Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Rain


__ADS_3

Axel menunduk terdengar tangisan lirih di dalam nya, ia tak mau di katakan bodoh dan takut pada nenek nya kandung nya yang berada di depan nya saat ini.


"Axel? Dengerin Grandma," ucap Fanny sembari berdiri atas lutut nya agar bisa menyamai tinggi cucu satu satu nya itu.


Axel menoleh sejenak ke arah wanita itu dan menatap dengan tatapan sayu nya, "Axel gak bodoh..." ucap nya lagi.


"Dulu aja Mommy kamu itu gak pernah dapat peringkat ke dua, Grandma juga. Makanya Axel itu harus nya belajar bukan main. Kalau main terus gimana mau pintar." ucap nya lagi namun semakin membuat cucu nya takut.


"Ka-kata Mommy gak apa-apa main dulu, yang penting Axel jadi anak baik." jawab Axel dengan tangisan nya.


"Main terus? Axel kalau kamu nya bodoh terus Mommy Daddy malu, kamu bisa di tinggalin. Mommy kamu gak akan mau lagi punya anak kayak Axel," ucap nya yang berusaha agar anak kecil di depan nya hanya tinggal menuruti nya saja tanpa membantah.


Axel langsung mendongak, mendengar sang ibu tak akan lagi menjadi orang tua nya membuat nya begitu takut.


"Huaa..."


"Mommy sama Daddy gak bakal tinggalin Axel huhu..." tangis nya saat ia di takut takuti oleh hal bagi nya mengerikan di usia nya.


"Kenapa engga? Axel aja gak pintar," ucap Fanny yang semakin membuat kencang tangisan cucu nya.


Ainsley tersentak, ia memang berjalan ke arah taman untuk mengantar cake kesukaan putra nya sebagai camilan namun malah mendengar tangisan kencang putra nya.


Tangan nya langsung menurunkan nampan yang ia bawa dan segara dengan cepat menghampiri putra kesayangan nya.


"Axel?" panggil Ainsley dengan cepat menyusul.


Mendengar suara ibu nya, Axel pun langsung berlari memeluk sang ibu dengan erat dan tangis nya terlihat menyedihkan hingga membuat nya cegukan.


"Mo-Mommy jangan tinggalin Axel..."


"Axel janji bakal jadi anak pintal, gak buat Mommy malu..." ucap nya tersendat-sendat karna cegukan akibat tangis nya.


Ainsley mengernyit, ia langsung menghapus air mata putra nya dengan lembut dan memperhatikan wajah yang memerah karna tangis itu.


"Kenapa Mommy ninggalin Axel? Axel kan anak Mommy sama Daddy?" tanya nya dengan nada halus pada putra nya.


"Kalna Axel bodoh," jawab nya polos dengan tangis sengugukan.


Deg!


Mata nya membulat, tubuh nya membatu seketika, tangan nya memegang erat tubuh putra nya dan menatap sang ibu yang berdiri tak jauh di belakang putra nya.


Dasar anak bodoh! Pembawa sial!


Kata-kata yang dulunya biasa ia dengar bagai air terjun kini kembali berputar di telinga nya seperti kaset rusak.


"Siapa yang bilang nak?" tanya nya dengan suara gemetar, antara marah dan sedih menjadi satu.


"Grandma yang bilang, huhu..." adu nya dengan tangis yang meleleh.


"Axel gak bakal jadi bodoh lagi Mom..."


"Gak akan buat Mommy Daddy malu, jangan tinggalin Axel, huhu..." tangis nya yang sangat takut jika ucapan nenek nya menjadi kenyataan.


Ainsley tersenyum tipis pada putra nya, ia menghapus air mata yang keluar karna takut akan hal yang tak mungkin terjadi.


"Axel kan anak pintar nya Mommy sama Daddy, Mommy gak bakalan tinggalin Axel kok," ucap nya sembari memeluk putra nya.


Fanny mengernyit, bagi nya cara membesarkan seperti itu hanya akan membuat cucu nya tidak bisa apapun.


"Ainsley? Sebaiknya kau mulai mengikutkan dia les," ucap nya yang menatap ke arah putri nya sedangkan wanita itu menatap nya tajam.


