
Kediaman Clarinda.
Mamah!
Gadis itu berteriak memanggil ibu nya, ia mencari ke seluruh kediaman mewah tersebut.
"Nyonya masih belum kembali, nona." ucap salah satu pelayan setelah melihat gadis itu berkeliaran mencari sang ibu.
"Kalau sudah balik, beri tau aku yah!" ucap nya beranjak ke kamar.
"Baik, nona." jawab pelayan tersebut.
....
Duk!
Calesta langsung merebahkan diri nya ke atas ranjang. Ia mendapatkan teman sekaligus pacar baru di saat yang bersamaan.
"Aduh! Sekarang gimana?!" ucap nya yang bingung dengan situasi nya.
Pria yang ia buat sebagai pacar pura-pura nya malah menyetujui dan ingin menjadi kekasih nya yang sesungguh nya.
"Mereka kenapa sih?!" gumam nya kesal saat memikirkan hidup tenang nya terusik karna orang-orang dalam masa lalu yang bahkan tidak ia ingat.
"Sean..." ucap nya lirih sembari mengingat pria itu dengan semua pertemuan nya.
Blush!
Wajah nya memerah, ia kembali mengingat malam yang ia habiskan di hotel hari itu, sentuhan serta napas yang masih begitu terasa di tubuh nya.
"Ih! Aku bayangin apa sih?!" gadis itu merasa malu, wajah nya memerah dengan segera.
......................
Hotel Presiden Suite.
Liam menatap ke arah tuan nya, ia bisa melihat raut yang terus menerus memancarkan senyuman tersebut.
Richard tak dapat menyembunyikan rasa senang nya, ia sanga suka karna sudah kembali berinteraksi dengan gadis cantik itu lagi.
"Pembangunan nya akan selesai sekitar 2 Minggu lagi, kami masih mendekorasi isi dalam nya." ucap Liam pada tuan nya.
"Hm, lakukan lah yang menurut mu bagus." jawab Richard tanpa menoleh.
"Oh ya, ikuti terus perkembangan Ainsley dan apa kau sudah cari tau kenapa dia bisa ganti nama?" tanya Richard pada Liam.
"Belum tuan, ibu angkat nya adalah kakak raja saat ini, karna ini berhubungan dengan keluarga bangsawan maka informasi yang di dapatkan sangat sedikit," jawab Liam lada tuan nya.
"Lalu apa dia memang hilang ingatan sungguhan? Atau hanya pura-pura? Lalu kau sudah cari tau apa dia punya anak?" tanya Richard lagi.
"Hal itu masih belum dapat saya pastikan, tetapi soal anak, dia tidak memilikinya." jawab Liam pada tuan nya.
"Benarkah? Lalu apa dia mengugurkan nya?" gumam nya sembari pikiran nya beranjak ke saat ia mengetahui kehamilan gadis itu.
......................
10 Hari kemudian.
Perpustakaan.
Calesta mengunjungi perpustakaan guna mencari buku pastry yang ia inginkan, mata nya membaca tiap kata dan kalimat sekaligus mencatat nya.
Mata nya mulai mengantuk, setiap kali ia mencoba sangat fokus ia akan mulai kehilangan arah fokus nya dan menjadi kantuk.
Kelopak mata nya terasa berat dan memejam sesekali dengan lama, kepala nya pun mulai ia sandarkan ke atas meja di atas tumpukan buku nya dan membaca dengan mata yang mulai mengabur dan berair.
Ia pun berulang kali menguap hingga tak sadar semakin jatuh dalam alam mimpi nya.
Richard baru memasuki perpustakaan tersebut, ia tau karna Liam lah yang mengirim informasi jika gadis itu berada di salah satu perpustakaan kota.
Ujung bibir nya terangkat, ia menemukan gadis yang tertidur di atas tumpukan buku yang terbuka dengan lelap, wajah tenang yang mampu memadamkan api di dada nya.
Ia duduk di samping gadis itu sembari sesekali mengusap kepala nya dengan lembut, mata nya terkunci akan pesona yang tak pernah redup itu.
Ia pun meletakkan wajah nya ke atas meja sejajar dengan wajah gadis itu dan menatap, tatapan yang bahkan tak pernah bosan.
Dulu bahkan hanya untuk mengetahui gadis itu masih hidup atau tidak saja ia tak bisa, tiga tahun yang seperti siksaan di dalam laut tak berujung itu akhirnya kembali.
Ia tak ingin kehilangan gadis di depan nya, sama sekali tidak!
Dua jam kemudian.
