Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
I want her


__ADS_3

Mentari pagi yang menembus kaca jendela di ruangan tersebut membangunkan gadis itu, mata nya melihat sekeliling dan menyentuh diri nya sendiri guna merasakan pakaian yang sangat melekat padanya.


"Ayo, mandi." suara seorang pria yang langsung membuat pikiran nya buyar dan menoleh.


Sean menatap gadis itu, ia tak bisa benar-benar melakukan nya karna gadis itu mulai sesak nafas dan kepanikan yang menjalar ke diri nya.


"Kita pelan-pelan saja..." ucap nya sembari menyelipkan rambut ke telinga gadis itu.


Tentu nya ia harus menyentuh gadis itu secara perlahan dan tak bisa langsung melakukan nya.


Cup!


Satu kecupan ringan melayang di bibir gadis itu, semua membutuhkan proses. Itulah yang berusaha di tanamkan Sean pada dirinya sendiri agar ia bisa bersikap perlahan.


Gadis itu tersentak dan melihat ke arah kekasih nya, ia tau memutuskan hubungan yang tengah di jalin saat ini lebih sulit di banding memutuskan hubungan ia dan ibu nya.


Mata tajam yang kemarin malam menatap nya kini sudah hilang dan menjadi tatapan lembut, Ainsley mengalihkan pandangan nya.


Keadaan nya memang membaik dan serangan panik nya tak separah sebelum nya.


"Nah, sekarang ayo mandi..." ucap Sean mengangkat tubuh gadis itu tanpa beban.


"Mau mandi sendiri," ucap nya pelan dan menepis tangan Sean yang sedang berada di pinggang nya.


"Tapi aku mau mandi dengan mu, kita sudah lama tak mandi bersama kan?" ucap Sean pada gadis itu.


Ainsley hanya menatap tanpa ekspresi dan membuang pandangan nya, "Tapi yang terakhir kali menyakitkan, aku tak mau..." tolak nya dengan lirih.


Deg...


Sean tersentak, ia ingat apa yang ia lakukan di dalam bathup bersama gadis itu terkahir kali, ia juga ingat wajah yang meringis menahan rasa sakit luar biasa saat ia mengambil sesuatu yang berharga dari gadis itu bahkan dengan tubuh yang penuh luka karna siksaan nya.


Dan ruangan tempat Ainsley di rawat memang sudah ia berikan fasilitas seperti kamar di rumah agar gadis nya merasa nyaman.


"Kali ini tak akan sakit, kau mau kan? Aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi." ucap pria itu lirih.


"Lalu semalam, Sean hampir melakukan nya." jawab gadis itu dengan datar, kini ia mulai mengatakan apa yang ia inginkan.


Mengatakan 'tidak' saat tak menginginkan sesuatu, hal bahkan tak pernah ia lakukan bahkan di mimpi sekalipun.

__ADS_1


Pria itu memejam sesaat, kini gadis nya mulai membuat penolakan pada nya secara perlahan, tak seperti dulu yang selalu begitu patuh pada nya.


"Baik, lain kali saja." ucap pria itu sembari memeluk pinggang gadis nya dan mencium pipi lembut tersebut.


......................


1 Bulan kemudian.


Tak terasa waktu sudah dua bulan berlalu, terapi yang di jalankan mulai membuahkan hasil walaupun senyum gadis itu tak kunjung kembali.


Namun Ainsley sudah dapat keluar dan kembali ke apart nya. Richard juga sesekali mengunjungi nya namun ia lebih sering menggunakan mata-mata yang ia gunakan untuk melihat aktivitas gadis itu.


"Kau masih belajar?" tanya Sean pada kekasih nya saat melihat gadis itu sudah kembali belajar.


"Kau ujian?" tanya pria itu sembari duduk di samping kekasih nya.


Hening, tak ada jawaban apapun yang di katakan oleh gadis nya, "Makan dengan ku yah." sambung nya lagi pada wanita yang tengah terfokus pada buku-buku tersebut.


