
Mata yang berwarna hijau coklat keemasan itu menatap ke arah pria di depan nya.
"Paman? Cara kita keluar dari sini sudah paman temukan?" tanya gadis itu lirih dengan pelan dan tak menatap mata pria tampan itu.
"Keluar? Kau tak pikirkan nanti malam dia bisa membawa mu secara paksa lagi?" pancing Richard pada gadis itu.
Ainsley tersentak ia pun kemudian sadar maksud dari perkataan pria di depan nya, ia ingat dan sangat tak mau jika harus di ciumi secara paksa lagi dan terlebih lagi tak ingin melakukan hal dewasa tersebut pada pria yang ia anggap sangat jahat tersebut.
"Ti-tidak...
A-aku tidak mau..." gumam nya lirih sembari menatap sendu pria di depan nya.
Richard tersenyum dalam hati namun mengontrol ekspresi nya dengan wajah khawatir.
"Kau mau pura-pura? Ini tidak nyata, kita hanya perlu membuat suara yang natural dan paman yakin kalau dia tidak akan mau lagi." ucap Richard meyakinkan gadis itu.
"Pura-pura apa?" tanya Ainsley lirih.
"Pura-pura melakukan nya setelah itu dia pasti tidak akan membawa mu paksa, kau mau?" ucap Richard lagi.
Gadis itu menggeleng pelan karna tak setuju namun takut mengemukakan nya secara terang-terangan.
"Nanti Sean marah..." ucap nya lirih yang tak ingin mendapatkan amarah dari kekasih nya lagi.
"Ini tak nyata, kita hanya pura-pura. Biar paman berikan perumpamaan pada mu," ucap Richard
"Kau punya teman yang hanya bersikap pura-pura baik ketika menginginkan sesuatu, dan apa kau menyebut mereka teman? Mereka bahkan tak benar-benar berteman dengan mu. Teman yang tidak nyata karna hanya pura-pura." sambung Richard pada gadis itu.
"Jahat! Teman nya jahat!" sambung gadis itu dengan mata yang tak mengerti apa yang dikatakan pria di depan nya.
"Itu hanya contoh, jadi yang akan kita lakukan nanti hanya pura-pura!" kukuh Richard yang terus mengelabui gadis yang tak tau apapun itu.
"Nanti Sean marah..." ucap Ainsley lagi dengan pelan.
"Kalau begitu jangan beri tau dia, mudah kan?!" ucap Richard yang sudah tak sabar dengan sikap keras kepala gadis itu.
Ainsley tersentak ia terkejut mendengar nada tinggi yang baru di ucapkan pria tersebut.
"Kau tau kan situasi kita sekarang? Kita tidak boleh membiarkan pria itu mendekati mu dan lagi aku ingin kita berdua bisa selamat, hanya pura-pura tak apa-apa..." ucap lagi meyakinkan.
"Ba-baik..." Ainsley mulai menurut walau sebenarnya ia ragu.
Ainsley pun kembali di jemput pelayan dan akan diantar kembali setelah makan malam ke kamar pria yang ada paman nya.
...
__ADS_1
Setelah makan malam yang di berikan dengan obat per*ngsang dosis yang sangat kecil hanya untuk pemantik gairah di awal pelayan yang sebelum nya pun kembali mengantar gadis itu ke kamar paman nya.
"Pa-paman..." panggil nya lirih.
Ia mulai merasa gerah walaupun belum merasakan ada nya dorongan hasrat yang memacu pada nya.
"Ku dengar dia akan datang jam sembilan, kau bisa ke ranjang dulu." ucap Richard yang seperti memerintah anak kecil pada gadis cantik itu.
Ainsley menurut dan naik ke atas ranjang, walaupun ia gugup namun ia berusaha percaya dengan pria yang tengah menipu nya.
Setelah suasana hening hingga sebuah ketukan pintu menyadarkan gadis itu.
"Sudah jam sembilan," ucap Richard yang memberi kode seakan-akan pria bertopeng itu tengah menunggu di luar.
"La-lalu kita harus ap- Humph!" bibir nya terbungkam oleh ciuman yang baru di layangkan pada nya.
Tangan nya berusaha mendorong namun pria itu dengan cepat mulai mengatur posisi yang nyaman untuk nya.
"Pa-paman..." ucap nya lirih dengan perasaan takut karna terkejut.
"Kita hanya pura-pura, mengerti kan?" Richard yabg semakin menekankan tentang sandiwara mereka.
"Ta-tapi tadi kan kita ci-ciuman...
