
Remaja itu mendekat, jantung nya berdegup kencang. Wanita yang biasa nya selalu memberikan senyuman hangat kini tak sadarkan diri dengan penuh genangan cairan berwarna merah kental itu.
"Mommy? Mom!" panggilnya yang langsung memangku wanita itu.
Tubuh dan tangan nya gemetar, pikiran nya buyar hingga membuat nya kosong dan tak mampu berpikir secara rasional ataupun memikirkan hal lain selain kepanikan dan rasa takut yang menyelimuti.
Beberapa orang yang tak jauh dari mereka pun mengambil inisiatif dengan langsung menelpon ambulance agar wanita yang di tikam secara tiba-tiba di tempat umum itu segera mendapatkan pertolongan.
Remaja itu melepaskan jas sekolah nya dan menekan ke arah luka sang ibu agar cairan merah kental itu segera berhenti.
...
Rumah sakit.
Suara dari roda yang tengah berputar dengan cepat sembari membawa seorang wanita yang penuh akan lumuran darah itu sekaligus deruan napas yang terdengar cepat.
Tangan yang penuh dengan darah itu memegang ranjang pasien yang tengah di dorong dengan kuat dan cepat itu mengikuti arah petugas medis yang membawanya.
Langkah nya terhenti ketika ranjang pasien itu sudah memasuki pintu ruangan yang harus steril dalam segala hal.
Axel terdiam, ia benar-benar terkejut melihat sang ibu jatuh dengan lumuran darah. Langkah gontai menyeret langkah nya hingga membuat tubuh tinggi nya itu bersandar ke dinding.
Ia jatuh seketika, lantai yang dingin menjadi sandaran nya hingga membuatnya terduduk dan tak bisa bernapas.
Takut...
Perasaan khawatir yang begitu meluap karna takut sang ibu akan meninggalkan nya tanpa aba-aba seperti sang ayah dulu.
Malam yang sebelum nya masih sama dengan melihat tawa di wajah sang ibu, rencana belanja yang ia inginkan pun masih belum terjadi.
"Jangan..."
"Mommy gak boleh pergi..." gumam nya yang seperti linglung.
Jujur saja kepergian sang ayah yang bagi nya mendadak masih membuat trauma di hati nya.
Hari yang cerah, taman bermain, mendapat hadiah, memakan makanan yang ia sukai dan sepanjang hari menghabiskan waktu bersama sang ayah tanpa ia ketahui itu adalah saat terakhir nya bersama pria yang selalu ia sebut dengan sebutan 'Daddy'
Tak ada ucapan selamat tinggal, bahkan kejadian yang begitu mendadak membuat nya dulu sempat tak bisa menerima nya.
Dan jika hal seperti itu akan terulang lagi, ia benar-benar tak tau harus bagaimana.
Remaja pria itu melihat ke arah jas nya yang berlumuran darah, memberikan bau anyir yang pekat dan membuat dada nya terasa sesak.
Seorang dokter dan seorang perawat yang tadi nya masuk ke dalam ruang operasi bersama ibu nya kini keluar dan mendatangi remaja yang terduduk lemas itu.
"Bisa saya bertemu dengan wali dari ibu Ainsley?" tanya dokter itu pada remaja yang mulai beranjak bangun dan berdiri.
"Wali? Saya putra nya, ayah saya sudah tidak ada." jawab Axel segera.
Melihat remaja tersebut sang dokter pun dapat mengartikan jika remaja itu sudah merupakan keluarga inti dan saat ini ia memang harus mendapatkan persetujuan darurat untuk operasi yang akan di lakukan.
"Ada beberapa prosedur yang harus di lakukan, titik tusukan mengenai beberapa organ yang penting dan kami harus melakukan operasi yang cukup beresiko karna setelah melakukan pemeriksaan ibu anda pernah mengalami kecelakaan sebelum nya." terang dokter tersebut yang berusaha sesingkat nya karna agar masih bisa memiliki waktu.
"Kami perlu persetujuan wali untuk melanjutkan operasi ini, dan waktu yang di miliki juga hanya sedikit, jadi saya harap anda bisa cepat memutuskan nya." sambung pria yang mengenakan kaca mata itu.
"Lakukan," gumam Axel yang masih terkejut, belum lagi mendengar pernyataan itu.
"Lakukan saja, lakukan apapun untuk menyelamatkan ibu saya. Jika operasi itu di perlukan lakukan saja, saya akan menandatangani surat persetujuan nya," sambung nya lagi.
