Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Grow


__ADS_3

Apart Venelue'ca


Sudah dua hari gadis kecil itu menginap di rumah teman nya, setiap hari di habiskan dengan bermain.


Ainsley membuka pintu kamar putra nya, posisi tidur acak kedua anak menggemaskan itu membuat nya mengetuk pintu yang sudah di buka itu agar menimbulkan bunyi.


"Bangun? Sudah pagi," ucap nya yang mulai mendekat ketika kedua anak tersebut mulai bangun.


Axel mulai muka mata nya begitu pula gadis kecil itu.


"Mommy buat salmon grill kesukaan Axel loh," ucap nya pada putra nya.


Sedangkan Emily mulai duduk dan merenggangkan tubuh nya, "Tante buatin sup jamur untuk Lily, Lily suka kan?" ucap nya pada gadis kecil itu.


Tinggal selama dua hari dengan gadis yang sama seperti putra nya yang suka berceloteh membuat nya tau apa yang di sukai gadis itu.


Emily pun langsung tersenyum cerah ketika merenggangkan tubuh nya saat mendengar makanan yang ia sukai di masak.


Sedangkan Axel menatap terbalik ke ibu nya karna masih belum beranjak dari tempat tidur nya.



"Mommy gendong," ucap pria kecil itu yang masih suka bermanja dengan sang ibu.


"Axel gak malu minta gendong? Lily aja gak minta di gendong?" ucap Ainsley sembari mendekat dan menggelitik perut putra nya.


Pria kecil itu langsung tertawa lepas ketika merasakan tangan sang ibu menggelitik nya.


"Axel kan sayang Mommy," bujuk nya dan mulai bangun lalu bergelanyut ke punggung sang ibu agar tubuh kecil nya bisa terangkat ketika Ainsley bangun.


Ainsley pun membiarkan nya, ia bangun dari duduk nya dan pria kecil itu pun langsung tergendong secara otomatis di punggung nya.


"Lily sini," ucap nya dengan lembut sembari memberi kan tangan nya agar gadis itu kecil itu menggandeng nya.


Emily yang memang mudah akrab itu pun tanpa ragu meraih tangan ibu teman nya dan mengikuti nya.


Sesekali ia mengganggu Axel yang berada di gendongan hingga membuat pria kecil itu turun dan membalas nya.


Suara tawa kedua anak kecil itu pun kembali pecah seketika.


Ainsley hanya membuang napas nya dengan pelan dan tersenyum tipis, ia senang putra terlihat begitu bahagia ketika memiliki teman seusia nya.


...


"Lily! Sini!" ajak Axel dengan semangat ketika bermain di lingkungan apart nya.


Gadis kecil itu pun berlari mengikuti apa yang di katakan teman nya.


Bruk!


Karna terlalu semangat pria kecil itu jatuh terjerungap ke bawah saat kedua kaki nya tersandung.


Para pengasuh pun segera mendekat dan menolong nya, tangan yang terluka serta baju yang menjadi kotor.


"Sakit yah? Axel nangis?" tanya Emily dengan polos sembari melihat luka di tangan teman nya.


"Engga! Axel gak nangis!" ucap Axel dengan mata yang mulai berair sembari mengusap air mata nya sebelum jatuh.


"Itu Axel nangis," ucap Emily sekali lagi sembari melihat mata teman nya yang berair.


Wajah yang tadi nya diam saja itu mulai berubah, "Hu... Hua..." sedetik kemudian pria kecil itu mulai menangis.


Tangisan yang seakan seperti virus untuk gadis kecil itu membuat mata nya ikut berair juga, "Hua..." ia pun mulai ikut menangis hingga membuat pengasuh yang menjaga mereka menjadi kebingungan.


"Emily kenapa nangis?" tanya salah satu pengasuh.


"Lily ikutan aja kalna lihat Axel nangis, huhuhu...." jawab nya polos dengan air mata yang ikut bercucuran.


Axel yang sebenarnya sudah ingin diam namun tak jadi karna melihat teman nya yang sudah ikut menangis membuat durasi air mata nya bertambah.


"Hey kenapa? Axel kenapa?"


Suara yang membuat pria kecil itu diam sejenak dan melihat ke arah nya.


Pria yang ia benci karna merasa sang ibu akan diambil dari nya.


"Bukan ulusan paman!" ucap nya dengan segera pada pria itu.

__ADS_1


"Sini paman lihat tangan nya," ucap Sean sembari melihat telapak tangan Axel yang lecet.


