
Suara lentingan dari sendok dan gelas yang beradu saat memutar terdengar pagi itu.
Aroma teh melati yang harum dengan campuran madu bersatu hingga menimbulkan kepulan asap manis.
Dua jenis tambahan bubuk tak berwarna dan tidak berasa itu mulai di campurkan dan kembali di aduk menjadi satu.
"Ainsley?" panggil nya membangunkan wanita itu dari tidur nya.
Tubuh yang awal tidur menyamping itu perlahan bangun saat ia di sadarkan, mata nya langsung mengernyit.
Kepala nya kembali sakit lagi, "Tunggu..." ucap nya lirih saat suami nya memapah nya untuk bangun dan duduk.
"Kepala nya masih sakit?" tanya pria itu dengan lembut sembari mengusap wajah dan kepala wanita itu dengan lembut.
Ainsley mengangguk dengan wajah pucat nya, tak ada kata apapun lagi dari pria itu melarikan usapan lembut di rambut nya.
"Minum ini," ucap nya sembari memberikan teh yang sudah ia buat.
Ainsley menggeleng, jika minum rasa sakit nya hanya akan reda sementara setelah itu kembali merasakan sakit yang luar biasa.
"Mungkin aku tidak bisa minum teh? Kepala ku sakit..." tolak nya dengan lirih.
"Iya, minum sedikit setelah itu kita mandi, kau lupa ini kan bulan madu kita?" tanya pria itu dengan nada rendah sembari menatap ke arah wanita yang terus mengernyit karna menahan sakit di kepala nya.
Pria itu memapah nya dan memangku nya di atas pangkuan nya lalu memberikan teh yang ia bawa sedikit demi sedikit.
Ainsley tak bisa menolak, semua otot di tubuh nya melemah seperti tak ada tenaga sama sekali.
Untuk berjalan saja rasanya membutuhkan tenaga yang besar, "Sekarang kita makan? Hm?" bisik pria itu saat sarapan mereka sudah di antar ke dalam kamar.
Wanita itu hanya menatap sayu, kepala nya bersandar di dada bidang pria yang memangku nya.
"Kepala ku sakit..." rintih nya yang terus mengeluhkan hal yang sama berulang kali.
"Iya, Nanti tidak sakit lagi." ucap Richard sembari mengelus kepala wanita yang berada dalam pangkuan nya.
Ia sudah mengurangi dosis obat tidur yang ia berikan, sehingga rasa sakit kepala wanita nya akan berkurang sedikit dan nanti nya akan hilang saat narkotika yang ia berikan sudah bekerja.
"Sedikit lagi," ucap pria itu sembari menyuapi satu persatu makanan ke dalam mulut istri nya yang tengah berada dalam pangkuan nya.
"Aku sudah kenyang," ucap Ainsley lirih sembari menolak sendok yang ingin di suapkan pada nya.
"Ainsley?" panggil Richard mengernyit yang tak suka suapan nya di tolak.
Wanita itu menengadahkan kepala nya melihat ke arah raut suami nya yang terlihat tak senang, ia pun kembali membuka mulut dan memakan apa yang di berikan.
"Anak pintar," ucap pria itu tersenyum sembari mengecup kening istri nya.
Setelah memakan sarapan nya, dan membiarkan wanita itu berada dalam pangkuan nya sejenak hingga rasa sakit di kepala nya mereda saat narkotika tersebut sudah mulai bereaksi pria itu pun mulai mengangkat tubuh mungil itu lalu membawa nya ke bathup.
Setelah memandikan nya, pria itu pun mengeringkan rambut dan mengikat nya setengah, wajah gadis itu mulai kembali berseri dan lebih segar.
"Yang mana?" tanya pria itu sembari memilah masker wajah yang akan ia oleskan di wajah istri nya.
"Sebelah kanan di samping lipstick," jawab Ainsley sembari menunjuk di mana masker tersebut.
Richard pun meletakkan kepala wanita itu di atas paha nya dan mulai memberikan masker wajah.