A-aku tak mau..." ucap Ainsley menolak ketika merasakan jika harus nya sandiwara tak seperti itu.
"Tak nyata? Kalau Sean tau nan-"
"Iya, tak nyata! Kalau begitu kau tak perlu memberi tau nya!" ucap Richard lagi yang merasa jengah gadis itu terus mengucapkan nama pria lain di depan nya.
Ainsley diam tak membalas ucapan pria itu, sekali lagi ia terkejut dengan nada ketus dan ucapan kesal yang di berikan pada nya hingga membuat nya takut untuk bersuara lagi.
Melihat gadis itu yang tak lagi membantah Richard kembali menautkan bibir nya dengan tangan yang tak tinggal diam.
Rasa panas dan membakar yang begitu ia rasakan terasa dengan sangat jelas di saat bersamaan namun ia bahkan tak bisa mengerti apa yang sedang terjadi.
Pria yang begitu memandang kagum dan gemas karna wajah cantik gadis di depan semakin hilang kendali.
Pandangan Ainsley semakin mengabur, jantung nya berdetak cepat dengan adrenalin yang berpacu tinggi.
Richard berhenti dan tersenyum simpul mendengar suara tertahan gadis cantik itu, ia pun mulai menjalankan aksi nya lagi.
"Pa-paman...
Kenapa di bu-buka?" tanya Ainsley gugup sembari menahan tangan tersebut.
__ADS_1
"Kita kan hanya pura-pura, tak perlu takut..." ucap Richard yang menepis dan melepaskan dress gadis itu dalam satu kali tarikan.
"Ke-kenapa ini di buka juga? Ja-jangan semua aku tidak ma-mau..." ucap Ainsley lirih yang menahan agar pria itu tak ikut membuka pakaian dalam nya.
Richard tak menjawab dan hanya tersenyum simpul ia sudah merasa menang dalam permainan yang ia buat.
"Jangan..." ucap nya lirih.
Obat nya semakin bereaksi...
Pria itu hanya tersenyum saat melihat kendali yang sepenuh nya hilang dan akal yang tak jernih lagi.
"Pa-paman yang tadi itu apa?" tanya gadis itu lirih.
Namun ia tak menyangka akan merasakan hal tersebut pada pria lain lagi.
"Sstt...
Tidak apa-apa, kau lupa kalau kita sedang pura-pura? Tenang saja ini tak nyata...
Keluarkan suara mu lagi jadi dia tak akan mengambil mu malam ini..." bisik pria tersebut dengan suara berat.
Tapi ini rasa yang nyata...
Batin nya dengan sayup namun tubuh nya begitu bergejolak.
Mata nya menatap sayu dengan suara lirih yang keluar menatap pria tampan itu.
Richard memperhatikan dengan iris jernih nya, perasaan nya seperti meluap bagaikan air tak mengerti apa yang tengah ia rasakan, namun ia juga bergerak tanpa ia sadari mengikuti naluri nya.
Ainsley tak menyadari apa yang terjadi namun ia dapat merasakan jika saat ini tengah ternoda lagi namun perasaan nyata yang ia rasakan terus di sangkal karna rasa percaya nya.
****! Dia benar-benar! Padahal dia sudah tidak murni!
Batin pria tersebut yang merasa seperti kupu-kupu yang bertebaran saat merasakan tubuh gadis itu. Walaupun sudah tak suci lagi namun ia begitu terasa melayang seperti memakai gadis yang masih murni.
Pria itu kehilangan kontrol diri, rasa panas membakar ia rasakan dengan begitu jelas namun begitu menyenangkan.
Ainsley tak mengerti namun ia seperti bukan diri nya lagi saat mencapai sesuatu yang bersamaan dengan pria yang tengah bersamanya saat ini.
Mata sayu itu mulai terpejam dan jatuh tertidur, Richard pun berguling dan masih mengatur nafas nya.
Ia menoleh ke wajah cantik yang penuh dengan keringat itu dan membuat hasrat nya naik kembali. Ia tersenyum simpul dan memangut bibir gadis yang sudah tertidur itu. Lalu mulai mengulang apa yang baru ia lakukan walau gadis itu sudah tak sadar.
Hati dan tubuh nya sangat terpuaskan tanpa pria itu tau ia sudah benar-benar menghancurkan gadis itu, membunuh kepingan jiwa yang tersisa dan membakar nya seperti debu tak akan ada lagi yang tersisa di dalam nya.
__ADS_1
Merusak hingga tak tau mana lagi yang harus di perbaiki atau mungkin sudah tak ada satu pun yang dapat diperbaiki dari sesuatu yang hancur berkeping.