Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Axel sayang Daddy Mommy


__ADS_3

Mata pria itu tampak gusar, dr. Terry membuang napas nya dengan pelan sembari kembali menatap ke arah pria itu.


"Sebaiknya anda pikirkan lebih banyak lagi, namun saran saya adalah membiarkan istri anda pergi dengan tenang." ucap nya sembari menatap dalam pria itu.


"Pergi dengan tenang? Mudah sekali bagi mu berbicara seperti itu?" gumam Richard terlihat terguncang.


dr. Terry mengernyit melihat nya, ia tak mendengar apa yang di katakan pria itu namun ia tau jika mungkin pria itu belum siap kehilangan pasangan hidup nya.


"Anda juga harus memikirkan putra nya yang masih kecil, dia tidak bisa kehilangan kedua orang tua nya sekaligus jika anda mengambil keputusan ceroboh seperti ini." ucap dr. Terry sekali lagi.


Richard masih diam, memang sangat mustahil untuk menemukan jantung yang cocok dalam dua Minggu dengan kondisi yang tepat juga.


Ia saja yang menggunakan cara ilegal memerlukan waktu tiga bulan, dan dengan cara legal kemungkinan yang tercepat adalah enam bulan.


"Bukan nya kalian itu dokter? Seharusnya kalian bisa menyelamatkan nya! Bukan nya menyuruh untuk bersabar dan menerima semua begitu saja!" ucap pria itu dengan hawa membunuh nya yang kuat.


"Benar yang anda katakan, tapi kami hanya manusia bukan kami yang menentukan hidup dan mati nya orang lain." ucap dr. Terry


"Kau tidak perlu pikirkan soal anak ku, yang hanya perlu kau pikirkan hanya pekerjaan mu saja dan ikuti apa yang aku katakan." ucap Richard dengan wajah yang penuh akan ancaman dan lalu keluar dari tempat itu.


Blam!


dr. Terry hanya membuang napas nya dengan pelan, begitu mendengar bantingan pintu yang terdengar begitu kuat.


...


Liam menunggu tuan nya dengan perasaan khawatir jika tuan nya akan bertindak gegabah di waktu yang sangat sedikit.


Kebocoran data penduduk kini mulai tercium pemerintah dan ia pun berusaha menutupi nya dengan memutus semua yang pernah di retas tuan nya.


Richard datang dengan wajah yang terlihat begitu sedih sembari mendekat ke arah pria itu.


"Apa yang dia katakan?" tanya Liam pada tuan nya.


Richard masih diam tak menjawab dan terlihat linglung pada pria itu.


"Kau sudah menemukan jantung nya?" tanya nya lagi.


Liam bungkam atas jawaban tersebut. Memang ia menemukan beberapa orang dengan golongan darah yang sama namun tidak dengan ukuran jantung yang sama sehingga transplantasi jantung tak bisa di lakukan.


"Masih belum?" tanya Ricard lagi dengan tawa kecil.


Seperti sedang mentertawakan diri nya sendiri.


"Seharusnya aku mendengarkan mu saat itu, kenapa aku angkuh sekali saat berpikir semua nya sudah dalam kendali ku?" tanya pria itu dengan tawa pahit.


"Ini bukan kesalahan anda, tuan juga tidak tau akan jadi seperti ini." jawab Liam pada pria itu.


Sedangkan Richard hanya diam mendengar nya, "Tidak tau? Apa aku benar-benar tidak tau?"


Ia kembali mengulang beberapa sikap nya pada sang istri terakhir kali nya.


Padahal ia tau sebarapa putus asa nya wanita itu memohon pada nya, ia tau seberapa hancur nya wanita itu ketika berpisah dengan putra nya.


Bahkan sorot mata yang tampak begitu lelah namun berusaha bersembunyi di balik iris indah itu juga terlihat oleh nya.


Namun ia seakan menutup mata, ia merasa seolah tak melihat apapun dan mengabaikan luka istri nya untuk membentuk kepatuhan.


Ia menahan bibir nya untuk mengatakan jika ia mencintai wanita itu dan memilih diam, ia menahan tangan nya yang ingin memeluk sang istri dan memilih bersikap dingin pada wanita itu.


