Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Snow


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Setelah rapat selesai, sore hari nya wanita itu langsung beranjak dari duduk nya dan menemui pria yang sudah menunggu nya selama beberapa waktu.


"Kita mungkin akan sampai nya malam," ucap Sean sembari berjalan dengan menyamakan langkah nya pada wanita itu.


"Tidak apa-apa, aku udah bilang Axel kalau kita pergi nya selama lima hari." jawab wanita.


"Kau yang bawa mobil nya? Atau supir?" tanya nya sembari menghentikan langkah nya dan menatap ke arah pria di samping nya.


Sean tak menjawab namun ia menunjukkan kunci mobil nya sembari tersenyum.


"Aku juga sudah lama tidak bawa mobil dengan jarak yang jauh." ucap nya pada wanita itu.


Ainsley hanya tertawa kecil mendengar nya, ia pun kembali berjalan dan pria itu yang kembali menyamakan langkah nya.


......................


Internasional high school


"Kalau Mommy Axel pergi ke luar kota, kami nginap dong!" seru Mack dengan semangat.


"Mau ngapain?" tanya Axel mengernyit.


"Mau main!" seru remaja pria itu lagi.


"Iya! Aku juga mau ikutan!" sambung Emily yang tak kalah semangat nya.


"Kan uda lama kita gak main bertiga kayak gitu," ucap gadis itu lagi pada kedua remaja tampan di depan nya.


"Nanti aku tanya Mommy boleh apa engga," jawab Axel ketika melihat sinar yang terpancar dari kedua mata teman nya begitu cerah.


"Pasti boleh! Mommy axel kan yang paling baik! Mommy aku cerewet! Tiap hari di marahin!" keluh Mack yang memang setiap hari nya mendengar ocehan sang ibu.


"Tapi waktu kemah kemarin manggil Mommy kamu terus tuh waktu jatuh kesandung ranting," timpal Axel yang langsung mentertawakan teman nya.


Emily pun ikut tertawa mendengar nya, sedangkan wajah teman mereka sudah terlihat kesal karna ledekan dari remaja tampan itu.


"Kan juga refleks!" ucap Mack membela diri.


"Mama boy," ledek Axel lagi pada teman nya.


Ungkapan atau kiasan untuk anak mami yang terus manja dan dekat pada ibu nya walaupun sudah mulai dewasa.


"Ih! Axel bilangin diri nya sendiri! Kamu tuh yang mama boy. Tiap hari nyariin Mommy nya terus!" balas Mack pada remaja itu.


Emily tak mengatakan apapun namun ia hanya tertawa mendengar ucapan kedua teman nya yang saling membalas dan menyahut satu sama lain.


......................


Apart Venelue'ca


Kedua remaja itu menunggu teman nya yang lain, setelah mendapatkan izin dari sang ibu mereka pun sesuai rencana awal langsung ingin segera membuat pijama party seperti yang biasa mereka lakukan saat masih kanak-kanak.


Suara notifikasi terdengar di kedua ponsel remaja itu, ketika pembicaraan grup pun mulai di mulai.


Maaf aku gak bisa datang hari ini, paman aku masuk rumah sakit aku temenin Mommy aku ke sana


Pesan yang masuk ke dalam ponsel kedua nya, balasan yang cepat pun langsung datang dari kedua teman remaja itu.


Axel dan Emily pun memaklumi nya dan juga berharap agar keadaan sanak keluarga teman nya membaik.


Aroma coklat panas yang terhirup ke dalam hidung, udara yang semakin dingin karena mulai memasuki musim salju.


"Yah, sayang Mack gak bisa ikut..." ucap Emily lirih sembari meminum coklat panas yang di buat oleh teman nya barusan.


"Iya, padahal kalau ada Mack pasti jadi lebih hidup suasana nya." sambung Axel yang menimpali ucapan gadis cantik itu walau sebenarnya ia sedikit lebih menyukai situasi sekarang karna hanya berada berdua dengan gadis itu.


"Axel?" panggil Emily lagi.


"Hm?"


"Kata nya kalau ada teman yang mulai ciuman berarti mereka bukan teman lagi?" tanya gadis itu sembari menaikkan selimut menutupi kaki nya yang ia lipat saat duduk di sofa.


"Kata siapa?" tanya Axel mengernyit.


"Kata yang lain, jadi kita sekarang gak bisa temanan lagi yah?" tanya gadis itu lirih dengan nada sendu.


Cup!


Bukan nya menjawab remaja itu pun kembali mencium sekilas bibir gadis yang duduk di samping nya dengan tenang.