Mata nya menatap tajam sang ibu sembari memeluk putra nya yang gemetar karna tangis.


"Ainsley? Kau tidak dengar Mamah? Mamah sudah punya tempat les yang bagus jadi nanti kau tinggal daftarkan dia saja." ucap nya saat tak mendengar jawaban dari putri nya.


"Cukup Mah," ucap Ainsley yang ingin sang ibu berhenti bicara.


"Kau ini tidak tau cara mengurus anak bagaimana? Kalau kau biarkan seperti ini nanti dia mau jadi apa?" tanya Fanny pada putri nya.


"Mah..." panggil nya yang ingin sang ibu bungkam tak lagi membicarakan hal yang semakin membuat putra nya takut.


"Axel janji bakal belajal Mom..." ucap anak itu lirih di dalam pelukan ibu nya.


"Kau tau kan? Mamah itu mau yang terbaik untuk Axel, kalau kau mendidik nya seperti dia bisa seperti apa nanti. Mamah bakal ajari siapa kau bisa jad-"


"Memang nya anda ibu yang baik? Mendidik Axel? Dia anak ku! Tidak perlu ikut campur! Mau dia jadi apa itu urusan nya, mau dia pintar atau tidak itu masalah ku dengan nya nanti!" selak Ainsley sembari menatap sang ibu dengan tatapan tajam.


"Makanya dia sekarang jadi begini kan? Karna kau seperti ini mak-"


"Cukup Mah! Mau sampai kapan sih Mamah itu egois? Dia anak ku! Mamah tidak usah ikut campur! Memang nya Mamah ngerasa jadi Ibu yang baik untuk aku?!" tanya nya dengan suara tinggi saat emosi nya memuncak.


Ia melakukan segala hal, mendidik dan menyayangi putra nya agar tidak tidak memiliki kehidupan yang sama seperti nya dulu dan tumbuh dengan masa kecil yang bahagia.


Namun sikap nya di komentari oleh seseorang yang membuat kenangan masa kecil nya bagaikan trauma yang terus melukai nya.

__ADS_1


Axel terkejut mendengar suara tinggi sang ibu, ia tak pernah melihat ibu nya semarah itu, ia takut namun semakin memeluk tubuh sang ibu.


Fanny terdiam, sebelum nya putri nya tak pernah membentak ataupun meninggikan suara nya, walaupun wanita itu dulu nya marah pada nya namun tetap menjaga suara nya agar tetap rendah walaupun raut wajah nya sudah berubah.


"Mamah tidak bermaksud seperti itu..." ucap nya lirih pada Ainsley.


"Cermin di rumah besar Mah, kalau Mamah punya waktu selain melihat wajah lihat juga hati Mamah," ucap nya menatap tajam dan menggendong putra nya.


Langkah nya terhenti sejenak saat ia berbalik, "Oh iya, jangan bertemu dengan Axel lagi kalau Mamah masih seperti itu."


Fanny diam, ia tak bisa melanjutkan perkataan ataupun langkah nya lagi, ia ingin cucu nya unggul dalam segala hal karna bagi nya hal tersebut merupakan hal yang terbaik untuk masa depan cucu nya.


...


Pukul 09.35 pm


Ainsley mengelus kepala putra nya yang kini tertidur nyenyak setelah lelah menangis tadi siang.


Sedangkan Richard yang memang sejak pagi pergi tak tau menahu tentang kejadian siang ini di mansion nya.


Wanita itu berulang kali membuang dan mengambil napas nya dengan dalam, sesekali dada nya terasa sesak dan tak bisa bernapas saat kenangan masa kecil nya kembali berputar lagi.


Berbeda ketika ia terkadang mendapat sikap kasar dari suami nya karna cemburu, kenangan masa kecil nya lebih mengerikan di bandingkan pukulan fisik yang ia terima.


Saat ia kembali mengingat nya, rasa panik, gelisah, takut dan terkadang tubuh nya pun ikut kembali merasakan rasa sakit yang sama.


Seperti kondisi PTSD sekaligus Psikosomatik yang bergabung menjadi satu.


NB KET : PTSD atau post traumatic stress disorder. PTSD sendiri merupakan kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan seseorang.