Mata Calesta perlahan terbuka lirih, pandangan nya masih mengabur dan kelopak mata nya masih terasa berat untuk bangun.
Bayangan yang perlahan semakin jelas namun masih belum menampilkan sosok yang sesungguh nya, ia bahkan belum terbangun total karna masih sangat mengantuk.
"Sudah bangun? Perpustakaan untuk membaca buku, bukan untuk tidur." ucap Richard sembari memandang wajah gadis itu selaras.
Calesta berkedip berulang kali agar pandangan nya sedikit jelas, "Hihi, tampan..." racau nya yang masih belum jelas karna antara tidur dan bangun.
Richard hanya memandang wajah gadis itu, hanya dua jam memandang belum cukup waktu yang ia gunakan untuk melihat dan melepaskan rindu nya.
"Kau suka wajah ku? Kalau begitu kau bisa memiliki nya," jawab nya sembari menatap erat ke arah wajah mengantuk tersebut.
"Hm?" Calesta sedikit bingung ia mengangkat wajah nya dan mengusap mata nya serta mengucek nya beberapa kali hingga ia benar-benar tersadar.
"Eh? Ini?" ucap nya lirih mengingat pria tampan di depan nya.
Ia memang mudah lupa maka dari itu ingatan harus di latih setiap hari sejak ia bangun dari kecelakaan.
"Paman yang-"
"Kau tidak bisa berhenti memanggil ku paman? Mau dulu atau sekarang panggilan mu sama saja," ucap Richard yang juga ikut mengangkat wajah nya.
"Dulu?" tanya Calesta mengernyit.
"Hm, tapi tidak apa-apa selama kau suka kau bisa menyebut ku apa saja." jawab Richard pada gadis itu sembari menyentuh pipi nya dengan lembut.
Calesta tersentak, tubuh nya refleks bangun dan beranjak ke jajaran buku yang tersusun rapi di dalam rak nya.
Richard mengikuti langkah gadis itu dari belakang, sedangkan Calesta berpura-pura tak melihat apapun.
"Kau kenapa selalu mau lari? Hm?" tanya Richard sembari mengukung tubuh kecil gadis itu dengan tangan nya.
Calesta terkejut dua tangan kekar di samping kiri dan kanan nya membuat ia tak bisa kabur kemana pun, suara bariton rendah yang berat pun terdengar di telinga nya.
Ia membalik tubuh nya menatap ke arah pria yang sedang mengapit nya diantara para rak buku yang tersusun.
"Bu-bukan begitu! Paman sih..." jawab nya lirih sembari menundukkan pandangan nya.
Wajah yang terlalu dekat membuat nya tak bisa berhadapan mata secara langsung, jantung nya berdetak cepat ia hingga ia merasa pria itu dapat mendengar nya.
__ADS_1
"Padahal kau mengaku kalau aku pacar mu, tapi kenapa masih panggil aku paman?" tanya Richard sembari menempelkan kening nya ke ke kepala gadis itu.
Calesta secara refleks langsung mengandah menatap ke atas, bibir nya langsung menyentuh ke arah bibir pria itu tanpa sadar karna jarak wajah yang sangat dekat nya.
Richard langsung meletakan tangan nya ke tengkuk gadis itu dan memangut bibir yang bersentuhan dengan nya segera hingga membuat gadis itu tak sempat menolak.
Humph!
Mata gadis itu membulat, ciuman yang mengecup dan mengisap bibir bawah nya dengan lembut dan sesekali menggigit walau tak menyakiti nya.
Ia berusaha mendorong saat proses otak nya kembali namun Richard menahan nya dan menyisir rambut gadis itu ke belakang dengan jemari nya sembari terus memangut bibir manis tersebut dengan lembut.
Karna tak bisa melepaskan nya akhirnya gadis itu menyerah ia tanpa sadar memejamkan mata nya hingga hisapan lembut tersebut selesai.
Jantung nya masih berdetak, wajah nya memanas dan pipi nya memerah, ia tak mau namun juga ingin melanjutkan nya.
"Richard, kau tak bisa memanggil seperti itu kali ini?" bisik pria itu saat melepaskan ciuman nya.
Calesta membuka mata nya, ia tak tau kenapa terbiasa memanggil paman walaupun pria itu meminta nya untuk memanggil dengan nama.
"Richard?" tanya gadis itu mengulang.
"Hm,"
Kali ini Richard melepaskan kungkungan nya membiarkan gadis itu bergerak.
"Tapi aku belum terbiasa dan lagi kita kan tidak pacaran sungguhan!" jawab nya segera.