"Aku mengabaikan luka nya," gumam nya saat mengingat apa yang sudah ia lakukan pada sang istri beberapa waktu terakhir.


Ia memang tak memiliki maksud mengabaikan wanita itu namun rasa takut nya akan di tinggalkan membuat nya gelap mata.


I Love her, She's my everything...


"Apa seharusnya aku memang tidak mencintai siapapun?" tanya nya pada Liam yang masih berdiri di depan nya.


"Anda akan bisa melewati ini," Ucap Liam pada pria itu.


Ia juga tau bagaimana di tinggal oleh seseorang yang ia cintai, karna mantan kekasih nya dulu meninggalkan nya.


Pergi ke tempat yang bahkan tak pernah bisa ia datangi, tapi semua itu berlalu ia bisa melewati nya dan bahkan kini memiliki seseorang lagi yang menemani nya.


"Tidak, kita berbeda." ucap Richard menggeleng.


Richard tau jika bawahan setia nya itu ingin mengatakan jika ia pun pernah berada di situasi yang sama ketika di tinggal oleh orang tersayang.


Namun mantan kekasih pria itu meninggal karena penyakit dan bukan nya bunuh diri di hadapan nya seperti sang istri.


"Dia bilang dia mencintai ku, dia tidak pernah tulus mengatakan nya aku tau..." ucap pria itu mengingat sentuhan dingin di wajah nya ketika tangan kecil yang penuh darah itu mengusap wajah nya.


"Tapi saat itu aku tau dia tulus, aku tau kalau dia memang mengatakan nya untuk ku." uaco pria itu sekali lagi.


"Aku sering menghukum nya dan sekarang dia menghukum ku, setelah mengatakan mencintai ku, setelah memberi ku malam yang-" ucap nya tersendat tak bisa melanjutkan kalimat nya.


"Dia ingin pergi? Menurut mu aku bisa membiarkan nya?" tanya Richard lagi.


Liam begitu bingung bagaimana menggunakan penghiburan untuk pria itu.


"Anda memiliki Axel, jika bukan untuk diri anda pikirkan putra anda." ucap nya pada pria itu.


Richard diam mendengar nya, jika saja istri nya tak bisa selamat. Ia bahkan tak bisa menjamin putra nya, ia takut melihat wajah putra nya yang sangat mirip dengan sang ibu.


Ia takut juga akan mengabaikan luka putra nya seperti mengabaikan luka sang istri.


"Dia punya seseorang yang akan menyayangi nya," ucap nya saat mengingat Clarinda yang bisa menyayangi putra nya seperti layak nya cucu kandung.


Ia pun juga lebih mempercayai ibu angkat istri nya di bandingkan ibu kandung sang istri.


....


Alat-alat yang mulai tenang namun terlihat angka yang semakin berbeda dari hari pertama.

__ADS_1


Pria itu meraih tangan yang terlihat pucat itu walaupun masih beberapa hari terbaring di ranjang yang penuh akan alat monitor itu.


"Coba kita ingat hari itu apa saja yang kita lakukan?" ucap nya sembari menggenggam tangan wanita itu.


"Kau memasak cake yang aku sukai dan juga Axel, kau merapikan pakaian ku lalu menunggu ku bekerja setelah itu kita makan bersama."


"Dan saat malam kau tanya bagaimana cara mu membujuk ku lalu kita melakukan nya, sebenarnya kalau waktu itu bisa di ulang aku..."


"Aku tidak akan memperlakukan mu dengan dingin..." ucap nya tertahan.


Beberapa hari terkahir yang ia habiskan dengan sang istri bukan lah kenangan yang baik.


Bukan suara hangat yang menyambut nya, bukan senyuman yang berisi tatapan perhatian dan lembut namun wajah datar dan menatap nya dengan dingin.


"Apa kau sangat terluka saat itu?" tanya nya lagi sembari menatap sekilas ke arah layar monitor yang memantau hidup wanita itu dan semakin membuat nya hancur.


"Apa ini yang kau rasakan? Kau benar..."


