Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Cara mencintai ku


__ADS_3

Mansion Zinchanko


Dua Minggu kemudian.


"Masih sakit kalau di pakai berjalan," ucap Ainsley lirih sembari memegang tangan pria yang membantu nya berjalan.


Richard diam saja mendengar suara lirihan dari sang istri.


"Mau ku gendong? Jalan mu lambat sekali seperti siput," ucap pria itu saat bergerak perlahan mengikuti langkah kecil dari wanita itu.


Ainsley hanya melirik tajam sekilas mendengar nya, karna siapa ia tak bisa berjalan dengan kecepatan normal sekarang?


"Bagus sekali, nyonya bisa latihan berjalan 15 menit di pagi hari dan sore, hindari benturan ataupun aktivitas berat, dan jangan sampai kecelakaan lagi karna mungkin tidak akan bisa di perbaiki lagi nanti nya." terang wanita yang memakai kaca mata sembari memegang kertas papan di tangan nya yang berisi tentang kondisi kesehatan wanita cantik itu.


"Tidak ada aktivitas berat dan hindari benturan," ucap Ainsley mengulang apa kata dokter nya sembari melirik ke arah sang suami.


"Kenapa?" tanya pria itu mengernyit tak mengerti sindiran dari wanita itu.


"Tidak boleh aktivitas berat sama tidak boleh patah lagi!" ucap Ainsley mengulang kembali kata-kata tersebut.


Richard diam sejenak dengan memproses kata-kata yang di cerna kepala nya, "Apa kami tidak bisa berhubungan suami istri?"


Mata Ainsley membulat mendengar pertanyaan terbuka seperti itu, tangan nya langsung mencubit pinggang pria yang tadi nya memegangi tangan nya.


"Kenapa? Itu kan aktivitas berat bagi mu kan?" tanya nya lagi dengan mengernyitkan dahi nya ketika ia merasakan cubitan di pinggang nya.


"Bukan itu maksud ku!" ucap Ainsley seketika.


dr. Candy tersenyum melihat nya, "Tidak apa-apa jika berhubungan seperti itu."


Setelah pemeriksaan dan latihan jalan dr. Candy pun kembali.


...


Richard menoleh dan berjalan ke keranjang bayi nya, mata nya membulat melihat putra kecil nya sudah bisa membalik tubuh nya sendiri.


"Hey? Anak Daddy sudah bisa berguling?" ucap nya sembari melihat tubuh mungil itu berusaha bergerak dengan sendiri nya.


Ia pun segera memutar langkah nya dan menghampiri wanita yang tengah memilih bahan-bahan dasar untuk membuat cake karna ia tak bisa keluar beberapa Minggu terakhir.


"Mau kemana?" tanya Ainsley mengernyit saat ia merasakan kursi roda nya terdorong.


"Kau harus lihat ini," ucap nya bersemangat sembari membawa sang istri ke kamar putra mereka.


"Lihat Axel!" ucap nya dengan nada yang terlihat senang sembari menunjukkan bayi kecil itu yang sudah mampu membalik tubuh nya sendiri.


Ainsley menoleh melihat nya, tubuh kecil yang tadi nya hanya bisa menggeliat, merengek, dan tertawa itu kini mengalami satu kemajuan.


Bibir nya tersenyum tanpa sadar menatap putra kecil nya, ia menoleh ke arah pria yang sedari tadi juga memandangi ke arah box bayi tersebut.


"Kau lebih terlihat senang," tanya nya hingga membuat Richard berhenti menatap dan melihat ke arah nya.


"Tentu saja, dia kan anak kita." jawab pria itu sembari menyentuh bahu wanita yang duduk di kursi roda itu sembari mencium dahi nya.


Ainsley diam sejenak mendengar nya, "Richard?"


"Hm?" pria itu kembali menoleh melihat wajah cantik itu dari dekat.


"Kalau misal nya kami ada di situasi bahaya, dan yang bisa kau selamatkan cuma satu, kau pilih siapa? Aku atau Axel?" tanya Ainsley dengan pertanyaan random.


Richard mengernyit, tak biasanya wanita itu bertanya pertanyaan yang seperti ini.