"Gak apa-apa kok ini," ucap nya sembari meniup nya dengan lembut dan bertanya apalah para pengasuh itu membawa plester.


Axel ingin menarik nya, ia menatap benci dan tak suka namun ia membiarkan tangan nya di tiup dengan pelan.


"Pakai ini," ucap nya Sean sembari memasangkan plester pada tangan mungil itu.


"Huh! Gak usah deket-deket Axel!" ucap Axel dengan tatapan yang masih sama walaupun ia sudah membiarkan pria itu mengobati tangan nya.


"Tapi paman mau nya deket Axel," ucap Sean dengan senyuman kecil nya melihat wajah marah anak berumur lima tahun itu.


"Ini siapa?" tanya nya ketika melihat Emily yang masih menangis walaupun sudah penghujung tangis nya.


"Mau ini?" tanya nya sembari memberikan permen coklat nya pada gadis kecil itu.


Emily pun melihat nya, anak kecil yang polos dan naif itu pun mulai meraih apa yang di berikan oleh pria itu.


"Axel mau juga?" tanya nya sembari memberikan pada pria kecil itu.


Namun bukan nya mengambil ia pun langsung memukul dan melempar permen coklat itu.


"Axel?"


Suara yang langsung membuat anak kecil itu langsung lari ke pelukan sang ibu.


"Mommy bilang gak boleh begitu kan?" tanya Ainsley yang baru saja pulang namun sudah melihat putra nya yang kembali bertindak tidak sopan.


"Mommy ayo pelgi, kita pulang..." ucap nya memelas yang tak ingin sang ibu berbicara pada pria itu.


Ia begitu menghalangi interaksi antara sang ibu dengan pria yang ia panggil paman karna tak ingin apa yang ia takutkan terjadi.


"Tidak apa-apa, dia masih anak-anak." ucap Sean pada wanita itu.


"Maaf," ucap Ainsley lirih sembari mengandeng putra nya dan tak lupa mengambil gadis kecil itu bersama nya.


Sesampainya di apart, ceramah kecil pun mulai berjalan agar putra nya tau cara menghormati orang lain dan tak menjadi arogan.


"Axel kayak gitu cuma ke paman Sean aja kok Mom!" ucap nya pada sang ibu dengan mata berair.


"Mommy cuma butuh Axel." ucap nya dengan lembut sembari mengusap rambut putra nya.


Axel tak mengatakan apapun lagi, namun ia pun turun dan beranjak masuk ke kamar nya saat gadis kecil itu menunggu nya sembari memainkan mainan teman nya.


Ainsley membuang napas nya dengan lirih, ia melihat emosi meledak-ledak putra nya namun ia berusaha bersabar dan memberi tau nya dengan cara yang baik.


......................


Tiga Bulan kemudian.


Wanita itu kini mulai aktif mendatangi beberapa pesta perusahaan.


Sudah banyak yang mengetahui status janda nya dan banyak pria buaya yang mulai mendekat pada nya untuk merayu.


Ia tau para pria itu mencoba menggoda nya lalu mencari keuntungan dari nya namun ia tak bisa menolak ataupun memaki nya secara terang-terangan karna berada di acara formal.


Hanya senyum kaku yang terlihat di wajah nya yang mulai tak nyaman.


"Kau di sini? Padahal aku sudah mencari mu dari tadi."


Suara yang membuat nya langsung menengandah dan menatap ke arah suara pria itu.


Ainsley bernapas lega, entah mengapa ia merasa lega saat melihat pria yang datang pada nya.


Sean pun memulai pembicaraan nya, ia menatap wanita itu sesekali dan melihat pada pria yang mulai tak nyaman karna tak ada yang bisa mereka anggarkan lagi ketika kalah telah dalam berbicara.


"Mau keluar?" ajak pria itu pada wanita yang masih memegang gelas wine nya.


Ainsley pun meletakkan nya dan mengikuti arah pria itu tanpa sadar ketika kaki nya melangkah karna di dalam pikiran nya sudah mulai pengab akan tempat tersebut.


"Di sini lebih nyaman kan?" tanya Sean tertawa kecil.


"Kita juga pertama kali bertemu di balkon juga kan?" tanya Ainsley tertawa kecil.


Ia memang mengurangi interaksi nya namun bukan berarti ia membenci pria itu, terkadang ia mengobrol ataupun berbicara sesekali dalam beberapa Minggu.


