
10 hari kemudian.
Universitas.
Hampir satu bulan gadis itu tak hadir karna perlu menyembuhkan luka di tubuh nya sementara waktu.
"Ainsley! Nanti ke rumah aku yah!" panggil Vindi yang langsung meraih dan mengejar gadis itu saat melihat teman nya.
"Ke rumah mu?" tanya Ainsley mengulang.
"Iya, aku buat party kecil sih." jawab Vindi sekilas.
Gadis centil dengan wajah cantik dan merupakan player paling handal sejak SMP banyak rumor tentang nya yang membuat nya selalu menjadi bahan gosip dari sejak masa sekolah nya.
"Vin? Kalau aku datang memang nya tidak apa-apa?" tanya Ainsley lagi karna ia memang kesulitan bergaul sebab tak tau apapun.
"Tidak apa-apa, kau kan teman ku!" seru Vindi sekali lagi.
"Tapi aku kan membosankan..." balas Ainsley lirih, ia tau karna tatapan ataupun omongan yang tak sengaja ia dengar.
Banyak yang tak ia ketahui, film, musik masa kini, tren yang sedang terjadi ataupun berita-berita terkini di kalangan anak muda seperti nya. Yang ia ketahui hanya lah tentang musik klasik untuk permainan piano nya dan pelajaran akademik agar nilai nya tak turun.
"Tapi kau setidaknya tidak punya dua wajah," jawab Vindi sembari terus berjalan ke kelas nya.
"Dua wajah? Berarti aku hantu? Seperti itu?" tanya Ainsley bingung tak mengerti dengan istilah seperti itu.
"Bukan, maksud nya itu baik di depan busuk di belakang. Kau tau mereka yang dekat sama aku itu nanti belakang pasti aku di bicarain. Yang centil lah, perayu lah, suka aborsi anak. Rasanya mau ku sobek aja itu mulut!" jawab Vindi terbawa kesal.
Ia memang selalu mengganti pacar nya sejak SMP bahkan pernah pacaran hingga 3 pria sekaligus dan sering melakukan one night stand, maka dari itu banyak wanita yang tak menyukai nya namun karna sifat nya mudah bergaul membuat orang-orang itu hanya bergosip di belakang dan memasang wajah serta bersikap bagaikan teman baik pada nya jika bertemu.
"Vindi kan baik! Mereka yang jahat!" seru Ainsley dengan mata membara membela teman satu-satu nya yang ia miliki.
"Imut nya..." gemas Vindi melihat wajah teman nya, "Iya tuh! Padahal aku juga gak pacaran sama pacar mereka, terus aku aja belum pernah hamil masa udah aborsi!" sambung nya menggerutu karna gosip nya tentang nya yang tak terkendali.
"Makanya teman ku cuma Ainsley aja..." ucap nya sembari mencubit pipi teman nya.
Diantara semua orang yang ia kenal hanya gadis itu lah yang tak pernah ikut menjelekkan nya ataupun termakan gosip tentang nya. Dan yang paling utama ia merasa jika teman nya itu tidak dua wajah.
Memang benar-benar seperti kelinci polos di depan dan belakang, bahkan bisa berbuat baik tanpa mengharap balasan.
"Teman ku juga cuma Vindi aja..." balas Ainsley tersenyum pada gadis yang sedang mencubit pipi nya.
"Kalau aku lahir nya jadi pria kau pasti sudah ku pacarin tapi sayang nya aku perempuan terus juga masih normal," ucap Vindi tertawa lepas.
"Gak mau ah! Mau sama Sean aja!" seru Ainsley pada gadis itu.
"Ya ampun, bisa yah tahan sama pria begitu. Tampan sih, tapi kalau aku pasti cuma tiga hari dah putus." jawab Vindi menggeleng pada teman nya.
Walaupun ia tak tau pasti detail hubungan nya tapi yang jelas ia tau kekasih gadis itu begitu bersikap posesif dan dominan di kehidupan teman nya.