Dokter tersebut pun memberikan isyarat mata pada perawat di sebelah nya untuk membantu dalam hal pendatangan persetujuan itu agar proses cepat selesai dan operasi cepat terlaksana.
Setelah semua prosedur yang di perlukan sudah di lakukan operasi pun segera di laksana kan, remaja itu kini terduduk di bangku tunggu yang berada di lorong tak jauh dari tempat operasi.
Ia terdiam terlihat seperti linglung tak bisa memikirkan serta melakukan apapun.
"Aku akan jadi anak yang lebih baik..."
"Axel janji gak akan boros lagi Mom..." gumam nya dengan linglung.
Ponsel yang terus berdering tak membuat nya teralihkan, ia membiarkan nya begitu saja karna ia pun tengah menunggu kabar dari sang ibu yang bahkan belum tau akan terjadi apa nanti nya.
Perasaan yang di liputi dengan rasa takut dan khawatir tentu membuat remaja tampan itu tak bisa merasakan waktu.
Tak terasa lima jam telah berlalu semenjak opersi mulai di lakukan, ia menatap ke arah pintu putih dengan kaca kabur itu serta berharap dengan penuh cemas serta rasa takut.
Seorang dokter yang keluar sembari melepaskan masker nya berjalan ke arah remaja itu.
"Operasi nya berjalan dengan lancar namun tetap saja jika tadi terlambat sedikit lagi maka tak ada yang akan bisa menebak apa yang akan terjadi saat ini,"
"Dan walaupun operasi sudah berhasil namun kita tetap harus menunggu ibu Ainsley sadar dan melihat respon yang di berikan," ucap dokter itu pada Axel.
Seluruh beban dan penat yang tadi nya sempat menumpuk dan menekan remaja itu kini mulai berkurang begitu banyak ketika mendengar operasi sang ibu berhasil.
"Terimakasih," ucap nya lirih dengan mulai bernapas lega.
......................
Sementara itu, berbeda dengan di tempat lain yang penuh dengan rasa sedih, takut dan gelisah. Tempat sepetak yang memiliki beberapa perlengkapan sederhana itu terdapat seorang pria yang tertawa puas.
Suara tawa nya dengan menggelegar terdengar ketika ia merasa begitu bahagia bisa setidaknya membalas orang yang sudah memasukkan nya ke tempat memuakkan itu.
"Pergi ke neraka j*lang sialan!" ucap nya dengan penuh senyum kepuasan.
Jika wanita itu dapat mati ia merasa lebih lega dan rasa amarah nya berkurang karna ia di masukkan ke tempat seperti itu.
Bukan nya merenungi kesalahan malah menambah kesalahan lain nya dan sama sekali tak merasa bersalah, ia juga tak tau dampak apa yang akan terjadi pada nya setelah melakukan hal keji seperti itu.
...
Setelah sang ibu di pindahkan ke ruangan Axel pun membersihkan diri nya yang sebelum nya penuh akan lumuran darah.
Kini ia bisa bernapas lega namun masih ada rasa takut dan khawatir yang tertinggal, dan setelah itu rasa amarah timbul di dalam diri nya.
Perasaan kesal yang di selimuti dengan amarah. Ia tak tau mengapa bisa ada seseorang yang bisa melakukan hal seperti itu pada ibu nya.
Air yang dingin dari keran itu membasuh wajah nya, raut yang berubah terlihat jelas di wajah remaja pria itu.
...
__ADS_1
Ruangan besar yang hening saat tak ada satupun yang berbicara ataupun bersuara.
Tangan nya yang kini sudah lebih besar dan panjang dari tangan sang ibu membuat nya memegang tangan itu.
Ia sadar sesuatu, dulu nya tangan wanita itu selalu ia pikir terlalu besar untuk tangan mungil nya dan kini semua menjadi kebalikan nya.
"Mommy bangun yah? Nanti Axel bales yang buat Mommy kayak gini..." gumam nya sembari melihat ke arah sang ibu.
Setelah situasi nya mulai sedikit lega, remaja itu membuka ponsel nya menatap ke arah nama teman teman nya dan juga Liam yang baru saja menelpon.
Mata nya beralih melihat ponsel yang memiliki gantungan mainan yang cantik itu, dan tentu nya ia juga lah yang membelikan nya untuk sang ibu.
Panggilan tak terjawab dari pria yang sempat ia salah pahami sebelum nya, "Mereka benar-benar pacaran?" gumam nya sembari melihat ke arah sang ibu sekilas.
Jemari yang penasaran itu pun membuka riwayat percakapan sang ibu dengan pria itu.