"Tumben sekali pertanyaan mu?" Richard yang memberikan pertanyaan baru.


"Jawab saja, aku cuma penasaran." jawab Ainsley.


"Aku pilih kalian, bukan salah satu tapi kedua nya." ucap pria dengan wajah yakin.


"Kalau cuma bisa satu? Apapun yang kau lakukan hanya bisa satu, kau pilih siapa?" tanya Ainsley lagi.


Ia diam sejenak seperti memikirkan sesuatu, namun tetap saja kedua nya adalah orang-orang yang berharga untuk nya dan ia tak bisa sama sekali memilih.


Ainsley tersenyum melihat wajah bimbang pria itu yang tak bisa menjawab nya, jika saja waktu di masa kehamilan nya pria itu pasti akan memilih dirinya namun kini ia juga sangat menyayangi putra nya.


"Kau pernah minta aku untuk mengajari mu kan? Cara mencintai ku? Jadi kalau ada situasi seperti datang kau harus pilih Axel," ucap nya saat melihat wajah yang penuh tanda tanya itu.


Richard mengernyit, ia pun mengarahkan nya kursi roda sang istri menghadap nya dan dan mulai berjongkok lalu menengadah melihat wajah wanita yang masih belum bisa berdiri tersebut.


"Kenapa? Bukan nya kalau seperti itu berarti aku seperti tidak mencintai mu?" tanya mengernyit.


Ainsley menggeleng, "Cause he's my life, my happiness. So if you save him you save me too,"


Richard diam sejenak, ia membuang pandangan mata nya, "It means the same to you," gumam nya kecil.


Wanita itu hanya tersenyum mendengar nya, ia melihat wajah yang tak mau mengiyakan ataupun melihat nya.

__ADS_1


"Karna kau tidak suka aku? Makanya kau bilang begitu?" tanya Richard sembari melihat ke arah wanita itu lagi.


Ainsley mengernyit mendengar nya, "Maksud nya? Kenapa bisa sampai kesana?"


"Kau mau pergi dari aku dan Axel lalu ke pria lain kan?" tanya nya dengan nada menuduh, entah ia yang tak bisa memahami konsep pembicaraan ataukah pikiran nya yang memang selalu takut wanita itu pergi dari nya.


"Apa?! Kenapa bisa sampai ke situ? Kau pernah bilang mau di ajari cara mencintai ku, kan? Aku hanya mengatakan cara nya," jawab Ainsley langsung.


"Kalau aku melakukan semua yang kau mau kau akan menyukai ku?" tanya Richard yang selalu membutuhkan kepastian walaupun hal itu adalah pertanyaan yang mengulang.


"Hm, aku juga sedang mencoba nya." jawab Ainsley lirih.


"Baik, aku akan lakukan yang kau minta tapi jangan pernah keluar dari mansion ini lagi," jawab nya sembari menyentuh tangan kecil istri nya.


"Kenapa?" tanya Ainsley mengernyit.


"Waktu aku membiarkan mu keluar kau hanya membuat pria lain terpikat dengan mu saja," jawab nya mendengus dengan tatapan dan raut kesal mengingat Gio.


"Lalu aku jadi tahanan di sini?" tanya Ainsley lagi.


"Bukan tahanan, kalau kau mau keluar boleh tapi dengan ku atau dengan izin ku saja kalau aku bilang 'Tidak' kau tidak boleh keluar," jawab Richard lagi.


Ainsley bernapas dalam mendengar nya, kecemburuan dan rasa posesif pria itu memang berada dalam batas yang sangat tinggi.


"Baik, kalau begitu bisa berikan ponsel ku?" tanya nya lagi.


Semenjak hari di mana pria itu marah ponsel nya diambil dan bahkan berita tentang kematian seseorang tak terlihat di televisi nya karna Richard sudah menyaring semua berita nya.


"Mau apa dengan ponsel mu?" tanya Richard mengernyit, sekali lagi wajah nya menunjukkan raut curiga.


"Aku mau telpon Mamah, sudah lama tidak bicara dengan nya." jawab Ainsley membuang napas nya dengan pelan.