Pertemanan yang seperti menyatukan dua kutub yang berbeda, Ainsley yang selalu menjadi murid teladan dan tak pernah tersentuh rumor sedangkan Vindu yang selalu mencari masalah dari mulai bolos, bertengkar, dan rumor serta gosip yang berkembang tentang nya.
"Kan aku suka nya sama Sean!" seru Ainsley semangat.
"Dosen baru tuh, juga seperti nya suka sama mu..." goda Vindi saat mereka sudah memasuki kelas nya.
"Bukan kok!" sanggah Ainsley cepat.
Sedangkan Vindi hanya tertawa melihat wajah gugup teman nya yang menggemaskan.
__ADS_1
"Vin, nanti aku mau aku bantuin sebelum party nya?" tanya Ainsley berbisik di tengah pelajaran yang sedang berlangsung.
"Boleh juga, nanti ke apart ku yah waktu selesai kuliah." jawab Vindi.
......................
Apart Vindi.
Setelah perkuliahan selesai gadis itu pergi ke apart teman nya dan tentu saja sudah memberi tau kekasih nya.
"Ainsley, nanti bisa tiup balon yang ada di tas ku tidak? Aku mau keluar sama Roby dulu beli wine, kalau mau nonton Tv di buka aja." ucap Vindi pada teman nya.
"Roby? Nanti di marahin Mike kalau pergi sana Roby?" tanya Ainsley sebelum teman nya pergi.
"Udah putus sama Mike, banyak peraturan pacaran sama dia sekarang uda ganti pacar ku." jawab Vindi enteng, "Bye Ainsley." sambung nya dan keluar dari apart nya.
Gadis itu tak ambil pusing, ia tau sebelum ia libur karna menghilangkan bekas luka nya teman nya masih berpacaran dengan Mike dan kurang dari sebulan sudah ganti menjadi pria lain.
Gadis itu pun menyalakan televisi dan menukar nya hingga menemukan salah satu film animasi yang menceritakan dunia permen.
"Wah..." seru nya dengan mata berbinar sejak kecil ia tak pernah melihat kartun ataupun film anak-anak karna sang ibu melarang nya.
Jadi wajar bagi nya yang tertarik pada hal seperti itu karna menganggap nya sebagai sesuatu yang baru dan menakjubkan.
Ia pun mulai mencari balon yang di katakan teman nya dan mengambil dari tas Vindi. Namun gadis cantik itu mengambil dari tas yang salah.
"Bungkus nya kenapa begini?" gumam Ainsley bingung dan mulai meniup balon yang ia dapat.
"Wangi! Ada rasa nya!" seru nya lagi saat ia meniup balon yang ia dapat.
...
Mata nya terperanjat melihat apa tertiup menjadi balon yang berserakan di lantai nya.
"Astaga Ainsley!" pekik nya tak habis pikir.
"Kenapa? Kenapa yang ini?" ucap nya terkejut sembari mengambil balon yang salah tersebut.
Roby pun terkejut melihat melihat sesuatu yang tertiup tersebut. Wajah kedua orang tersebut memerah namun gadis cantik itu hanya menatap bingung.
"Sudah aku tiup semua kok Vin, tapi balon nya ada rasa nya. Wangi strawberry juga!" ucap Ainsley tersenyum dan kembali menatap animasi kartun di depan nya lagi.
"Ya tuhan, kau tak tau apa ini?!" tanya Vindi pada teman nya.
"Balon kan? Di tiup kan juga jadi besar." jawab Ainsley dengan wajah polos nya.
"Vin? Ketemu teman begini dari mana?" tanya Roby berbisik pada kekasih nya.
"Dari langit," jawab Vindi singkat.
"Aku Roby," ucap pria itu mencairkan suasana.
"Ainsley," jawab gadis itu yang juga memperkenalkan diri nya.