Sekali lagi tak ada jawaban sama sekali dari gadis itu, hingga membuat Sean menggigit ujung makanan yang baru ia pesan dan menarik tengkuk Ainsley tiba-tiba.


Humph!


Sean pun melepaskan tautan bibir nya dan tersenyum melihat gadis itu yang mulai makan, "Kalau kau tak mau, aku akan terus menyuapi mu seperti ini." ucap Sean yang masih dengan senyum nya.


Ia tau sekarang Ainsley sangat sulit melakukan skinship apa lagi untuk melakukan unboxing sudah tentu nya sangat sulit karna gadis itu bisa kehabisan nafas yang diakibatkan dari serangan panik.


Ainsley menoleh, ia pun beranjak pergi dan mengambil makanan yang di pesan oleh kekasih nya.


Sean pun dengan cepat mengikuti gadis itu dan ikut makan malam bersama nya.


...


Uhh...


Tubuh nya gemetar dengan keringat dingin yang membasahi dengan terus menjatuhkan bulir nya.


Ia terus gelisah dan ketakutan dalam tidur nya yang sedang di datangi oleh mimpi buruk yang terus menerus menghantui nya.


"Ainsley?! Bangun! Hey?!" Sean terus menepuk bahu gadis itu dan menggoyangkan tubuh nya agar bisa terbangun dari mimpi buruk yang menjerat nya.

__ADS_1


Mata hijau coklat keemasan itu terperanjat dan terbangun seketika, wajah nya pucat dan masih gemetar.


"Ainsley? Hey? Kenapa?" tanya Sean pada gadis itu.


"Sesak...


Terlalu banyak air, aku tak bisa bernafas..." ucap nya lirih dengan nafas yang terengah-engah.


Sean mengerutkan kening nya, namun ia langsung memeluk gadis itu dan menepuk punggung nya secara lembut.


"Sekarang kau sudah bisa bernafas, jangan takut..." bisik nya hingga gadis itu tenang.


......................


Mansion Zinchanko.


Wanita yang memiliki tubuh ideal profesional itu kini tengah duduk di pangkuan seorang pria tampan dan terus berusaha merayu nya.


Melakukan gerakan eksotis dan mengusap rahang serta sesekali mencumbu bibir pria tersebut.


"Hanya ini kemampuan mu?" tanya Richard karna dirinya sama sekali tak merasa bergairah walaupun sudah mendapatkan godaan di depan mata nya.


Wanita tak menyerah ia pun lantas berdiri dan membuka pakaian nya sendiri lalu kembali naik ke pangkuan pria tersebut.


Richard yang merasa jengah pun mulai mendorong wanita tersebut, ia tak mengerti kenapa ia kini tak bisa melakukan nya dengan wanita lain setelah meniduri kelinci polos itu.


"Keluar! Minta bayaran mu pada Liam." ucap Richard dengan wajah tajam nya pada wanita yang kini tak mengenakan busana tersebut.


Ia pun kembali mengancingkan pakaian nya dan menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.


Rasanya hambar dan tak bergairah sama sekali, ia tak bisa menemukan api yang memantik jika tidak bersama gadis polos itu.


"Aku menginginkan nya lagi..." gumam nya dengan lirih.


Bukan untuk memaksa gadis itu melakukan hal itu lagi namun ia ingin kembali mengesap aroma tubuh yang lembut bagaikan bunga di musim semi.


Menggenggam tangan kecil dan melihat tersenyum, itu yang ia inginkan saat ini.


Mengambil semua senyuman dan hidup gadis itu hanya untuk nya, ia tak tau perasaan nya saat ini di namakan apa.

__ADS_1


Entah itu suka, ataupun hanya sekedar penasaran pada mainan nya namun yang ia tau saat ini ia menginginkan gadis itu dan tiap hari nya rasa ingin itu terus bertambah lagi dan lagi.


__ADS_2