"Clarinda?" tanya Richard lagi.


"Ih! Kenapa gak sopan manggil nya?" ucap Ainsley sembari memukul bahu pria itu.


Bagi nya wanita yang baru saja menjadi ibu nya selama beberapa tahun lebih dekat dengan nya di bandingan kan ibu kandung nya sendiri.


"Terus aku panggil dia apa? Wanita yang melahirkan ku saja tidak ku panggil 'Ibu'," ucap nya sembari mengernyit.


Ainsley membuang napas nya dengan pelan, "Ponsel ku mana?" tanya Ainsley mengulang.


Richard melihat nya lagi, tangan nya mulai menggapai tengkuk wanita itu dan menarik nya ke arah nya.


Mata Ainsley membulat saat bibir pria itu menyatu pada nya, walaupun ia bergerak refleks untuk mendorong nya namun ia perlahan menghilangkan niat nya dan membiarkan pria itu mencium nya.


Richard melepaskan ciuman nya dan melihat ke arah wanita itu. Ia tersenyum dan kembali berdiri lalu mengangkat putra nya yang kini semakin berat dan berwajah bulat itu.


"Pangku Axel," ucap nya sembari memberikan bayi mungil menggemaskan itu ke sang istri.


"Eh?" Ainsley kebingungan, ia awalnya hanya ingin meminta ponsel nya namun pria itu memberikan putra mereka.


"Aku ingin kita main sama Axel, dia kan sudah bisa bergerak sendiri," ucap Richard yang mengalihkan pertanyaan Ainsley.


Berita tentang kematian Gio masih ada beberapa yang tersebar walaupun ia sudah menekan nya sebisa mungkin.


Pria itu tidak bisa bertahan dan harus menghembuskan napas terakhir nya ketika ia mendapat tembakan.


Ainsley tak lagi menjawab ia membiarkan pria itu mendorong kursi roda nya sembari melihat ke arah wajah putra nya yang menatap nya dengan mata yang bulat.


"Clarinda memang ada menelpon mu, dia bilang mau kesini." ucap Richard membuka suara.


Ainsley langsung menoleh, wajah nya tersenyum dan menatap ke arah pria itu.


"Benarkah? Kapan?" tanya nya dengan senang.


"Kalau kau mencium ku akan ku katakan," ucap nya sembari mendorong kursi roda istri nya.


"Yasudah kalau begitu jadi kejutan saja, nanti kan datang juga." jawab Ainsley berbalik sembari melihat ke arah putra nya lagi.


"Katanya kau mau belajar menyukai ku?" tanya Richard mengernyit karna ia pikir wanita itu akan memilih mencium nya.


"Nanti jadi lama ciuman nya," jawab Ainsley yang memilih mencium gemas pipi bulat putra nya.


Richard tak menjawab, walaupun ia juga ingin di cium namun ia tak marah kalau wanita itu lebih memilih mencium putra mereka.


......................


5 Tahun kemudian.


Aroma yang mentega dan butter yang meleleh dan masih menguap dengan asap membuat siapapun menyukai nya.


Anak laki-laki berkulit putih yang menghentakkan kaki nya sembari berjinjit tak sabar melihat cake cantik yang baru saja di keluarkan dari panggangan.


Tangan nya langsung menjulur ingin segera mengambil cake berbentuk kepala beruang tersebut.

__ADS_1


Auch!


Ringis nya yang terkejut saat merasakan panas dan terbakar di ujung jemari nya yang mungil.


"Kenapa? Kan Mommy bilang tadi sabar," wanita itu menoleh langsung melihat ke arah putra nya yang langsung meringis.


"Tadi tuh gak panas tau Mom," ucap nya mengelak sembari mengibaskan tangan yang masih terasa perih.


Wanita itu hanya membuang napas nya melihat jawaban yang terus bisa di keluarkan dari mulut kecil putra nya.


"Nanti kalau sudah dingin baru di makan yah," ucap nya lagi sembari mengelus rambut putra nya dan membasuh jemari kecil itu dengan air.


"Nanti di habisin Daddy," jawab nya dengan cemberut.


