Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Secret


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Suara lentingan dari sendok dan gelas yang beradu serta aroma kopi yang wangi dan asap yang mengepul ke atas.


"Dia di mana?" tanya Ainsley pada salah satu pelayan di tempat tersebut.


"Di ruang kerja nyonya," jawab pelayan tersebut.


Ainsley pun membawa secangkir kopi di tangan nya dan beranjak datang ke ruangan kerja suami nya.


"Aku bisa masuk?" tanya nya di antara pintu setelah mengetuk.


Richard berhenti sejenak saat tangan nya menggeser kursor yang berada di laptop nya, ia melihat sang istri yang berada di antara pintu ruangan kerja nya.


Tak ada jawaban hanya senyuman di wajah nya, "Masih banyak yang kau kerjakan?" tanya Ainsley sembari meletakkan kopi yang ia buat ke atas meja.


"Tumben sekali? Ada apa?" tanya nya sembari membuka tangan nya mengisyaratkan wanita itu untuk datang ke pangkuan nya.


Ainsley tersenyum tipis dan mendekat lalu kemudian duduk diatas paha suami nya.


"Axel katanya sedang ada pertemuan orang tua, aku boleh keluar?" tanya nya lirih sembari menatap mata pria itu.


Richard langsung kembali menatap layar laptop nya, "Pelayan saja yang pergi dengan nya."


Wanita itu mengernyit, ia tau jika suami nya tak akan dengan mudah memberikan ia izin.


"Tapi kan aku ibu nya, boleh kan?" tanya nya lagi dengan membujuk sembari menyentuh dan mengusap wajah tampan pria itu.


Richard menangkap tangan halus yang menyentuh wajah nya, ia mencium telapak tangan wanita itu lalu menatap iris hijau di depan nya.


"Akan banyak yang melihat mu, aku tidak suka." ucap nya dengan suara rendah dan melihat ke arah sang istri.


"Mereka kan hanya lihat, lagi pula aku juga tidak akan kemanapun selain ke sekolah." bujuk wanita itu lagi.


Pria itu tak menjawab, setiap kali ia tau istri nya ingin keluar dari mansion nya tanpa dirinya, ia selalu merasa cemburu.


Kecemburuan tak mendasar yang terus membuat nya takut jika wanita itu memiliki kesempatan kabur dengan pria lain.


"Anting nya bagus kan dengan mu?" tanya nya mengalihkan perhatian dan menyentuh telinga wanita itu.


Ainsley diam mendengar pertanyaan tersebut.


Sejak hari di mana ia memberikan gelang nya, pria itu juga mengganti semua barang-barang yang ia miliki, semua yang pria itu tau bukan ia yang membelikan nya.


Bahkan termasuk barang-barang yang memang di beli sendiri oleh wanita itu.


"Tentu, kan kau yang belikan." ucap nya tersenyum.


"Hm, jangan pakai yang di berikan pria lain." jawab nya sembari terus memangku dan mengusap punggung wanita itu.


"Kan aku tidak pernah pakai apapun dari pria lain," jawab nya segera.


"Tapi kau menyimpan nya," ucap Richard langsung dengan mendengus.


Ainsley terbungkam, ia pun menjatuhkan kepala nya ke pundak pria itu sembari ikut melihat ke arah laptop yang di depan mereka.


"Jadi aku boleh keluar kan? Sayang..." ucap nya lirih dan membuat pria itu langsung menoleh.


"Kau hanya memanggil ku begitu kalau ada mau nya saja," jawab Richard pada wanita itu dengan datar walaupun ia sangat menyukai nya.


Ainsley mengernyit, biasanya pria itu akan suka jika ia panggil demikian.


"Tidak suka? Sayang? Richard?" panggil nya lagi.


Pria itu masih bersikap biasa saja, walau ia sudah sangat gemas.


"Suami ku sayang..." panggil wanita itu lagi yang mulai menggoyahkan pertahanan pria itu.


Ia kembali menoleh, melihat ke arah mata yang melihat nya heran dengan iris hijau yang membesar.


Humph!


Mata wanita itu membulat saat tiba-tiba bibir nya di sambar, namun ia memejam dengan perlahan dan tak mendorong pria itu.


Hisapan kecil di bibir nya yang semakin berubah agresif dan terkadang menggigit bibir wanita itu membuat nya semakin suka menghapus pola lipstik di bibir istri nya.


"Hua..."

