambek." ucap Steve sembari mengusap rambut gadis itu.


"Tapi kan Celine mau juga! Celine kan juga mau gitu!" ucap nya langsung menatap dengan mata yang mengernyit pada sang kakak.


Cup!


Pria itu mendekat, mengecup kening gadis itu dengan dalam dan cukup lama.


"Maaf, kakak yang salah..."


"Jangan marah lagi yah? Hm?" tanya nya sembari mengusap pipi chubby gadis itu


Gadis itu tak lagi berkomentar ketika mendengar suara lembut pria yang tengah membujuk nya itu.


"Kamu gak usah malu, banyak kok yang seperti kamu juga di sini. Malah mungkin lebih buruk karna mereka bunuh anak mereka sendiri." sambung Steve menatap ke arah gadis nya.


Kasus hamil tanpa ikatan dalam usia remaja memang cukup tinggi dan yang lebih parah nya kasus aborsi juga cukup meningkat, Steve mengatakan demikian hanya agar gadis kecil kesayangan tak merasa rendah diri dan berkecil hati.


"Kenapa? Karna mereka mau ngejar impian nya yah kak?" tanya gadis itu lirih saat mendengar cerita sang kakak dan menganggap semua masalah yang terjadi sama seperti nya.


"Mungkin bisa salah satu nya itu, atau mereka gak mau tanggung jawab? Kita gak tau apa yang di pikiran mereka." jawab nya pada gadis yang menatap nya dengan lirih.


Yah, tentu nya banyak alasan mengapa beberapa orang ingin mengugurkan kandungan nya, takut menjadi penghalang kesuksesan, tak ingin menambah beban, ataupun ingin lepas tanggung jawab begitu saja.


Gadis itu diam tak mengatakan apapun lagi, Steve tersenyum ia menatap gadis nya dan memegang dagu Celine agar wajah cantik itu menatap nya lagi.


"Kamu jangan iri sama mereka, kamu juga bisa begitu, kan beda nya cuma tertunda beberapa bulan aja..." ucap nya lagi.


Gadis itu tak menanyakan apapun lagi namun ia malah meraih lengan pria itu dan bergelanyut sembari mengandarkan kepala nya.


"Kakak jangan tinggalin Celine yah?" ucap nya lirih yang memejam tak ingin mendengar apapun lagi kecuali jawaban atas pertanyaan nya.


"Iya, kamu itu segala nya buat kakak..." ucap Steve yang mengecup puncak kepala gadis itu dan melanjutkan kemudi nya.


...


Apart.


3 Hari kemudian.


"Kak?" panggil gadis itu dengan mata berbinar nya.


Steve menatap gadis itu, seperti tau jika gadis nya menginginkan sesuatu dari nya.


"Iya? Ada apa?" tanya pria itu yang memegang tangan mungil yang berdiri di samping meja kerja nya.


"Satu bulan lagi kan ulang tahun kakak, kakak mau nya apa?" tanya gadis itu yang menatap dengan tatapan penuh semangat.


Steve tersenyum, bersama dengan gadis yang sangat ia inginkan merupakan keinginan terbesar nya dan hal itu sudah terwujud saat ini.


"Kamu mau kasih apa aja yang kakak minta?" tanya nya dengan gemas dan menarik pelan agar gadis itu duduk di pangkuan nya.


Celine mengangguk menatap iris pria yang melihat nya dengan hangat.


"Apa yah? Kalau anak perempuan boleh? Adik buat mereka?" tanya nya memberikan kode sembari mengusap perut buncit yang sudah membulat itu.


"Yang ini aja belum lahir kak," ucap Celine yang langsung protes dan bahkan tak mengerti kode dari sang kakak.


"Maka nya kita buat dulu biar nanti bisa nyambung." jawab Steve tersenyum pada gadis itu.


Pemeriksaan USG untuk melihat jenis kel*min calon anak-anak yang ia miliki di perut gadis nya tentu sudah di lakukan.


Dan hasil nya memiliki jenis yang sama ke empat nya, yaitu laki-laki.


"Buat anak nya? Gak boleh, kan sekarang belum lahir..." ucap gadis itu menatap dengan mata nya yang tak mengerti.


Steve membuang napas nya, percuma saja ia menjelaskan pada gadis yang tak tau apapun itu.


