
Wajah yang terlihat kesal dan ketus menatap pria di depan nya.
"Kau tidak bisa menjaga nya? Padahal dia itu istri mu! Apa menjaga satu wanita saja tidak bisa?" tanya Fanny dengan marah sekaligus merasa gelisah di saat yang bersamaan.
Richard hanya memilih diam tak meladeni ucapan sang mertua yang begitu menyalahkan nya atas sesuatu yang terjadi pada istri nya.
"Fan, cukup. Kita cari jalan yang terbaik." bisik Michele pada wanita itu yang terlihat begitu gelisah.
"Mau cari donor jantung itu di mana? Apa lagi dengan waktu yang sempit? Golongan darah kita saja beda dengan Ainsley!" ucap nya yang merasa marah dan panik sekaligus pada sang suami.
Baru saja ia mulai menyayangi putri nya namun begitu banyak hal yang membuat nya tak bisa melakukan apapun.
"Okey, kita pasti bisa cari jalan keluar nya." ucap nya pada sang istri.
Sejak awal ia memang memiliki golongan darah yang berbeda, karna ia memiliki golongan darah A negatif dan sang istri yang B negatif sedangkan putri kecil mereka memiliki golongan darah AB negatif.
"Grandma kenapa malahin Daddy? Daddy tuh tiap hali cali cala buat bikin Mommy bangun, Daddy sampai gak tidul," ucap Axel membela sang ayah ketika nenek nya menyalahkan ayah kesayangan nya.
Clarinda yang masih berada di sana pun segera mendekat ke arah anak kecil yang terlihat sendu itu.
"Axel? Ikut sama Grandma mau? Makan coklat kita?" ajak nya agar anak kecil itu tak mendengar sesuatu yang mungkin akan menyakiti perasaan rapuh nya.
Axel menggeleng, ia menatap wajah wanita di depan nya.
"Axel mau nya Mommy bukan coklat..." jawab nya yang sembari terus menempel pada sang ayah.
Richard pun melihat putra nya yang terus berdiri dekat kaki nya sembari memegang erat tangan nya.
Ia pun mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongan nya.
"Aku memberi tau kalian karna kalian kelurga nya," ucap nya sembari menepuk pelan punggung putra kesayangan nya.
"Dan lagi, di antara yang lain kau lah yang paling tidak pantas untuk mengatakan hal itu. Jangan terlalu sering menyalahkan orang lain." ucap nya sembari pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.
Clarinda menarik napas nya dengan lirih, ia kehilangan suami dan putra nya sekaligus dalam satu kecelakaan lalu kini sudah menganggap wanita itu sebagai putri nya.
Dan tentu saja kabar mengenai kondisi Ainsley saat ini membuat nya terkejut sekaligus merasakan kesedihan.
"Aku akan cari tentang donor yang mungkin sesuai dan-"
"Cukup! Kami tidak perlu orang luar seperti mu," ucap Fanny langsung memotong ucapan Clarinda.
Michele menatap wanita yang langsung diam dan tak mengatakan apapun lagi ketika ucapan nya di potong.
Ia menundukkan sedikit tubuh nya, "Saya berterimakasih atas kasih sayang anda terhadap putri saya," ucap nya.
Ia tau di bandingkan dengan nya ataupun sang istri, putri nya lebih menyukai dan memilih berada di dekat wanita yang mengurus nya selama tiga tahun saat menghilang dulu.
"Baik, saya akan juga akan berusaha yang terbaik." ucap Clarinda yang mengerti maksud pria itu.
Ia tau pria di depan nya ingin menggunakan status bangsawan nya untuk mencari jantung yang sesuai untuk Ainsley.
......................
Mansion Sean.
Pria itu menatap ke arah langit, ia sudah kembali dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu namun beberapa aktifitas nya tetap berada di dalam rumah untuk sementara.
"Apa lagi yang anda pikirkan?" tanya sekertaris Jhon saat melihat pria itu.
"Aku belum tau kondisi Axel, mungkin dia sudah membaik?" tanya nya menatap ke arah sekertaris nya yang sudah frustasi melihat nya.
