Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Force a smile


__ADS_3

Ctass...


Bruk!


Satu cambukan terakhir dan gadis itu pun langsung jatuh terduduk, wajah nya pucat dengan mata yang sembab serta tubuh yang penuh akan jalur biru keunguan dan luka yang memanjang dari sabetan tali pinggang pria itu.


"Ma-maaf Sean..." ucap nya dengan suara gemetar dan merintih kesakitan.


Pria itu menatap tajam iris kekasih nya yang tengah terduduk dengan tubuh penuh luka, ia pun memegang dagu gadis itu hingga mengandah pada nya.


"Aku bisa maafkan semua kesalahan mu, tapi jangan mencoba mengkhianati ku. Kau mengerti?" ucap pria itu menatap wajah pucat gadis nya.


Gadis itu menggeleng dengan linangan air mata nya, "A-aku nanti keluar dari kelompok Sean..." jawab Ainsley dengan suara gemetar nya.


Pria itu pun tetap diam dan mulai berjongkok lalu merengkuh tubuh gadis itu, memeluk nya perlahan hingga darah dari luka gadis itu menyatu di pakaian nya.


"Aku tidak mau kau pergi, kau mengerti kan? Kau itu milik ku." ucap nya lirih ketika ia memeluk tubuh yang penuh luka itu karna hukuman nya.


Setiap hukuman fisik yang di terima kekasih cantik semua itu karna berhubungan dengan "Pria lain" ia tau gadis itu tak mungkin mengkhianati nya namun ia juga sangat tau sifat polos, naif, lugu dan mudah terpengaruh membuat gadis nya mudah di bodohi.


Jadi ia membuat hukuman lebih dulu agar sebelum gadis nya dapat di bodohi orang lain gadis itu sudah pergi dan lari lebih dulu karna takut akan hukuman nya.


Pria itu memang "Menjaga" gadis nya dengan cara yang berbeda dan menakutkan.


......................


Deg...


Mata nya menerjap terbuka dengan keringat yang membasahi tubuh nya ketika ia bermimpi kekasih nya meninggalkan nya.


Paman?


Gumam nya saat melihat pria itu masih tertidur di samping nya, matahari tengah meninggi ke atas saat gadis itu terbangun.


Richard yang bahkan tidur hampir menjelang subuh karna terus bermain di tubuh gadis itu walaupun Ainsley sendiri sudah tak sadar.


"Ukh!" ringis nya ketika ia ingin bergerak namun bagian inti nya terasa begitu sakit, tak hanya itu seluruh tubuh nya juga begitu kesakitan dan pegal serta begitu merasa lelah.


Ia pun berusaha tetap bergerak bangun dan melihat di balik selimut.


Mata nya membulat sempurna, iris nya pun bergetar dan berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum nya.


Deg...


Jantung nya berdebar mengingat malam panas nya yang penuh dengan gairah hingga ia jatuh tertidur setelah mencapai puncak berkali-kali.


Tubuh nya gemetar ia menutup mulut secara refleks dan air mata nya mulai berjatuhan, tangis nya luruh yang membangunkan pria di samping nya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?" tanya Richard dengan suara serak karna masih mengantuk.


"Pa-paman...


Ki-kita kan harus nya pura-pura ta-tapi kenapa semalam..." tanya nya tersendat dengan tangis yang terus jatuh dari mata nya.


Richard diam sesaat ia memutar bola mata nya dengan malas melihat sikap gadis itu yang seperti kehilangan satu ginjal nya.


"Aku tau kita semalam melewati batas, tapi karna kau juga tak menolak aku jadi berfikir kalau kau juga mau," jawab nya setelah mengatur ekspresi nya lagi.


Deg...


Ainsley terkejut, ucapan yang terasa begitu menusuk dada nya karna apa yang di katakan itu benar. Ia tak menolak sama sekali penyatuan yang di berikan pria itu.


Melihat gadis itu bingung dan linglung Richard pun menampilkan smirk kecil nya, ia tentu nya tau alasan kuat gadis itu tak menolak penyatuan nya karna hasrat yang meninggi setelah obat per*ngsang itu di berikan pada gadis itu.


"Ta-tapi aku tidak mau...


A-aku tidak mau..." ucap nya yang semakin segugukan dalam tangis nya.


"Tapi kenapa tak menolak nya? Kalau kau memberikan penolakan yang tegas aku juga tak akan sejauh itu." ucap Richard lagi yang memutarbalikkan keadaan.