"Kak?" panggil Celine lagi sembari menjatuhkan kepala nya di dada bidang pria yang tengah memangku nya.


"Iya? Kenapa?" tanya Steve dengan tatapan hangat pada gadis nya sembari ikut mengelus perut besar itu.


"Celine takut melahirkan kak," jawab nya lirih.


"Kamu kan operasi nanti di bius, gak sakit kok..." ucap pria itu yang berusaha agar gadis nya tak takut terus menerus pada hari di mana ia akan melahirkan putra-putra nya.


"Kakak sih bilang nya begitu, gak ngerti aku kakak..." ucap Celine dengan cemberut.


Steve diam dan menjawab apapun lagi, jika gadis itu tengah dalam suasana hati yang buruk maka akan sangat mudah marah.


"Iya, maafin kakak yah?" ucap nya sembari merengkuh tubuh mungil dengan perut besar itu.


Celine tak menjawab, namun saat berada di pelukan pria itu semakin membuat nya merasa nyaman.


"Jadi kakak mau apa nanti?" tanya nya lagi mengulang.


"Apa yah? Kakak mau nya kamu? Boleh?" tanya Steve sembari mengecup gemas puncak kepala gadis itu.


"Tapi kan aku uda sama kakak?" tanya Celine dengan bingung.


"Kalau gitu gimana nanti waktu hari ulang tahun kakak kamu nurut apa yang kakak bilang atau kakak minta? Cuma satu hari aja, jangan bilang 'Tidak' atau bantah kakak." ucap nya yang memikirkan sesuatu di kepala nya.


Gadis itu mengangguk setuju begitu saja karna ia tau tak mungkin sang kakak melakukan permintaan aneh untuk nya.


...

__ADS_1


Satu Minggu kemudian.


"Mau kemana kak? Jangan ke mana-mana..." ucap Celine dengan manja sembari terus memegangi tangan pria itu.


Ada kala nya ia benar-benar bersikap seperti anak-anak yang tak mau di tinggal sama sekali, bersikap lebih manja dari biasanya yang memang sudah manja.


"Kakak mau kerja Celine, nanti kan pulang lagi..." ucap Steve yang perlahan melepaskan tangan gadis nya.


"Mau selingkuh kakak yah?" tuduh gadis itu dengan mata menyelidik nya.


"Eh? Selingkuh dari mana? Kakak aja cuma kantor sama apart aja pergi nya, kalau pun kemana-mana kamu juga ikut." ucap Steve yang terkejut mendengar tuduhan tak mendasar gadis itu.


"Semalam Celine baru lihat," ucap gadis yang terdengar ambigu.


"Lihat apa? Kakak aja nemenin kamu nonton film terus!" ucap Steve yang bingung dengan ibu hamil di depan nya yang bersikap anak-anak itu.


"Selingkuh di kantor," jawab gadis itu yang semakin erat memegang tangan sang kakak.


"Kapan Celine? Jangan aneh-aneh kamu," ucap Steve yang tak habis pikir.


"Di film yang kita lihat kemarin, kan pacar nya selingkuh sama atasan nya yang di kantor karna lebih cantik!" jawab gadis itu yang semakin mendekat dan menahan tangan sang kakak, ia ingin memeluk dengan erat namun terhalang dengan perut besar nya.


"Film apa? Kamu kan lihat nya yang putri es itu? Siapa sih nama nya?" ucap Steve yang tak ingat dengan film tontonan gadis nya.


"Elsa kakak! Dia itu putri es tapi punya kekuatan es!" jawab Celine yang langsung membenarkan.


"Iya, sama aja kan?" tanya Steve yang bingung dengan gadis nya.


"Kakak kok bahas Elsa sih? Jangan-jangan kakak memang selingkuh yah?" tanya gadis itu dengan penuh curiga karna terbawa film yang ia lihat.


Awalnya ia memang melihat animasi kesukaan nya itu walau sudah berulang kali namun setelah film nya habis dan sang kakak yang ketiduran karna kelelahan bekerja membuat nya mencari sendiri dan menemukan film lain nya bertema perselingkuhan.


"Astaga Celine! Yang kakak cinta cuma kamu!" ucap Steve yang tak habis pikir dengan gadis nya.


