
Mansion Evans
Sinar yang terlihat terang itu datang, remaja yang memiliki paras tampan itu pun duduk sembari membuka buku nya.
"Kak..."
"Kakak..."
Suara gadis kecil yang mulai datang pada nya, menyentuh tangan nya dan dengan usil menutup buku yang ia baca.
Baru satu bulan semenjak mansion itu kedatangan anggota kelurga yang baru, wanita yang lemah lembut itu bersikap dan menjalankan peran ibu pengganti nya dengan baik.
Ia masih bisa menerima nya karna mau bagaimanapun sang ayah sudah menikahi wanita itu, namun menerima gadis kecil sebagai adik nya bahkan tanpa memiliki hubungan darah sama sekali.
Lirikan mata yang tak memiliki ekspresi itu melihat ke arah gadis kecil dengan polos nya mengambil buku yang telah tertutup karna ulah nya itu dan beranjak naik ke pangkuan remaja itu walaupun kaki nya masih pendek.
"Kakak baca buku apa?" tanya nya sembari memegang buku yang di baca remaja itu dan duduk di pangkuan nya.
Gadis kecil yang terbiasa di manja oleh sang ibu itu tentu terbiasa di gendong dan di pangku. Bahkan saat ia memiliki ayah yang baru pun, Mike dengan senang hati memanjakan nya karna kali ini benar-benar merasa suka dengan anak yang menggemaskan itu berbeda dengan putra nya.
Steve melihat ke arah gadis yang dengan santai duduk di atas pangkuan nya itu dan menatap nya dengan datar.
"Kakak? Main sama Celine yuk?" ajak gadis kecil itu ketika merasa bosan dan ingin remaja yang baru menjadi kakak nya dalam waktu kurang lebih sebulan itu untuk bermain dengan nya.
Tak ada jawaban sama sekali, wajah imut itu pun mengernyit dan langsung mengerucut.
"Huft! Kakak gak selu!" ucap nya mendengus kesal.
"Turun," suara yang terdengar dingin dan datar itu pada gadis kecil yang tengah mengerucut cemberut itu.
"Kakak! Kok gitu sih? Kak?" panggil nya lagi pada remaja itu.
Walaupun Steve menyuruh gadis kecil itu untuk turun namun tetap saja ia sama sekali tak mendorong ataupun menepis nya.
"Kecil," ucap nya lirih saat memegang perut gadis itu lalu meletakkan dagu nya ke atas kepala gadis kecil yang tengah ia pangku itu.
"Nanti Celine bakalan tumbuh besal, lebih besal dali kakak!" ucap nya yang mendengar suara remaja itu.
Remaja itu tanpa sadar tersenyum tipis mendengar nya, "Kau bisa membaca?" ucap nya pada Celine yang terlihat serius melihat buku nya.
"Tidak," jawab Celine dengan senyum sumringah dan wajah yang polos.
"Kenapa? Bukan nya seharusnya kau sudah belajar?" tanya Steve mengernyit.
"Belajal gak enak! Lebih enak main!" jawab nya dengan polos.
Remaja itu kembali tersenyum tipis mendengar jawaban polos dari gadis kecil itu.
"Sini kakak ajarin," ucap nya sembari semakin menarik gadis kecil itu dalam pangkuan nya.
"Mau nya main! Bukan belajal!" jawab Celine dengan kesal.
Steve hanya membuang napas nya dan menunjukkan senyuman yang bernada tipis dengan smirk yang malah terlihat.
Setelah hari-hari yang semakin terjalani, remaja itu mulai menerima kehadiran gadis kecil itu namun tetap saja ia tak bisa menganggap gadis itu sebagai adik nya karna merasa tak ada yang perlu mengharuskan menganggap seseorang yang tak memiliki hubungan darah sama sekali dengan nya harus menjadi saudara.
................
11 Tahun kemudian.
Pagi yang terlihat cerah, suasana makan sarapan keluarga itu terlihat hidup juga.
"Hari ini Mama masak yang kamu suka," ucap Freya sembari melihat ke arah putra sambung nya itu.
"Terimakasih untuk makanan nya," jawab Steve dengan datar dan terdengar dingin.
Walaupun sudah memasuki tahun ke sebelas namun ia masih saja kaku dengan putra sambung nya yang terlihat begitu dingin tak bisa tersentuh, namun...
Jdug!
"Kakak!" sapa gadis berusia 17 tahun itu dengan menyapa pria tampan yang dulu nya masih remaja yang baru tumbuh ketika pertama kali bertemu.
