Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Jangan kesal lagi


__ADS_3

Mentari yang mulai datang hingga meninggi membuat wanita itu perlahan menerjap bangun.


"Sakit semua," gumam nya sembari menggeliat di bawah selimut.


Seluruh tubuh merasakan pegal yang luar biasa bahkan sampai membuat nya sulit bergerak, tangan nya memegang perut nya yang masih rata dan meraba nya sejenak.


"Aku tidak keguguran kan? Dia kasar sekali!" decak nya dengan kesal namun sedetik kemudian bibir nya tersenyum.


Wanita itu mengandarkan pandangan nya pada sekitar kamar mewah tersebut namun ia tak melihat pria tampan itu walau hanya sekedar bayang nya.


Walaupun ia merasakan pegal dan beberapa dari tubuh nya yang memiliki luka memar karna kegiatan malam nya yang cukup kuat namun ia juga sangat menikmati nya karna sudah lama tak mendapatkan sensasi yang seperti itu.


"Sekarang tinggal memberikan bumbu terakhir," gumam nya dengan senyuman licik nya.


Ia tinggal mengadukan kehamilan nya sebagai milik pria yang membuat tubuh nya terasa seperti ingin patah tulang.


................


Prancis


Tiga Minggu kemudian


Mansion Zinchanko


Wanita itu tersenyum pakaian beruang kecil menggemaskan yang di pakai putra nya membuat nya menatap dengan gemas.


"Kenapa kaki nya sayang? Mau jadi pemain bola anak Mommy? Hm?" tanya wanita itu sembari bermain dengan putra nya di atas ranjang.


Baby Axel tersenyum sembari memegang satu kaki nya ke atas dengan geliat menggemaskan nya.



Nyah...


Jemari kecil nan mungil nya terus menggeliat dan selalu ingin menangkap apa yang ingin ia sentuh.


Ainsley tertawa baginya putra nya adalah makhluk yang paling menggemaskan dan berharga untuk nya di dunia.


...


Richard yang baru saja kembali setelah melakukan beberapa pekerjaan nya pun melihat ke arah sekeliling mansion megah itu.


"Ainsley mana?" tanya nya sembari melepaskan jaket nya dan memberikan pada pelayan yang menghampiri nya.


"Nyonya ada di ruang belakang dekat taman, sepertinya sedang membaca majalah." jawab pelayan tersebut dengan menunduk.


Richard pun bergegas datang untuk menemui wanita itu, namun langkah nya terhenti saat melihat darah di tangan nya.


Ia pun memutar langkah nya dan berbalik pergi ke arah kamar nya, menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh nya lebih dulu serta menganti pakaian yang masih memiliki banyak bercak darah milik orang lain.



"Kau sedang baca apa?"


Suara bariton yang terdengar jelas di telinga wanita itu membuat nya menengadah dan melihat ke arah suara.


"Sudah pulang?" tanya Ainsley melihat sekilas sembari menutup majalah yang ia baca.


"Apa yang kau lihat?" tanya Richard dengan mendekat ke arah wanita itu duduk sembari melirik ke arah majalah yang di tutup oleh wanita itu.


"Bukan apa-apa?" jawab Ainsley singkat sembari meletakkan majalah yang ia baca ke atas meja.


Richatd melihat segelas lemon tea di samping wanita itu, "Kau sekarang masih suka minum teh?" tanya nya menelisik.


Ia sudah mulai mengurangi ketergantungan istrinya pada obat-obatan sejak overdose sebelum nya namun tetap saja yang namamya sudah ketergantungan sedikit sulit di sembuhkan.


"Sudah!" jawab Ainsley mengangguk.


Richard mengernyit seharusnya untuk seseorang yang sudah ketergantungan tak akan semudah itu hilang dan lepas dari pengaruh obat-obatan terlarang itu.


"Kau masih minum obat mu? Kepala mu kan sudah tidak sakit lagi?" tanya nya menebak secara asal.


