Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Apa ucapan mu sungguh-sungguh?


__ADS_3

Ainsley membasuh wajah nya, dan bercermin menatap pipi yang memerah serta rambut yang basah karna bilasan air.


"Astaga...


Apa yang ku pikirkan?" gumam nya memejam mengingat kejadian malam yang sudah berlalu satu minggu lebih itu.


Gadis cantik itu mengambil handuk yang berada dekat wastefel nya dan mengusap wajah nya lalu merebahkan tubuh nya ke atas ranjang.


Sekarang hubungan nya sudah benar-benar berakhir, Sean menepati janji nya. Ia tak pernah muncul ataupun mengganggu Ainsley lagi setelah kencan terakhir yang ia minta.


"Rasanya aneh..." gumam gadis itu dengan senyum kosong sebelum terlelap dalam mimpi.


Kali ini semua sudah benar-benar seperti yang ia harapkan, tak ada lagi gangguan. Namun entah kenapa ia merasa kosong seperti ada partikel yang hilang dalam diri nya.


Ia juga kembali menjalani terapi dengan baik dan halusinasi yang ia alami semakin berangsur hilang.


Walaupun mental nya belum pulih benar namun ia, masih bisa beraktivitas normal asalkan tak ada pemicu yang menimbulkan depresi dan trauma nya.


......................


Perpustakaan.


Gadis itu berusaha meraih buku yang tersusun rapi diantara rak yang tinggi tersebut.


Ia sudah memakai bangku kecil guna menambah tinggi nya untuk mengambil buku yang ia inginkan.


"Auch!" pekik nya terkejut saat ia merasa kaki nya tak menginjak bangku kecil itu lagi dan tubuh nya terasa seperti melayang.


Seseorang memegang pinggang ramping nya dan mengangkat tubuh kecil nya guna mengambil buku yang ia inginkan.


Ainsley terkejut ia langsung menoleh dan membelalakan mata nya.


Ia langsung bergerak refleks untuk melepaskan diri hingga membuat nya langsung terjatuh.


Bruk!


"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu sembari berusaha meraih tangan gadis cantik yang melihat nya dengan wajah pucat.


"Ma-mau apa paman kesini?!" tanya Ainsley terkejut dan bahkan tak ingin meraih tangan pria tersebut.

__ADS_1


Setelah Sean melepaskan nya dari mansion dan mengantar kembali ke apart tentu nya ia mengetahui berita tentang tersebar nya video pembantaian di hutan yang ia ambil.


Video yang menjadi awal mula bencana dalam hidup nya, namun ia juga mendapat kabar jika B'One grup di retas dan sebagian data nya juga di retas.


Walaupun tak ada satupun kerugian yang terjadi pada nya namun sejak hari itu ia selalu berusaha menghindari pria itu semaksimal mungkin.


"A-aku tak tau apapun...


Sungguh..." ucap nya lirih dengan menatap mata yang penuh raut takut.


Perpustakaan universitas yang besar dan sunyi karna saat ini merupakan jam yang tidak biasanya di kunjungi mahasiswa, belum lagi ia yang berada di bagian yang jauh dari tempat membaca tentu nya semakin membuat nya merasa takut.


Richard melihat raut panik gadis itu, ia tentu nya bisa memahami rasa takut Ainsley karna ia juga memegang video pelecahan yang dulu pernah ia lakukan.


"Tapi kalau kau tak pernah mengambil nya, maka video nya juga tak ada kan?" tanya Richard yang sedikit bermain-main dengan rasa takut gadis itu.


Ainsley menggenggam tangan nya, lidah nya kelu tak mampu bersuara, namun ia juga merasa tak terima karna seperti ia lah yang di salahkan.


"Kalau paman tidak membunuh siapapun maka aku tak akan mengambil video nya, kan?" Ainsley yang menjawab dengan suara gemetar.


Richard sempat terkejut melihat gadis itu berani menjawab nya walaupun sudah ketakutan setengah mati.


Smirk licik naik di bibir pria itu, ia kembali mengulurkan tangan nya agar gadis itu bangun.


Ainsley terkejut mendengar apa yang di ucapkan pria di depan nya yang lebih mirip seperti ancaman.


Ia pun meraih tangan Richard dan pria itu pun langsung menarik tangan nya hingga membuat tubuh kecil langsung masuk ke dalam dekapan nya.