"Kau tidak boleh menyentuh alkohol," ucap nya pria itu dengan tawa kecil nya ketika mengingat wajah memerah yang tengah mabuk kala itu.

__ADS_1


"Tapi mereka terasa manis," ucap nya dengan senyuman tipis sembari merasakan sapuan angin lembut yang melewati wajah nya.


Wanita itu memejam sesekali merasakan udara bebas yang membuat nya bernapas dengan lega.


Pria itu tak mengatakan apapun namun ia hanya melihat nya.


Ia tak tau apa kah ia masih memiliki harapan atau tidak pada wanita yang sudah membangun tembok di hati nya itu namun ia tetap saja suka ketika bisa di samping wanita itu.


Penolakan dari putra wanita itu masih sama untuk nya namun ia malah menganggap pria kecil itu seperti anak manis yang menggemaskan.


......................


11 Tahun Kemudian.


Apart Venelue'ca


"Mom? Mommy lihat jas sekolah ku tidak?"


Suara seorang pria yang kini sudah mulai memasuki usia remaja ke dewasa nya.


"Di laci," jawab wanita itu singkat sembari meletakkan makanan di atas meja untuk mereka sarapan.


Langkah yang terburu-buru itu pun langsung melangkah keluar sembari memakai jas nya.


"Morning Mom," ucap nya sembari mengecup sekilas pipi ibu nya.


Tangan nya mengambil dengan cepat sarapan yang di buat sang ibu dan tentu saja pilihan nya masih sama yaitu sandwich yang rutin ia ambil.


"Axel! Makan yang benar!" ucap wanita itu dengan kesal melihat putra nya yang selalu makan sedikit saat sarapan karna hampir terlambat pergi ke sekolah.


"Axel terlambat Mom," ucap nya sembari menoleh sejenak.


"Yaudah sekalian Mommy mau ke perusahaan biar anter kamu dulu," ucap Ainsley pada putra nya dan mendekat menyusul putra nya.


Langkah pria yang mulai beranjak dewasa itu terhenti melihat sang ibu dan mengernyit.


"Jangan ikut antar!" ucap nya dengan dengan nada penolakan pada sang ibu.


"Kenapa?" tanya Ainsley dengan bingung pada putra nya.


"Teman aku banyak yang minta nomor Mommy!" ucap Axel mengeluh pada sang ibu.


Walaupun waktu berlalu, ibu nya seperti vampir yang tak terlihat menua.


Tetap cantik seperti yang ia ingat dalam kelapa nya ketika masih kanak-kanak.


Tubuh yang kecil dan mungil dan masih bagus lalu wajah yang masih begitu terlihat awet muda membuat banyak teman sekolah anak tampan itu mengincar wanita yang mereka kira bukan ibu nya.


"Tinggal bilang kalau Mommy ini Mommy kamu," ucap Ainsley tertawa sembari mencubit pipi putra nya yang bagi nya terus menerus seperti anak kecil.


"Udah! Tapi mereka malah bilang mau ganti tipe cari Sugar Mommy!" ucap nya yang dengan nada kesal karna ia masih sama.


Ia tak ingin sang ibu menikah lagi, karna bagi nya ayah nya hanya satu.


Dan tak ingin posisi sang ayah di gantikan oleh siapapun.


Ia tau jika mungkin sang ibu memiliki seseorang yang di sukai dan ia tau seseorang itu juga menyayangi dan menerima nya walaupun sikap nya masih ketus seperti sebelum nya namun anak mana yang ingin melihat ibu nya menikah lagi?


Mungkin egois namun ia tetap ingin ibu nya hanya untuk sang ayah.


Ainsley hanya tertawa mendengar ucapan putra nya yang memang terlihat benar-benar kesal.


"Yasudah Mommy langsung ke perusahaan yah? Baik-baik di sekolah." ucap nya sembari mengusap kepala putra nya dan berjalan lebih dulu.


...****************...


Oh iya othor mau bilang, kalau ada reinkarnasi Richard Ainsley itu di akhir setelah main story tamat.


Dan Axel tentu nya bukan yah, kan gak mungkin si Axel sama Mommy nya kan?


Jadi reinkarnasi itu sekaligus semua nya maka nya othor bilang nya di akhir seperti spin off atau side story.


Yauda ini aja dulu jangan lupa dukungan nya dan Happy reading.


Spin off nya mau othor buat abis lebaran sih apa kelamaan? Biar kalau nanti panas" gak bikin puasa pembaca batal awkwko


Okey Uda dulu pemberitahuan nya and Happy readingπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2