Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Berharap dia bahagia


__ADS_3

Mansion Zinchanko.


Ainsley membuang napas nya dengan pelan, selama dua hari belakangan ini seperti perang dingin dengan pria itu.


Ia hanya diam dan tak tau apa yang ingin ia bicarakan dan pria itu pun yang hanya berbicara sesekali pada nya.


Terkadang di malam hari ia merasakan pria itu yang mengecup kening nya sebelum tertidur.


Mata nya melirik menoleh ke arah pria yang mengganti pakaian di belakang nya ketika ia tengah menyusun barang-barang nya.


Auch!


Ringis nya, saat ujung jemari nya terkena ujung hiasan rambut yang tajam karna melirik ke arah suami nya sekilas dan tak fokus dengan apa yang di kerjakan.


Richard langsung menoleh, namun karna wanita itu terus membelakangi nya membuat langkah nya terasa berat, bukan karna tak peduli namun ia sendiri tidak tau apa yang membuat nya sulit melangkah.


Ainsley melihat jemari nya yang mulai mengeluarkan cairan merah kental, ia pun langsung beranjak mengambil tissu dan mengusap nya.


Mata pria itu membulat saat ia melihat warna merah menembus tissu putih tersebut.


Seketika langkah yang tadi berat langsung ringan, "Kenapa ini?" tanya nya sembari meraih tangan wanita itu.


"Kena itu," jawab Ainsley sembari menunjuk.


Mata pria itu menoleh ke arah apa yang di tunjukkan oleh istri nya. Terlihat tatapan yang tajam ke arah benda itu.


"Jangan di buang, aku yang tidak hati-hati." ucap Ainsley karna tau apa yang ada di pikiran suami nya, bagi nya sayang untuk membuang benda yang masih bagus dan cantik begitu saja.


"Kenapa beli yang bahaya sih?!" tanya nya sembari membawa tangan Ainsley ke tempat duduk.


Ia pun beranjak mengambil kotak P3K dan membawa nya, "Sini tangan nya."


Tak ada jawaban dari wanita itu namun ia membiarkan saat suami nya mengobati tangan nya, antiseptik yang perlahan di berikan saat darah nya sudah di usap.


Ainsley mengernyit, rasa perih yang datang saat antiseptik itu menyentuh luka nya, ia pun secara refleks menarik tangan nya sedikit.


"Sakit?" tanya nya sembari meletakkan kapas dengan lembut.


"Masih lebih sakit dua hari yang lalu," jawab nya menyindir sikap kasar pria itu dua hari yang lalu.


Richard tak menjawab, ia hanya melihat sekilas wajah wanita itu, ia tau istrinya menyindir sikap kasar nya dua hari yang lalu.


"Sudah, lain kali harus hati-hati." ucap nya sembari menutup dengan plester.


Ainsley melihat jemari nya yang sudah rapi tertutup dengan plester, mata nya pun kembali menoleh pada suami nya yang beranjak bangun dari duduk nya setelah mengobati luka nya.


"Richard," panggil nya saat pria itu ingin


berbalik.


Pria itu berbalik menoleh menatap ke arah istrinya, "Ada apa?"


"Masih sakit," ucap Ainsley tanpa sadar, ia ingin berhenti perang dingin seperti ini namun ia tak tau bagaimana cara nya memulai percakapan.


Pria itu diam sejenak, ia menatap wajah yang langsung membuang mata nya karna tak biasa mengatakan seperti itu.


Ia mendekat dan mulai mengangkat tubuh wanita itu.


"Eh? Yang sakit kan tangan ku bukan kaki ku?" tanya Ainsley dengan bingung.


Tak ada jawaban dari pria itu, ia menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang dan mencium ujung jemari yang terbalut plester itu dengan kecupan lembut.


"Kalau masih sakit istirahat dulu, nanti aku panggil dokter." ucap nya sembari menatap iris hijau di depan nya.


"Dokter? Cuma jari aja, gak perlu dokter!" ucap Ainsley segera.


Pria itu tak menjawab, ia hanya melihat ke arah bahu istrinya dan menurunkan sedikit pakaian yang di kenakan.


Masih terlihat bekas perban di bahu wanita itu, ia yang mengigit nya dengan gemas dan perasaan mendominasi dua hari yang lalu menyebabkan banyak luka di tubuh berlapis kulit putih itu.


"Sekalian lihat bekas luka mu yang lain," jawab Richard pada wanita itu.


"Malu," ucap nya lirih karna harus memanggil dokter setelah berhubungan.


Tak ada jawaban dari pria itu namun ia kembali bangkit dari duduk nya dan mengecup sekilas kening istri nya.


