Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
I Love you


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Belum ada kabar sama sekali apa pria itu sudah melewati masa kritis nya atau tidak dan Ainsley bahkan sama sekali tak bisa berhubungan ataupun menjenguk nya.


Drtt... drrtt...


Ponsel gadis itu berbunyi, sekertaris Jhon menelpon nya dan ia pun langsung mengangkat nya.


"Tuan sudah sadar, apa nona akan menjenguk?" ucap pria itu begitu telpon tersambung.


"Benarkah? Tentu saja ak-" ucap nya lega namun segera terhenti ketika ia ingin mengatakan mau pergi, "Akan ku lihat jika memiliki waktu luang." sambung nya dan menutup telpon lebih dulu.


Ia sudah berjanji tak akan menemui pria itu lagi dan janji itu lah yang ia buat beberapa waktu lalu.


"Sean sudah sadar?" gumam nya lega dengan bahagia.


......................


Mansion Zinchanko.


"Dia sudah sadar?" tanya Richard saat mendapat laporan tentang kondisi mantan kekasih gadis yang ia sukai.


"Sudah tuan, masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut dan pemulihan." jawab Liam pada tuan nya.


"Padahal kalau dia mati lebih bagus," gumam pria itu yang membayangkan alangkah baik nya jika pria tampan itu mati saja.


"Ainsley? Sudah tau?" tanya Richard lagi pada bawahan nya.


Liam diam sejenak ia takut ada nya pertengkaran lagi, "Sudah tuan."


"Dia tak menemui nya kan?" tanya pria itu menelisik.


Liam diam lagi, ia menarik napas nya dan membuang nya perlahan, "Sejauh ini belum."


"Dia masih di rumah nya kan?" tanya pria itu lagi mengernyit.


"Nona keluar dari rumah nya sekitar satu jam yang lalu," jawab yang mengatakan sebenarnya walau ia tak mau.


"Kemana?" tanya Richard singkat dengan mata yang tajam.


Ia sangat tak suka jika gadis itu menemui mantan kekasih nya.


"Saat in-"


"Sudahlah! Aku akan menyusul nya antar aku menemui nya," potong pria itu langsung.


......................


Rumah Sakit.


Gadis itu menunggu di luar, ia menepati janji nya untuk tak bertemu dengan mantan kekasih nya namun ia memanggil sekertaris pria itu.

__ADS_1


"Nona menunggu lama?" tanya sekertaris Jhon saat melihat ibu hamil itu berdiri dari jauh.


"Tidak, bagaimana keadaan nya?" jawab Ainsley dengan senyuman tipis dan kembali bertanya tentang kabar pria itu.


"Tuan sudah sadar tapi masih belum bisa bergerak ataupun bicara, tapi setelah pemeriksaan untuk saat ini tidak ada di temukan masalah." jawab sekertaris Jhon.


Ainsley mengangguk pelan mendengar nya, ia pun memberikan beberapa belanjaan yang baru ia beli tadi.


"Itu ada beberapa yang mungkin dia perlukan di dalam, dan catatan tentang makanan yang bisa dia makan nanti, kau tau kan? Dia jarang komentar tentang makanan nya tapi kalau dia tidak suka dia tidak mau makan." ucap Ainsley pada pria itu.


"Nona tidak mau masuk dulu?" tanya sekertaris Jhon pada gadis itu.


"Tidak, aku sudah ada janji." jawab Ainsley mengelak.


"Benarkah? Sayang sekali," ucap sekertaris Jhon lirih.


"Tapi mungkin jika hanya seme-"


Langkah yang menggebu datang dari belakang dan langsung menarik pundak gadis itu ke dalam dekapan nya.


"Dia punya janji dengan ku,"


Ainsley terkejut saat mendengar suara Richard ia pun menoleh dan membulatkan mata nya dengan sempurna.


"Paman? Kenapa disin- Auch!" ringis nya terpotong saat bahu nya di tekan oleh pria itu.


"Kita pergi sekarang?" tanya Richard dengan tatapan tajam ke arah gadis itu.


Tak perlu waktu lama Richard langsung menarik tangan gadis itu dengan kasar, ia marah sekaligus cemburu jika gadis yang ia sukai terus menerus menemui mantan kekasih nya.


