
Tata...
Mata berbinar dengan pipi menggemaskan serta tubuh gembul yang baru beranjak ingin berjalan di atas kaki lemah nya.
"Pinter...
Adik kakak udah bisa jalan!" ucap seorang anak lelaki dengan senyuman cerah namun wajah yang tampak mengabur.
Mengambil adik kecil nya dan mengendong nya dengan erat, "Kita ke mamah yah? Mamah masak coklat buat kamu..."
Tata!
Ucap nya tersenyum dengan cerah, anak menggemaskan dan imut yang bahkan belum bisa berbicara itu pun memeluk sang kakak dan membuat sang kakak mencium gemas pipi nya.
...
Deg!
Mata gadis itu mengandar sepenuh nya terbuka, ia bermimpi sesuatu yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Perasaan hangat dan kehilangan sesuatu, pelukan yang memeluk nya dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Perasaan kupu-kupu yang ia terasa seperti semu karna hanya seperti ilusi yang tak pernah terjadi.
Ainsley memutar mata nya dan melihat ke arah tangan nya yang terasa hangat, pria itu sekali lagi tertidur sembari memegang tangan nya dan menunggu di samping ranjang nya.
Bagaikan sihir yang bergerak dengan sendiri nya tangan gadis itu menyentuh dengan lembut dan menyibak rambut ikal kekasih nya.
Takut, merasa bersalah dan kotor membuat tak nyaman saat bersama pria itu ketika akal nya mulai pulih.
Lalu setelah nya ia akan merasa marah.
Marah pada apapun, pada kekasih nya yang akan menghukum nya, pada ibu nya yang selalu menyiksa nya pada sang ayah yang selalu membalikkan punggung dan menganggap nya tak pernah ada.
Marah pria yang menodai nya dan menganggap nya seperti barang, marah pada dunia yang selalu menjadikan nya pion permainan kesenangan orang lain.
Dan pada akhirnya puncak kemarahan itu adalah rasa benci yang tertanam di hati nya.
Rasa benci yang menuju pada diri nya sendiri, kemarahan yang meluap dan muak dengan dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun.
Menjadikan boomerang dalam diri nya dan membuat nya jatuh ke dalam jurang keputusasaan serta merusak semua rasa kepercayaan dirinya.
Pria itu yang merasakan seseorang mengusap kepala nya pun mulai terbangun dan menatap ke arah kekasih nya.
"Ainsley?" ucap nya terkejut saat melihat gadis nya menangis.
Mata kosong yang kini penuh dengan kesedihan mendalam, perasaan kesepian dan takut yang terlihat jelas dari mata jernih itu yabg sebelum nya seperti tak hidup sama sekali.
"Hey? Kenapa? Kau mimpi buruk?" tanya Sean pada kekasih nya.
Gadis itu menggeleng pelan dan menurunkan pandangan mata nya, suara lirihan dari tangis sendu terdengar menyelimuti indra pendengaran pria tampan itu.
__ADS_1
Greb...
"Ssstt...
Tidak apa-apa, jangan menangis lagi..." ucap nya dengan suara lembut menangkan tangis gadis itu.
......................
3 Hari kemudian.
Ainsley masih belum keluar dari rumah sakit, bukan luka nya yang masih belum sembuh namun karna mental nya yang belum stabil sama sekali sehingga membuat nya di rawat di departemen psikiatri dan dalam pengawasan psikiater yang ketat.
Seperti hari lain nya, tak ada respon sama sekali bahkan ketika malam dimana ia menangis setelah itu tak ada lagi ekspresi yang di timbulkan.
Setelah konseling dengan psikiater, ia akan kembali ke kamar nya dan seperti biasa hanya duduk dan tak melakukan apapun hingga kekasih nya kembali datang setelah dari perusahaan.
Mata nya tergerak melihat ke arah taman yang berada di rumah sakit tersebut, tempat dimana anak-anak kecil yang memiliki riwayat penyakit mematikan namun masih bisa menunjukkan senyum kepolosan nya dan bermain dengan aktif.
Langkah nya berputar ke arah anak-anak tersebut dan memperhatikan dari dekat, ia memang menyukai anak-anak lebih tepat nya sangat menyukai karna kehilangan semua masa kecil nya hingga membuat nya selalu tertarik pada dunia ceria dari anak-anak menggemaskan tersebut.
"Kakak! Mau ngapain? Mau ikut main?" tanya seorang anak sembari memegang tangan nya.
Perawat yang ingin mengantar gadis itu ke kamar nya membiarkan Ainsley melihat dan tertarik ke hal lain.
Tangan kecil dan mungil yang meraih tangan nya membuat mata gadis itu tertuju dan menatap wajah menggemaskan yang menanti jawaban nya.
Ainsley mengangguk pelan dan anak perempuan menggemaskan itu membawa nya ke perkumpulan teman-teman kecil nya.
Tangis seorang anak perempuan yang terdengar nyaring saat ikat rambut nya putus ketika bermain.
"Hua...
Huhuhu..." tangis nya yang pecah karna masalah sepele saat rambut nya tak lagi terikat rapi.
