Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Crazy over you


__ADS_3

Gadis itu mengigit bibir nya, ia terkurung di dalam ruangan kamar yang mewah tersebut.


Dugh! Dugh! Dugh!


Gadis itu memukul dan menendang pintu kamar itu, tak ada jawaban sama sekali.


"Paman! Paman! Bukan pintu nya!" teriak Calesta sembari terus menendang dan menggerakkan engsel pintu terus menerus agar terbuka.


"Richard!" teriak nya lagi memanggil nama pria itu.


Gadis itu mulai lelah, kaki nya berangsur lemah dan terduduk di lantai.


"Aku hamil?" gumam nya yang masih tidak percaya sembari memegang perut nya.


"Anak ku datang lagi? Tapi...


Tapi aku..." gumam nya lirih sembari mengusap perut nya.


Setitik buliran bening jatuh dari pelupuk mata nya, ia senang anak nya yang dulu tak sempat ia sentuh seperti kembali lagi pada nya.


Gadis itu menutup mata nya dan menenggelamkan wajah nya di dalam lutut nya yang ia lipat.


Ia takut jika tidak bisa menjadi orang tua yang baik dan berakhir memberikan anak-anak nya kehidupan yang sama seperti yang ia terima dulu.


Apa lagi dengan ingatan yang sudah kembali tersusun dengan jelas di kepala nya.


...


Flashback on.


Satu tahun yang lalu.


Gadis itu baru selesai menjalani perawatan jalan nya, ia masih tetap tinggal di rumah sakit guna memantau kesehatan pasca sadar.


Sudah bisa bergerak dan berjalan walaupun masih perlu banyak latihan untuk membuat nya kembali normal seperti anak lain pada umum nya.


Duk!


Langkah gadis itu terhenti saat sebuah bola datang di kaki nya.


"Kakak! Mau bola nya!" ucap anak lelaki yang menggemaskan tersebut.


Gadis itu menoleh, ia menunduk mengambil bola anak lelaki menggemaskan itu dan tersenyum lembut.


"Kakak mau ikut main?" tanya nya pada gadis cantik itu.


Anak lelaki yang terlihat seperti pasien yang sama seperti nya di rumah sakit yang besar tersebut.


Gadis itu mengangguk, ia mengikuti tangan kecil nya yang membawa nya menuju banyak anak-anak yang bermain.


Senyuman cerah terlihat di wajah pucat gadis itu, ia kembali tertawa setelah ia bangun tanpa mengingat apapun.


Hingga salah satu perawat yang datang pada nya dan memanggil nya untuk ke kamar.


"Kakak kembali dulu, kita main lagi nanti." ucap nya pada anak lelaki imut tersebut.


"Jangan! Ayo kak, main lagi!" ajak anak lelaki itu yang kukuh ingin kakak cantik yang ia temui bermain dengan nya lebih lama lagi.


"Kakak balik dulu, besok kita main lagi." ucap gadis itu dengan lembut dan tersenyum.

__ADS_1


"Ayo kak! Kita main tangkap bola dulu!" ajak nya lagi sembari menarik tangan gadis itu.


Gadis itu bagai terhipnotis yang membuat nya bergerak tanpa sadar.


Plak!


Anak lelaki itu terkejut, tubuh kecil nya langsung tersungkur ke rumput hijau tersebut.


Deg!


A..apa yang ku lakukan?


Batin nya yang begitu terkejut dan tak menyangka jika ia bisa memukul anak kecil.


"HUA...


Kakak jahat! Huhuhu...." tangis nya berteriak.


Perawat yang tadinya memanggil gadis itu pun langsung mendekat dan menenangkan anak lelaki tersebut.


Sedangkan gadis cantik itu terlihat begitu terkejut, lebih terkejut dari anak yang ia pukul karna menarik tangan nya.


Ia sama sekali tak berniat ataupun ingin memukul namun seakan tubuhnya mengingat sesuatu yang bahkan ia sendiri tak ingat.


"Ma-maaf...


Aku tidak sengaja..." ucap nya lirih sembari memundur.


Setelah kejadian itu perawatan psikologis setelah kecelakaan nya bertambah, dan karna tak ada lagi gejala aneh hal itu di simpulkan karna ia masih mengalmi stress pasca kecelakaan.


Flashback off.


...


Sekarang ia ingat kenapa dulu ia bisa memukul anak lelaki yang menarik tangan nya tanpa sadar.


Hal itu di karenakan sikap yang selalu ia terima membuat nya tanpa sadar meniru dan mempengaruhi sikap nya dalam menghadapi anak-anak.


Hal yang dulu ia terima tanpa sadar ia turunkan pada anak-anak yang ia temui walaupun ia sebenarnya tak ingin sama sekali.