Mata gadis itu membulat menatap ke arah wajah teman nya yang dengan gamblang mencium nya tanpa ragu.


"Bukti nya kita masih bisa temenan sampai sekarang." ucap Axel setelah mengecup bibir gadis itu.


Emily membatu sejenak, ia masih terkejut hingga linglung saat teman tampan nya itu mengecup bibir nya.


"Axel! Bukan gi- Humph!"


Ucapan nya terpotong dan hilang melayang ketika bibir nya kembali di sambar oleh remaja itu, tengkuk nya tertarik hingga membuat nya tak bisa pergi.


Walaupun ia sebenarnya memang tak ingin pergi kemanapun ketika ciuman itu tertaut.


Mata gadis itu mulai memejam, esapan lembut kembali menyatu bibir nya, tangan kecil nya meremas sweter longgar yang di kenakan remaja tampan yang kini tengah menangkup bibir nya.


Udara yang dingin, embunan es yang mulai jatuh ketika salju pertama yang terlihat tenang terlihat turun dari langit.


Mungin entah di bagian lain turun salju yang tak bersahabat namun salju yang jatuh dengan lembut juga menjatuhkan pertahanan seseorang.


Duk!


Remaja tampan itu melepaskan pangutan, mendorong tubuh kecil gadis itu hingga tertidur ke sofa.


Mata bulat yang menatap iris di depan nya, ia terdiam seperti terhipnotis dan tak bisa mengatakan apapun.


Tak ada sepatah kata pun, namun remaja itu kembali memangut bibit gadis yang berada di bawah tubuh nya itu.


Tangan yang kecil itu pun melingkar tanpa sadar di pundak remaja pria di depan nya, gadis cantik itu ingin membalas hisapan lembut itu namun takut malah mengigit dengan keras lagi sehingga ia hanya menghisap nya dengan pelan.


Gelora remaja yang sulit di kendalikan, hal yang terasa baru dan belum pernah di coba tentu nya membuat dapat membuat seseorang bertindak di luar kendali nya.


Seperti tersihir oleh waktu dan suasana lalu menenggelamkan seseorang dalam keinginan tersembunyi nya.


Auch!


Gadis itu meringis, entah sejak kapan ciuman yang tadi nya lembut itu mulai turun hingga ke leher gadis itu.


Remaja itu ikut tersentak mendengar respon dari gadis cantik itu, ia mengangkat wajah nya melihat sejenak ke arah gadis itu.


Tak ada kata-kata pencegahan atau pun penolakan namun ia merasakan dorongan lain dalam diri nya yang tak pernah ia rasakan sebelum nya.


Gadis itu terlihat sama, ia merasa ada yang berbeda dari nya saat ini namun tak bisa menyadari nya dengan pasti apa hal tersebut.


Tak ada yang menyuruh nya namun tangan remaja itu seperti bergerak dengan sendiri nya ketika menyibak blouse lebar yang di kenakan gadis itu.

__ADS_1


Perut yang ramping dan rata pun langsung teraba di tangan remaja itu, tangan nya bergerak dengan sendiri nya seperti di berikan sihir yang membuat nya terhanyut dengan suasana.


Uhh...


Entah meringis atau pun hal lain namun suara lirih lah yang terdengar ketika remaja itu mulai menyentuh bagian yang lain dan menggeser penghalang nya.


"Mau pindah?" tanya nya pada gadis itu tanpa sadar.


Tak ada jawaban yang pasti namun remaja itu pun perlahan bangun dan menggandeng tangan gadis itu ke kamar nya.


Bruk!


Tubuh kecil itu langsung terjatuh ke atas ranjang yang empuk itu bersamaan dengan tubuh remaja yang semakin cepat perkembangan nya itu.


Ia kembali memangut bibir merah muda yang mungil di depan nya.


Tak ada perlawanan atau pun penolakan, hanya hisapan kecil yang menjadi sambutan atas pangutan yang datang pada nya.


......................


Sementara itu.


Udara dingin yang semakin menusuk walaupun kaca mobil sudah di tinggikan, pemanas yang semakin kuat di nyalakan pun masih tak mampu mengimbangi udara yang dapat menusuk hingga ke tulang itu.


Suara mesin mobil yang terdengar di tengah antian kemacetan panjang hingga tak terlihat yang mana ujung nya.


Pria itu keluar dari mobil nya, melihat situasi setelah mendapat kak sedikit informasi ia pun kembali masuk ke dalam.