"Rasa nya begitu menyiksa, padahal aku tau kalau kau itu sudah lelah, padahal aku tau kau sudah kehilangan segala nya dan hanya berharap, tapi..." ucap nya yang semakin tertahan di tenggorokan nya saat ia tak mampu mengatakan apapun lagi.


Setetes cairan jernih kembali jatuh di mata nya, ia tak mengerti jika ada yang bisa menyakiti nya lebih dalam di bandingan tikaman serta peluru panas yang menembus nya.


Rasa sakit yang mampu membuat semua napas nya tenggelam dan mengiris hati nya perlahan.


Pria itu bahkan tak pernah tau akan ada titik di mana ia begitu lemah hingga membuat nya seperti tak bisa melakukan apapun dan semua yang ia cari dan ia kumpulkan seperti tak berharga sama sekali.


"Aku menghancurkan harapan mu..."


"Ku pikir jika aku melakukan nya saat itu kau hanya akan bergantung pada ku, kau hanya akan mendengar kan ku..."


"Tapi seperti nya aku menghancurkan mu lebih dari yang ku bayang kan..." sambung nya lirih sembari terus menggenggam tangan wanita itu.


...


Sementara itu tangisan yang semakin menjadi terdengar begitu pilu, wajah putih yang memerah serta tubuh kecil yang gemetar tak sanggup menahan kesedihan nya.


"Axel salah..."


"Axel cuma mau buat Mommy bangun, Axel minta maaf, Huhuhu..." tangis anak kecil menggemakan itu pada Clarinda.


"Udah ga apa-apa sayang..." ucap Clarinda sembari mengelus dan mengusap kepala Axel dengan lembut.


"Tapi lain kali Axel gak boleh pegang sembarangan, kalau Axel gak tau apa itu tanya nak, jangan langsung buat apapun. Grandma tau maksud Axel itu baik tapi jangan begitu lagi yah sayang?" ucap Clarinda pada Axel yang yang terus menangis tersedu.


"Huhuhu..." tak ada jawaban iya atau tidak dari anak berusia lima tahun itu, hanya tangisan yang terdengar pilu di balik pelukan hangat sang nenek.


Langkah yang tergesa terdengar hingga pintu yang terbuka membuat Clarinda menoleh.


"Ini apa maksud nya? Kenapa dengan Ainsley?!" tanya Fanny panik.


Clarinda hanya diam, ia tak tau seperti apa kehidupan putri angkat nya dulu namun karna ia juga sekarang ibu ia merasa pasti ibu kandung putri angkat nya lebih terpukul.


"Maaf..."


"Axel? Apa maksud nya nak?" tanya Fanny mendekat sembari menarik cucu nya tanpa sadar.


"Axel buat apa? Kenapa minta maaf?" tanya nya sembari menatap kosong ke arah Axel yang semakin takut dan merasa bersalah.


"Fan? Tenang," ucap Michele sembari menarik sang istri karna membuat cucu mereka takut.


"Axel cabut yang bunyi-bunyi di deket Mommy..." ucap nya gugup dengan tangis yang meleleh keluar.


"Axel!" Fanny yang langsung menekan pundak sang cucu hingga membuat tangis nya semakin kencang.


Clarinda pun menarik nya segara dan kembali memeluk nya dengan erat, ia pun menjelaskan beberapa situasi yang ia ketahui.


"Ainsley gak boleh pergi, aku..." ucap Fanny yang terlihat terkejut.


"Aku belum selesai membayar rasa bersalah ku..." sambung nya lirih pada suami nya.


Mata nya pun kembali melihat ke arah sang cucu yang masih menangis tersedu, ia pun menarik Axel yang tengah menangis dalam pelukan Clarinda.


"Kau! Padahal aku Grandma sudah bilang untuk belajar kan? Ini hasil yang di dapat karna kau bo-"


Tak!


"Karna apa? Kau bilang anak ku apa?"


Suara pria yang membuat nya terdiam dan juga menepis tangan wanita yang menarik putra nya.


"Kau tidak akan bilang apa yang dulu pernah kau bilang pada ibu nya kan? Kau pikir karna aku diam aku tidak tau apa yang kau lakukan dulu?" tanya Richard yang langsung mengukup dan menggendong putra nya.