__ADS_1


"Huhu, Daddy jahat! Mommy kenapa di makan? Huhu..."


Tangisan yang terdengar membuat membuat kedua orang yang tengah berciuman itu tersentak.


Richard pun langsung melepaskan pangutan nya dan menatap ke arah sumber suara begitu juga dengan Ainsley.


Wanita itu langsung beranjak turun dari pangkuan suami nya dan mendekat ke arah putra nya yang menangis tersedu.


"Kenapa sayang? Hey? Jangan nangis," ucap wanita itu dan satu hamburan pelukan langsung melekat pada nya.


"Mommy kenapa di makan di Daddy?" tanya nya sengugukan.


Richard pun bangun dari duduk nya dan melihat serta ke arah putra nya, ia pun tak sadar jika putra nya masuk dan melihat hal yang belum di mengerti nya itu.


"Daddy gak makan Mommy, jangan nangis nak." ucap wanita itu sembari mengelus punggung putra nya yang gemetar karna tangis nya.


Axel pun melepaskan pelukan nya dan melihat ke arah bibir sang ibu yang memerah.


"Itu bibil Mommy luka kalna di gigit Daddy," ucap nya yang masih menangis sembari menunjuk bibir ibu nya.


"Tadi Daddy gak makan Mommy," ucap pria itu pada putra nya.


"Enggak! Daddy gigit Mommy! Axel aja lihat sendiri tadi!" ucap nya langsung dengan tangis nya.


"Daddy tadi itu cium Mommy bukan gigit," ucap nya gamblang dan membuat mata sang istri membulat.


"Cium? Kok cium nya beda?" tanya nya lagi yang bingung.


"Hush! Bilang apa sih? Sama anak-anak?" ucap Ainsley kesal pada suami nya.


"Mommy? Kok Daddy cium nya beda?" tanya nya lagi dengan mata yang bingung namun masih berair.


"Karna Daddy kan suka sama Mommy makanya cium nya begitu," jawab pria itu.


"Telus Daddy gak suka Axel? Daddy gak pelnah gigit Axel Mommy juga," tanya nya dengan bingung.


"Daddy sama Mommy juga suka Axel, tapi yang boleh cium seperti itu cuma buat yang suka kalau sudah besar, Axel kan masih kecil." ucap Richard pada putra nya.


Duk!


Ainsley tak lagi bisa menahan telinga nya, suami nya mengajari hal yang terlalu dini untuk di dengar oleh putra nya.


"Nanti Mommy di gigit Daddy lagi?" tanya nya dengan khawatir.


"Engga sayang, Daddy itu gak gigit Mommy kok, Daddy kan sayang Mommy." ucap nya lagi dengan senyuman pada putra nya.


Richard hanya melihat wanita itu dengan senyuman tipis di bibir nya.


Setelah pangeran kecil itu keluar langkah panjang pria itu pun ikut dan mengunci pintu ruangan kerja nya dengan rapat.


"Kenapa di kunci?" tanya Ainsley mengernyit.


"Kau kan mau membujuk ku? Biar tidak ada hambatan." jawab pria itu mendekat.


"Hambatan untuk ku atau untuk mu?" tanya wanita itu saat tubuh nya perlahan di dorong ke ke belakang oleh suami nya.


"Untuk kita," jawab pria itu tersenyum.


"Masih siang," jawab Ainsley sembari mendorong pelan karna tak ingin energi nya habis sebelum malam.


"Kau mau keluar berapa lama nanti? Di pertemuan orang tua?" tanya Richard sembari menyusupkan tangan nya di balik Blouse setinggi paha wanita itu.


"Entahlah, mungkin hanya tiga jam." jawab Ainsley dan berpikir.


"Kapan kau akan pergi?" tanya pria itu sembari semakin mengendus aroma istri nya.


"Seminggu lagi," jawab Ainsley yang mengingat panggilan untuk pertemuan orang tua putra nya tadi.


"Kalau begitu kita juga tiga jam yah?" ucap Richard sembari menarik blouse yang di kenakan istri nya.


Mata wanita itu membulat mendengar nya, habis sudah tenaga nya untuk siang ini.


Humph!


Satu lum*tan agresif dengan tangan nakal yang semakin menggerayangi tubuh indah tersebut.


......................

__ADS_1


Tangan yang mulai bosan memainkan permainan di tangan nya membuat anak kecil tersebut memilih untuk berjalan keluar dari ruangan tunggu tempat ia di jemput.