"Ti-tidak..." jawab Ainsley gugup.


Sejak rasa teh yang ia minum berbeda dengan yang biasa di berikan pada nya membuat nya mencari obat yang pernah di berikan pria itu.


Ia bahkan masih belum tau apa yang ia minum namun rasa ketergantungan sangat kuat sehingga ia tak peduli obat seperti apa itu.


"Tapi obat ku kurang dua butir, kau meminum nya?" tanya pria itu lagi.


"Tidak..." jawab nya lirih sembari membuang pandangan nya.


"Oh iya! Apa aku buka toko cake juga di sini? Aku rindu mereka!" ucap Ainsley mengalihkan pertanyaan dengan pembahasan lain.


"Anak nakal!" ucap Richard yang langsung dapat membaca kebohongan wanita itu.


"Apa?! Ti-tidak!" jawab Ainsley mengelak.


Richard tak menjawab dan hanya memberikan pandangan yang menatap lurus ke wajah cantik yang terlihat gelisah karna berbohong tersebut.


"Axel menangis? Dengar tidak?" tanya Ainsley yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Richard mengernyit ia tak mendengar sama sekali suara tangisan putra nya seperti yang di katakan oleh Ainsley.


"Aku kesana mau lihat Axel dulu!" Jawab Ainsley sembari mengalihkan perhatian dan ingin kabur secepat nya.


Pria itu pun dengan cepat langsung meraih tangab kecil dan mungil tersebut.


Greb!


Dalam satu tarikan ia menarik nya hingga masuk ke dalam pelukan nya, tangan nya pun mulai langsung beralih ke pinggang ramping wanita itu dan mentahan nya agar tetap melekat pada tubuh nya.


"Kau saja belum jawab pertanyaan ku," ucap pria itu sembari mengelus pipi halus wanita nya sembari mulai memegang dagu yang tengah menengandah melihat ke arah nya.


"Sudah! Aku sama sekali tidak ada ambil!" Jawab Ainsley sekali lagi namun ia tak bis membalas tatapan mata yang tengah melihat nya.


"Jangan bohong, nanti ku gigit." Bisik Richard di telinga wanita nya.


"Tidak! Aku tidak bohong sama sekali! Sung- Auch!" Ringis nya yang terpotong saat tiba-tiba merasakan perih di telinga nya.

__ADS_1


Richard menggigit telinga istrinya karna terus saja mengatakan hal yang bukan jawaban nya dan berhohong pada nya.


"Sa-sakit..." Ucap Ainsley lirih sembari mengusap telinga nya.


"Makanya jangan nakal," ucap pria itu dengan nada rendah sembari menatap lekat ke iris istrinya.


"Bukan aku kan cu-"


Ingin rasanya Ainsley kembali membela dirinya namun saat melihat mata pria itu yang seperti ingin kembali menggigit nya membuat harus bicara yang sebenarnya dari pada berbohong.


"Aku cuma minum satu, kalau misal nya hilang nya dua berarti bukan aku yang ambil." Ucap Ainsley lirih sembari memandang ke arah lain.


Richard mengambil napas nya dan,


Auch!


Tangan nya langsung mencubit pipi bulat yang lembut itu dengan kuat.


"Dasar nakal! Kenapa ambil diam-diam? Hm? Kenapa tidak minta langsung pada ku saja?" Tanya Richard sembari mencubit pipi kanan wanita itu.


Pria itu pun mulai melepaskan cubitan nya di pipi sang istri.


"Kalau aku minta kau akan beri?" Tanya Ainsley sembari menatap ke arah mata pria itu.


"Tidak!" Jawaban yang cepat ringkas dan tegas.


Ainsley mengernyit terlihat jelas raut kesal di wajah cantik nya.


Bukan nya Richard yang tak mau memberikan nya namun ia harus mengontrol jumlah yang akan di konsumsi istri nya agar tak terjadi kejadian overdose seperti sebelum nya.