"Aku pulang lebih malam hari ini, kau bisa makan malam duluan dengan Axel." ucap nya beranjak.


Ainsley diam tak menjawab, ia terasa bingung dan tak bisa membalas ucapan itu.


"Tapi tetap harus pulang cepat! Aku mau makan malam dengan mu," ucap nya sebelum pria itu keluar.


Tak ada jawaban, namun pria itu hanya berhenti sejenak dan keluar.


...


"Mommy?" panggil Axel dengan tatapan yang ingin tau dengan besar.


"Ya? Kenapa?" tanya nya yang langsung menoleh ke arah putra nya.


"Mommy sama Daddy kenapa? Kok sekalang seling nya diem aja," tanya Axel yang merasa interaksi kedua orang tua nya berkurang.


Ainsley diam sejenak mendengar nya, ia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk putra nya, entah itu kasih sayang, harta, cinta orang tua.


"Mommy Daddy gak kenapa-kenapa," jawab Ainsley sembari tersenyum.


"Daddy mana sekalang?" tanya nya yang lebih kursi sang ayah kosong.


"Daddy lagi kerja, Axel makan sama Mommy yah?" tanya Ainsley sembari mengambil piring putra nya dan mulai menyuapi nya.


"Mommy gak makan?" tanya Axel lagi saat ia melihat ibu nya belum menyantap makanan di depan nya.


"Mommy makan nya setelah Axel makan," jawab Ainsley dengan lembut sembari mulai menyuapkan sendok berisi makanan pada putra nya.


"Daddy kelja telus..." ucap nya dengan bibir cemberut.

__ADS_1


Ia menyayangi sang ayah yang selalu memanjakan nya, namun ia juga sering merasa kesal karna pria itu terkadang tak memiliki waktu untuk nya.


"Makan lagi nak," ucap Ainsley saat putra tak lagi mau membuka mulut setelah suapan sebelum nya.


"Gak mau! Axel kesel!" jawab nya cemberut.


"Kesel kenapa?" tanya Ainsley sembari meletakkan sendok nya ke piring.


"Daddy kan hali ini janji mau main pelang-pelangan sama Axel tapi malah kelja!" ucap nya protes tak suka.


"Main nya sama Mommy ya? Daddy kan kerja buat Axel juga biar bisa beliin Axel mainan..." ucap nya sembari melihat putra dengan senyuman lembut.


Axel tak membalas ia hanya menatap sembari mengerucutkan bibir nya dengan perasaan kesal.


"Makan yah? Katanya mau tinggi kayak Daddy? Harus makan banyak," ucap Ainsley lagi.


"Axel kan lagi malah!" jawab nya dengan wajah kesal.


"Iya, Mommy tau makanya nanti Mommy mau buatin tenda kemah buat Axel di kamar," ucap nya dengan iming-imingan yang membuat mata putra nya kembali berbinar.


"Benelan?" tanya nya mengulang.


Ainsley mengangguk mengiyakan ucapan putra nya.


...


Pukul 01.35 am


Pria itu kembali, seperti yang ia katakan sebelum nya ia kembali larut walaupun ia sudah berusaha untuk kembali lebih cepat.


"Ainsley di mana?" tanya nya saat menurunkan jas nya yang memiliki bercak darah.


"Nyonya menunggu di ruang makan?" Jawab pelayan tersebut sembari mengambil jas yang di kenakan oleh pria itu.


"Menunggu? Bukan nya dia sudah tidur? Ini jam berapa?!" tanya pria itu sembari menoleh ke arah jam tangan nya.


Ia pun beranjak datang dengan cepat ke arah meja makan dan melihat wanita yang tertidur karena menunggu nya.


"Dia sudah makan malam?" tanya nya pada pelayan yang tadi mengikuti langkah nya.


"Belum tuan, tadi nyonya hanya menyuapi tuan muda Axel saja," jawab pelayan tersebut.


Richard membuang napas nya dengan kasar, ia sendiri juga belum makan malam karna urusan nya yang mendesak, namun ia tau jika membangunkan istrinya sekarang wanita pun tak akan mau makan lagi karna tak berselera saat mengantuk.


Ia pun memilih mengangkat tubuh kecil itu dan membawa nya ke kamar.


"Bawa makanan nya ke kamar, nanti kalau dia bangun bisa langsung memakan nya," ucap pria itu sembari menggendong istri nya.


"Baik, tuan." jawab pelayan tersebut.


...


Pagi yang mulai terbit namun belum memunculkan semua sinar nya dengan sempurna.