"Tidak apa-apa kau bisa panggil kalau sudah terbiasa, dan lagi pula ada banyak hubungan yang bisa lebih dalam dari sekedar pacaran kan?" jawab Richard pada gadis itu.
Calesta diam ia tak menjawab, memang sebagain orang dewasa lebih banyak yang memilih hubungan bebas dengan teman kencan nya dan tanpa berpacaran dan bisa dengan mudah berpaling juga.
"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Calesta pada pria itu.
"Tentu," jawab Richard segera.
"Kau mengenal Ainsley?" tanya Calesta dengan mata yang penuh akan menantikan jawaban.
Richard hanya menjawab dengan senyuman dan membuat gadis itu semakin bingung.
"Mau tidur dengan ku sekali?" tanya nya tiba-tiba hingga membuat mata gadis itu membulat sempurna.
"Paman mesum! Kenapa langsung ajak aku tidur?!" jawab Calesta sembari menutup dada nya dengan menyilangkan tangan nya secara refleks.
"Kau mau tau jawaban nya kan? Karna aku juga butuh jawaban dari mu," ucap Richard dengan tenang.
"Paman butuh jawaban apa dari ku? Aku bisa jawab tanpa harus melakukan itu kok!" jawab Ainsley segera.
"Kau tak akan bisa jawab, kalau kau mau menemukan jawaban mu kau harus melakukan nya." ucap pria itu dengan tenang.
Calesta menghela napas nya, "Aku bukan anak-anak, dan apa s*x bisa membuat ku tau jawaban nya atau jawaban apa yang paman cari? Ini juga memang tidak merugikan ku, tapi rasa nya aku seperti sedikit di bodohi, makanya aku tak mau."
Richard mulai tertawa, kali ini gadis di depan nya bukan gadis yang sepolos dan selugu tiga tahun yang lalu.
Calesta yang tak mudah di bodohi seperti Ainsley, walaupun mereka masih memancarkan sifat murni dan aura yang putih seperti jati dirinya namun sedikit berbeda.
"Kalau dulu kau punya kehidupan yang normal apa kau juga akan seperti ini? Atau kau kembang seperti ini?" tanya nya dengan senyuman sembari mengusap puncak kepala gadis itu.
Ainsley yang baik, Ainsley yang penurut, Ainsley yang tak pernah mengatakan pendapat nya dan takut untuk mengemukakan nya.
Berbeda dengan Calesta yang riang, Calesta yang bisa melakukan apapun yang ia sukai, dan Calesta yang masih bisa memilih apa yang ia inginkan.
Perbedaan yang terlihat saat satu orang yang sama namun di berikan lingkungan tumbuh yang baru dan membangun serta memperlihatkan jati diri gadis itu yang sesungguhnya.
Ainsley yang tak pernah memiliki kesempatan untuk diri nya, Ainsley yang bagaikan boneka pahatan karna di bentuk sesuai dengan pengendali nya tanpa membiarkan gadis memiliki pilihan untuk dirinya.
"Ibu mu Clarinda kan? Putri bangsawan yang di hormati?" tanya pria itu sekali lagi.
Calesta masih diam ia bingung dengan semua yang di katakan pria itu.
"Memang nya kenapa dengan ibu ku?" tanya Calesta dengan mata mengernyit tak suka ibu nya di singgung.
"Aku baru sadar, ternyata kau seperti ini." ucap Richard yang tersenyum pada gadis itu.
Menunjukkan perasaan nya dan emosi nya tanpa berpura-pura tersenyum seperti orang bodoh saat menutup kesedihan nya.
"Memang nya aku seperti apa?" tanya Calesta segera.
"Kau seperti bunga matahari," jawab Richard tersenyum pada gadis itu.
Calesta tak mengatakan apapun, ia tak mengerti namun ia merasa apapun arti kata yang di ucapkan pria itu bukan lah untuk menghina nya.
......................
4 Hari kemudian.
Calesta mengikuti langkah kaki pria yang berjalan di depan nya.
Pria itu pun berbalik ke arah nya dan menatap nya lagi, "Bagaimana kau suka kan?" tanya Sean sembari memasukkan tangan nya ke dalam saku celana nya sembari memberikan senyuman nya.
"Kenapa kau selalu tau tempat seperti ini?" tanya Calesta yang memang suka tempat yang bagaikan di negeri dongeng tersebut
"Karna kau suka tempat seperti ini," jawab Sean sembari mendekat dan memegang tangan gadis itu.
"Kau! Kan ku bilang jangan dekat-dekat!" jawab nya saat tangan nya di genggam.