Ainsley pun mendekat dan mengusap air mata gadis kecil itu, rasa simpati dan empati nya lebih tinggi pada anak-anak karna luka yang ia dapat di masa kecil nya.
Tangan nya mengambil ikat rambut lain dan menata rambut gadis kecil dengan rapi dan menggemaskan seperti putri disney yang hidup dalam dunia animasi.
"Cantik! Jadi milip Elsa!" ucap anak tersebut dengan senang melihat tatanan rambut nya.
Gadis kecil yang lain pun mulai mendatangi nya dan meminta nya untuk menata rambut yang terlihat sangat sedikit itu dan bahkan ada yang tak memiliki rambut lagi.
"Yeeyy!" ucap anak-anak itu kegirangan nya dengan senyum polos dan cerah nya.
Namun tak semua tersenyum karna beberapa diantara mereka ada yang tak lagi memiliki rambut.
Ainsley pun beranjak dan memetik beberapa bunga merangkai nya seperti mahkota yang ingin ia letakkan di kepala anak-anak itu.
"A..." ucap nya tersendat, suara nya tak keluar karna ia memang kehilangan kemampuan komunikasi nya hingga membuat nya tak lagi bisa berbicara saat mengalami CPTSD yang merusak sebagian kinerja otak nya.
Perawat yang melihat hal itu pun mendekat dan mendatangi gadis cantik itu, "Mahkota bunga nya cantik, nona mau bilang apa?" ucap perawat tersebut dengan ramah karna ia tau gadis itu masih butuh waktu untuk kembali berbicara dengan normal.
__ADS_1
Ainsley menunjukkan mahkota bunga yang ia buat dan menunjukkan rambut nya.
Perawat tersebut tersenyum, ia mengambil mahkota bunga tersebut dan meletakkan nya di di kepala anak perempuan dengan wajah pucat yang tak memiliki rambut tersebut.
"Tau tidak? Rambut itu adalah mahkota wanita, tapi sekarang kamu punya mahkota lain. Jadi kamu sama cantik nya dengan mereka." ucap perawat tersebut pada gadis kecil di depan nya.
Ia tau Ainsley membuat karangan bunga indah tersebut untuk mengganti defenisi mahkota pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mengandah dan memeluk Ainsley secara tiba-tiba, "Makasih! Kakak itu pasti Putri Peri kan?" ucap nya dengan senyuman mengembang.
Menganggap jika kakak cantik yang ada di depan nya adalah ibu peri yang dikirim untuk nya.
Ia pun melepaskan pelukan nya dan kembali bersama teman-teman serta menunjukkan karangan bunga di kepala nya.
Ainsley mulai tersenyum, bermain dengan anak-anak yang masih polos dan ceria membuat hati nya menghangat dan nyaman.
"Tangan nona terluka! Ayo kembali saya akan mengobati nya." ucap perawat tersebut melihat tangan lentik itu terluka saat membuat karangan bunga.
Ainsley menggeleng, ia ingin melihat para malaikat kecil itu bermain lebih lama lagi.
"Nanti saya akan jemput lagi, jangan kemanapun yah?" ucap perawat tersebut karna ia sadar masih banyak lagi pekerjaan nya dan tak bisa menemani Ainsley 24 jam.
Ainsley mengangguk pelan dan membuat perawat tersebut tersenyum, ia ikut merasa senang karna akhirnya sudah ada perkembangan dari gadis cantik itu.
Gadis cantik itu duduk diam di bangku taman sembari melihat para anak-anak yang tengah bermain dengan riang, ekspresi tawa bahagia yang terlihat dengan jelas dan tak memikirkan tentang hari esok, hanya menikmati dan bersyukur dengan hari yang di berikan pada mereka saat ini.
"Tangan mu kenapa?" suara bariton pria yang membuat nya mengandah menatap ke arah yang sedang berbicara pada nya.
Senyum tipis nya hilang, ia tau jika pria di depan nya sudah memberikan tipuan namun suara dalam kepala nya terus berusaha menekankan jika itu tak benar.
Pria itu meraih tangan gadis itu dan melihat luka goresan yang terbentuk dengan jelas.
"Pacar mu mana? Biasanya selalu dekat dengan mu?" ucap nya meniup tangan kecil itu dan beranjak pergi.
Ainsley melihat punggung tegap pria yang ia panggil paman tersebut.
Tak lama setelah itu Richard kembali dengan membawa beberapa desinfektan dan beberapa plester luka.
Tangan nya kekar tersebut mulai menutup luka-luka itu dan meniup nya dengan lembut.
Saat ia berada di mansion, hati nya tak tenang dan gelisah namun setelah ia menemui gadis itu semua rasa tak nyaman nya lenyap seketika.
Cup...
Ia meraih tangan lentik itu dan mengecup jemari nya dengan ringan, tak ada penolakan dari Ainsley karna gadis itu kembali tak bisa merasakan apapun lagi.
Kau itu sebenarnya apa? Kenapa sangat nyaman? Aku ingin tau perasaan apa ini?
Apa aku harus membunuh nya? Aku ingin tau apa yang akan kurasakan jika aku melakukan nya.
Dia terus membuat ku bingung....
__ADS_1