"Daddy kalau jemput aku pasti lama!" dengus nya kesal dan mulai bermain keluar wilayah sekolah nya.


Kaki kecil nya berlari mengejar bola yang terlepas dari tangan nya, hingga.


Duk!


Tubuh mungil itu terjungkal kebelakang saat menabrak seseorang yang lebih tinggi dan besar dari ukuran tubuh nya.


"Hey? Kau tidak ap-"


ucapan yang terhenti saat ia melihat wajah anak kecil yang mirip dengan seseorang yang ia kenal.


"Aduh! Sakit..." jawab Axel meringis sembari melihat tangan nya.


"Jangan lari-lari, bahaya! Orang tua mu di mana?" tanya pria itu sembari mengangkat tubuh kecil yang masih terduduk itu.


"Nungguin Daddy jemput Axel tapi lama!" jawab nya dengan wajah cemberut.


"Axel? Nama mu siapa?" tanya pria lagi.


"Axel! Axel Millel Zinchanko," jawab nya yang masih tak lancar mengucap nama nya.


Pria itu terdiam sesaat mendengar nya, tebakan nya benar.


Anak yang dulu nya masih bayi yang tak bisa bicara kini sudah menemui nya dan mampu berbicara serta berlari dengan cepat.


Mata kecil itu teralihkan dengan suara yang terdengar menjual permen kapas berbentuk kepala beruang yang imut dan besar.


"Axel mau itu?" tanya nya lagi sembari menunjuk apa yang dilihat oleh anak kecil tersebut.


"Axel bisa beli! Axel kan punya ini!" ucap nya sembari menunjukkan black card di tangan nya.


Pria itu tertawa kecil, pedagang seperti itu tentu nya tak akan memiliki metode pembayaran seperti di mall besar tempat yang cocok untuk kartu limited tersebut.


"Axel punya uang tunai?" tanya nya lagi.


Bocah menggemaskan itu menggeleng mendengar nya, sang ayah hanya memberi nya kartu yang ada di tangan nya dan jika ia ingin sesuatu yang lain tanpa bisa menggunakan metode pembayaran kartu maka pengawal atau pengasuh nya yang akan membelikan nya.


"Mau paman yang belikan?" tanya pria itu lagi.


"Kata Mommy gak boleh sembarangan bicala sama olang asing," jawab nya lagi.


Pria itu pun mengulurkan tangan nya, "Sean, sekarang sudah tau kan? Berarti bukan orang asing lagi."


Axel tak mengerti namun ia meraih tangan pria itu dan seluruh pikiran nya hanya di penuhi dengan permen kapas di depan nya.


"Axel bisa beli kok!" jawab nya yang keras kepala dan menghampiri penjual permen kapas tersebut.


Dan benar saja, kartu yang ia berikan tak berlaku di penjual yang hanya menerima uang tunai.


"Ini uang nya," ucap Sean sembari memberikan €500 pada penjual.


Penjual tersebut tentu nya terkejut dengan pecahan yang sangat tinggi itu dan tentu nya ia pun tak memiliki kembalian nya.


"Maaf saja tidak memiliki kembalian nya," jawab penjual tersebut dengan bingung, dengan uang segitu tentu nya mampu membeli semua permen kapas yang ia jual.


"Kalau begitu aku ambil dua lagi," ucap Sean tertawa sembari mengambil dua permen kapas kepala beruang lagi dan memberikan nya pada anak kecil menggemaskan tersebut.


"Ini rahasia yah, kalau Axel bertemu paman." ucap nya pada anak lelaki yang tengah lahap memakan permen kapas di tangan nya.


"Kenapa lahasia?" tanya nya dengan bingung.


"Karna paman beliin Axel makanan," jawab pria itu.


"Eh? Iya! Mommy kan ga bolehin Axel makan banyak pelmen kapas sama coklat! Nanti gigi Axel sakit lagi!" jawab nya yang ingat.


"Iya," jawab pria itu tertawa sembari mengusap puncak kepala anak menggemaskan tersebut.


...****************...


Oh iya 500 euro pecahan tertinggi di Prancis yah, dari 5 euro kalo ga salah dan per 1 euro 16 ribu lebih jadi kalo 500 euro sekitar 8 juta lebih gitu (Just info)😊😊😊


Jangan lupa dukungan nya yahπŸ’•πŸ’•πŸ’•


Salam luv dari othor πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


Happy readingπŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2