Sama seperti diri nya yang kini sudah berusia 24 tahun dan tentu nya memiliki begitu banyak perubahan fisik yang terlihat jelas, gadis itu pun begitu.
Entah sejak kapan hubungan nya menjadi begitu baik dan ia yang semakin menyayangi gadis cantik itu, namun yang jelas sikap nya hanya berbeda ketika ia menghadapi gadis yang dibawa padanya ketika berumur 6 tahun itu.
"Jangan lari, nanti jatuh..." ucap nya yang terdengar lembut dan penuh perhatian.
Celine hanya tertawa kecil dan duduk si samping pria itu, sedangkan Mike pun turun sembari masih mengancingkan kemeja di tangan nya.
"Sarapan nya sudah siap?" tanya nya pada sang istri sembari mengecup dahi Freya.
"Pa? Papa?" panggil Celine dengan semangat.
"Iya?" jawab Mike pada gadis itu.
"Papa tau gak? Celine dapat peringkat ke 23 di rangking umum!" jawab gadis itu dengan semangat.
Ia tak memiliki kepintaran yang begitu menonjol melainkan memiliki kecerdasan yang sama dengan anak rata-rata lain nya.
"Wah? Sungguh? Anak Papa pinter, Celine mau apa buat hadiah nya?" tanya Mike yang mengapresiasi usaha putri sambung nya itu.
"Mau jalan-jalan! Kita berempat!" jawab Celine dengan semangat.
"Papa lihat jadwal Papa dulu yah? Nanti secepat nya kita bakal pergi liburan, Celine mau kemana?" tanya Mike tersenyum.
"Pantai!" jawab gadis itu dengan cepat.
Setelah pembicaraan singkat itu, sarapan pun mulai perlahan di makan.
Steve merasakan aroma yang berbeda dari gadis itu, gadis yang biasa nya memiliki wangi coklat manis yang ingin di gigit itu kini memiliki aroma yang hampir mirip dengan mawar namun lebih lembut.
"Celine?" panggil nya dan gadis itu langsung menoleh.
"Iya kak?" jawab Celine sembari melihat sang kakak.
Steve mendekat mencium aroma gadis itu lebih dekat dan hampir seperti mencium leher jenjang gadis itu.
"Hihi, geli..." Celine yang malah terkekeh ketika sang kakak memeriksa aroma nya di daerah leher jenjang nya.
Freya mengernyit, remaja yang dulu nya menolak kehadiran putri nya kini terlihat begitu dekat, namun sebagai ibu dan seorang wanita tentu nya ia bisa merasakan jika kedekatan itu bukanlah sesuatu yang harus nya di tunjukkan untuk saudari nya.
"Kau ganti parfum?" tanya Steve dengan senyuman tipis nya yang menatap lurus ke arah gadis itu.
"Iya, kakak suka? Wangi kan?" jawab Celine dengan polos nya.
__ADS_1
Steve hanya memberikan senyuman nya dan kembali memakan sarapan yang di buat ibu sambung nya.
...
Pukul 10.15 pm
"Apa mereka tidak apa-apa seperti itu?" ucap Freya pada suami nya yang ingin tertidur.
"Steve dan Celine? Tenang saja Steve bukan anak yang jahat, walaupun dia terlihat dingin tapi dia tidak melukai anak seperti Celine," jawab Mike dengan santai karna tau putri sambung nya itu sangat rapuh sehingga tak ada satupun yang bisa berpikir untuk dapat menyakiti nya.
"Bukan! Bukan itu maksud ku! Aku seperti merasa Steve bukan suka sebagai adik..." ucap nya lirih pada sang suami.
"Umur mereka itu beda 7 tahun Steve juga pasti bakalan suka sama wanita seumuran nya," jawab Mike tanpa curiga pada putra nya karna ia mempercayai begitu saja.
Dan alasan mengapa sang istri dulu berselingkuh dari nya juga karna sifat tidak peka sekaligus tak merasa curiga dan sangat mempercayai seseorang yang sudah ia sayangi.
Melihat wajah Freya yang masih di tekuk Mike pun mengangkut tubuh sang istri dan menidurkan nya, "Sudahlah, Steve juga tidak mungkin membuat sesuatu yang akan menyakiti Celine." ucap nya pada itu wanita itu.
...
Suara ketukan pintu terdengar, pria itu pun menoleh dan melihat gadis yang membuka pintu kamar nya.
"Kak? Celine tidur di sini," ucap gadis itu perlahan mendekat pada sang kakak yang masih duduk di depan laptop nya.