"Bagaimana yah? Kau seperti gula jadi aku terus mendekat," ucap pria itu dengan tawa nya.
"Gula? Berarti kau semut?" tanya Calesta pada pria itu.
"Hm, aku semut nya, maka nya aku suka mengigit!" jawab Sean segera sembari mencoba mengigit telinga gadis itu dengan bibir nya.
"Jangan! Geli!" ucap Calesta menghindar sembari tertawa karna pria itu seakan mengigit dan menggelitik nya di saat yang bersamaan.
"Berhenti! Geli! Haha..." ucap nya terpotong-potong karna tawa nya yang tak bisa ia tahan.
Sean tersenyum, ia ingat dulu pernah menggelitik gadis itu hingga membuat nya hampir kehabisan napas karna tertawa terus menerus.
Ia pun menarik dan menahan pinggang gadis itu di pelukan nya, menatap wajah yang masih tertawa dan bahkan tak tau jika sudah berada dalam dekapan seorang pria.
Hingga tawa nya perlahan berhenti dan memahami situasi nya.
"Eh?" ucap nya yang sadar saat ia menatap wajah yang tersenyum pada nya.
Melihat wajah yang yang dekat dengan wajah nya tentu membuat nya refleks dengan langsung menutup bibir nya rapat dengan kedua tangan nya.
"Kenapa? Kau takut aku mencium mu?" tanya Sean terkekeh.
"Iya!" jawab Calesta segera.
Sean hanya tersenyum, ia tetap mendekat dan mencium punggung tangan yang sedang menutup bibir gadis itu.
__ADS_1
Cup!
"Ih! Kan sudah ku bil-"
Cup!
"Kau ini cari kesempat-"
Cup!
"Sean!" decak nya dengan kesal.
Sean tertawa melihat nya, ia menatap wajah kesal gadis itu, "Makanya kalau tidak mau di cium jangan langsung membuka tangan mu."
"A-aku kan sudah punya pacar!" jawab Calesta gugup.
"Lalu?" tanya Sean yang seakan tak peduli.
"La-lalu kau tidak boleh sembarang mencium pacar orang lain!" jawab Calesta segera.
"Kau berbohong kan? Kalian tidak mungkin pacaran," jawab Sean yang langsung membuat gadis itu terdiam.
"Be-benar kok!" jawab Calesta gugup.
Sean hanya membalas dengan senyuman, ia tau jika gadis itu tak mungkin berpacaran karna gadis itu bisa pergi dengan nya dan bahkan tak menjaga jarak ataupun mewaspadai nya.
"Dia itu buaya kau harus hati-hati," ucap Sean lagi sembari menatap air yang mengalir di depan nya dan meletakkan tangan nya pada pembatas di depan nya.
"Kalau begitu aku ratu nya! Jadi aku tidak perlu takut!" jawab Calesta tak mau kalah.
"Kalau kau jadi ratu buaya aku juga akan jadi buaya," goda Sean pada gadis itu.
Calesta tak menjawab ia tak bisa menentukan ekspresi nya saat ini karna godaan pria yang tengah bersama nya.
......................
Kediaman Clarinda.
Pagi itu saat terbangun dari tidur nya gadis itu mencari ibu nya seperti anak ayam yang di tinggal.
"Mamah..." ucap nya pada sang ibu.
"Kenapa sayang? Ya ampun cuci muka dulu." ucap Clarinda yang mendatangi putri nya yang masih terlihat setengah mengantuk tersebut.
Wajah yang masih berantakan dan polos karna tak memakai make up karna baru saja terbangun dari tidur nya.
Clarinda mengelus rambut putri nya yang kembali tidur di pangkuan nya.
"Kenapa? Kamu mimpi buruk?" tanya nya dengan lembut.
Gadis itu menggeleng pada pertanyaan sang ibu.
"Mah, teman les ku kan dia selalu malu kalau bertemu teman nya, tapi dia juga kangen kalau gak bertemu, tapi kalau bertemu mau nya langsung kabur tapi kalau udah jauh mau dekat lagi, teman ku itu kenapa, Mah?" tanya gadis itu pada ibu nya.
Clarinda tersenyum ia tau putri nya menceritakan diri nya sebagai nama orang lain.
"Itu berarti teman les kamu suka dengan teman mu yang lain?" jawab Clarinda sembari mengelus rambut gadis itu.
"Suka yah mah?" tanya Calesta lagi sembari berpikir.
