
Mata biru yang berbinar cantik, tubuh kecil bak boneka yang memiliki kulit halus dan juga seputih susu, rambut yang berwarna hitam terang serta senyuman yang begitu cerah.
Tangan mungil nya memegang tangan sang ibu yang lebih besar dari nya, mata yang penuh cahaya itu menoleh ke segala arah menatap rumah yang bagaikan istana.
"Hey? Kau sudah datang?"
Suara seorang pria yang terdengar ramah dan memberikan nya senyuman hangat.
Gadis kecil itu langsung mundur ke belakang di balik kaki sang ibu dan menatap bersembunyi ke arah pria yang berbicara pada nya.
"Jangan takut, dia paman baik kok..." ucap sang ibu yang menarik pelan putri cantik nya itu agar melihat ke arah pria yang berbicara pada nya.
"Siapa nama nya?" tanya pria itu tersenyum sembari memberikan dua coklat pada gadis kecil dan mungil itu.
"Celine, Celandine Amaranth..." jawab nya lirih sembari melihat ke arah sang ibu, apakah ia boleh mengambil coklat tersebut atau tidak.
Wanita berparas cantik itu mengangguk kecil, tangan mungil itu pun perlahan mengambil coklat yang di berikan pada nya dan memberikan pada sang ibu untuk di bukakan.
Bibir merah muda nya mulai mengigit coklat manis itu dan menatap ke arah pria yang tersenyum pada nya.
"Amaranth? Paman punya taman besar, kalau Celine Mau paman bisa buatkan taman yang penuh dengan bunga Amaranth." ucap nya pada gadis itu.
Mata biru itu langsung membulat, binar yang di di pancarkan begitu besar membuat sang ibu tersenyum.
"Benelan?" tanya nya dengan semangat.
"Bener, kan sekarang Paman bakalan jadi Papa nya Celine." jawab pria itu dengan tersenyum.
"Papa?" kening nya mengkerut dan melihat ke arah sang ibu.
Ia tak memiliki ayah semenjak kelahiran nya, karna sang ayah telah gugur ketika ibu nya masih mengandung nya.
"Kata Mama, Papa Celine itu tentala," ucap nya pada pria itu.
Wanita cantik itu pun ikut berjongkok seperti pria yang baru saja memberikan putri nya dua batang coklat.
"Ini Papa Celine yang baru, Papa pertama Celine sekarang di langit." ucap nya dengan lembut sembari mengusap dan mengelus kepala putri nya.
Gadis kecil itu tak tau apapun, ia bahkan tak tau kasih sayang seorang ayah karna ayah nya telah tiada semenjak ia di lahirkan ke dunia.
Namun ketika seseorang datang dengan senyuman hangat dan juga makanan yang ia sukai, bahkan akan memberikan nya taman yang sesuai dengan nama nya membuat nya begitu senang dan tanpa ragu menerima tangan pria itu.
"Belalti sekalang Celine udah punya Papa? Kayak temen yang lain?" tanya gadis berusia 6 tahun itu dengan semangat.
Wanita cantik yang bernama Freya Leonna seorang arsitek jenius yang bisa membuat sesuatu mengangguk dengan tersenyum pada putri nya.
"Nah, sekarang Celine harus panggil Papa juga, biar sama seperti teman Celine." ucap pria itu yang kembali merayu anak manis itu untuk jadi Putri nya.
"Pa..papa..." ucap nya lirih, wajah yang terlihat gugup itu semakin imut.
"Sekarang kan Celine udah jadi anak Papa juga, nah semua yang ada di sini juga punya Celine. Celine mau main apa aja boleh." ucap pria itu dengan senang dan mencubit gemas pipi yang gembul itu.
Baru kali ini ia melihat tingkah anak yang menggemaskan tak seperti putra nya yang bahkan tak bisa menunjukkan emosi.
Mike Gryffin Evans pria konglomerat nomor satu yang hanya memiliki satu putra setelah menceraikan sang istri yang terang-terangan berselingkuh dan memilih kabur bersama pacar nya meninggalkan ia dan putra nya.
Putra yang sejak kecil selalu ia bawa ke psikiater karna tak bisa menunjukkan ekspresi apapun, sangat pendiam dan bahkan menunjukkan jiwa antisosial yang besar.