Tak ada yang aneh ataupun percakapan yang menunjukkan seakan-akan kedua nya telah memiliki hubungan.
Remaja itu memilih memberi tau Liam dan di akhir ia juga memberikan pesan pada pria kini semakin dekat dengan ibu nya.
Setelah itu ia pun mematikan ponsel nya dan kembali menggenggam tangan ibu nya hingga terlelap.
......................
Bandar Udara Internasional Pierre Elliott Trudeau.
Pria yang langsung bergegas kembali setelah membaca pesan singkat yang masuk ke ponsel nya.
Baru saja ia meninggalkan negara nya karna. urusan bisnis kini ia mendapatkan kabar tak menyenangkan.
"Cari tau tentang kondisi nya," ucap nya dari telpon pada sekertaris nya yang cerewet yang kini juga sudah berkeluarga.
Derap langkah yang cepat pun terdengar di setiap lantai yang ia pijakan.
Ia segera memesan pesawat tercepat untuk sampai ke negara nya, walaupun ia memiliki pesawat pribadi namun ia sebelum nya bertujuan untuk berpergian dalam hal berbisnis maka dari itu lebih cepat bagi nya untuk memakai pesawat komersial dari pada harus menunggu pesawat pribadi nya lagi datang.
...
Suara langkah cepat yang memenuhi koridor rumah sakit pun terdengar jelas hingga berhenti di ruangan kamar yang ia tuju.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?!" tanya Liam yang sambil menarik napas nya dan membuka pintu kamar ruangan tersebut.
Pagi yang menyinsing membuat remaja pria itu sudah terbangun namun sang ibu belum juga tersadar pasca operasi.
"Tidak tau, waktu Mommy jemput aku ada yang meluk dia tiba-tiba dan..." ucap nya yang menggantung dengan raut yang benci sekaligus sedih dan khawatir.
Liam mengernyit, ia akan merasa wajar jika tuan nya yang mengalami hal seperti ini dulu karna memang berada di siklus yang kuat lah yang bertahan hidup.
Namun wanita itu menjalankan semua nya sesuai dengan prosedur yang berlaku termasuk ketentuan hukum saat ini.
"Paman bisa cari tau kan siapa yang buat Mommy jadi seperti ini?" tanya nya lagi.
"Paman bakal cari tau, kamu jaga Mommy kamu aja." ucap nya pada remaja itu.
"Setelah kamu tau, kamu mau apa?" tanya Liam pada remaja itu.
Walaupun ia memiliki asuhan yang dominan pada ibu nya namun untuk bela diri ataupun menjaga keselamatan wanita itu membiarkan bawahan suami nya yang mengurus nya.
"Kalau paman sudah dapat sesuatu paman akan beri tau," ucap pria itu kemudian beranjak dari duduk nya.
Axel pun mengangguk, ia kembali melihat ke arah sang ibu dan menunggu wanita itu untuk sadar.
......................
8 Jam kemudian.
Pria itu baru saja kembali menginjakkan kaki di negara nya lagi, ponsel nya langsung ia hidupkan dan menelpon seseorang yang harus nya memberi tau tentang perkembangan nya.
"Presdir!" ucap sekertaris Jhon ketika menjemput pria itu di bandara.
"Kau disini? Bukan nya aku menyuruh mu untuk mencari tau tentang nya kan?" tanya nya lagi dengan bingung.
"Benar, tapi saya ingin memberikan ini." ucap sekertaris Jhon ketika sudah memasuki mobil.
Karna perusahaan mereka yang bergerak di bidang informatika serta bekerja sama hampir di semua aplikasi dan sistem membuat nya lebih mudah untuk mencari sesuatu.
Tak perlu menyadap karna sistem mereka pun sudah terhubung di berbagai tempat, dapat melihat segala keterangan.
Walaupun sebenarnya hal tersebut tak boleh di lakukan karna mereka harus memegang kepercayaan yang di berikan dan keamanan dari akun yang terhubung ke sistem mereka.
Sean melihat nya, ia membaca apa yang di berikan sekertaris nya, foto tentang bukti dari cctv yang mereka dapatkan dan juga keterangan dari biang yang membuat masalah ini terjadi.
"Kirim ke Liam," ucap nya pada sekertaris nya, "Kau sudah dapat kan brengsek ini?!" tanya nya dengan geram sembari menunjuk ke arah rekaman cctv yang menunjukkan waktu penikaman itu.
"Sudah," jawab sekertaris Jhon pada pria itu.
"Tapi kenapa anda memberikan nya pada dia? Kenapa bukan anda saja yang lakukan?!" ucap sekertaris Jhon.