......................


Mansion Zinchanko.


"Mana ponsel mu?" tanya pria itu dengan nada dingin sembari tatapan yang setajam es.


Ainsley tersentak ia pun merogoh tas nya dan memberikan ponsel nya, sedangkan Richard mulai memeriksa catatan panggilan dan pesan gadis itu.


Entah dari mana pria tampan itu tau tentang kata sandi nya namun yang jelas saat ini pria itu bisa membuka bebas ponsel mahal tersebut.


Prang!


AKH!


Ainsley terkejut ponsel nya yang tiba-tiba di banting dengan kuat di depan nya hingga hancur membuat nya merasa takut.


"Bukan nya kau janji tak akan bertemu dengan nya?!" tanya pria itu sembari mencengkram dagu gadis yang tengah hamil besar itu tanpa sadar.


Ukh!


"Pa-paman sakit..." ucap nya lirih ketika ia merasa sesak jika harus di cengkram kuat seperti itu.

__ADS_1


Deg!


Pupil mata pria itu membesar ia pun tersadar dan melepaskan cengkraman nya, gadis itu langsung memundur dan memegang rahang nya.


Richard diam mengatur napas dan emosi nya lalu melihat wajah yang tengah meringis tersebut.


Bekas kemerahan terlihat di rahang gadis itu karna cengkraman nya, ia pun kembali mendekat secara perlahan.


"Aku tidak bertemu dengan Sean, aku hanya menemui sekertaris Jhon dan memberikan barang setelah itu paman datang." ucap Ainsley menjelaskan dengan lirih.


"Tapi kau sudah punya niat," ucap Richard yang masih kesal.


"Jangan kasar..." gumam gadis itu lirih.


"Anak yang berada dalam kandungan juga bisa merasakan apa yang terjadi di luar..." sambung nya sembari mengelus perut besar nya yang mungkin tiga bulan lagi akan melahirkan.


Bibir pria itu terkatup mendengar ucapan lirih gadis itu, ia tak sadar dan improvisasi karna rasa cemburu nya.


"Maaf..." ucap nya lirih pada gadis itu.


Ia masih ingin memarahi gadis itu namun saat melihat perut besar yang berisi calon anak nya membuat nya menahan nya dan memilih meredam amarah nya.


"Sini," ucap nya dengan lembut dan menarik gadis yang masih terlihat ketakutan tersebut.


Ia menarik dan memangku gadis itu saat itu sudah berada di sofa.


"Aku berat," ucap Ainsley dan beranjak ingin bangun.


"Hush!" Richard menarik tubuh gadis itu tetap dalam pangkuan nya, ia melihat leher atas gadis itu yang memerah dan mengusap nya dengan pelan.


"Seperti nya tidak perlu di obati, merah nya akan hilang sendiri nanti." ucap nya lirih sembari memperhatikan.


Ainsley diam saja ia hanya mengelus perut besar nya dengan perlahan.


Richard melihat ke perut gadis itu, ia ikut mengusap nya dan mendekat, "Jangan takut, sekarang Daddy sudah tidak marah lagi." gumam nya seperti bisikan yang sangat pelan.


"Paman bilang apa?" tanya gadis itu saat ia tak mendengar nya.


"Kau mau tau?" tanya pria itu berbalik.


Ainsley diam sejenak menatap iris yang lurus dengan lekat ke arah nya, "Sudah lah, aku tidak mau tau."


Pria itu mengeluarkan smirk nya, ia menyisir rambut yang tergerai itu kebelakang dengan jemari nya.


"I Love you," ucap nya singkat dengan nada rendah sembari menatap lekat mata yang beradu pada nya.


"Paman bilang itu pada nya?" tanya gadis berbalik menatap tatapan lurus yang memperhatikan nya.


"Hm, So don't make me mad." sambung nya dengan menjatuhkan smirk nya dan tatapan dingin yang menusuk gadis itu.


"Aku ti- Humph!" ucap nya terpotong saat tengkuk nya ditarik oleh pria itu dan langsung menyambar bibir manis nya.

__ADS_1


Tak ada gunanya mendorong, lum*tan pria itu begitu kuat sebanding dengan tenaga nya.


__ADS_2