Sulit menemukan bagaimana cara menangani putra nya karna sejak kecil memang seperti hingga membuat nya bingung, segala cara sudah pernah ia lakukan bahkan menunjukkan kasih sayang yang begitu besar pada putra tunggal nya itu.
Namun sayang tak ada satu pun yang memberi respon, putra nya masih sangat pendiam dan bahkan tak memberikan atau pernah menunjukkan ekspresi apapun.
Mike pun dengan gemas mengangkat anak berusia enam tahun itu dan mengecup pipi gembul nya.
"Hihi..." suara tawa gadis kecil itu terdengar.
Ia tak mengerti apa itu menikah lagi seperti yang di lakukan ibu nya, yang ia tau ia kini punya ayah yang sama seperti teman nya yang lain.
"Celine mau apa?" tanya Mike yang dengan mudah dapat memberikan sesuatu pada gadis kecil yang langsung mencuri hati nya dengan keimutan yang hampir sama seperti ibu nya.
"Ma-mau ke taman..." jawab nya lirih dengan malu-malu sembari menatap ke arah sang ibu.
"Boleh, kan sekarang ini taman Celine juga..." ucap nya pada gadis itu.
Wajah riang langsung terlihat, "Ma? Boleh main?" tanya nya pada sang ibu sembari memegang tangan Freya.
Satu anggukan langsung menjadi jawaban atas pertanyaan anak menggemaskan itu.
Kaki kecil itu pun melompat dengan riang dan langsung berhambur keluar dengan semangat.
Mike mendekat dan mencium leher wanita itu ketika gadis kecil itu telah pergi, "Sekarang kita hanya tinggal melakukan pesta nya saja kan?" tanya nya sembari merangkul tubuh kecil wanita itu.
Freya membuang napas nya lirih dan tersenyum, mata nya memandang ke arah putri yang baru saja keluar, "Dia akan baik-baik saja kan?" tanya nya lirih.
Mike diam sejenak, "Tidak apa-apa, putra ku sedikit dingin tapi dia bukan anak yang jahat." ucap nya pada wanita itu.
....
Langkah kecil yang terdengar ringan itu berjalan melihat ke arah bunga cantik yang mengelilingi nya.
__ADS_1
Mata nya berbinar saat melihat buliran air yang jatuh dari kolam air mancur yang terlihat begitu indah dan besar.
Tentu nya dengan sikap yang ingin tau itu langsung berlari ke arah yang membuat nya tertarik.
Bruk!
Tubuh kecil nya langsung terjungkal ketika menabrak seseorang yang berjalan dari arah berbeda dari nya.
Anak laki-laki berusia 13 tahun itu hanya melihat ke arah gadis bertubuh kecil bak boneka itu.
Ia tak membantu apa lagi bertanya bagaimana keadaan gadis itu.
Celine pun mengernyit, ingin rasa nya bibit cerewet itu segera protes namun tak jadi saat melihat ke arah anak lelaki yang baru memasuki usia remaja itu.
"Wah..." kali ini mata nya kembali berbinar menatap anak remaja yang bagi nya terlihat tampan seperti pangeran negeri dongeng yang ia lihat di buku cerita.
Anak remaja bernama Steve George Evans itu pun seperti tak peduli akan apapun berjalan melewati gadis kecil itu begitu saja tanpa bersikap harus membantu nya lebih dulu.
"Tunggu! Mau kemana? Kesini!" ucap Celine yang langsung berlari ke arah remaja itu.
Ia tak tau siapa saudara tiri yang baru hari ini, yang ia tau ia menemukan seseorang yang membuat mata nya tertarik.
Remaja itu tak memperdulikan nya sama sekali, hingga membuat gadis kecil itu langsung berlari dan,
Hap!
Tubuh mungil itu langsung meraih kaki yang terlihat kuat dan tinggi itu lalu bergelantungan memeluk nya seperti bermain dengan ayunan yang menyenangkan.
Steve terkejut ketika kaki kanan nya tiba-tiba memiliki beban yang tak biasa.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar anak gila!" ucap nya dengan kesal yang mulai bersuara.
Ia pun menarik dan mendorong tubuh kecil itu hingga terjatuh.
