
Langkah nya semakin berat saat ia berjalan memasuki mobil nya guna kembali ke tempat tinggal nya.
Ia enggan untuk menginap dan tidur semalam di rumah nya sendiri, baginya ia selalu menjadi orang asing di keluarga nya.
...
Apart winter garden.
Setelah sampai ia segera turun dan supir yang mengantar nya langsung kembali ke kediaman utama karna ia yang memang menyuruh pergi.
Otot-otot di tubuh nya terasa di peras dan kehilangan tenaga, pandangan nya mengabur serta tenggorokan yang terasa membakar, tubuh nya mulai terasa gatal dan panas di saat yang bersamaan.
Pandangan nya mengabur, dengan pendengaran yang sayup dengan tubuh yang melemah.
Apa aku terlalu banyak makan persik nya tadi?
Batin gadis itu dengan tetap berusaha ke unit apart nya.
Bruk!
Ia terjatuh namun ia juga merasakan ada seseorang yang menangkap nya, "Ainsley?!" suara seorang pria yang terdengar sayup di telinga nya.
"Jangan...
Rumah sakit..." ucap nya lirih saat ia jatuh dalam dekapan orang lain yang bahkan tak bisa ia lihat jelas saat ini.
Siapa dia? Aku tidak tau...
Batin nya dan mulai memejam saat tubuh nya di papah oleh pria yang tadi menangkap nya.
......................
Ainsley pov.
Tubuhku terasa panas dan gatal, tak ada yang bisa ku gerakkan sama sekali, tapi ini rasanya lebih membaik dari sebelum nya.
Beberapa orang berbicara di dekat ku, tapi aku tak bisa mendengar dengan jelas, sekali lagi tangan ku di berikan suntikan dan dahi ku terasa dingin padahal sekujur tubuh terasa panas.
Sean?
Entahlah, tapi aku harap dia yang tadi memanggilku, tak ada bau obat-obatan seperti di rumah sakit.
Lalu aku dimana?
Mata ku tak bisa terbuka ataupun melihat dengan jelas, rasanya aku ingin tertidur lagi tapi tubuh ku terasa terbakar dan gatal di saat bersamaan.
Rasa yang sama saat aku memakan persik pertama kali dulu, tapi ini lebih sakit.
Apa karna jumlah yang ku makan lebih banyak?
Sekarang sudah sunyi, orang-orang yang saling berbicara itu keluar dari sini, tapi aku yakin masih ada satu orang lagi.
Hah...
Dia terus menyentuh wajah ku, aku tak tau apa yang terjadi tapi nafas nya terasa dekat lalu entah kapan aku merasa seperti ada mencium ku.
Aku tak bisa bergerak!
Seharusnya aku tak makan sebanyak itu puding nya, tapi ini bukan Sean...
__ADS_1
Lalu siapa?
Rasa nya aku mulai mengantuk, rasa sakit dan terbakar nya perlahan hilang dan membawa pikiran ku dalam gelap.
Ainsley pov end.
...
Pria itu memangut bibir merah muda yang terasa manis dan panas tersebut, keringat dingin terus keluar walaupun tubuh gadis itu mengalami demam tinggi.
"Kau lembut sekali..." ucap pria itu sembari memainkan pipi gadis itu.
Richard sebelum nya mendatangi apart gadis itu lagi dan ia tak menyangka akan bertemu di basement parkir dalam keadaan seperti itu.
Karna sebelum Ainsley pingsan mengatakan jika ia tak ingin di bawa ke rumah sakit lagi.
Richard memang tak membawa nya kerumah sakit namun ia membawa nya ke apart milik nya yang tak jauh dari gedung apart gadis itu, lalu memanggil dokter dan menetralisir reaksi alergen di tubuh gadis itu.
Suara ketukan membuyarkan lamunan pria itu, "Masuk," ucap nya membiarkan yang ingin bicara pada nya masuk ke kamar tersebut.
"Ini pisau nya tuan," ucap Liam sembari memberikan pisau lipat yang di minta oleh tuan nya.
"Haruskah aku membunuh nya?" tanya Richard sembari mengambil pisau tersebut dan menatap ke arah gadis yang wajah nya memerah karna demam tersebut.
"Anda ingin mendengar saran saya?" tanya Liam pada tuan nya, ia tau jika kehilangan seseorang yang di cintai itu menyakitkan.
Dan saat ini tau jika tuan nya mulai memiliki ketertarikan pada gadis lain, namun belum menyadari nya sama sekali.
"Hm..." jawab Richard singkat sembari mencium rambut harum gadis itu.
"Jangan lalukan apa yang membuat tuan tidak nyaman," ucap pria itu pada tuan nya dan beranjak pergi.
Richard mencerna apa yang di katakan bawahan nya, ia kembali menyentuh pipi gadis itu lalu mengambil kompres di dahi nya dan memeriksa suhu tubuh Ainsley.
Jika tak melihat nya ia merasa gelisah dan tak nyaman namun saat melihat gadis itu semua rasa gelisah dan tak nyaman nya sirna.
......................
Hotel.
Pria itu terus menghubungi kekasih nya yang tak menjawab panggilan nya terus menerus. Ia keluar kota karna urusan pekerjaan dari perusahaan yang tak bisa ia hindarkan.