Pria itu melakukan pekerjaan dan membangun sesuatu tanpa sang ayah ketahui, hal itu di lakukan nya agar ia dapat memiliki kekayaan sendiri tanpa mengandalkan ayah nya saja.
Pria itu menarik tangan gadis itu dan dalam sekejap jatuh ke pangkuan nya, "Kenapa? Lagi takut tidur sendiri?" tanya Steve sembari mengusap perut rata gadis itu ketika duduk di pangkuan nya dan membelakangi nya.
Ia memasukkan tangan nya kedalam piyama tidur yang longgar dari gadis itu dan mengusap perut rata yang memiliki kulit begitu halus tersebut.
Celine tak memberontak ataupun menolak, sejak kecil ia memang terbiasa di manja seperti di pangku ataupun di cium. Namun satu yang tak ia sadari, orang-orang di sekitar nya mulai membangun batasan ketika ia beranjak dewasa.
Seperti ayah sambung nya yang tak lagi memangku ataupun mencium nya dengan gemas ketika ia sudah mulai besar dan dewasa.
Berbeda dengan pria yang ia anggap kakak itu sama sekali tak mengubah cara memanjakan nya malah semakin menjadi ketika ia semakin dewasa.
"Gak suka tidur sendiri, takut! Tadi di luar aku lihat hujan." ucap nya pada sang kakak.
Ia tak membenci hujan namun ia membenci Guntur yang memiliki suara bergemuruh yang kuat dan mengejutkan nya.
"Sama kakak gak takut? Celine kan udah besar? Kakak kan juga laki-laki." ucap nya sembari mencium tengkuk gadis itu.
Pria yang sejak kecil tak memiliki emosi itu tentu nya langsung bersikap berlebihan ketika memiliki sesuatu yang bagi nya menarik dan membuat nya menyukai nya.
"Kak geli..." jawab Celine tertawa kecil ketika pria itu mencium tengkuk nya.
Suara notifikasi masuk ke dalam ponsel gadis itu, Celine yang tengah memegang ponsel nya pun langsung melihat.
Sedangkan mata pria yang berada di balik tubuh kecil itu langsung melihat.
"Siapa?" tanya Steve mengernyit.
"Te-temen kak..." jawab gadis itu gugup karna ia tau sang kakak tak begitu menyukai nya ketika ia dekat dengan pria lain nya.
"Coba kakak lihat," ucap nya sembari meminta ponsel gadis itu.
"Bukan siapa-siapa kak..." jawab Celine mengelak sembari terus memegang ponsel nya.
"Celine?" panggilan yang terdengar dingin dan penuh penekanan itu membuat gadis itu ingin membeku.
Namun ia juga bisa melihat ketika sang kakak marah selalu membuat nya tak bisa bernapas, hanya dengan tatapan dingin menusuk itu membuat nya merasa takut.
Gadis itu masih memegang ponsel nya, Steve pun perlahan bangun dan membuat gadis itu ikut berdiri.
Celine membalik tubuh nya, ia tak bisa mundur karna meja yang berada di belakang tubuh nya menghalangi nya.
"Ponsel," ucap nya lagi dengan mengulang.
Celine menunduk ia takut melihat tatapan tajam pria itu dan perlahan memberikan ponsel nya.
Steve memeriksa satu persatu chat gadis itu, ia mengernyit dan menatap tak suka, lalu melihat ke arah wajah gugup gadis itu lagi.
"Ini siapa? Kenapa pesan nya seperti ini?" tanya nya lagi karna ia melihat begitu banyak emoticon love serta stiker nya.
"Temen kak," jawab Celine sembari tak melihat wajah sang kakak.
Pria itu membuang napas nya lirih, meletakkan ponsel nya di atas meja yang membuat gadis itu tak bisa lagi.
"Kak? Jangan marah..." ucap nya lirih sembari memegang tangan pria itu.
"Celine?" panggil pria itu sembari memegang dagu kecil gadis di depan nya.
Gadis itu menatap wajah yang tak bisa ia baca sama sekali namun ia tau sang kakak saat ini tengah kesal pada nya.
"Kamu sayang kakak kan?" tanya nya sembari memegang dagu gadis itu.
Satu anggukan menjadi jawaban gadis itu, ia benar-benar menyayangi pria di depan nya dalam hal apapun.
Pria itu menunjukkan smirk tipis mendengar jawaban gadis itu, rasa suka nya mulai berlebihan ketika ia semakin tertarik dengan gadis kecil yang terus mengikuti nya.