Bruk!
Celine mematung, gadis berusia enam tahun itu terkejut dan merasakan perih di lutut serta tangan nya.
Steve pun kembali memalingkan tubuh nya dengan tak perduli dan ingin cepat-cepat untuk segera pergi.
Ia masih diam sejenak namun begitu melihat cairan merah kental itu membuat nya mulai menangis.
"Huu..."
"Hiks.."
Deg!
Langkah remaja itu berhenti, ia berbalik dan menatap gadis yang masih terduduk di atas tanah itu melihat ke arah luka nya dengan menangis.
Remaja itu mengernyit, ia seperti merasakan sesuatu yang membuat nya berat untuk melangkah, sesuatu yang seperti menggelitik dada nya dan membuat nya ingin meraih tubuh kecil yang tengah menangis itu.
Namun ia bahkan tak bisa mengerti apa yang membuat nya menjadi seperti itu hanya dengan pertemuan singkat.
Ia tak tau apa yang menjadi masalah dalam.diri nya, semua orang mengatakan jika begitu aneh karna sangat pendiam dan tak bisa menunjukkan emosi nya entah itu tertawa ataupun menangis.
Ia bahkan tau usaha sang ayah untuk membuat nya seperti anak lain nya, namun ia memang tak bisa mengubah hal tersebut.
Sifat bawaan yang ada pada nya sejak di lahirkan membuat nya sedikit sulit beradaptasi.
Ia tak tau apa yang sedang terjadi pada diri nya saat ini, seperti hipnotis yang muncul di tengah siang hari cerah, langkah nya pun kembali mendekat.
Ia mengulurkan tangan nya pada anak yang tengah menangis itu.
Celine melihat nya, bukan uluran tangan yang ia mau melainkan di gendong seperti yang biasa di lakukan oleh ibu nya.
"Gendong..."
"Tangan sama kaki Celine sakit..." ucap nya lirih sembari membuka tangan nya.
Seperti hipnotis yang membuat nya meraih dan mengangkat tubuh kecil bak boneka itu walaupun ia biasa nya tak mungkin melakukan hal seperti itu.
Aku...
Tidak bisa meninggalkan nya...
Entah apa yang membuat nya seperti itu, apa karna wajah yang begitu cantik dan menggemaskan bagaikan boneka hidup atau karna tangisan lirih akibat kenakalan bocah manis itu sendiri?
Ia tak bisa menemukan jawaban nya, namun ketika tangan nya menyentuh dan meraih tubuh mungil itu membuat nya merasakan sesuatu yang berbeda.
Seperti menemukan apa yang selama ini ia cari, sesuatu yang hilang entah apa itu kini menyelimuti nya dan membuat nya membuat nya merasa akan puas pada sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Hihi..." gadis itu tertawa kecil ketika ia berhasil di gendong.
Muach!
Sifat kekanakan yang ceroboh dan mengerti aturan itu langsung mengecup siapa saja yang ia sukai.
Pria itu tersentak, gadis kecil yang tadi nya bergelantungan di kaki nya malah mencium pipi nya secara langsung.
__ADS_1
Sesuatu yang membuat nya merasa risih namun tak bisa menepis nya, walaupun ia merasa terganggu namun ia menyukai nya juga di waktu bersamaan.
"Sekalang kita pelgi ke Papa, hali ini Celine punya Papa balu..." celoteh nya dengan senang memamerkan ayah baru nya pada anak remaja itu.
Remaja itu masih diam memperhatikan anak dengan wajah boneka itu, "Kenapa? Kakak gak pelcaya? Celine punya ayah balu loh..." ucap nya lagi mengulang.
"Papa Celine tinggi kayak tilex!" ucap nya lagi yang mengatakan sesuai imajinasi nya.
"Pft!" sesuatu seperti terasa mengalir di dalam diri nya, ia tidak tau apa itu namun ia merasakan sesuatu yang berkembang di dalam dada nya ketika mendengar ucapan polos gadis itu.
Emosi...
Sesuatu yang bahkan tak bisa ia rasakan sejak kecil walaupun hidup dengan ayah yang sangat menyayangi nya.
Ukh!
Remaja itu merasakan dengungan di telinga nya, dan membuat gadi kecil itu melihat dengan bingung.