"Paman! Lepas!" ucap nya tak jelas saat wajah nya terbenam di dada bidang pria itu.


Richard tak peduli, ia memeluk gadis itu dengan erat, karna ia yang sudah sangat merindukan tubuh mungil yang sedang menggeliat mencari kebebasan di dalam pelukan nya saat ini.


"Kau tak bisa tenang? Hm? Kau mau menarik perhatian orang lain?" tanya Richard sembari melepaskan pelukan nya dan memegang pipi gadis itu.


"Paman takut? Kalau paman begitu aku akan teri-"


"Kau tau kenapa aku bisa di sini bahkan setelah video nya beredar? Ini karna aku memiliki kekuasaan yang lebih besar dari yang kau bayangkan," bisik Richard yang langsung memotong ancaman gadis itu.


Deg!

__ADS_1


Ainsley tersentak, ia tau pria di depan nya sedang mengancam diri nya. Ucapan yang mengisyaratkan jika hanya ia lah yang di rugikan jika terjadi sesuatu.


"Kenapa paman bisa di sini?" tanya Ainsley dengan raut tak suka menatap pria di depan nya.


"Rahasia," goda pria itu tersenyum dengan satu jari telunjuk yang menutup bibir nya.


"Kau sendiri kenapa bisa di sini? Bukan nya pacar gila mu seharusnya masih mengurung mu?" tanya Richard berbalik pada Ainsley.


Ainsley terkejut, mendengar Richard menyinggung tentang Sean membuat nya kembali ingat jika pria itu berusaha membunuh mantan kekasih nya.


"Kami sudah tidak ada hubungan apapun lagi, jadi jangan lakukan apapun padanya..." jawab Ainsley lirih sembari menatap lalu menurunkan pandangan nya.


"Benarkah? Padahal aku berniat membunuh nya kalau dia menghalangi ku," ucap Richard dengan suara berbisik.


"Se-sean bukan orang yang mudah di bunuh seperti itu!" sanggah Ainsley cepat dengan suara terbata dan gemetar.


Richard tersenyum, ia tau walaupun Sean masih belum menjadi pemilik resmi Sation namun pria itu sudah mampu menjadi otak perusahaan dan memiliki ketelitian penuh.


Tentu nya hal itu tak mudah jika ia ingin menyingkirkan tipe orang yang seperti itu, namun tak ada yang tak mungkin bagi nya. Ia bisa melakukan apapun walau membutuhkan waktu yang relatif lama.


"Kalau aku mau aku bisa melakukan apapun untuk menyakiti pria tersayang mu itu," jawab Richard dengan senyum licik nya.


"Kenapa? Dia kan tidak salah apapun? Kenapa mengincar nya atau aku? Kami sudah tak ada hubungan apapun lagi." ucap Ainsley lirih yang takut dengan gertakan pria tampan itu.


"Kalau dia tak ada, berarti kau bisa menyukai ku kan? Tapi karna kau bilang sudah tak ada hubungan apapun lagi berarti sekarang sudah bisa bersama ku, kan?" tanya Richard pada gadis itu.


"Kenapa? Kenapa aku harus suka pada paman?" selak gadis itu langsung.


"Karna aku membuat mu nyaman?" ucap Richard ringan pada gadis itu.


Ainsley terdiam sejenak namun ia tak ingin menunjukkan kelemahan nya. Yang di katakan Richard memang benar, namun ia juga bisa melakukan hal tersebut pada Sean beberapa minggu yang lalu.


"Aku bisa melakukan nya dengan pria manapun! Hal itu bukan paman yang putuskan!" jawab Ainsley kukuh menatap tak ingin dirinya di kendalikan siapapun lagi.


Senyum Richard turun, kini wajah nya menatap tajam bagaikan elang pemburu yang siap memangsa buruan nya.


"Oh ya? Kau bisa lakukan dengan pria manapun?" tanya nya dengan tatapan tajam.


Hawa tertekan yang membuat nyali gadis itu semakin menciut membuat nya tak bisa bernapas, "Bu-bukan urusan paman..." jawab Ainsley gemetar.

__ADS_1


Richard hanya menampilkan smirk nya melihat rasa takut pada mata gadis itu yang tertekan akan ancaman nya.


"Akan ku lihat nanti, apakah ucapan mu sungguh-sungguh." ucap nya dengan smirk yang tak bisa di artikan sembari mencium rambut panjang yang tergerai dengan indah itu.


__ADS_2