
2 Minggu kemudian.
Aroma manis dan hangat tercium dengan kepulan asap yang memutih menyebarkan wangi nya.
"Nona, cake yang ini sudah selesai." ucap salah satu pekerja yang berada di toko gadis itu.
"Letakkan saja di sana," jawab Ainsley sembari menghias donat yang ada di hadapan nya.
"Mau coba?" tawar Ainsley pada salah gadis muda yang bekerja part time di toko nya.
"Boleh?" tanya Sera dengan mata binar nya begitu di tawari bos cantik nya.
"Tentu saja, ini masih menu percobaan, jadi bisa sekalian kau coba." jawab Ainsley tersenyum.
Sera pun mengambil nya dan mencoba memasukkan nya dalam mulut nya, rasa manis jl yang meleleh di dalam mulut nya namun tidak membuat nya muak.
"Enak sekali!" ucap nya senang.
Ainsley tersenyum melihat pekerja part time nya begitu bersemangat memakan donat yang baru ia buat.
"Bos?" panggil gadis itu, tak seperti dua pekerja lain nya yang memanggil nona gadis itu lebih suka memanggil "Bos" pada gadis yang menjadi atasan nya.
"Hm?"
"Beberapa hari yang lalu ada yang sering lihat toko kita, tapi dia tidak pernah masuk." ucap nya sembari memakan donat.
"Benarkah? Mungkin hanya iseng saja?" jawab Ainsley yang tak memikirkan beberapa kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
...
Sean bergegas dari Sation menuju ke toko gadis itu, ia bahkan sudah hafal jam berapa Ainsley sering keluar ataupun kembali lagi dari toko nya.
Terkadang ia memang hanya memperhatikan dari jauh namun tak menyapa atau mendekat.
Bibir nya tersenyum melihat gadis cantik itu yang keluar dari toko nya, sedang ia berada mobil yang masih menunggu lampu merah di persimpangan.
Namun senyuman nya perlahan turun dan mata nya mengernyit, ia melihat seseorang yang seakan mengikuti gadis itu dari belakang.
"Siapa? Apa hanya pandangan ku saja?" gumam nya sembari menjalankan mobil nya ketika lampu merah sudah menjadi hijau.
Seseorang yang mengikuti gadis itu berhenti saat melihat Ainsley yang sudah memasuki mobil nya.
"Dia mengikuti nya," ucap nya yang mulai tak ragu lagi saat melihat orang itu juga bergegas ke mobil nya.
Ia pun segera keluar dari mobil nya menyusul pria itu sebelum masuk ke dalam mobil.
Grep!
"Kau siapa?" tanya Sean saat meraih tangan pria itu.
Pria yang memakai masker itu pun langsung menepis kasar, ia berusaha pergi namun kembali terhalang.
Bugh!
__ADS_1
Satu pukulan melayang tepat di wajah pria itu saat ia hendak kabur hingga membuat nya tersungkur.
Tangan nya mengepal mengambil debu dan pasir yang bisa raih dan melemparkan nya ke mata Sean.
"Ck! Sial!" decak pria tampan itu saat terkena
debu berpasir yang di lempar pada nya.
Pria bermasker itu pun langsung bangun dan kabur secepat kilat.
Sean mengikuti nya, sedang pria itu memasuki sela-sela sempit bangunan besar agar bisa meloloskan diri nya.
Langkah lari nya terhenti saat melihat dirinya sudah terpojok.
"Kau mau kemana lagi?" tanya Sean pada pria yang tengah terlihat panik itu.
Set!
Sean langsung menghindar saat ayunan pisau tajam yang tiba-tiba di arah kan pada nya.
"Kau perhatikan saja pisau mu," ucap Sean menyeringai sembari menangkap tangan lawan nya lalu memutar nya hingga membuat pria bermasker itu menjatuhkan pisau nya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya nya sembari menekan lengan pria itu kebelakang.
"Kau pikir aku akan memberi tau mu?!" jawab pria itu tak menyerah.
"Tentu saja setelah jari mu habis kan?" ucap Sean sembari menarik satu-satu mematahkan jari pria itu dari belakang.
AKH!
"Semua yang berhubungan dengan gadis yang kau ikuti adalah urusan ku," ucap Sean yang terus memelintir satu per satu jemari pria itu.
"Aku cuma di suruh untuk melukai nya saja!" jawab pria itu saat jari-jari tangan nya hampir patah seluruh nya.