"Kalau begitu untuk apa aku bilang?" Tanya Ainsley dengan kesal.


Richard tak mengatakan apapun, ia melihat raut kesal wanita itu yang menggemaskan membuat nya teringat pada wajah putra nya saat ia mengganggu bayi mungil itu.


Humph!


Ainsley tersentak bibir nya tiba-tiba dil*mat habis oleh suami nya hingga membuat nya secara refleks mendorong dada bidang pria itu namun Richard malah semakin erat memeluk pinggang ramping nya.


Mel*mat, membelit dan menghisap bibir nya dengan agresif bahkan membuat nya bertukar saliva agar ia masih bisa bernapas di tengah ciuman yang mengambil semua oksigen nya.


Hah...hah..hah...


Richard melepaskan ciuman nya, sedangkan ia melihat wanita itu yang masih mengambil napas dalam.


Ibu jari nya menyentuh bibir basah wanita itu dan mengusap nya dengan pelan.


"Makanya jangan nakal," ucap nya dengan nada rendah sembari mulai mengangkat pinggul wanita itu hingga membuat menggendong sang istri bagaikan bayi koala.


Ia menggendong nya ke arah sofa panjang yang tak jauh dari tempat wanita itu duduk sebelum nya.


"Mau apa?" tanya Ainsley yang langsung menahan tangan yang ingin menidurkan nya di sofa tersebut.


"Mau buat adik untuk Axel," jawab pria itu dengan ringan.


"Adik?! Tapi katanya tidak mau aku hamil lagi?" Ainsley terkejut dengan jawab enteng itu.


"Memang nya aku bilang mau kau hamil? Aku kan bilang cuma mau buat nya saja," jawab pria itu sembari mengecup telinga istri nya.


"Tunggu! Disini?" tanya Ainsley mengernyit karna ia tau semua sudut di mansion megah itu memiliki mata cctv yang terus memantau.


Pria itu tersenyum tipis, ia menunjuk ke arah cctv yang terpasang di sudut ruangan, "Kau lihat? Tidak menyala kan? Mereka pasti tau apa yang ingin kita lakukan jadi mereka tidak akan berani lihat kalau masih ingin mata nya."


Mata Ainsley membulat mendengar nya, "Mereka tau? Kalau kita mau..."


"Jadi mereka akan kira kita ingin memasak?" tanya Richard dengan nada menggoda wanita itu.


"Terus kalau ada pelayan yang lewat ke sini?" tanya Ainsley lagi.


"Mereka tidak akan berani ke sini sampai malam," jawab pria itu enteng.


Walaupun mereka berbicara namun tangan Richard tak berhenti, ia terus mengelus dan mulai menyusup ke balik pakaian yang di kenakan wanita itu hingga mer*mas pelan bagian lembut wanita itu yang masih terbungkus dengan kain penghalang nya.


"Sampai malam?" tanya Ainsley mengernyit, "Ini kan masih siang?"


"Kita akan selesai nya malam," jawab pria itu singkat sembari mengendus dan mencium serta mengigit pelan leher wanita itu.


Ainsley tak mengatakan apapun lagi, namun indra perasa di tubuh nya mulai berpusat oada tangan kekar nakal yang tengah menggerayangi nya di balik pakaian.


Richard pun membuka pakaian nya hingga menampilkan cup berwarna hitam yang tersibak tak lagi menyembunyikan kulit putih sang istri.


Ia pun langsung menangkup dan mengigit puncak nya serta mer*mas nya dengan gemas.


Auch!


"Pelan, sakit kalau di gigit tiba-tiba." ucap Ainsley pada pria itu.


Tangan pria itu bermain di puncak bagian indah itu sembari mem*lin dan menghisap nya lalu ia menengandah.


"Kenapa? Axel saja selalu boleh? Sampai dia tidur juga kan?" tanya nya sembari tangan nya yang satu lagi kembali menyibak rok istri nya.