"Badai salju," ucap nya pada wanita itu ketika masuk.


"Aku juga baru dengar dari radio," sahut Ainsley yang baru saja mendengar dari suara radio di mobil pria itu.


"Aku dengar tadi ada pohon yang roboh juga di depan, tapi belum bisa di bersihkan karna petugas nya masih terhalang cuaca."


"Ayo keluar, kita tidak bisa di sini terus."


"Kalau sudah sampai sini akan lebih bahaya dan juga pemanas mobil gak akan cukup." ucap pria itu mengajak wanita yang duduk di samping nya untuk keluar.


"Tapi kita mau kemana?" tanya Ainsley bingung karna tau mobil yang mereka bawa terjebak di tengah-tengah antrian panjang.


Tak bisa maju atau pun mundur sama sekali.


"Aku lihat penginapan tidak jauh dari sini, yang tadi kita lewati." Jawab Sean.


"Kita kesana saja, lebih aman dan lagi kita juga harus cepat karna pasti mereka juga cari penginapan atau hotel." ucap pria itu lagi yang berbicara sesuai fakta dan keadaan yang mereka alami.


Wanita itu keluar mengikuti langkah yang berlawanan arah dari yang mereka tuju, sepanjang jalan yang penuh dengan antrian mobil pun mereka lewati dan juga beberapa orang lain nya yang juga keluar dari mobil untuk mencari tempat yang lebih nyaman.


"Sinyal di ponsel ku hilang," ucap Ainsley pada pria itu.


Sean pun ikut mengeluarkan ponsel nya menatap jaringan sinyal yang seperti kabur hilang entah kemana.


"Ayo, kita harus sampai lebih cepat dari mereka." ucap Sean sembari menggenggam tangan wanita itu dan membawa nya lebih cepat.


...


Tempat yang seperti singgahan istirahat dari perjalanan, Ainsley melihat sejenak ke arah bangunan tersebut.


Memang tidak begitu mewah ataupun semegah hotel berbintang yang sering ia pakai untuk menginap namun setidak nya berada di dalam tempat itu lebih hangat dari mobil yang terpapar begitu banyak udara dingin itu.


"Hanya tinggal satu?" tanya pria itu mengulang.


Harga yang naik menjadi tiga kali lipat dan juga ketersediaan tempat yang begitu menipis karna juga banyak yang terjebak oleh badai salju sama seperti mereka.


"Anda jadi memesan?" tanya pemilik penginapan hotel itu.


Wanita itu tersadar ketika pria itu terus melihat nya, "Ada apa?" tanya nya mendekat.


"Hanya tinggal satu kamar," jawab Sean pada wanita itu.


"Yasudah, ambil saja." ucap wanita itu dengan wajah yang seperti tak memikirkan apapun asalkan tidak mati membeku di luar.


"Baik, kami pesan." ucap nya pada pemilik hotel yang langsung berjaga karna tempat tersebut bukan lah hotel mewah yang memiliki banyak pegawai.


Tak lama setelah pembayaran selesai, dua orang pria pun langsung mendekat dan memesan kamar seperti mereka.


Dengan wajah datar si pemilik mengeluarkan tanda kamar yang sudah terisi penuh semua, "Kalian terlambat." ucap sang pemilik pada dua pria tersebut.


Ainsley melihat nya, ia sedikit lebih lega karna mereka lebih cepat dari awal.


"Kau benar, akan banyak yang menginap." ucap wanita itu pada pria di samping nya.


"Hm, kalau besok badai nya sudah selesai kemungkinan kita bisa lanjutkan perjalanan lagi." ucap pria itu sembari memasuki lift di depan nya.


Setelah berjalan dan memasuki tempat tersebut Ainsley pun meletakkan tas nya, ia menatap kamar yang tidak terlalu buruk untuk di tinggali walaupun bukan lah berstandar hotel berbintang.


"Kau mau istirahat lebih dulu?" tanya pria itu ketika melihat wanita itu melepaskan jaket yang ia kenakan.


"Kalau kita tidur lebih awal lebih bagus kan? Besok tidak terlalu lelah." jawab Ainsley pada pria itu.


Sean pun juga melepaskan jaket nya dan menggantung nya di tempat yang sama lalu mengambil salah satu bantal yang berada di atas tempat tidur tersebut.


"Hm, selamat malam." ucap nya yang juga walaupun ia masih sedang tak ingin tidur.


Ainsley melihat pria itu yang mulai menidurkan diri di atas sofa yang tak jauh dari nya.