"Kenapa? Dia pernah menyinggung orang yang menyuruh mu?" tanya Sean sekali lagi.
"Bukan dia tapi pacar nya!" jawab pria itu saat ia ingin selamat dari pria yang tengah membahayakan nyawa nya sendiri itu.
Sean pun diam ia menggunakan pisau yang tadi di jatuhkan dan segera menyobek kaki pria bermasker itu agar tak bisa kabur.
Crass!
percikan darah yang menghambur mengenai kemeja nya, namun ia terlihat tak begitu peduli.
AKH!
Pria itu menjerit seketika, kaki nya yang entah kenapa menjadi sulit di gerakkan.
"Aku memotong tempat yang memiliki banyak syaraf jadi mungkin kau tidak akan bisa berjalan lagi." ucap Sean dengan nada rendah dan mulai mengambil ponsel nya.
"Kau datang, dan bereskan yang ada di sini, akan ku kirim lokasi nya." ucap Sean dari telpon pada sekertaris Jhon.
Ia pun segera meninggalkan pria itu di ujung lorong yang sunyi itu lalu bergegas kembali ke toko gadis cantik itu.
__ADS_1
....
Suara kwtincingan lonceng kecil yang terdengar setiap kali ada nya pengunjung membuat Ainsley langsung menoleh padahal awal nya ia tengah menyusun cake yang baru di keluarkan dari panggangan.
Beberapa pembeli yang berada di dalam toko kue itu terkejut saat melihat pria yang memiliki banyak noda darah di tangan nya.
"Sean? Kenapa? Kau terluka?" tanya Ainsley yang langsung mendatangi pria itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sean sekali lagi.
"Harus nya yang tanya itu aku bukan nya kau!" ucap gadis itu panik dan langsung membawa pria itu keruangan nya.
"Duduk di sini!" ucap nya sembari mendudukkan pria tampan itu di atas sofa yang berada di ruangan nya.
"Bukan aku yang terluka, ini juga bukan darah ku." ucap Sean setelah memperhatikan gadis itu yang segera mengambil kotak obat.
"Bukan? Lalu darah siapa? Sini ku periksa dulu!" jawab Ainsley yang masih belum tenang.
"Aku hanya berkelahi sedikit dan yang menang juga aku," ucap pria itu tersenyum tipis saat melihat rasa khawatir di wajah gadis di depan nya.
"Sama saja! Kalau kau yang kena pukul bagaimana?!" jawab Ainsley kesal.
"Ainsley?" panggil pria itu sembari meraih tangan mungil yang berada tak jauh dari nya.
Gadis itu terhenti sejenak ketika kaki nya ingin kembali mencari obat luka.
Ia menoleh dan menunduk ke arah pria yang masih duduk di sofa nya.
"Jangan begini," ucap gadis itu menepis tangan yang meraih nya.
Sean tak melepaskan nya ia tetap menautkan tangan nya pada gadis itu.
"Kalau kau tidak mau menerima ku setidak nya jangan jauhi aku," ucap nya menatap mata yang melihat ke arah nya.
"Aku tidak menjauhi mu," jawab Ainsley tanpa melepaskan pandangan nya.
"Lalu?" tanya Sean sekali lagi.
"Setiap kali melihat mu rasa nya sulit, aku ingin kabur dan sembunyi," jawab gadis itu.
Aku takut tidak bisa melepaskan mu....
"Kau tau kan? Aku seperti apa sekarang? Aku punya..." ucap nya terputus sembari tangan nya yang satu lagi memegang perut nya yang masih terlihat rata.
Sean mengikuti arah tangan gadis itu yang memegang perut nya, ia tau gadis itu memilih mundur karna anak yang berada kandungan nya.
"Lalu? Menurut ku kau masih seperti dulu, manis dan cantik." ucap pria itu tersenyum.
Ainsley membuang wajah nya tak menatap ke arah mata pria itu.
"Lalu kau sudah bahagia sekarang?" tanya Sean sembari tak melepaskan pandangan pada gadis yang membuang wajah nya.
"Aku tidak terluka lagi sekarang, dan tidak ada lagi yang melukai ku," jawab gadis itu sembari mulai menoleh.
__ADS_1
"Itu jawaban untuk dirimu sendiri, jawaban nya juga hanya kau yang tau." ucap pria itu yang seakan jawaban dari pertanyaan nya bukan lah untuk nya melainkan untuk diri gadis itu sendiri.
Karna kau menginginkan hidup seperti ini aku akan membuat nya terus seperti ini untuk mu...