Ia ingat dengan pasti di mana ia dan atasan nya itu membantu ketika Axel mengalami penculikan, memberikan infomasi tempat adalah hal yang paling penting namun bukan nya berterimakasih atasan nya malah terluka.
"Lalukan saja," ucap pria itu sekali lagi.
Ia merasa tak memiliki hak untuk membalas namun ia menyerahkan pada seseorang yang jelas juga tak akan membiarkan pria yang sudah menyakiti wanita itu.
...
Liam masih melacak dari pelaku nya, perbedaan besar antara ia dan Sean yang sudah mendapatkan semua informasi itu adalah di bidang informasi.
Jika ia dan tuan nya harus meretas sistem, maka pria itu tak perlu meretas lagi untuk melihat, hampir semua sistem yang berada di negara itu bekerja sama dengan nya.
Sistem yang terhubung dari mulai aplikasi yang berada di ponsel atau aplikasi di perangkat lunak lain nya, bahkan sistem inti ponsel tersebut, laptop, komputer, mobil, kamera pengawas, serta segala sesuatu yang menggunakan kecanggihan sistem berkerja sama dengan Sation Company.
Jika ia dan tuan nya memiliki kekuatan yang penuh serta channel di dunia bawah dan bisa mendapatkan sesuatu yang dilarang oleh hukum legal dengan mudah maka saingan tuan nya seperti memiliki kunci infomasi beserta gudang nya yang tak bisa mereka imbangi.
Mungkin jika tuan nya masih hidup, mereka sudah mendapatkan infomasi itu juga karna tuan nya pandai meretas namun karna kini sudah tak ada lagi tuan nya hingga membuat harus bekerja sendiri.
"Dia mengirim nya lagi?" gumam Liam melihat infomasi sekaligus pelaku penikaman yang juga juga di kirimkan pada nya.
...
__ADS_1
Rumah sakit.
Selepas dari Bandara pria itu langsung datang ke rumah sakit, ia mengetuk sejenak hingga membuat remaja yang tengah menjaga ibu nya itu terperanjat dan melihat ke arah pintu.
"Paman?" Axel melihat ke arah pria.
"Letakkan ini di vas," ucap nya yang sembari memberikan bunga yang ia tau di sukai oleh wanita itu.
Axel mendengar, mengambil serangkaian bunga tersebut dan menyusun nya di dalam vas lalu meletakkan di samping ibu nya.
"Operasi nya berjalan dengan baik? Apa ada masalah lain nya?" tanya Sean sembari melihat ke arah wanita itu.
"Tidak, semua nya berjalan lancar kata dokter yang datang tadi Mommy masih belum bangun karna masih ada sisa anastesi." jawab remaja itu pada pria di depan nya.
Pria itu duduk dan melihat ke arah wanita yang belum tersadar itu, sesekali ia melihat ke arah tangan wanita.
Goresan dari garis yang masih sedikit terlihat jika di perhatikan dengan jelas, walaupun sudah di lakukan beberapa perawatan untuk menghilangkan bekas tersebut namun tetap saja masih sedikit terlihat.
"Itu bekas luka yang di sengaja kan?" tanya Axel saat melihat pria itu mengusap pergelangan tangan sang ibu.
Ia dulu nya tak menyadari dan bahkan di waktu ia menyadari nya ia tak tau jika itu adalah bekas luka yang di sengaja sampai ia melihat rekaman cctv di mansion mereka.
Ia jadi sadar jika kembali saat melihat bekas luka tersebut dan tau jika itu bukanlah semua luka biasa.
"Hm," jawab Sean sembari kembali meletakkan tangan wanita itu.
"Kapan Mommy buat nya?" tanya nya lagi.
Sean diam sejenak ketika mendapatkan pertanyaaan tersebut, "Entahlah, kalau tidak salah waktu dia umur 22 tahun." jawab pria itu sembari melihat ke arah wanita yang tak sadar itu.
"Kenapa?" tanya nya lirih.
"Menurut mu?" ucap pria itu bertanya balik.
Axel diam, ia tau kalau pun ia bertanya lebih jauh pria di depan nya tak akan menjawab secara rinci karna sang ibu juga tak ingin mengatakan apapun.
"Paman kenal Mommy dari kapan?" tanya nya lagi.
"Dari dia umur 19 tahun," jawab pria itu sembari melihat sekilas ke arah wanita itu lagi.
"Hubungan kalian apa?" tanya nya sembari menatap ke arah pria itu.