"Apa aku harus mengurung dan merantai kaki nya?!" decak nya kesal sekaligus khawatir karna tak ada satupun panggilan yang diangkat.
Sean gelisah, bahkan sangat gelisah setiap kali ia pergi dan tak memperhatikan gadis nya maka Ainsley akan sampai lagi ke tepi jurang.
Ia pun beralih ke laptop nya dan melacak sendiri lokasi gadis nya, "Apart C'lano? kenapa dia bisa di sana?" gumam nya bingung saat ia mengetahui lokasi gadis nya.
"Teman nya kan cuma gadis berantakan itu, tidak ada yang harus nya di kenal di sini kan?" sambung nya berfikir dengan mengingat jika teman kekasih nya hanya Vindi.
Ia memejam sesaat dan membereskan barang nya, namun tak lama kemudian sekertaris Jhon pun datang ke kamar yang di gunakan Sean menginap.
"Mau kemana tuan?" tanya nya dengan bingung saat Sean membuka pintu.
"Kembali," jawab Sean singkat dan bergegas.
"Apa ada urusan penting? Saat ini Direktur Danny sedang berusaha mencuri proyek yang kita kerjakan, saya harap tuan lebih bijaksana." ucap nya sembari mengingatkan jika saudara tiri atasan nya sedang bersaing.
"Sial!" umpat Sean kesal, ia harus duduk di kursi presdir segera mungkin agar urusan nya lebih cepat selesai dan membawa gadis nya pergi.
__ADS_1
"Apart C'lano, periksa siapa yang dia tuju di sana." ucap Sean pada sekertaris Jhon.
Pria itu mengikuti apa yang di katakan atasan nya, ia tau siapa yang bisa membuat atasan nya keluar dari rasional nya, dan itu sudah di pastikan kekasih kesayangan tuan nya.
......................
Apart C'lano.
Sinar mentari menerjap memasuki ruangan kamar tersebut, mata nya menerjap bangun saat di usik dengan cahaya hangat yang datang dari langit itu.
Aku dimana? Kenapa aku bisa di sini?
Batin nya dengan bingung, seluruh tubuh nya masih terasa panas dan gatal namun hal ini masih bisa ia tahan karna sudah mendapatkan obat alergi nya segera.
Suara pintu yang terbuka membuat gadis itu langsung menoleh dan melihat siapa yang datang.
Paman?
Batin nya sembari mengernyitkan dahi nya dan mencoba untuk duduk.
"Kau masih demam," ucap Richard mendekati gadis itu dan langsung memeriksa dahi nya.
Ainsley menepis pelan tangan pria yang menyentuh dahi nya guna memeriksa suhu tubuh nya, "Kenapa aku bisa di sini?" tanya melihat mata pria itu.
"Semalam aku melihat mu pingsan, aku juga tidak tau sandi apart mu kan?" ucap Richard beralasan, karna ia memang sudah meretas sandi pintu apart gadis itu.
"Sidik jari, paman bisa gunakan sidik jari ku." ucap Ainsley karna ia memakai sistem sidik jari di pintu nya.
"Bukan nya tidak sopan memasuki rumah orang lain seperti itu, dan lagi kondisi mu sedang tak sehat jadi aku bawa kesini karna kau tak mau ke rumah sakit." Richard menjawab dengan perkataan yang tak bisa di bantah.
"Aku akan pulang, terimakasih atas bantuan paman." ucap nya beranjak pergi, "Ponsel ku dimana?" tanya nya saat ia melihat barang-barang nya.
"Kau masih sakit kan? Istirahat dulu tak perlu buru-buru," cegah Richard menahan gadis itu.
"Aku bisa panggil taksi, ponsel ku di mana?" tanya nya sekali lagi.
"Istirahat dulu, kenapa buru-buru?" Richard yang terus menahan agar gadis itu tetap dengan nya.
"Ada yang paman sembunyikan?" tanya Ainsley sembari menepis tangan pria itu, ia pun segera keluar dan tak bertanya tentang ponsel nya lagi.
Richard mengejar langkah gadis itu yang tak jauh, tangan nya langsung menarik tangan gadis itu sebelum Ainsley keluar dan langsung mendorong tubuh yang masih demam itu ke dinding.
Bruk!
Ainsley meringis sejenak saat ia tiba-tiba di tarik dan di himpit di dinding.
"Ada yang ingin ku pastikan lagi," ucap Richard sembari menahan dagu gadis itu dengan satu tangan kekar nya.
Humph!
Ainsley terkejut saat pria yang selalu ia anggap paman mencium dan mel*mat bibir nya dengan agresif secara tiba-tiba.
Tangan nya mendorong dada bidang pria itu hingga Richard pun akhirnya melepaskan bibir gadis itu.
Plak!
Satu tamparan kuat langsung melayang di pipi pria itu, tamparan yang bahkan bagi nya bukan rasa sakit apa-apa.
Richard tanpa sadar mengeluarkan smirk nya sedangkan gadis itu sudah terlihat sangat marah atas apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Ia kembali menoleh melihat wajah Ainsley dan tersenyum simpul.
"Sekarang mata ini jadi berubah. Kau semakin menarik..." ucap nya tanpa sadar saat tak melihat mata polos itu lagi namun ia seperti menemukan hal lain yang membuat nya semakin menginginkan gadis di depan nya.