NB KET : Psikosomatik adalah keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukannya oleh alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi (Jadi seperti merasakan sakit tapi sebenarnya tidak ada sakit fisik sama sekali yah)


"Apa aku perlu minum obat penenang lagi?" gumam nya yang kembali merasakan degupan jantung yang kencang dan juga sesak di dada nya sama seperti tadi siang ketika ia marah dan kembali mengingat masa kecil nya.


Ia pun perlahan turun dari tempat tidur putra nya dan berjalan keluar.


Tubuh nya terhuyung, namun sebelum menyentuh lantai seseorang telah menangkap nya.


"Kau ini, tidak ada apapun saja bisa terjatuh." ucap pria itu yang tertawa kecil karna ia tidak tau jika wanita nya sedang dalam kondisi tidak baik.


Tidak ada jawaban namun terdengar suara tarikan napas yang terasa berat dari istri nya membuat pria itu langsung mengangkat wajah wanita itu.


"Ainsley? Kenapa?" tanya nya yang kini senyuman nya langsung hilang dan berganti dengan raut khawatir.


"Obat ku," ucap nya lirih di tengah tarikan napas nya yang terdengar berat.


Richard mengernyit, ia tak tau obat mana yang di maksud namun ia pun dengan segara langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa nya ke kamar.


"Hey? Tenang..." ucap nya sembari menidurkan wanita itu.


Ia pun langsung berbalik membuka kotak obat yang berada di kamar nya dan mencari apa yang cocok untuk istri nya.


"Penenang?" gumam nya saat melihat kondisi wanita itu seperti serangan panik.


Ia pun dengan cepat mengambil nya, bukan mengambil obat minum, pria itu mengambil jenis cairan yang bagi nya lebih efektif dan nanti nya tinggal menyuntikkan ke tubuh istri nya saja.


Perlahan saat cairan itu mulai masuk, wajah yang tadi nya terlihat tak nyaman itu mulai tenang dan mata nya pun mulai sayup.


"Ainsley? Kenapa?" tanya nya lirih sembari menggenggam tangan wanita itu.


Mata sayup dan kesadaran yang setengah membuat nya antara tidur dan tidak karna obat yang di suntik memiliki efek yang lebih banyak di bandingkan obat yang di minum.


"Aku ingat, aku tidak mau Axel jadi seperti ku..." jawab nya yang ambigu karna setengah sadar.


"Axel kan anak kita, kalau seperti mu kenapa? Kau kan cantik, pintar, menggemaskan..." jawab nya yang tak tau pembicaraan apa yang di maksud istri nya.


"Sakit..."


"Axel gak boleh sakit, aku sudah jadi ibu yang baik kan?" tanya wanita itu semakin rancu.


Richard mengernyit, ia baru saja kembali namun sudah melihat istri nya yang hampir jatuh dan berbicara hal yang tak ia mengerti.


"Ada apa? Kau itu sudah jadi istri dan ibu yang baik," jawab pria itu pada istri nya.


"Axel itu hidup ku, kalau dia tidak ada aku juga tidak mau ada lagi..." racau nya sebelum ia kehilangan kesadaran nya sepenuh nya dan jatuh tertidur.


Richard diam melihat istri nya yang kini sudah jatuh tertidur, ia menarik selimut guna menutup tubuh wanita itu dan mengecup dahi nya dengan dalam.


Ia pun beranjak keluar menanyakan, apa yang terjadi, namun pelayan hanya mengatakan hal yang singkat karna mereka hanya tau pertengkaran nyonya mereka dan ibu nya namun tak berani menonton atau menguping.


"Dia bertengkar dengan wanita itu?" gumam nya yang mengangguk mengerti.


Berani sekali dia! Sudah ku biarkan masuk ke sini saja harus nya sudah bersyukur, tapi malah mencari keributan?!


Ia merasa kesal namun ia memilih menanyakan hal lengkap nya ketika wanita nya sudah terbangun nanti nya.

__ADS_1


......................


Sementara itu.


Tempat yang berantakan serta alkohol yang keluar dari botol yang sudah pecah itu berhamburan ke lantai bercampur dengan darah.


"Dasar baj*ngan si*lan!" ucap nya yang begitu kesal dan emosi ketika salah satu wilayah nya di ambil.