"Axel? Axel kan masih bayi!" jawab Ainsley dengan cepat.


Pria itu tersenyum dengan smirk nya, "Makanya dia kan bisa gigit seperti ini, aku dengar kalau bayi sudah mulai tumbuh gigi akan sedikit sakit, jadi kan sekarang kau sedang latihan."


"Latihan apa?! Bukan begini latihan nya!" jawab Ainsley yang tau jika hal itu sangat dapat di bedakan dengan kegiatan nya sekarang.


Richard diam sejenak, tangan yang sedari tadi mengusap bagian privasi wanita itu sembari bermain di puncak istrinya mulai membuat tubuh Ainsley memanas.


"Aku kan juga mau di perhatikan sedikit, kau hanya memperhatikan Axel saja kan?" ucap pria itu dengan smirk yang sulit di artikan.


"Iya, tapi kan- Sshh..."


Ainsley mendesis jari nakal pria itu sudah menyelinap di tubuh nya.


Richard tersenyum dan kembali menciumi d*da serta leher wanita itu lagi.


Ia pun bermain di tubuh ramping yang berlapis kulit putih susu itu dengan jemari nya hingga membuat Ainsley mencapai sesuatu yang menbuat nya bibir nya mendesis dan napas terasa sangat berat.


"Gemas nya," ucap nya lirih melihat wanita itu yang mengambil napas berat dengan wajah memerah setelah mencapai pencapain nya.

__ADS_1


Ia pun melepaskan kemeja nya dan celana yang ia kenakan lalu menarik kain yang menghalangi penyatuan mereka.


Ainsley mendesis pelan, pria itu memangut bibir nya dan memulai gerakan dengan lembut dan teratur hingga tubuh kecil yang tenggelam dalam dekapan nya itu kembali terhanyut.


Ia tanpa sadar mengigit bahu pria itu saat gerakan lembut namun begitu dalam itu ia rasakan.


"Anak pintar," bisik Richard dengan suara berat saat ia merasakan gigitan wanita itu di bahu nya, memang terasa sedikit sakit bagi nya namun hal itu semakin membuat hasrat nya bertambah.


...



"Kemarin katanya mau makan malam di luar, sekarang kenapa wajah mu masam?" tanya Richard sembari memarkirkan mobil nya di sebuah restoran.


Ainsley kesal, bukan karna tak ingin makan malam di luar namun tubuh nya yang sudah di buat sangat pegal hingga membuat mood nya hilang.


"Gak kuat mau jalan ke sana," jawab nya ketus dengan raut kesal.


Richard tersenyum ia melihat ke bangku belakang di mana putra nya duduk dengan sabuk pengaman dab terlihat meraih mainan di tangan nya.


"Axel? Mommy minta di gendong nya juga," ucap nya terkekeh.


Ainsley langsung menoleh ke arah pria itu, "Siapa yang mau minta di gendong?! Aku bisa jalan sendiri!" jawab Ainsley kesal dan langsung keluar dari mobil.


Ia pun beranjak membuka pintu belakang dan mengambil putra nya.


"Aduh!" ucapnya tanpa sadar saat pinggang nya terasa sakit.


Richard pun mendekat dan mengambil putra nya, "Aku saja yang gendong."


Ainsley membiarkan pria itu mengambil putra nya, ia memang tak membawa kreta dorong bayinya karna ingin menggendong putra lucu nya namun rasa pegal nya mengalahkan rasa ingin gendong nya.


"Kau mau naik ke punggung ku?" tanya Richard pada wanita cantik itu.


"Tidak!" tolak Ainsley langsung, ia tak mau jadi pusat perhatian saat masuk ke dalam restoran.


Kalau saja mereka tak membawa putra mereka ikut mungkin Richard bisa saja langsung menggendong istri nya.


"Lain kali kalau mau yang lama begitu jangan di tempat yang aneh-aneh!" jawab Ainsley dengan raut kesal.