Namun karna perut nya yang mulai lapar saat ia melewatkan makan malam nya membuat nya terbangun lebih awal.


Mata wanita itu memaksa di buka dan menatap ke arah suara, helaian lembut di kepala nya begitu terasa hingga membuat nya melihat dengan samar.


"Sudah pulang?" tanya nya sembari mengusap mata nya yang masih mengantuk.


"Kau belum makan kan semalam?" tanya Richard sembari mengusap rambut wanita itu.


Ainsley menggeleng dan perlahan bangun, "Aku mau makan dengan mu."


Richard menatap wajah yang masih kantuk itu dan melihat nya, "Tumben, bukan nya kau tidak mau melihat ku?"


"Aku? Kan kau yang diam saja?" tanya Ainsley mengernyit.


"Kau yang tidak mau bicara dengan ku," jawab nya sembari menatap pria itu.


Cup!


Satu kecupan ringan sekilas melayang di bibir yang berwarna merah muda itu.


"Aku akan panggil pelayan agar ambil makanan," ucap nya beranjak.


Ainsley langsung menangkap tangan pria itu dan menahan nya membuat Richard kembali menoleh.


"Kau mau makan yang lain?" tanya pria itu sembari menatap iris hijau di depan nya.


"Sudah tidak marah lagi?" tanya Ainsley pada pria itu.


Richard diam sejenak menatap wajah yang penuh akan tanda tanya itu.


"Do you love me?" tanya pria itu yang selalu mempertanyakan hal yang sama.


Beberapa detik tak ada jawaban sama sekali kecuali iris yang mengunci mata pria di depan nya, "Ya, I love you."


Pria itu memperhatikan mata yang menjawab pertanyaan nya, tatapan yang hambar namun juga bukan kebencian.


Ia tersenyum tipis mendengar nya, seperti pengakuan lain nya yang hanya mengatakan tanpa menjawab dari hati nya, namun ia tetap suka mendengar nya.


Tubuh nya menunduk ke arah wanita itu menatap nya dari dekat dan menyentuh dagu.


"Love you too," bisik nya sembari mengecup telinga wanita itu.


Terlihat jelas mata yang berbeda dari wanita itu saat ia menjawab kalimat pengakuan itu, mata binar yang penuh dengan cinta, hasrat, suka, sayang, dan obsesi terlihat jelas.


"Aku ambil makanan nya," ucap nya dan beranjak.


Ainsley mengangguk mendengar nya membiarkan pria itu mengambil makanan untuk nya.


......................


Sation Company.

__ADS_1


Pria itu menarik napas nya dan tersenyum, terkadang wajah nya mengernyit dan terkadang ia terlihat sangat senang.


"Ada hal yang membuat anda senang?" tanya sekertaris Jhon saat melihat pria itu terlihat lebih bersinar.


"Anak itu mirip dengan nya, dia juga masih cantik sekarang." gumam nya sembari tak bisa melepas senyum di wajah tampan itu.


Sekertaris Jhon mengernyit, "Anda menemui nona Ainsley?" tanya nya dengan tatapan menelisik.


Sean langsung menoleh, ia tak menjawab namun terlihat jelas jika semua jawaban terjawab di mata nya.


"Apa anda berniat kembali pada nona Ainsley?" tanya sekertaris Jhon lagi.


Sean tak menjawab pertanyaan itu, hanya membuang napas nya dengan kasar.


"Kalau dia mau," jawab nya seperti hanya candaan.


Bukan nya menjawab dengan sungguh-sungguh, sekertaris Jhon di buat kesal oleh nya.


"Presdir!" ucap nya dengan nada yang terdengar ketus.


"Kenapa marah terus? Darah tinggi mu sedang naik?" tanya Sean dengan enteng seperti tak terjadi apapun.


"Dia sudah menikah, bukan kah anda bilang ingin melepaskan nya?" tanya sekertaris Jhon mengernyit.


Raut wajah pria itu terlihat berbeda begitu mendengar pertanyaan sekertaris nya.


"Makanya aku tidak mengganggu nya," jawab nya dengan nada lirih.


"Anda harus melupakan nya, kalau seperti ini hanya anda yang akan rugi! Apa dia tau kalau Presdir masih seperti ini? Mungkin saja dia bahkan tidak mengingat anda lagi," ucap sekertaris Jhon dengan kesal.


Bagi nya sangat di sayangkan pria yang benar-benar sempurna sebagai pasangan idaman itu hanya terus terjebak pada cinta masa lalu nya.


"Bukankah kau hanya mengurus pekerjaan mu? Kenapa sekarang ikut mengurus kehidupan pribadi ku?" tanya Sean mengernyit.