"Kakak kenapa?" tanya nya dengan lirih.
"Tidak apa-apa," jawab nya singkat dan berjalan kembali ke sang ayah.
Ia baru ingat jika hari ini adalah hari di mana sang ayah akan membawa ibu baru nya serta adik tiri yang masih berusia 6 tahun seperti yang sudah di katakan pada nya.
"Mamah!" seru Celine langsung ketika melihat sang ibu.
"Loh? Celine kenapa?" tanya Freya dengan bingung.
"Jatuh," jawab gadis kecil itu pada sang ibu.
Mike melihat ke arah wajah putra nya yang kini sudah kembali datar dan terus melihat ke arah gadis itu.
"Steve? Dia sekarang adalah ibu mu." ucap Mike memperkenalkan wanita yang baru ia nikahi pada putra nya.
Steve pun menundukkan diri nya dan memberikan hormat pada wanita itu karna kini telah menjadi ibu nya.
"Dan dia sekarang adalah adik mu," ucap nya pada putra nya lagi.
"Dia bukan dari ibu atau ayah yang sama dengan ku, kenapa aku harus menanggap nya sebagai adik ku." jawab remaja itu dengan wajah yang tak menunjukkan emosi sama sekali.
Begitu datar sampai tak tau jika ia menolak ataupun setuju.
Celine menoleh melihat ke arah Papa baru nya yang terlihat marah dan kesal atas jawaban putra nya.
"Pa..Papa..." ucap nya meraih tangan pria yang besar itu.
Mike langsung menoleh, amarah nya turun melihat gadis kecil menggemaskan itu, "Kakak itu siapa?" tanya nya dengan polos.
Pria itu pun berjongkok, "Itu kakak Celine, sekarang Celine juga punya kakak baru..." ucap nya pada gadis kecil itu.
Sedangkan Freya sudah gugup karena putra dari pria yang ia nikahi seakan menolak nya dan putri nya.
"Kakak?" tanya Celine memiringkan kepala nya.
"Iya, kakak Celine, Celine bisa punya teman main sekarang." ucap Mike pada gadis kecil yang masih polos itu.
Mendengar teman main membuat senyuman nya kembali mengembang, "Yeeyy Celine dapat Papa balu, dapat kakak balu juga..." ucap nya dengan senang.
Gadis itu kembali melangkah melihat ke arah remaja yang menatap nya dengan datar, tangan mungil itu meraih telunjuk remaja itu dan menggenggam nya.
"Kakak?" panggil nya dengan berbunga-bunga dan merasa sebentar lagi akan ada yang menemani nya bermain boneka.
Remaja itu melihat nya, ia merasa terganggu namun tak ingin kembali menepis karna tak ingin mendengar tangisan yang membuat nya merasa tak nyaman.
Hangat...
Satu genggaman kecil yang menyelimuti hari telunjuk nya, sesuatu yang kecil dan menganggu namun ia sama sekali tak membenci nya.
Ia tak mengatakan apapun, namun meraih wajah yang menggemaskan itu lalu mengusap nya seperti bermain dengan boneka.
"Kau aneh..." ucap nya lirih dengan wajah yang tak menggambarkano emosi apapun saat melihat gadis kecil itu sembari menyentuh pipi lembut anak cantik itu.
Ia tak tau apa yang sedang ia rasakan saat ini namun menyukai ketika tubuh mungil itu bersentuhan dengan nya, membuat nya merasakan sesuatu yang nyaman walaupun gadis kecil itu sangat berisik untuk nya.
...****************...
Hay pembaca othor πππ
Never gone (Hasrat dan Obsesi) novel utama nya sudah tamat yah
Dan buat yang nunggu reinkarnasi babang Rich, sekrang Uda ada dan othor memang membuat nama serta suasana yang berbeda, hanya saja mereka reinkarnasi nya.
Udah tau kan yang mana Ainsley yang mana babang Rich nya nya?
Dan spin off ini hanya bebebrapa eps saja, sekali lagi othor mau bilang, karna ini reinkarnasi dan bukan time travel jadi nama dan semua orang nya berbeda yah.
Hanya saja mereka itu kelahiran yang baru dari orang sebelum nyaππ
Happy readingπππ
__ADS_1