Fanny mengernyit, ia sendiri saja baru merasa bertemu dengan pria itu di waktu pernikahan putri nya.


Sedangkan Richard walaupun tak tau banyak namun ia pernah mendengar ucapan Fanny ketika mengunjungi Ainsley saat berada di rumah sakit ketika percobaan bunuh diri yang pertama.


"Kau bilang apa yah pada Ainsley dulu? Anak bodoh? Pembawa sial?" tanya pria itu pada wanita yang hampir mengatai putra nya.


Ia mendekat sejenak, "Kau ingat dulu pernah ada yang menabrak mobil mu?"


Fanny semakin mengernyitkan dahi nya, Michele pun dengan segera menarik istri nya agar tak lagi mendekat ke arah pria itu.


"Jangan dekati anak ku, atau bicara dengan nya!" ucap nya dan pergi setelah berpapasan mata dengan Clarinda.


Axel masih menggenggam erat kemeja yang ia kenakan, tangisan nya terdengar di balik dada bidang pria itu.


"Axel? Kenapa nangis terus? Hm?" tanya nya dengan suara melembut saat membawa putra nya.


"Ini salah Axel, kalna Axel Mommy jadi makin sakit..." ucap nya dengan tangis sembari memeluk erat sang ayah.


"Maafin Axel Dad..."


Pria itu kembali memeluk putra nya, mencium kening nya dan mengusap air mata nya.

__ADS_1


"Axel tadi terkejut yah Daddy bentak? Maaf yah sayang..." ucap pria itu yang tak seperti diri nya.


Pria yang bahkan sangat sulit mengatakan satu kata itu dengan mudah dapat mengatakan pada buah hati nya.


"Daddy? Mommy gak akan kenapa-kenapa kan? Daddy kan janji mau kasih Axel adik..." ucap nya sendu dengan tangisan yang meleleh keluar.


Deg!


Tembok retak pria itu kembali runtuh, anak kedua yang bahkan belum memiliki bentuk ataupun mengetahui keberadaan nya kini sudah tiada.


Bahkan ia belum sempat menyapa anak itu sama sekali.


"Axel udah punya adik kok, tapi adik Axel gak di sini." ucap Richard pada putra nya.


Ia memangku dan membawa putra nya ke arah taman rumah sakit, pria kecil itu pun langsung melihat ke arah sang ayah dan menatap dengan mata nya.


Tangis nya berhenti sejenak dan teralihkan atas ucapan sang ayah, "Jadi adik Axel di mana?" tanya nya setelah nya.


"Di sana," jawab Richard sembari menunjuk ke arah langit biru yang cerah pada putra nya.


"Di langit? Kenapa adik Axel di sana? Kenapa gak sama Axel sama Daddy Mommy?" tanya nya langsung pada sang ayah.


"Karna adik Axel lebih suka di sana, kalau di sana dia bakalan seneng." ucap Richard pada putra nya.


"Kenapa? Dia gak mau kalau punya kakak kayak Axel?" tanya Axel lagi.


"Dad? Apa kalna Axel nakal yah? Kalna Axel gak pintel? Makanya Mommy pelgi sama Paman Sean, telus Mommy sakit. Adik Axel juga gak mau sama Axel makanya pelgi ke langit?" tanya nya polos pada sang ayah.


Richard pun menggeleng mendengar nya, putra kecil nya menanggap sesuatu yang bukan kesalahan nya menjadi kesalahan nya.


"Axel gak salah apa-apa kok, Axel itu anak baik anak pintar. Mommy sama Daddy bangga punya anak seperti Axel." ucap Richard pada putra nya.


"Tapi kenapa sekalang Axel sedih? Kalau Axel buat Mommy Daddy bangga halus nya kan Axel senang." jawab anak menggemaskan itu pada sang ayah.


Richard diam tak bisa menjawab satu pertanyaan putra nya itu.


"Axel?" panggil Richard sembari memangku putra nya dengan erat.


Axel pun melihat ke arah ayah nya, menatap nya dengan wajah yang masih memerah dan sendu.