Ia pun menjatuhkan kepala nya ke atas bantal, ingin menutup mata nya walaupun ia juga tidak tertidur.


"Sean?" panggil nya setelah berusaha untuk tidur.


"Hm?" sahut pria itu dengan berdehem.


"Sudah tidur?" tanya nya lagi.


"Kalau sudah aku tidak akan jawab pertanyaan mu," ucap pria itu sekali lagi.


"Lapar, cari makanan yuk." ajak wanita itu tiba-tiba.


"Mau ku panggilkan pemilik hotel? Mungkin dia punya makanan yang bisa kita pesan?" tawar pria itu pada wanita yang mulai bangun dan duduk di atas ranjang nya.


Ainsley pun mengangguk mendengar tawaran tersebut.


Sedangkan pria itu bangun dan beranjak menelpon dari telpon yang berada di kamar mereka.


Setelah berbicara ia pun menutup ponsel nya dan melihat ke arah wanita itu.


"Aku sudah pesan, nanti mereka antar." ucap pria itu sembari kembali duduk di sofa yang ia tempati.


Ainsley mengangguk dan menunggu makanan yang mereka pesan.


Hingga beberapa lama pesanan tersebut pun datang, lonceng kamar yang berbunyi hingga membuat pria itu beranjak dan juga mengambil pesanan nya.


"Mereka cuma punya ini sekarang," ucap nya sembari meletakkan sosis bakar dan juga telur mata sapi yang di letakkan di atas salad tersebut.


"Ini juga sudah bagus kok," ucap Ainsley sembari mulai memakan salad yang berada di piring nya.

__ADS_1


"Sean?" panggil nya lagi.


"Hm?"


"Gak makan?" tanya Ainsley pada pria itu.


"Aku tidak lapar," jawab pria itu singkat sembari membuka kaleng bir yang tadi nya juga ia pesan dan ikut diantar bersamaan.


Ainsley pun meletakkan garpu nya dan mengambil minuman yang langsung mengeluarkan gas tersebut ketika di buka.


"Jangan langsung di minum yang banyak, kau nanti mabuk." ucap pria itu melihat wanita di depan nya langsung menegak setengah kaleng sekaligus.


"Kau saja sudah minum dua," ucap Ainsley pada pria itu sembari menunjuk dengan dagu nya ke arah kaleng bir yang sudah kosong.


Sean hanya menggeleng mendengar pembelaan diri wanita itu yang mengatakan jika ia masih minum lebih sedikit dari nya.


Ainsley pun kembali melanjutkan makan salad dan juga sosis bakar di depan nya.


"Salju pertama langsung kena badai kita," ucap wanita itu sembari melihat ke arah jendela kamar mereka yang menampilkan tumpahan salju yang begitu banyak.


"Hm, salju pertama..." gumam pria itu lirih.


Beberapa kaleng bir yang sudah kosong serta piring yang berisi makanan telah hampir habis terlihat mengelilingi kedua orang tersebut.


"Kan mabuk," ucap pria itu ketika melihat reaksi wanita itu sudah mulai berubah.


Ainsley pun melihat dengan wajah kesal nya, "Gak tuh! Mana yang mabuk!" ucap nya dengan kesal.


Pria itu tertawa sejenak, ia mengacak rambut wanita itu dengan gemas.


"Sean! Aku tuh udah gak cocok lagi di giniin, tau!" keluh Ainsley dengan kesal karna pria itu seakan memperlakukan nya seperti anak kecil.


Bukan nya berhenti pria itu malah tertawa dan semakin mengacak rambut wanita itu dengan gemas.


Bruk!


"Sean! Di bilang berhenti kok!" ucap wanita itu dengan raut masih kesal sembari mendorong tubuh pria itu hingga ia ikut terhuyung dan jatuh di atas nya.


"Kalau begitu kau harus bangun dalam hitungan ke tiga," ucap pria itu ketika Ainsley berada telungkup di atas dada bidang nya.


"Kalau gak mau, kenapa?" tanya nya dengan melihat iris yang berada dari dekat oleh nya.


"Satu,"


"Dua,"


Wanita itu tak beranjak walaupun pria di depan nya mulai menghitung sampai hitungan terakhir.


"Tiga,"


Tak ada gerakan yang beranjak sedikit pun walaupun pria itu sudah memberi nya peluang.


Humph!


Mata hijau itu membulat seketika, hanya tinggal menarik tengkuk nya sedikit maka bibir lembut itu sudah bertaut pada nya.