...


Pukul 07.25 pm.


Richard kembali dengan membawakan makan malam gadis itu, tak ada senyuman namun tatapan tajam yang ia terima dari gadis itu.


"Makan, kau belum makan kan?" ucap pria itu sembari memberikan sendok yang ketiga kali nya.


Setelah makanan yang sebelum nya di hancurkan oleh gadis cantik itu.


"Aku akan mengugurkan nya," ucap Calesta lirih.


Kali ini iris hijau menatap mengubah tatapan lembut nya menjadi tajam.


"Apa yang kau katakan?!" tanya Richard sembari meraih pergelangan tangan gadis itu.


"Aku mau mengugurkan anak ini...


Aku tidak mau dia menderita..." ucap gadis itu menatap dengan air mata dan tatapan yang tak ragu sedikit pun.

__ADS_1


Rahang pria itu mengeras, ia tak terima saat gadis itu mengatakan tentang niat nya yang ingin menggugurkan anak yang ia berikan.


"Kau sangat tak mau mengandung anak ku?!" tanya pria itu dengan tatapan tajam.


Gadis itu membalas tatapan yang di berikan pada nya, "Memang nya paman tau apa?!" teriak nya sembari memberontak dan memukul dada bidang pria itu.


"Memang nya paman tau apa? Hm?" ulang gadis itu dengan nada yang mulai lirih.


"Apa sulit nya? Kau hanya perlu mengandung dan melahirkan nya kan?! Setelah itu aku bisa membantu merawat nya!" ucap Richard pada gadis itu.


Baginya mengurus anak bukanlah hal yang sulit saat semua kebutuhan nya terpenuhi.


Gadis itu menggeleng lirih, ia tidak tau apa yang di pikirkan pria itu hingga menganggap jika memiliki anak adalah hal yang mudah.


Mental? Psikologis? Perasaan?


Pria itu tak memikirkan tentang kesiapan sang ibu yang harus nya menjadi pondasi utama dalam memiliki anak sehingga tak akan menimbulkan hal yang tidak seharusnya.


"Membesarkan nya dengan uang? Itu maksud mu? Memang nya paman tau rasanya hanya di besarkan dengan uang?!" tanya nya dengan tatapan yang tak terima.


Richard mengernyit, yang ia tau sebagai Calesta gadis itu mendapatkan kasih sayang penuh.


"Ainsley?" panggil nya pada gadis itu.


Deg!


Calesta terperanjat, ia membuang mata nya ke arah lain tak ingin menatap pria itu.


"Kau sudah ingat?! Karna itu kau tidak mau punya anak dengan ku?!" bentak pria itu sembari mencengkram erat wajah gadis itu dan membuat nya menatap nya kembali.


"Aku ingat atau pun tidak, aku belum siap! Paman tidak bisa mengerti bahasa? Kepala ku rasanya mau pecah! Paman tidak tau kan?! Paman tau apa tentang ku?!" tanya Calesta berteriak yang menjawab bentakan pria itu.


"Jangan bersikap seperti mengenal ku, padahal paman tidak tau apapun!" sambung gadis itu lagi.


"Aku tidak mau melepaskan mu lagi, aku tidak mau mengulang nya lagi!" jawab Richard yang tidak sanggup untuk kehilangan gadis itu lagi.


"Setiap orang bertanggung jawab atas perasaan nya masing-masing! Aku tidak punya kewajiban untuk membalas perasaan mu!" jawab gadis itu lagi.


"Karna kau sudah ingat kekasih tersayang mu?" tanya Richard yang tetap kukuh dengan pendirian nya.


Calesta mengernyit ia tak ingin menjawab pertanyaan yang akan menjebak nya, "Kalau dia mati, kita tidak punya yang menghalangi kita lagi kan?"


Deg!


"Gila! Jangan gila! Dan berhenti lah berpikir seperti itu!" jawab Calesta lagi.


"I'm crazy over you, babe..." bisik nya sembari menarik pinggang gadis itu.


......................


Toko kue.


Sean menatap ke arah toko kue gadis itu, sudah beberapa hari gadis itu tak membuka toko nya.


Pria tampan itu meletakkan buket bunga nya di depan pintu toko kue gadis itu.


"Dia belum kembali?" gumam nya sembari berjalan kembali ke mobil nya.


Tangan nya kembali membuka ponsel nya dan melihat list gaun yang ingin ia belikan untuk kado ulang tahun gadis itu yang ke 26.

__ADS_1


"Apa aku berikan rumah yang sudah ku bangun saja? Rumah itu kan memang untuk nya," ucapnya yang memikirkan rumah yang ia buat dulu untuk rumah yang akan ia dan gadis itu tinggali setelah menikah.


__ADS_2