"Bukti nya kakak mau ninggalin Celine sekarang? Kalau cinta kan kakak harus nya sama Celine terus!" jawab gadis itu cemberut setelah memulai drama pagi dengan sang kakak.


"Karna kakak cinta sama kamu makanya kakak kerja, biar bisa hidupin kamu. Memang nya kamu mau makan cinta aja? Terus gak bisa makan es krim lagi? Gak bisa makan steik lagi? Gak bisa shoping lagi?" tanya Steve pada gadis itu.


Siapa yang tak mau menemani sepanjang hari dengan gadis yang ia di cintai?


Namun ia tau saat ini ia harus membangun lebih banyak kerja keras dalam tiga tahun terakhir untuk membangun usaha nya sendiri setelah lepas dari jabatan yang sudah ia duduki.


Walaupun kondisi keuangan nya saat stabil namun nanti nya mungkin akan membeludak ketika anak-anak nya telah lahir.


Dan ia memerlukan uang untuk semua itu dan tentu nya uang hanya keluar dan hadir jika ia juga mengeluarkan usaha dan keringat nya.


"Kan kakak bisa cuti! Kenapa mau nya kerja terus sih kak?! Kakak gak sayang Celine lagi!" ucap gadis yang marah dan menyentak.


Celine pun langsung melepaskan tangan nya dan berbalik pergi ke arah kamar nya.


Pria itu membuang napas nya sejenak, gadis kesayangan nya itu mudah marah, mudah menangis dan juga perubahan suasana hati yang lebih cepat dari sambaran kilat.


Mungkin terlihat seperti membuat drama pagi yang membosankan, namun gadis itu hanya tak bisa mengontrol emosional yang berlebihan ketika ia hamil.


Di bawa pergi jauh dari orang tua yang ia sayangi, tak memiliki kesempatan untuk merasakan cinta dan perhatian dari para pria yang menyukai nya, dan pertemanan yang di atur hingga tak ada satupun yang bisa menjadi teman dekat nya.


"Kakak gak sayang Celine..." ucap nya lirih dengan tangis nya yang meleleh.


Steve tak bisa pergi begitu saja meninggalkan gadis yang tengah menangis itu, ia membuang napas nya lirih, melihat ke arah jam tangan nya dan menatap masih memiliki waktu untuk sampai ke tempat ia bekerja.


Langkah nya mendekat dan memeluk pundak gadis itu dari belakang, "Maaf yah? Kakak salah karena kurang perhatian sama kamu, kakak kerja buat kamu, buat kita..."


"Jangan mikir yang aneh-aneh, kamu tau kan? Yang kakak sayang kan cuma kamu..." sambung nya pada gadis itu.


"Bisa aja kan?! Yang di film Celine lihat semalam pacar nya cantik aja masih di selingkuhin! Apa lagi Celine yang udah gak cantik?!" jawab gadis itu dengan sendu karna merasa dirinya tak lagi indah seperti dulu dengan tubuh yang berubah saat ia tengah hamil.


"Kamu cantik kok, ada yang bilang kamu jelek? Kamu itu makin hari makin bikin kakak gak tahan, kamu gak tau kan?" jawab Steve pada gadis yang tak tau seberapa banyak ia menahan hasrat nya agar tak memaksa gadis itu.


"Gak tahan apa? Gak tahan mau selingkuh?" tuduh nya yang penuh dengan pikiran negatif.


"Astaga Celine? Lihat apa sih kamu? Sampai curiga nya begitu sama kakak? Yang kamu lihat pacar itu selingkuh kan bukan kakak? Kalau kakak itu beda, masa kamu samain sama yang kamu lihat?" tanya Steve pada gadis itu.


"Iya! Kan lebih ganteng kakak!" jawab gadis itu gamblang di tengah tangis nya dan dengan cemberut.


Steve tertawa kecil mendengar nya, "Kamu percaya aja sama kakak, kakak gak mungkin khianati kamu kok. Nanti kakak pulang lebih cepat yah..." ucap nya sembari mengecup pipi basah gadis itu.


"Jangan nangis lagi yah..." bujuk pria itu kembali sembari menghirup aroma wangi tubuh gadis nya dari belakang.


"Kakak cinta sama Celine kan?" tanya gadis itu lirih.