"Di sofa aneh? Kau mau nya di ranjang saja? Tapi aku takut kita selesai nya pagi bukan malam," jawab pria itu memberikan tatapan nakal.


Ainsley kesal ia membuang pandangan nya namun pria itu hanya tersenyum sembari meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya.


Wanita itu kembali menoleh dan melihat tangan nya, genggaman tangan hangat yang membuat nya mengalihkan perhatian.


"Kau mau malam malam di mansion saja?" tanya pria itu dengan nada melembut.


"Kan sudah di sini! Kenapa ke mansion lagi?" tanya Ainsley yang masih cemberut.


"Iya, kalau begitu jangan kesal lagi? Hm?" ucap nya tersenyum sembari mencium pipi wanita itu.


"Axel juga ga Mommy cemberut terus kan?" tanya Richard sembari melihat ke mata bulat putra nya.


Ekor mata Ainsley menatap ke arah putra nya, "Axel sayang Mommy..." ucap nya tersenyum saat mood nya kembali begitu melihat wajah imut putra nya.


......................


Dua Minggu kemudian.


Marilyn datang dengan senyuman sembari membawa surat keterangan tentang kehamilan nya, ia bahkan sudah mengubah tentang usia kandungan nya di surat yang ia bawa.


"Kau hamil?" tanya Sean mengernyit sembari membaca surat yang di bawa oleh wanita itu.


"Benar, kau harus nya ingat dengan malam itu kan?" tanya Marilyn dengan senyum tipis nya.


Pria itu tersenyum sembari meminum segelas air di depan nya dan melihat ke arah di dinding kaca kafe tersebut.



Ia meletakkan gelas nya dan kembali menatap ke arah wanita itu.


"Kau mengganggu ku hari ini hanya untuk mengatakan hal konyol?" tanya nya tersenyum geli.


Ia sengaja ingin keluar dengan santai dan membaca buku di cafe namun malah seseorang yang tak ingin ia lihat mendatangi nya.


"Hal konyol? Aku hamil anak mu! Apa aku perlu memberi tau ayah mu?" tanya Marilyn dengan nada mengancam.


Ia tau ayah pria itu akan segera menikahkan mereka saat tau dirinya hamil.


"Katakan saja," jawab Sean enteng sembari membaca buku nya kembali, "Lagi pula ada kemungkinan dia bukan anak ku kan?"


Deg!


Mata Marilyn membulat namun ia kembali tenang dan bersikap seperti sebelum nya.


"Setidaknya kau harus belajar bertanggung jawab atas perbuatan mu! Jangan sembarang menuduh ku!" ucap nya sembari mulai bersikap seperti ialah yang saat ini menjadi korban.


Ia mengatur emosi nya hingga membuat nya seakan menangis untuk membuat iba pria itu.


Sean melirik sejenak ia melihat wajah sedih dengan mata berkaca yang mengalihkan perhatian nya.


Tangan nya menutup buku yang ia baca dan melihat wanita itu, bibir nya tersenyum kecil jika tak di perhatikan tak ada yang tau jika ia tengah tersenyum saat ini.


"Kau hamil kan? Coba bilang ayah ku," ucap nya melihat wanita itu.


"Kau tidak percaya?" tanya Marilyn dengan air mata nya yang semakin jatuh.


Sean tersenyum, ia membuang napas nya perlahan dan hanya menatap dengan tatapan yang tak bisa di baca apa dengan pikiran nya.


...****************...


Oh iya Maaf yah lama telat nya, harusnya semalam othor up tapi tiba-tiba kata yang udah othor buat hilang ga ke simpan di sini.


Othor kesel dong wkwkwk


jadi othor nulis ulang lagi pagi ini, maaf yah kakau lama up nya.


Jan lupa like, komen, vote, beri hadiah, dan rate 5 nya yah...

__ADS_1


Happy ReadingπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2