
Angin senja yang lembut menerpa wajah gadis itu, cahaya yang hangat dengan sinar oranye serta udara yang sejuk membuat pikiran gadis itu sedikit lebih tenang.
Ainsley mengusap perut nya yang membesar sesekali, ia menundukkan pandangan nya menatap ke arah calon buah hati nya.
"Kau tidak suka yah punya Ibu seperti ku? Makanya sering nakal?" tanya nya lirih sembari mengusap perut besar nya dengan lembut.
"Kau lebih suka Ayah mu yah? Dibanding dengan ku?" tanya gadis itu lagi
Karna setiap kali ia memiliki hubungan baik dengan Richard ataupun saat pria itu mengelus perut nya maka rasa sakit nya akan berkurang.
"Dia pasti akan jadi Ayah yang baik untuk mu," sambung nya tersenyum kecil sembari terus mengusap perut nya.
"Tapi aku tidak bisa suka dengan nya," ucap nya lirih, "Eh? Kau langsung bergerak! Kau sedang protes pada ku?" tanya Ainsley seketika saat ia merasakan tendangan kecil dari calon pangeran nya.
"Kalau kau mau protes kau harus keluar dulu, jangan protes dari dalam," ucap Ainsley memarahi calon anak nya dengan suara rendah.
"Kau juga pasti akan tau nanti, kalau saja aku bisa milih suka nya dengan siapa aku pasti milih bakal suka sama diri ku sendiri! Oh ya aku juga akan suka dengan mu, tapi sayang nya aku tidak bisa begitu." ucap nya lirih.
"Kau tau? Semua orang memang punya perasaan, tapi perasaan itu bukan milik mereka, aku juga sebenarnya tidak punya alasan kuat untuk suka dengan nya,"
"Aku suka dia karena itu dia, jadi bukan berarti Ayah mu sangat buruk makanya tidak suka, bukan karena aku tidak menemukan alasan nya menyukai nya, hanya saja..."
"Tapi hati ku bukan milik ku, aku tidak bisa memilih atau mengendalikan nya, mungkin sekarang kau belum mengerti tapi nanti akan ada masa nya," ucap nya lembut sembari mengelus perut nya.
Banyak hal yang ia katakan pada calon anak nya, hal yang menyenangkan ataupun musim yang ia sukai karna baginya memberi kehangatan di hati nya.
Apa yang di sukai Ayah anak nya, serta gambaran hidup yang akan terjadi karna pria itu sangat mencintai calon anak nya.
Senja mulai meredupkan sinar nya tenggelam oleh cahaya bulan yang mulai datang namun gadis itu masih berkomunikasi dengan calon buah hati nya.
"Kalau Ayah mu bisa memilih dia juga pasti akan memilih tidak menyukai wanita seperti ku," ucap nya lirih sembari mengelus perut nya.
Ainsley menikmati suasana nya, tenggelam dengan kebersamaan calon putra nya yang bahkan belum terlahir ke dunia hingga membuat nya tak sadar jika di balik tubuh nya terdapat pasang telinga yang mendengar sepenggal kalimat nya dan sepasang mata yang memperhatikan nya.
Richard datang ke kamar gadis itu bermaksud ingin menyuruh nya makan malam, namun ia malah mendengar sepenggal kalimat tersebut.
"Tidak, aku akan tetap memilih menyukai mu." ucap nya yang langsung membuat Ainsley tersentak dan membalik tubuh nya.
__ADS_1
"Sejak kapan paman di sini?" tanya gadis itu terkejut.
"Barusan," jawab Richard singkat sembari mendekat.
Tangan nya mengusap wajah gadis itu dengan lembut dan menyelipkan rambut ke belakang telinga gadis cantik itu.
"Paman bisa bilang begitu karna sekarang sedang suka, tapi kalau rasa suka paman sudah habis pasti paman akan membenci ucapan paman yang barusan," ucap Ainsley pada pria itu.
Richard tertawa kecil mendengar nya, wajah nya mendekat ke arah wajah putih menggemaskan itu.
"Tapi bagaimana ini? Rasa suka ku selalu tumbuh setiap hari padahal tidak pernah di siram," ucap nya tersenyum.