Ia masih butuh sesuatu yang lebih jelas lagi tentang hubungan ibu nya dengan pria itu karna ia ketika ia melihat rekaman cctv sebelum nya sang ayah atau sang ibu terus menyebutkan nama 'Sean' atau 'dia' lagi ketika tengah bertengkar.
"Kau sangat penasaran? Atau sekedar ingin tau?" tanya Sean sembari menatap ke arah remaja itu.
"Yasudah kalau tidak mau jawab!" ucap remaja itu dengan ketus.
"Kalau ku bilang mantan kekasih? Kau akan bagaimana?" tanya pria ketika remaja pria yang berada di dekat nya sudah membalik tubuh nya.
Axel kembali melihat dan menoleh ke arah pria itu, "Terus kalian putus kenapa?" tanya nya lagi.
"Kalau kami lanjut, kau yah tidak bisa lahir." ucap pria itu dengan tersenyum tipis.
"Paman! Aku serius!" ucap nya dengan kesal.
"Aku terlihat sedang bercanda?" tanya Sean lagi.
"Paman selingkuh kan?" tuduh remaja itu pada pria di depan nya karna terkadang mendengar pria itu meminta maaf pada ibu nya untuk hal yang terjadi di masa lalu.
"Siapa aku? Kenapa?" tanya Sean bingung.
"Terus? Mommy kan gak mungkin yang selingkuh!" ucap nya yang tentu membela sang ibu.
"Kalau itu yang terjadi bagaimana?" tanya Sean pada remaja tersebut.
"Maksud nya? Mommy? Sama siapa?" tanya Axel dengan bingung.
"Menurut mu sama siapa? Kalau aku bilang selingkuh nya dengan Daddy mu bagiamana?" tanya pria itu lagi.
"Kalau Daddy tau Mommy udah ada pacar Daddy juga gak akan deketin!" ucap nya yang juga tentu nya membela ayah nya.
Sean hanya tersenyum tipis mendengar nya, sebagai seorang anak tentu nya ia menanggap jika kedua orang tua nya adalah orang yang baik.
Dan ia yang juga tak mungkin bilang jika ayah yang selalu dianggap seperti Hero itu meniduri gadis yang bahkan memiliki kekasih lalu menjadi salah satu penyebab putus nya hubungan orang lain.
"Kamu itu tau gak? Dulu Mommy kamu itu orang nya baik sekali, terlalu baik sampai mungkin bisa di bodohi orang lain," ucap nya sembari melihat ke arah wanita itu.
"Dia dulu masih percaya sama drakula, masih penasaran sama rasa nya permen kapas." sambung nya lirih.
"Jadi Axel? Dari pada kamu cari tau tentang masa lalu Mommy kamu, atau hubungan paman sama Mommy kamu dulu itu seperti apa, lebih baik kamu jadi anak yang baik aja untuk Mommy kamu,"
"Kamu itu yah hidup nya Mommy mu, dia juga udah kasih semua yang dia bisa untuk kamu kan?" sambung nya lagi.
"Tanpa paman bilang aku juga bakal jadi anak baik kok buat Mommy," ucap nya sekali lagi.
Pria itu tersenyum tipis lalu melihat ke arah remaja itu, "Tapi paman perhatikan sekarang kamu malah lebih mirip Daddy kamu yah? Dari pada Mommy kamu? Padahal dulu waktu kecil kamu itu manis banget, sampai paman sering gemas." ucap nya tersenyum yang mengingat masa ketika Axel masih dekat dengan nya saat kanak-kanak.
"Paman nyebelin!" ucap nya mendengus kesal dan beranjak keluar karna ia yang sebelum nya ingin membeli minuman namun tak jadi karna tak ada yang menjaga ibu nya di samping.
Namun karna sekarang sudah ada ia pun bisa pergi sebentar.
"Mau kemana?" tanya Sean pada remaja itu.
"Beli minum," sahut nya sebelum pergi.
"Paman juga sekalian, teh hijau yah!" ucap Sean dengan tawa kecil.
Axel tak menjawab namun pada akhirnya ia tetap akan membelikan nya sekalian.
...
Saat hendak kembali remaja itu berpapasan dengan Liam yang juga akan ke ruangan sang ibu.
"Kalau kau sudah tau siapa yang membuat Mommy mu menjadi seperti ini, apa yang kau inginkan?" tanya Liam pada remaja itu.
Axel diam sejenak namun raut wajah nya berubah, ia marah dan sangat ingin membuat orang yang telah mencelakai ibu nya.
"Aku mau dia..."
__ADS_1