"Iya, kakak cinta sama kamu..." jawab Steve segera.


"Aku anterin kakak sampai depan yah?" ucap nya pada pria itu dan mulai membalik tubuh nya melihat ke arah wajah tampan sang kakak.


"Sampai merah wajah nya," ucap pria itu dengan nada gemas sembari mencubit kedua sisi pipi gadis nya yang chubby.


Celine hanya mengusap air mata nya, memang nya wajah siapa yang tak jadi merah jika menangis?


Steve melihat sekilas ke arah gadis nya yang masih berdiri di ambang pintu menatap dirinya yang ingin pergi ke kantor.


Mungkin terlihat berlebihan dan gadis yang hanya egois tak mau memikirkan yang lain selain dirinya sendiri, namun ia sadar jika ia lah yang membentuk karakter seperti itu pada gadis nya.


Tak punya siapapun dan tak bisa apa-apa, tentu nya gadis itu tak hanya menjadi mencintai nya namun juga butuh dan sangat bergantung atas kehadiran nya. Dan itulah yang inginkan.


......................


Paris


Mansion Evans.


Freya membuang napas nya kasar, ia mulai jatuh sakit karna terlalu sering stres dan kondisi kesehatan yang menurun semenjak putri nya hilang dan bahkan sang suami pun masih belum bisa menemukan nya.

__ADS_1


"Udah ada kabar dari Celine Pah? Gak apa-apa kalau dia mau sama Steve, aku setuju..." ucap nya lirih yang sudah kehilangan putri nya selama kurang lebih 5 bulan itu.


Mike tak mengatakan apapun, ia pikir dengan mencabut semua fasilitas yang ia berikan putra nya akan kembali dengan sendiri nya.


Tapi apa?


Putra nya yang selalu terlihat datar dan tak punya emosi itu dapat hidup dengan baik tanpa uang nya sedikit pun ataupun memakai koneksi yang ia miliki.


Dan ia sangat tau jika tak mungkin bagi nya menemukan dengan cepat, karna ia paham betul sifat putra nya itu.


Walaupun terlihat diam dan kaku namun putra nya memiliki sifat pendendam dan selalu ingin mengembalikan apa yang di dapat, karna ia dan sang istri ingin membunuh anak-anak putra nya tentu nya pria itu membalas dengan membawa kabur dan menyembunyikan putri yang ia sangat sayangi.


"Nanti aku cari Celine lagi yah? Kamu jangan sakit? Nanti kalau Celine lihat kamu gimana?" tanya Mike yang juga merasa sulit melihat sang istri yang begitu kelimpungan mencari putri semata wayang nya.


"Kalau begitu biar Celine tau kalau Mamah nya nya itu kangen sama dia..." jawab Freya lirih.


Putri yang ia besarkan dengan penuh rasa kasih sayang nya kini malah menghilang tak lagi bisa ia lihat, sejak lahir gadis itu lahir ia membesarkan nya sendiri karna suami nya yang meninggal saat menjalankan tugas dan 6 tahun kemudian ia mulai bertemu dan kembali menikah.


Ia pikir semua nya sudah berjalan dengan lancar, walaupun anak tiri nya seperti tak bisa ia dekati namun setidak nya anak yang menjadi putra sambung nya itu tak menolak nya ataupun memberikan respon negatif dan ia pun juga berusaha menyayangi nya seperti putra yang ia lahirkan juga.


"Celine juga bentar lagi pulang kok sama Steve," ucap Mike mengubur sang istri.


"Semoga saja..." Freya yang berharap ucapan tersebut lekas menjadi nyata.


......................


Ainsley?


Panggilan yang membuat gadis itu menoleh ke belakang, tatapan mata yang masih terlihat polos dan senyuman saat nama nya di panggil.


Kau mencintai ku?


Ya, aku mencintai mu...


Tatapan yang terlihat kosong saat mengatakan sesuatu yang hanya perlu ia ucapkan di bibir merah muda nya.


Cintai aku, bukan miliki aku...


Kalau begitu ajari aku, ajari cara mencintai mu...


Suara yang terdengar begitu tulus namun dengan tatapan yang menahan wanita di depan nya.


Bunuh saja...


Aku tidak akan melepaskan mu ataupun membiarkan mu mati!