"Nanti Mommy marahin Daddy," ucap nya lagi sembari mendorong pelan putra nya agar bermain di tempat lain.


"Daddy kan nakal mana takut di marahin Mommy!" jawab nya lagi mendengus kesal.


Ekor mata wanita itu melirik sejenak melihat ke arah pria yang baru saja datang, "Daddy nakal? Terus yang gak nakal siapa?" tanya nya lagi.


"Axel!" jawab nya tersenyum dengan wajah nya yang gemas.


"Dad, Axel bilang Daddy nakal." ucap nya yang langsung membuat bocah menggemaskan itu tersentak dan langsung menoleh.


"Eh? Mommy? Kok bilangin Daddy nakal? Daddy kan baik, gak nakal!" ucap nya langsung berubah seketika dan berlari ke arah sang ayah.


Pria itu hanya tersenyum dan menangkap tubuh mungil yang berlari ke arah nya, "Kenapa ini?" tanya nya sembari melihat tangan mungil yang memerah tersebut.


"Kena cake, masih panas tapi udah mau di ambil aja," jawab wanita itu sembari melanjutkan menghias cake nya.


"Tadi katanya gak nakal tapi gangguin Mommy nya," ucap pria itu sembari mencubit pipi putra nya.


"Axel nakal nya sedikit," ucap nya tertawa sembari menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang di beri sedikit jarak.


"Yaudah, nanti Daddy yang makan cake nya, Axel kan nakal nya sedikit berarti anak baik kan?" tanya pria itu yang suka menganggu putra nya.


Wajah bocah itu langsung berubah menjadi kesal namun semakin terlihat menggemaskan, "Gak mau sama Daddy! Daddy nakal!" ucap nya yang ingin turun dari gendongan sang ayah.


"Tapi Daddy mau nya sama Axel," jawab pria itu tertawa sembari tak menurunkan putra kecil nya dan membawa menjauh dari sang istri.


"Mommy! Daddy nakal! Help me!" teriak nya dengan suara khas anak-anak nya meminta bantuan pada sang ibu dan yang paling utama ia ingin menjaga cake nya agar tak di makan oleh sang ayah.


Sedangkan pria itu hanya tertawa melihat putra nya yang kesal karna nya.


...****************...



Ainsley Setya Belen



Richard Zinchanko



Axel Miller Zinchanko


...


Hai sebelum nya othor nya mau bilang maaf dulu yah karna kemarin tuh ilang lama ga buat tapi othor kayak nya udah ada bilang kalau lagi sibuk yah.


Atau mungkin di nopel ini belum ada othor bilang yah?


Othor nya lagi PKL, terus buat KTI sama aja kayak skripsi yah, dan lagi othor juga selama PKL itu sakit, jadi karna masih shift pagi Othor pulang nya sore malam othor istirahat.


Karna demam othor nya sebelum nya itu sampe 39 derajat dan rasa nya kepala kayak mau pecah karna sakit nya.


Jadi karna masih di kesibukan yang sangat penuh ini othor lebih milih istirahat biar ga tumbang dan ttp bisa PKL sampe selesai, sebelum nya othor juga kayak takut juga kan kena covid.


Karna kawan bimbingan othor di kampus yang dalam seminggu terakhir terus bareng othor mereka ternyata positif padahal mereka ga ada gejala makanya othor terkejut dan mereka lebih terkejut lagi tapi hasil othor itu negatif.


Yah itu itulah demam othor sering naik, jadi othor lebih fokuskan ke real life lebih dulu, dan othor juga sebelum nya bilang kalau mau sering up ini biar cepet tamat tapi bukan berarti dua bab lagi tamat.


Yah engga


Tapi othor memang uda ada buat ending nya dan ga tau sih bakalan sampai berapa eps nantinya.


Sekali lagi maaf untuk up nya yang ga tentu, tapi seprti novel sebelah novel ini juga ga bisa up tiap hari, karna kondisi kesehatan othor dan kesibukan othor di real life yah.


Salam penuh cinta dari othor❣️❣️❣️


Jangan lupa dukungan nya💕💕💕


Happy Reading💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2