"Kenapa?" tanya Ainsley saat merasakan pijatan lembut tangan pria itu di wajah nya.
Richard mengernyit, ia tak tau apa yang di maksud wanita itu.
"Kalau aku jelek, paman tidak mau lagi?" tanya nya sembari menatap lurus ke wajah pria yang tengah memijat wajah nya.
__ADS_1
"Ku bilang jangan panggil aku paman lagi kan?" ucap pria itu membenarkan perkataan nya, "Kau berpikir begitu? Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi aku suka seperti ini." sambung nya yang seakan seperti sedang bermain boneka hidup.
"Seperti ini?" tanya Ainsley bingung.
"Iya," jawab nya singkat.
Jujur saja ia suka saat wanita itu tak bisa melakukan apapun kecuali tanpa bantuannya, sehingga hanya dengan izin nya saja wanita itu baru bisa bergerak ataupun melakukan sesuatu.
Kalau saja semua dosis yang ia berikan tak membahayakan nyawa wanita itu, ia tak akan mengurangi nya sama sekali.
Melihat istri nya yang sakit dan bergantung pada nya adalah yang menyenangkan untuk nya, wanita itu seakan tak akan bisa kabur kemanapun dan hanya berada dalam lingkaran yang ia buat.
Ainsley melihat ke arah pria yang tengah mengambilkan air untuk nya, sakit di kepala nya semakin mereda, namun ia ingin segara cepat kembali meminum teh yang sering di berikan pada nya.
"Kenapa bukan teh?" tanya nya saat menerima air hangat dari pria itu.
Richard diam sejenak memperhatikan wajah yang tengah bertanya-tanya pada nya, ia tau istri nya sudah mulai kecanduan akan narkotikq yang ia berikan.
"Besok yah," ucap nya sembari mencium dahi wanita itu.
Ainsley diam, ia melihat ke arah lingkungan tempat ia berada dan pengawal yang sudah mulai berkurang tak sebanyak sebelum nya.
"Kenapa aku di kurung?" tanya nya sembari melihat ke arah pria di depan nya.
"Sudah ku bilang kan? Sejak kita menikah kau milik ku dan harus ikuti aturan ku," ucap nya yang tak menyangkal sama sekali jika ia mengurung wanita itu.
"Aku bukan barang! Kalau kita menikah aku jadi istri mu," ucap Ainsley yang langsung tak menyetujui ucapan pria itu.
"Iya, makanya kau harus menurut!" jawab pria itu yang penuh akan penekanan.
"Kita akan kembali dua hari lagi, jadi kau mau kemana hari ini?" tanya Richard setelah mengambil napas nya dan melihat mata yang memandang nya gelisah.
"B'One grup, aku harus mengurus nya kan? Kalau aku seperti ini na-"
Ainsley terdiam, pria itu selalu mematahkan ucapan nya dan akan berakhir sama.
Sedangkan Richard melihat dengan iris nya yang seakan ingin menelan istri nya, ia lebih suka melihat wanita itu jatuh sakit dan menurut pada nya.
Hanya bisa melakukan sesuatu jika bersama nya, itu lah yang ia inginkan.
Memiliki dan tetap membuat wanita cantik itu berada di sisi nya.
"Aku mau pernikahan yang normal, bukan seperti ini..." ucap Ainsley lirih sembari menggelengkan kepala nya.
"Normal yah? Kalau begitu sekarang kau sudah mencintai ku?" tanya pria itu dengan tatapan yang lekat dan lurus ke iris hijau di depan nya.
"Aku akan coba! Aku akan coba suka, makanya..." ucap nya semakin lirih.
"Makanya kau harus ikuti aturan ku! Sekarang sudah kan?" ucap nya yang menutup pembicaraan segera.
Bibir merah muda itu kembali diam tertutup tak lagi mengatakan apapun.
...
Ke esokkan pagi nya.
Ainsley terbangun di pagi nya, ia tak merasakan apapun di samping nya.
Wanita itu memejam menarik napas nya, sakit di kepala nya mulai mereda walau tak hilang sepenuh nya.