"Kalau misal nya Axel cuma bisa pilih salah satu antara Mommy sama Daddy sekarang, Axel tetep pilih Mommy?" tanya pria itu.


Dulu ia pernah menanyakan pertanyaan yang sama namun putra kecil nya menjawab jika ia memilih untuk bersama ibu nya.


Axel diam sejenak mendengar pertanyaan Ayah nya.


"Memang nya Daddy mau kemana?" tanya Axel dengan mata nya yang menatap dengan sendu.


"Daddy gak kemana-mana," jawab Richard pada putra nya.


"Axel mau nya sama Daddy sama Mommy," jawab pria kecil itu pada sang ayah.


Richard diam sejenak mendengar nya, "Tapi kalau misal nya Axel cuma bisa pilih satu Axel mau ikut siapa? Mommy apa Daddy?" tanya nya lagi.


Axel pun berpikir keras dengan ucapan sang ayah, terlihat jelas jika ia tengah memikirkan jawaban yang akan ia keluarkan.


"Axel itu sayang sama Mommy..."


"Sayang sama Daddy juga, Axel gak bisa milih." ucap nya pada sang ayah.


"Kalau misal nya Axel ga bisa milih nanti Axel mungkin jadi gak bisa sama Daddy atau sama Mommy," jawab pria itu.


"Mommy sama Daddy mau pelgi?" tanya Axel pada sang ayah dengan wajah yang kembali sendu.


"Kalau Mommy Daddy pelgi Axel sama siapa? Axel mau di tinggalin? Kata nya Daddy sayang Axel?" tanya nya pada sang ayah.


"Maka nya Axel cuma bisa pilih satu," jawab pria itu lagi.


"Gak tau! Huhu!" tangis nya yang mulai melelah saat sang ayah mendesak nya atas jawaban yang tak bisa ia pilih.


"Axel mau sama Daddy sama Mommy! Kalau Daddy Mommy pelgi, Axel mati aja lah! Huhu!" tangis nya yang berteriak dengan luruh.


Ia tak mengerti arti dari perkataan nya, ia hanya mengatakan apa yang sering di dengar nya dari orang lain.


"Axel!" Richard langsung menatap putra nya.


Mungkin dulu beberapa nyawa yang lenyap di tangan nya tak berarti sama sekali sama seperti kematian yang bagi nya seperti hujan di musim panas namun saat ini ia tau seberapa mengerikan nya perkataan itu.


"Kalau Daddy Mommy pelgi Axel sama siapa? Axel mau nya sama Daddy sama Mommy..." tangis nya pada sang ayah saat mendengar suara Richard yang meninggi pada nya.


"Axel? Axel sayang sama Mommy kan?" tanya Richard pada putra kecil nya.


Satu anggukan menjadi jawaban dari anak menggemaskan itu.


"Sayang sama Daddy juga kan?" tanya Richard lagi pada putra nya.


Axel pun segera menganggukkan kepala nya begitu mendengar ucapan sang ayah.


"Daddy juga sayang sama Axel, sama Mommy juga sama adik Axel yang udah di langit." ucap pria itu pada putra nya.


"Tapi Daddy gak bisa kalau Mommy gak ada, Daddy sakit..." ucap nya pada putra nya yang masih tak begitu mengerti ucapan nya.


"Daddy sakit juga? Kalau gitu kita panggil doktel? Axel panggilin yah." ucap Axel sembari menghapus air mata nya dan turun dari pangkuan sang ayah.


Pria itu tak beranjak dari duduk nya ketika jemari kecil putra nya menarik nya agar menemui dokter.


"Daddy sakit nya bukan yang bisa di obati sama dokter," ucap pria itu pada putra kesayangan nya.


"Tetus yang bisa obati Daddy siapa?" tanya Axel dengan tatapan polos nya yang khawatir.


"Yang bisa obati sakit Daddy itu cuma Mommy," ucap pria itu.


"Kalna Mommy Daddy sakit maka nya mau tinggalin Axel?" tanya nya lagi dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Axel sayang Daddy Mommy, jangan pelgi kalau pelgi ajak Axel juga..." tangis nya yang semakin luruh pada sang ayah.


__ADS_2