Ainsley hanya diam tak mengatakan apapun ataupun membalas ucapan nya, sedang pria itu mengusap rambut nya ke belakang hingga menampilkan leher jenjang nya dan berbisik halus.
"Mungkin rasa suka seperti kaktus, tidak butuh perawatan tapi tetap bisa terus," bisik nya dan setelah itu sedikit menjauh serta memundurkan langkah nya.
"Turun dan Makan malam dengan-," ucapan nya terpotong, "Aku lupa kau tidak suka makan dengan ku."
Gadis itu masih diam, jantung nya tidak berdetak tak beraturan, ia tak berdebar namun juga tidak membenci pria itu namun ia juga masih belum bisa mengganti siapa yang ia sukai.
"Tidak, kita makan bersama saja." ucap Ainsley sembari melewati pria itu.
"Kenapa?" tanya Ainsley saat tangan nya di genggam.
"Tidak ada, mau pegang saja." jawab nya santai dan membawa gadis itu ke ruang makan nya.
Richard terus tersenyum kecil tak bisa menahan sudut bibir nya saat menatap gadis itu makan malam dengan nya.
"Wajah ku sebentar lagi akan terbakar kalau terus di lihat seperti itu," ucap Ainsley yang mengisyaratkan ia sedang tak nyaman akan tatapan yang di berikan.
"Aku hanya senang karna kau sudah janji tidak akan menemui nya lagi dan malam ini kita juga makan bersama," jawab Richard terlihat senang.
Ainsley diam tak mengatakan apapun atas ucapan pria itu.
Setelah makan malam dan dengan sedikit paksaan akhirnya membuat gadis itu kembali menginap di mansion megah itu dan tidak pulang ke kediaman mewah ibu nya.
"Kenapa paman di sini?!" tanya Ainsley kesal saat pria itu ikut merebahkan dirinya di samping nya ketika ia ingin tidur.
__ADS_1
"Kalau malam dia sering membuat mu kesulitan kan? Bukan nya terakhir kali kau nyenyak kalau dengan ku?" jawab pria itu dengan kalimat pertanyaan.
"Tidak! Hanya perasaan paman saja!" sanggah Ainsley langsung.
Pria itu memilih tak berdebat dan menahan tangan gadis yang ingin beranjak pergi itu.
"Disini saja," ucap nya sembari mendekap tubuh kecil yang mulai berisi itu dari belakang.
Tangan nya mengelus pelan perut besar itu dengan hati-hati.
"Ucapan yang kemarin tidak bercanda, jadi ku harap jangan lakukan sesuatu yang nanti nya akan membuat mu semakin membenci ku." ucap nya lirih dari belakang.
Gadis itu dapat merasakan hembusan napas pria tampan itu dari belakang tubuh nya, walaupun tangan nya mengelus lembut perut besar nya namun pria itu mengatakan ancaman mengerikan di balik nya.
"Tentang Sean?" tanya Ainsley lirih.
"Hm,"
"Kalau aku yang mati lebih dulu dari mu, kau bisa bebas dengan siapapun tapi kalau aku masih hidup itu tidak akan terjadi," jawab Richard yang membuat gadis itu sedikit tersentak merasakan hawa berbeda di balik nya.
"Kalau aku tidak bisa memiliki mu maka semua pria tidak boleh, aku punya 1001 cara untuk melenyapkan mereka." sambung nya yang dengan arti bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan semua pria yang berada di dekat gadis itu.
"Bukan nya setelah anak ini lahir paman akan melepaskan ku?" tanya Ainsley lirih.
"Tentu saja, tapi apa yang ku katakan tadi juga berlaku." jawab Richard pada gadis itu.
Perkataan yang bagaikan gula dan garam yang menyatu hingga sulit untuk melihat secara kasat mata perbedaan nya jika tak di rasakan.
"Itu berar-"
"Sstt..." potong nya segera.
"Tidur, sudah malam wanita hamil tidak baik tidur terlalu lama," bisik nya dengan nada lembut dan perhatian.
Richard mengesap dan mencium lembut kepala gadis itu dari belakang dan terus mengusap perut yang sedang mengandung buah hati kesayangan nya.
Kau bebas, aku hanya perlu mengikat semua yang di sekeliling mu dan menghancurkan nya...
__ADS_1
Sampai kau sadar kau hanya punya diriku bukan orang lain....