Sejak Richard mulai mengurangi dosis nya perlahan, rasa terikat dan denyut di kepala wanita itu pun berkurang namun rasa ketergantungan akan 'Teh' yang di buat semakin menjadi.
__ADS_1
"Dia pergi lagi?" gumam Ainsley dan beranjak bangun.
Tubuh nya masih sangat lemas untuk berjalan namun ia mulai berusaha membiasakan diri nya untuk bergerak.
Suara air yang terdengar dari luar membuat mata nya menengadah dan berjalan keluar.
Ia berdiri sejenak melihat punggung tegap yang memiliki beberapa bekas luka itu tengah mendayun di dalam kolam renang yang besar tersebut.
"Ainsley?" panggil nya saat ia sampai di tepi dan duduk di pinggir kolam tersebut.
Richard sudah mendapat kabar tentang putra kecil nya, bayi mungil itu mulai sadar namun masih di lakukan lagi beberapa pengecekan untuk melihat apakah adanya kerusakan syaraf setelah sempat demam tinggi dan dehidrasi hingga kejang.
Maka dari itu pun berolahraga pagi dengan berenang, karna memilih tak meninggalkan tempat tersebut.
Wanita itu beranjak mendekat namun,
Nyut...
Nyeri di kepala nya kembali menyerang, ia pun mengernyit dan hampir jatuh. Pria itu pun langsung keluar dari kolam renang dan bergegas mendekat.
"Sakit lagi?" tanya pria itu sembari mendekat dan langsung merangkul istri nya.
Ainsley mengangguk pelan, "Kita hari ini saja kembali nya, aku mau menemui Axel..." ucap nya lirih.
Richard diam sejenak, ia tak bisa mengatakan apa yang sedang terjadi pada putra mereka.
"Duduk di sini, aku ambilkan minum nya." ucap nya sembari membawa wanita itu ke tempat bersantai di pinggir kolam.
Ia pun membawa kan segelas minuman dengan satu botol yang berisi obat di dalam nya.
"Ini apa?" tanya Ainsley mengernyit.
"Minum saja, lagi pula aku tidak akan memberikan racun kan?" jawab pria itu tanpa menghiraukan pertanyaan dari wanita nya.
"Tapi apa?" tanya Ainsley lirih.
"Kau sakit kepala kan? Aku memberi mu obat agar tidak sakit lagi." jawab Richard beralasan.
Zat penenang, obat tidur, sekaligus dengan narkotika nya sudah di campur menjadi satu dalam setiap pil yang ia berikan.
Awal nya ia masih belum berniat memberikan nya dan hanya ingin mencampur dalam teh, namun saat mendengar wanita itu ingin bertemu dengan putra ia pun kembali membuat wanita itu sakit agar tak lagi memikirkan putra nya.
"Sakit kepala ku akan hilang kalau aku minum ini?" tanya Ainsley lirih.
"Tentu," jawab pria itu berbohong, ia tau sakit kepala wanita nya tak akan pernah hilang selagi masih meminum obat ataupun teh yang ia berikan.
Ainsley mengambil satu pil dan mulai menelan nya bersamaan dengan air yang di berikan.
......................
Prancis
Mansion Sean.
Pria itu meletakkan jas nya di dalam lemari pakaian nya.
Mata nya mengarah ke arah pakaian dan barang-barang wanita yang bahkan belum ia singkirkan sama sekali.
Senyuman yang tak sadar terutas di bibir nya terlihat sekilas saat ia melihat foto yang pernah mereka ambil ketika wanita itu dulu menginap di mansion nya.
Memakai piyama tidur yang sama lalu menonton film dan memakan camilan malam, hal yang dulu sangat di sukai wanita itu, "Hey? Kau pakai piyama yang sama juga dengan nya?"
__ADS_1
Mata nya menatap dengan senyum pahit melihat ke potongan masa lalu nya.
"Apa sekarang kau sudah menyukai nya?" tanya nya lirih yang bahkan masih terjebak dengan wanita yang telah menikah dan mengikat janji dengan pria lain tersebut.