"Begini Ainsley yang kau tiup itu bukan balon, jadi..." ucap Roby yang bingung karna melihat wajah kekasih nya yang tak habis pikir dan semua pengaman nya untuk nanti malam sudah di tiup gadis itu.
"Terus apa? Itu bisa kok, kenapa bukan balon?" tanya Ainsley bingung.
"Ini tuh pengaman Ainsley, Sean tidak pernah pakai?" sambung Vindi, wajah nya sudah memerah karna malu begitu juga dengan kekasih nya.
__ADS_1
Tapi gadis cantik itu hanya menatap bingung dan tak mengerti pada nya.
"Pengaman apa? Sean kenapa pakai balon?" tanya Ainsley bingung.
"Astaga, yang penting aku beri tau kalau ini balon yang salah dan bukan begini cara memakai nya." sambung Vindi dengan bingung.
"Makanya aku saja tadi yang bawa," bisik Roby pada Vindi.
"Hush!" balas gadis itu cepat pada kekasih nya.
"Sa-salah yah? Maaf Vin..." ucap Ainsley memelas dengan wajah sedih nya.
"Tidak apa-apa kok," ucap Vindi langsung saat melihat wajah memelas teman nya.
"Yaudah, aku ganti balon nya yah?" ucap Ainsley dan mulai bergegas pergi.
"Eh? A-apa? Kau bahkan tak tau apa ini?" Vindi yang terkejut dengan ucapan teman nya.
"Tau! Balon yang bentuk nya lonjong terus ada rasa nya kan?" jawab Ainsley percaya diri dan langsung keluar.
"Ainsley! Tidak perlu di beli!" teriak Vindi namun teman nya sudah pergi keluar.
Roby yang melihat pun merasa bingung karna ia baru pertama kali melihat gadis seperti itu.
"Vin? Teman mu agak aneh yah?" tanya Roby pada kekasih nya.
"Aneh! Kau yang aneh!" sahut Vindi kesal.
"Nanti malam berarti tak perlu pakai pengaman kan? Lagi pula lebih enak gak pakai juga..." ucap pria itu merayu kekasih nya dan memeluk gemas.
"Gak! Kalau gak pakai aku gak mau!" decak gadis itu sembari melepaskan pelukan kekasih nya.
......................
Ainsley sudah mencari di beberapa toko dan minimarket namun tak menemukan balon yang ia cari, karna ia memang tak akan mendapatkan nya jika mencari dengan kata "Balon"
"Ainsley?" panggil seorang pria saat melihat punggung gadis itu.
"Paman?" sahut nya dengan iris mata yang membesar.
"Sedang apa?" tanya Richard yang memang sudah bertemu sejak awal namun mengikuti nya sebentar lalu bersikap seperti tak sengaja bertemu.
"Cari balon, tapi gak dapat dari tadi..." jawab gadis itu dengan wajah lesu nya.
"Balon? Kenapa belum dapat?" tanya Richard mengernyit.
"Iya, balon yang ada rasa nya terus bentuk nya lonjong tapi Vindi bilang bukan di tiup cara pakai nya," jawab Ainsley polos menjelaskan deskripsi yang ia cari.
Richard pun mengerti maksud nya dan tentu saja ia langsung tau kenapa gadis itu tak kunjung mendapatkan nya saat mencari di bagian mainan anak-anak dan aksesoris sedangkan yang ingin di beli merupakan perlengkapan orang dewasa.
Astaga...
Polos nya jadi ingin benar-benar ku buat polos...
Apa harus ku culik lagi dan ku ajarkan cara pakai nya?
Batin pria itu menatap gadis yang tengah mencari sesuatu yang di cari nya. Jika ia menjadi dosen dengan identitas "Paman yang baik hati" ia tak bisa berbuat semau nya. Namun berbeda dengan identitas pria bertopeng yang melakukan pembantaian di hutan sebelum nya.
Haruskah aku menculik nya lagi dan melanjutkan yang belum sempat ku lakukan kemarin?
__ADS_1