"Kau sudah cari tau dia?!" tanya nya pada bawahan nya yang gemetar melihat kemarahan nya.


"Sudah tuan, dia punya satu istri dan satu anak laki-laki. Istri nya jarang terlihat tapi anak nya bersekolah di Internasional school," jawab nya pada pria itu.


"HAHAHAHAHA!!!" suara tawa menggema terdengar dari pria yang rambut nya mulai memutih dan memiliki perut buncit tersebut.


"Orang seperti itu punya keluarga? Apa akal nya sudah hilang?" tanya nya dengan tawa.


Dendam nya benar-benar menumpuk karna pria itu sudah mengambil uang yang sangat ia sukai.


Apapun yang ia lalukan tak pernah memang sehingga membuat nya sangat marah.


"Kau punya foto nya?" tanya nya lagi pada bawahan nya.


Pria yang gemetar dan terlihat takut itu pun mengeluarkan dua foto, "Istrinya putri dari keluarga Bellen dan mantan pemain piano sedangkan putra nya masih berumur sekitar 5 tahun." jawab nya menjelaskan kedua foto yang ia bawa.


Pria itu melihat ke arah foto wanita yang terlihat cantik itu, tidak sulit mendapatkan foto wanita itu karna ia yang memang sebelumnya adalah publik figur sehingga biodata dan foto nya banyak tersebar.


"Cantik juga istri nya," gumam nya yang melihat dengan tatapan n*fsu pada wanita itu.


"Kita bunuh anak nya," perintah nya pada bawahan nya.


"Dia juga pasti sudah bosan dengan wanita itu, tapi aku juga mau coba sekali." ucap nya lirih yang merasa jika orang-orang yang berada di lingkungan seperti nya tak akan pernah mencintai wanita.


Maka dari itu ia memilih membunuh putra pria itu di bandingkan istri nya karna ia yakin manusia yang mirip monster itu hanya menikahi wanita sebagai koleksi.


"Kalau kau bisa dapatkan istri nya juga sekalian ambil, dari pada wanita seperti itu di sia-sia kan lebih baik aku yang puaskan." ucap nya tertawa yang sama sekali tidak tau jika pria itu sangat mencintai istri nya.


......................


Mansion Zinchanko


Ainsley menoleh, tubuh nya terasa berat karna pelukan erat suami nya yang membuat nya tak bisa bergerak.


Merasakan geliat yang terus menerus membuat pria itu perlahan membuka mata nya dan menatap wanita yang ingin lepas dari pelukan nya.


"Morning Luv," ucap nya sembari mengecup kepala istrinya dengan mata yang masih mengantuk.


"Bangun, sudah pagi!" ucap Ainsley yang langsung ingat jika pagi ini putra kesayangan nya minta di bawakan cupcake ke sekolah.


"Lima menit lagi," jawab Richard singkat yang masih ingin memeluk tubuh wanita itu.


Ainsley pun diam tak mengatakan apapun lagi dan membiarkan pria itu memejam dengan kantuk nya lima menit lagi.


"Lima menit yah," ucap nya sembari membiarkan pelukan suami nya.


"Nanti juga kita cari teman buat Axel," jawab pria itu yang masih terpejam dengan suara serak nya khas bangun tidur.


"Teman Axel? Di mana?" tanya Ainsley mengernyit.


"Terserah, mau di sini bisa di kamar bathup juga bisa." jawab Richard yang masih memejam.


"Kenapa cari nya di sana?" tanya Ainsley yang tak masih tak nyambung efek baru bangun dari tidur.


"Nambah Axel kedua kan bagus? Biar jadi lebih ramai lagi," ucap nya sembari memeluk wanita itu.


Duk!


Kini Ainsley sudah mengerti maksud suami nya, mencari teman untuk nya maksud nya adalah membuat adik baru.


"Kata nya mau satu anak aja?" tanya Ainsley pada pria itu.


"Tapi kan aku juga suka proses pembuatan anak nya," ucap nya ringan sembari semakin memeluk erat tubuh wanita itu.


...****************...



Richard Zinchanko



Ainsley Setya Bellen / Calesta Queta



Axel Miller Zinchanko

__ADS_1


__ADS_2