Sekertaris Jhon diam sejenak, ia menarik dan mengatur kembali napas nya serta menetralkan kembali rasa kesal nya.


"Maaf jika saya lancang," ucap nya yang sadar kesalahan nya.


"Kau bisa keluar," ucap Sean sembari menyuruh pria itu untuk keluar dari ruangan nya.


Pria itu mengambil napas nya dengan dalam begitu sekertaris nya keluar, ia membuang napas nya dengan pelan.


Ia tau mungkin saja wanita yang bahkan masih menari bayangan di balik kelopak mata nya kini bisa saja sudah melupakan nya namun tetap saja ia tak bisa melupakan nya sama sekali.


Ia berharap kebahagiaan untuk wanita itu, maka dari itu tak menganggu ataupun berusaha merebut paksa wanita yang sudah memiliki ikrar sumpah dengan pria lain itu.


"Aku berharap dia bahagia," gumam nya sembari memejam dan berharap penuh akan hal tersebut.


Apa sekarang dia sudah bahagia?


Batin nya yang mengusik pikiran nya, ia pun membuka ponsel nya layar depan nya terlihat bocah menggemaskan yang tegah tersenyum lebar di samping nya.


"Dia mirip dengan mu," gumam nya dengan tersenyum kecil.


Axel yang sebelum nya ingin berfoto membuat nya dengan polos meminta mengambil potret dengan pria itu.


Wajah nya tersenyum, hal yang membuat nya menyukai anak itu adalah karna sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.


Tapi ia tak bisa memungkiri jika ia begitu senang saat kembali bertemu dengan wanita yang ia cintai dan masih menetap dengan nyaman di hati nya.


"Kenapa aku tak bisa melupakan nya?" gumam nya lirih.


......................


Dua Minggu kemudian.


"Mamah? Kapan kesini?" tanya Ainsley sembari mengecup pipi kiri dan kanan wanita yang terlihat cantik walau sudah berumur tersebut.


"Semalam, biar bisa kasih kamu kejutan." ucap Clarinda dengan senyuman mengembang.


Ainsley tersenyum cerah, salah satu cara ia bisa keluar selain bersama dengan suaminya adalah keluar bersama ibu nya.


"Cucu Mamah mana?" tanya nya dengan mata menelisik ke arah mansion megah tersebut.


Richard memang memberikan akses untuk ibu angkat dan juga orang tua kandung wanita itu datang ke mansion nya.


Clarinda cukup sering datang ke mansion menantu dari putri angkat nya berbeda dengan Fanny ataupun Michele yang merasa enggan karna putri mereka pun kini masih memiliki jarak yang jauh.


"Di kamar," ucap Ainsley sembari menunjuk ke arah kamar putra nya.


"Mamah mau kasih ini," ucap nya sembari menunjuk barang yang ia bawa.


"Mainan baru lagi?" tebak Ainsley yang tau jika ibu angkat nya selalu memanjakan putra nya melebihi dirinya.


Clarinda tersenyum mendengar nya, "Ini Mamah juga bawa buat kamu, Cales suka ini kan?" tanya nya sembari memberikan coklat yang hanya khusus di buat untuk bangsawan Spanyol.


Ia tersenyum cerah sembari mengambil nya, "Nanti Cales buat cake dari coklat nya, Richard kan suka yang tidak terlalu manis." ucap nya tersenyum.


"Calesta Mamah sekarang ke kamar Axel dulu yah," ucap wanita itu sembari beranjak ke kamar cucu nya.


"Iya, Mah." jawab Ainsley dengan senyum nya.


....


Aroma manis yang mengepul tercium sangat harum membuat seorang pria kecil itu menunggu dengan riang dan tak sabar.


"Mommy! Axel mau! Cepetan!" ucap nya dengan semangat.


"Sebentar yah, hati-hati masih panas." ucap Ainsley sembari menghias cup cake nya.


"Iya Mom, Axel juga mau ambil buat Grandma juga!" ucap nya beralasan agar bisa mengambil lebih banyak.


Ainsley hanya tersenyum sembari mengusap kepala putra nya.


Rasa sabar yang terbayar dengan cake cantik yang lezat membuat Axel dengan senang langsung mengambil makanan yang di berikan ibu nya.

__ADS_1


Axel membawa cake yang di berikan oleh ibu nya dan membawa ke kamar nya sebelum memberikan nya pada nenek muda nya.


"Yang ini buat paman baik," ucap nya sembari menutup dan menyimpan cake yang di buat oleh ibu nya.


__ADS_2