Setiap kali ia melihat nya tangan nya ingi. menyentuh dan setiap kali sentuhan mulai terjadi ia menginginkan sentuhan yang semakin dalam.
Humph!
Celine membulatkan mata nya, pria itu tetap memegang dan menahan dagu lalu mel*mat bibir ranum yang merah muda itu.
Ia tak bisa mendorong nya dan hanya meremas pakaian sang kakak dengan tangan kecil nya, lum*tan yang halus itu semakin mendalam hingga membuat nya memejamkan mata nya tanpa sadar.
Steve membuka mata nya sejenak melihat gadis itu saat ia tengah mel*mat bibir serta mencari lidah di dalam mulut gadis itu.
Jujur saja, ini juga merupakan ciuman nya namun ternyata insting nya lebih kuat hingga membuat bergerak dengan sendiri nya mencari pengalaman yang baru.
Napas gadis itu mulai akan habis, sang kakak terus membelit nya dan tak membiarkan nya mengambil udara.
Steve mulai merasakan gadis itu yang semakin merasa sesak, ia pun mulai menyudahi ciuman nya sembari mengigit kuat bibit bawah gadis itu di akhir lum*tan panas nya.
Auch!
Celine memekik sembari memegang bibir nya yang terasa perih.
"Hukuman," ucap pria itu singkat setelah mengambil ciuman pertama adik nya.
"Tapi kan Celine gak salah apa-apa kak..." cicit nya pada pria itu.
Steve mendekat sembari mengusap pipi gadis itu, napas nya dapat terdengar di telinga Celine serta aroma mint yang membuat gadis itu tak bosan menghirup nya.
__ADS_1
"Tapi Celine nakal, kakak gak suka kalau lihat Celine nakal..." bisik nya di telinga gadis itu.
"Ma-masa cuma temenan di bilang nakal sih kak?" tanya gadis itu lagi dengan lirih.
Ia juga masih gadis remaja berusia 17 tahun yang ingin memiliki kehidupan percintaan SMA namun karna memiliki kakak posesif membuat nya tak bisa merasakan hal tersebut.
Steve melihat ke arah gadis itu yang masih membantah nya, ia perlahan mendudukkan Celine ke atas meja dan melihat ke arah gadis itu.
"Celine mau kakak hukum? Kalau anak nakal harus di hukum loh, kakak kan bilang kakak gak suka." ucap nya pada gadis itu.
Celine tak menjawab, ia tau sang kakak tak akan menghukum nya seperti memukul diri nya, karna sejak kecil pria itu tak pernah memperlakukan nya dengan buruk.
"Hukuman nya yang kayak tadi kak? Kakak mau gigit bibir aku lagi?" tanya nya lirih.
Pria itu tersenyum mendengar nya, senyuman yang menyimpan arti senyuman yang hanya bisa di tunjukkan pada gadis itu.
Tangan nya mulai meraih dan kembali masuk ke dalam piyama tidur gadis itu, ia tau jika sang adik tak pernah memakai dal*man saat tidur.
Namun biar pun begitu ia tak pernah menjahili nya dan membiarkan saja walaupun gadis itu begitu sembrono dan tak waspada pada sang kakak yang tak memiliki hubungan darah sama sekali itu.
Deg!
Tak hanya gadis itu yang tersentak, Steve pun sama. Tangan nya menyentuh gumpalan daging yang terasa begitu lembut hingga membuat tangan nya merasa nyaman.
"Kak..." panggil gadis itu lirih sembari memegang tangan yang tengah menyusup di balik piyama itu.
Wajah yang sayu dan memerah itu yang tengah memelas pada nya membuat pria itu merasakan sesuatu yang bangun dalam diri nya.
Wajah menggemaskan itu kini benar-benar terlihat imut hingga membuat nya ingin memakan nya.
Steve diam sejenak di atas daging lembut itu lalu perlahan mulai mengusap nya dengan pelan.
"Ka..kakak..." panggil Celine lirih yang merasa seluruh pori-pori nya mulai naik.
"Sstt, Celine kan lagi di hukum. Gak boleh bantah lagi, nanti kakak makin marah loh..." bisik nya menakuti gadis itu.
Celine langsung tak berkomentar lagi, gadis itu kembali diam dan melepaskan tangan nya yang mencegah sang kakak.
Pria itu juga sempat terdiam, ia merasakan tangan nya yang tak ingin lepas melainkan ingin bermain dengan lebih.
Usapan dan remasan lembut mulai bergerak tanpa ia sadari, sesekali ia mencubit pelan dan gemas puncak d*da yang ranum belum pernah tersentuh itu.