"Terus kan Mah ada juga teman les ku yang lain, dia kan kalau bertemu dengan teman nya yang lain jantung nya itu berdetak cepat sekali! Terus dia juga jadi gak tau mau buat apa, rasa nya canggung tapi juga ga bisa nolak! Dia itu kenapa, Mah?" tanya gadis itu lagi.
"Hm? Kalau itu sih dia juga suka nama nya nak, kalau kita suka sama seseorang dia pasti begitu," jawab Clarinda yang ikut berpikir.
"Tapi yang pertama Mamah bilang suka yang kedua juga suka?" tanya gadis itu dengan mata polos nya yang tak mengerti membaca pikiran nya.
"Memang nya itu satu orang yang sama?" tanya Clarinda lagi.
"Eh? Tidak Mah, beda orang." jawab Calesta gugup.
"Kalau gitu tanya aja teman kamu dia lebih suka yang mana, dia pasti terkenal yah?" goda Clarinda sembari mencubit hidung mancung gadis itu.
"Tidak kok! Dia tidak terkenal, yang dekati teman aku aja yang tiba-tiba datang terus!" dengus gadis itu kesal karna memang Richard dan Sean yang terus menerus mendatangi nya seperti memliki jadwal tersendiri.
Clarinda tertawa ia tau hal ini merupakan cerita putri kesayangan nya yang bingung dengan pilihan dan isi hati nya.
Sedangkan Calesta berusaha mencerna perkataan ibu nya.
Suka yah?
Aku suka dua-dua nya?
Masa suka sama dua orang sekaligus sih?
Jadi aku suka nya sama yang mana?!
...****************...
Oh iya, othor ingatkan sekali lagi yah ini latar luar, bukan lokal jadi kalau misal dia mau bobo sama beda orang yah gak masalah apalagi kayak cuma 'teman kencan' yang gak mau terikat hubungan.
Jadi tolong jangan samakan dengan budaya ketimuran, bukan tidak ada harga diri tapi hal seperti ini lumrah kecuali dia goda semua laki-laki terus bobo sama semua orang tanpa pandang bulu itu memang yah...
Tapi kalau cuma one night stand dengan teman kencan terus kalau beda teman kencan one night stand lagi itu udah biasa selama ga ada paksaan di kedua nya.
Jadi sekali lagi jangan samakan dengan adat ketimuran kita yah.
Karna yang disana di anggap lumrah dan biasa tapi untuk orang-orang yang memakai adat ketimuran (salah satu nya Indonesia) dianggap tidak sopan.
Jadi jangan lupa dengan latar luar dan jangan samakan dengan pemikiran ketimuran yah!
Cuma ingetin aja mana tau ada yang merasa "Si Ainsley nya gampangan banget sama semua nya mau, dibawa bobo sini mau di bawa bobo sana mau!"
Yah dia kan juga belum tau mana yang dia benar-benar suka, dan selama dia masih seperti hanya sekedar teman kencan sekali, si Ainsley nya juga gak termasuk cheat.
Gimana yah jelasin nya, pokok nya beda culture yah sama kita, jadi inti nya hal kayak gini tuh biasa, kalau pembaca kesayangan othor ada yang merasa gak biasa gimana yah bilang nya.
Coba baca karya terjemahan deh, atau kalau yang memang suka film atau yang berhubungan dengan westren atau budaya nya atau yang bukan westren tapi yang budaya luar tanpa ada adat ketimuran pasti pasti juga bakal tau kalau memang yah hal begini itu biasa aja.
Sekali lagi ini latar luar bukan Indonesia negri tercinta yah!
Dan buat yang bingung dengan pemeran laki-laki nya, othor memang dari awal ga buat siapa yang terlihat benar-benar pemeran utama pria nya.
Karna ini othor make alur reverse Harem versi modern tapi gak banyak-banyak pria nya, dua aja udah banyak yang anggap negatif sama Ainsley nya.
Nah, dan ending nya juga uda othor siapin, karna ada dua kubu pendukung di cerita ini yah pasti ending nya ada yang mengecewakan sebagian kapal karna tak bisa berlayar wkwk, kan gak mungkin ending nya si Ainsley nikah sama dua-dua.
Tapi yah tetap sama dua-dua nya tapi tetep satu kek gitu lah akwwko
Makanya othor ganti judul, jadi nikmati saja yah, yang ingin berlayar di kapal babang Sean atau paman Richard silahkan aja.
Mana tau kalau banyak prajurit nya (pendukung) tu kapal bisa berlayar 🤭🤭🤭😊😊
__ADS_1
Happy Reading pembaca kesayangan othor♥️♥️♥️