Tubuh yang terlihat penuh luka, memar di wajah dan lantai putih yang memberikan corak warna merah terang saat tubuh wanita itu tak bisa lagi bernapas karna tangan yang melingkar kuat di leher nya.


...


"Kak?"


"Kakak!" panggil gadis itu menyentak sembari menepuk kuat bahu sang kakak yang terlihat gelisah di dalam tidur nya.


Deg!


Pria itu terperanjat, ia membuka mata nya setelah memimpikan seseorang yang bahkan tak ia kenali sama sekali.


"Kakak mimpi apa kak?" tanya Celine menatap pria yang baru saja duduk itu.


Ia sebelum nya ingin buang air kecil namun namun saat kembali dan ingin tidur lagi malah melihat sang kakak yang seakan tengah gelisah dalam tidur nya.


"Ainsley?" gumam nya lirih saat kepala nya terasa sakit.


Celine mengernyit mendengar nama wanita lain yang keluar dari mulut sang kakak.


"Kakak! Siapa itu?! Kakak mimpiin perempuan lain?!" tanya nya langsung berteriak dan menatap sang kakak.


Steve terperanjat, tanpa sadar ia menyebutkan nama yang tak pernah ia dengar sama sekali.


"Perempuan lain apa sayang?" ucap nya yang kembali teralihkan dengan gadis kecil kesayangan nya itu.


"Itu tadi! Ainsley! Aku tuh masih bisa denger! Kakak selingkuh yah?!" tuduh gadis itu lagi.


"Selingkuh apa? Kenal dia aja engga!" jawab Steve yang memang tak mengenal siapa wanita itu sama sekali.


"Kalau gak kenal kenapa bisa sampai mimpi?!" tanya Celine dengan menyelidik dan menatap penuh curiga.


"Gak tau Celine? Kakak juga gak tau kenapa bisa?" jawab Steve pada gadis nya sembari mulai merengkuh tubuh mungil yang semakin berisi itu.


Celine menolak, ia mendorong dada bidang sang kakak, "Dia siapa? Jujur!" ucap nya sembari menatap sang kakak.


"Kamu?" jawab pria itu tanpa sadar dan bingung sendiri dengan jawaban nya.


Kelelahan, baru saja tidur namun sudah bermimpi sesuatu yang bahkan tak petang ia lihat sama sekali yang membuat kepala nya sakit, belum lagi menghadapi kemarahan dari ibu hamil yang semakin cerewet itu.


Bibir gadis itu mengerucut, "Masa aku? Aku kan tanya kakak, kakak ketahuan bohong nya..."


"Katanya gak bakal tinggalin Celine? Cinta sama Celine? Tapi mimpiin perempuan lain, waktu tidur sama Celine juga lagi mimpi nya..." tangis nya lirih, ia tidur di satu ranjang yang sama walau tak pernah lagi melakukan hal yang di tahan oleh sang kakak.


"Kakak cinta Celine, kakak gak kenal dia sayang..." ucap Steve dengan lembut sembari mengusap air mata gadis itu.


"Iya, kakak salah lagi..."


"Maafin kakak yah, jangan nangis lagi..." ucap nya yang kembali mengalah untuk gadis itu dan memeluk nya dengan perlahan.


"Celine maafin kalau Celine juga mimpi sama laki-laki lain, mau nya yang lebih ganteng dari kakak, huhu..." jawab nya yang masih menangis di pelukan pria yang tetap berusaha memeluk nya walau ia sudah menolak.


"Kalau gitu kamu gak akan bisa mimpi sama laki-laki lain, kan kakak yang paling ganteng." jawab Steve pada gadis itu.


Celine mendorong dada bidang pria itu dan menatap dengan mengernyit, "Kakak nyebelin! Celine marah! Kesel sama kakak!" ucap nya dengan berteriak di tengah malam dan mulai menidurkan diri nya lalu membelakangi pria itu.

__ADS_1


Steve beranjak memeluk ibu hamil itu dari belakang sembari mengusap perut besar nya dengan lembut, "Celine gemesin, buat kakak makin sayang. Kakak cinta Celine..." ucap nya berbisik di telinga gadis nya dengan lembut agar meredakan perasaan yang semakin sensitif saat usia kandungan nya bertambah.


__ADS_2