Ungh!
Gadis itu melenguh tanpa sadar, ia baru pertama kali merasakan hal yang demikian dari seorang pria ataupun di sentuh seperti itu.
Mendengar suara gadis itu membuat Steve menoleh, jantung nya berdegup kencang namun ia tak ingin berganti melainkan lebih lagi.
Ia pun menarik tangan nya, perlahan melihat sejenak ke arah wajah memelas gadis itu yang semakin menggemaskan.
"Kak..." panggil nya lirih.
Pria itu tak menjawab dan hanya melihat gadis itu, sesuatu yang bangun dalam diri nya membuat nya ingin langsung menerkam mangsa yang begitu empuk di depan mata nya itu.
"Celine rasa ada yang aneh kak," ucap nya lirih.
"Aneh bagaimana? Hm?" tanya pria itu yang langsung tau apa yang sedang di alami gadis itu.
Ia tak pernah melakukan nya dengan wanita manapun, namun bukan berarti ia tidak tertarik dan sama sekali tak tau cara melakukan nya.
"Ta-tadi kan kakak cubit Celine tapi rasa nya gak sakit..." ucap nya lirih, "Malah..." sambung nya menggantung.
"Kakak tadi gak cubit kok," ucap pria itu mendekat ke telinga gadis itu.
Ia memang tak mencubit kuat namun hanya seperti bermain dengan jely yang memilin kecil dan lembut puncak gadis itu.
Gadis itu merasa bingung dan tertunduk, pria itu melihat sikap yang menggemaskan itu membuat nya perlahan membuka piyama tidur gadis itu.
Celine terkejut namun ia terlambat mencegah nya, dan kini tubuh ranum yang masih berkembang itu terlihat jelas di depan mata Steve.
Gadis itu masih tau rasa malu ketika sang kakak melihat nya, ia pun mulai menutupi d*da nya dengan menyilangkan tangan nya ke dada.
Cup,
Satu kecupan lembut di pipi gadis itu mendarat dengan sempurna, perlahan turun ke bibir gadis itu dan semakin turun menjahili leher jenjang nya.
Ia merasa geli karna sikap sang kakak, namun rasa geli nya benar-benar berbeda seperti yang biasa ia rasakan sebelum nya.
Pria itu perlahan menyingkirkan tangan yang menghalangi nya dan kembali bermain dengan bagian tubuh yang begitu lembut itu.
Hingga,
Humph!
Celine tersentak, ia marasa hangat ketika pria itu menangkup d*da yang masih ranum itu dan tanpa sadar meninggalkan jejak kemerahan dengan sempurna.
Tangan pria itu kini mulai semakin jauh ia meraih dan berhasil masuk ke dalam celana panjang yang masih di kenakan gadis itu.
Ia tersentak, jemari nya merasakan sesuatu yang basah. Tanpa sadar seutas smirk kembali terlihat di wajah nya yang tengah meninggalkan jejak merah itu.
"Kak- Shh..." gadis itu tersentak namun tak mencegah sesuatu yang menyentuh bagian paling privasi di tubuh nya.
Sesuatu yang membuat nya tersengat ketika jemari pria itu bermain bagaikan piano yang menekan di setiap tuts nada nya.
Aliran listrik di darah nya mulai memicu dengan cepat, ia mulai merasa panas walaupun sedang hujan dan kamar yang memakai AC itu tak mampu menghindari keringat nya.
Ungh!
Gadis itu melengkung, tangan pria itu semakin basah dan ia pun melepaskan lum*tan yang sudah membuat puncak gadis itu memerah.
Steve melepaskan tangan serta ciuman nya, gadis yang duduk di atas meja itu pun langsung bersandar ke dada bidang nya.
"Yang tadi itu apa kak?" tanya nya lirih dengan napas terengah-engah.
"Hukuman," jawab pria itu tersenyum simpul yang juga ikut merasa puas walau gadis itu tak melakukan apapun untuk nya.
"Hukuman nya aneh..."
"Buat tenaga Celine habis..." sambung nya lirih.
"Mau kakak hukum lagi?" tanya nya sembari mulai kembali memakai kan piyama tidur gadis itu.
Gadis itu menggeleng, "Enak sih kak, tapi Celine jadi lemes..." jawab nya dengan polos sembari membuka tangan nya agar sang kakak menggendong ke ranjang.
Pria itu tersenyum dan mulai mengangkat tubuh kecil gadis itu ke ranjang nya dan membiarkan nya istirahat.
__ADS_1