Ainsley semakin terkejut tangis nya semakin tumpah dan mulai menutup telinga nya dengan kedua tangan kecil nya yang gemetaran.


"A-aku mengkhianati Sean..." gumam nya lirih dalam tangis nya.


"Aku harus apa? Ka-kalau Sean tau...


Di-dia bakal pergi...


Dia bakal tinggalin a-aku..." ucap Ainsley gemetar dan semakin menangis.


Bagus kalau dia pergi, kau bisa jadi mainan ku...


Pria itu menatap gadis yang tengah menangis tersebut, ia senang di hati nya dan bahkan saat ini menginginkan kembali tubuh gadis itu namun ia masih menahan nya.


"Kalau begitu jangan beri tau dia, dia tak akan tau kalau kau tak beri tau." ucap Richard pada gadis itu.


Ainsley masih terus gelisah dan semakin me jatuhkan bulir bening nya.


"Anggap saja malam itu tak pernah terjadi, kalau dia tak tau kau bisa menganggap seperti tak terjadi apa-apa." ucap Richard pada gadis itu.


"Ta-tapi..." sahut Ainsley bingung dan semakin terisak. Ia tak tau cara nya menganggap tak terjadi apapun ketika tubuh nya sudah bercampur dengan pria lain.


"Sana mandi, mandi dan hilangkan bekas nya lalu lupakan, hm? Kau seharusnya senang bukan menangis." ucap Richard dan membuat gadis itu mengandah.


"Kenapa aku harus senang?" tanya nya lirih dengan suara serak karna tangis nya.

__ADS_1


"Tak ada yang tau apa yang terjadi malam ini, kau cukup bersikap biasa saja, ini hal yang normal karna kau juga tak menolak ku sama sekali," ucap Richard pada gadis itu.


Ainsley masih menatap pria di depan nya dengan mata sendu dan tangisan yang terus jatuh ke pipi nya.


"Dan lagi, pria itu juga tak jadi melakukan nya dengan mu kan? Sebagai ganti nya kau dengan ku, tapi ini hanya akan jadi rahasia kita." ucap Richard lagi.


"A-aku tidak bisa merasa senang..." ucap Ainsley lirih dengan terus menangis.


"Kenapa? Kau harus nya merasa senang, ini hal yang menyenangkan...


Setiap orang punya rahasia dan sekarang kau juga punya, berhenti menangis karna kau harus nya merasa SENANG!" ucap Richard lagi.


Ainsley bingung karna ia sama sekali tak merasa senang ataupun bahagia namun ia berusaha memasukkan kata-kata tersebut di kepala nya.


"Sana mandi," ucap Richard lagi pada gadis itu.


Ainsley pun menurut ia perlahan bangun dan berjalan tertatih ke kamar mandi untuk menghilangkan bekas percintaan di tubuh nya.


Richard tersenyum simpul melihat tubuh gadis itu yang tertatih ke kamar mandi dengan balutan selimut.


"Tubuh nya benar-benar candu, aku menginginkan nya lagi..." gumam nya sembari menampilkan smirk nya.


...


Ainsley menutup rapat pintu kamar mandi tersebut dan menjatuhkan selimut nya, ia melihat bekas kemerahan yang menyebar rata di seluruh tubuh nya.


Bekas kemerahan tersebut akan cepat hilang karna Richard tak menciumi nya sampai memar ataupun mengesap terlalu dalam.


"Paman bilang aku harus nya senang? Tapi kenapa aku tidak bisa tersenyum? Kenapa aku terus menangis?" ucap nya lirih sembari memandang wajah nya di cermin.


"A-aku harus tersenyum..." ucap gadis itu lagi namun semakin menjatuhkan bulir bening nya.


Ia tau tau namun dada nya terasa begitu sesak, tangis nya tumpah tak bisa ia hentikan.


"A-aku tak bisa tersenyum...


Kenapa aku terus menangis...." ucap nya lirih yang semakin tak bisa mengendalikan perasaan yang meluap sesak di dada nya.


Ia berulang kali menaikkan sudut bibir nya dan memaksa senyuman yang biasa ia lakukan namun air mata yang luruh terus membasahi wajah nya tak membiarkan wajah ceria nya untuk keluar sedikit pun.


"A-aku salah....


Huhuhu...


Aku tak bisa tersenyum...


Hiks..." tangis nya yang semakin menjadi.

__ADS_1


__ADS_2