Walaupun tak mabuk sepenuh nya, namun pria itu juga sudah meminum alkohol dalam jumlah yang banyak membuat nya sedikit hilang kendali dan akal sehat nya.


Sedangkan wanita yang juga hampir sama dengan nya tak menolak ataupun mendorong.


Wanita yang tak pernah tersentuh selama belasan tahun itu dan kini di tambah dengan alkohol yang membuat nya melepaskan adrenalin nya.


Wanita itu membalas lum*tan yang di berikan pada nya, sedangkan pria itu pun mulai bangun tanpa melepaskan pangutan dari wanita yang kini tengah duduk di atas paha nya setelah ia beranjak bangun.


Tangan yang bergerak sendiri nya menyibak dari gaun selutut yang belum di ganti itu walaupun ia awal nya hendak tidur.


Kulit halus yang terasa lembut di tangan pria itu terus naik.


Pangutan dalam itu lepas sejenak, tak ada sepatah kata pun yang keluar namun entah sejak kapan kedua bibir itu kembali berpangutan lagi.


Setelah meraba punggung halus wanita itu, tangan yang seperti bergerak dengan sendiri nya itu mulai beranjak ke resleting gaun yang berada di belakang tubuh gadis itu dan menarik nya kebawah.


Ciuman yang turun ke leher dan juga kecupan lembut di bahu wanita itu membuat nya merasakan sesuatu yang tertahan di dalam tubuh nya.


Ranjang yang empuk dan entah sejak kapan kedua nya sudah pindah ke tempat tersebut.


Ciuman yang kembali menjalar setelah dalam satu tarikan membuat gaun tersebut lolos ke lantai.


Kecupan yang kembali turun ke leher wanita itu, bekas luka yang semakin memudar seiring berjalan nya waktu dan perawatan yang sudah di lakukan hingga hampir tak terlihat sama sekali.


Ungh!


Suara lenguhan lirih terdengar dari wanita itu, tubuh yang mulai memberikan respon positif setelah sekian lama tertahan dan bahkan hampir melupakan bagaimana rasa nya saat ia benar-benar sibuk dan mungkin tak sempat walau hanya memikirkan nya.


Kulit yang terasa hangat dan juga pangutan yang kembali tertaut, suara yang tanpa sadar keluar.


Sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh seperti darah yang menyebar dengan rata.


Sesuatu yang terasa panas mulai memasuki nya dengan sulit, terasa sedikit perih untuk nya yang sudah cukup lama tertutup.


Kuku jernih yang berwarna bening mengkilap itu tanpa sadar mencakar punggung pria yang berada di atas tubuh nya.


Suara yang terdengar berat, deruan napas yang bertaut dengan sesekali pangutan yang menjalar pada wanita itu.


Cuaca yang dingin namun kini sudah tak terasa apapun dan hanya menyisahkan sesuatu yang panas dan akan meledak seketika.


......................


Apart Venelue'ca


Entah sejak kapan pakaian yang awalnya melekat di tubuh itu tertanggal, perasaan asing namun rasa keingintahuan yang besar membuat kedua remaja itu melakukan sesuatu di luar kendali mereka.


Sesuatu yang tertahan seperti sengatan listrik seakan keluar, suara lirih yang terdengar panjang dan berat keluar dari bibir gadis itu.


Remaja itu tak tau namun ia seperti ingin merasakan hal yang lebih dan membuat nya bertindak lebih jauh lagi.


Deg!


Emily tersentak ketika ia merasakan sesuatu yang mulai datang pada nya dan menyentuh bagian yang paling ia jaga.


Tangan nya mendorong pelan tubuh remaja itu, "Axel takut..." ucap nya lirih yang kesadaran nya mulai kembali datang.


"Coba sekali yah?" ucap remaja tampan itu dengan lirih dan suara yang berat.


Rasa penasaran akan rasa yang semakin membeludak itu membuat nya semakin ingin tau.


Emily menggeleng pelan, "Aku takut, kata mereka sakit..." ucap nya lirih.


Sekilas ia pernah mendengar beberapa temannya yang bercerita sudah pernah melakukan hal tersebut.


"Sakit?" tanya Axel dengan bingung.


Gadis itu mengangguk, wajah memelas yang berusaha mendorong pelan tubuh teman nya.


Melihat wajah memelas gadis itu membuat nya berguling ke samping tubuh kecil itu, "Maaf..." ucap nya lirih.

__ADS_1


Salju pertama dan awal pengalaman pertama yang mencoba hal yang baru walau masih tak sampai ke arah yang lebih jauh.


__ADS_2