"Anda ingin tau kabar Axel atau kabar ibu nya?" tanya sekertaris Jhon dengan tajam sembari meletakkan teh dan juga beberapa dokumen nya.
Sean tertawa kecil mendengar nya, "Mungkin kedua nya?" ucap nya yang semakin membuat pria yang selalu berpakaian formal dan rapi itu kesal.
"Seperti nya anda harus menikah," ucap sekertaris Jhon pada pria itu.
"Tidak mau, wanita yang mau ku nikahi sudah tidak ada." jawab Sean enteng sembari meminum teh yang di berikan sekertaris nya.
"Kalau begitu rebut saja dia," ucap sekertaris Jhon lagi yang kembali mengatakan kata-kata provokasi.
"Tapi selain Ainsley ada yang ingin ku nikahi," ucap nya dengan senyuman jahil pada sekertaris nya.
"Siapa orang nya? Tidak katakan saja orang nya seperti apa?" tanya sekertaris Jhon yang langsung bersemangat.
Ia tak suka jika Presdir nya berhubungan dengan mantan kekasih nya, bukan nya karna tak menyukai Ainsley namun ia tak menyukai suami wanita itu yang bagi nya selalu membawa masalah untuk nya dan pria yang memberi nya gaji.
"Tapi seperti nya aku juga tidak bisa menikahi nya, kami beda jenis." sambung Sean lagi pada pria itu.
Sekertaris Jhon mengernyit mendengar nya, beda jenis? Ia tak mengerti maksud pria di depan nya.
"Maksud anda apa?" tanya sekertaris Jhon tak bisa mengerti maksud pria itu.
Sean tersenyum, ia duduk dengan mulai menyilang kaki nya dan memangku dagu nya.
"Kenapa sih kau itu terlahir sebagai pria? Padahal kalau wanita kita pasti sudah menikah, iya kan Jhon?" ucap Sean pada pria itu dengan senyuman nya.
Sekertaris Jhon langsung membatu melihat nya, ia kehilangan kata-kata dan sangat ingin memukul kepala Presdir nya.
"Seperti nya anda mulai gila setelah kecelakaan," ucap nya yang merasa geli dengan perkataan atasan nya.
"Jhon? Kenapa bilang begitu?" tanya Sean lagi pada pria di depan nya dengan suara yang sedikit manja.
Bulu kuduk sekertaris Jhon langsung merinding mendengar nya, ia menatap wajah yang tersenyum namun mata tajam ke arah nya.
"Baik, saya tau saya terlalu lancang tapi anda memang harus mencoba menikah dan melupakan nona Ainsley," ucap sekertaris Jhon yang tau pria sekarang mencoba memarahi nya dengan cara berbeda.
Sean tetap tersenyum mendengar nya, "Kalau begitu potong bagian yang berada di antara kedua kaki mu lalu berikan tambahan danging di dada mu dan silahkan beli gaun pengantin." ucap Sean dengan mata tajam dan senyuman tipis.
Sekertaris Jhon mengernyit mendengar nya, ia merasakan ngilu saat mendengar pria itu berbicara, "Saya masih sangat normal, lebih baik anda tidak usah menikah saja." ucap nya pada pria itu.
__ADS_1
"Bagus, jadi sekarang mengerti untuk tidak menganggu urusan pribadi ku lagi?" tanya Sean pada sekertaris nya.
"Baik, tuan." jawab sekertaris Jhon pada Sean.
"Kau bisa keluar sekarang," ucap nya sembari mempersilahkan arah pintu pada sekertaris nya.
"Tinjauan dokumen nya harus di selesai kan besok pagi, saya harap anda mengingat nya." ucap sekertaris Jhon sebelum pergi.
"Aku akan ingat kalau berhenti menyuruh ku untuk menikah," ucap Sean pada pria itu.
Setelah sekertaris Jhon pergi dan kini hanya ia sendiri di ruangan kamar nya.
Ia membuat napas nya dengan panjang, masih tak bisa melupakan bayangan masa lalu memang sangat menyiksa nya.
Namun siapa yang mau seperti itu?
Ia juga tak ingin seperti itu tapi kenyataan nya tak semudah yang dibayangkan atau pun di ucapkan.
"Apa pria itu sering menyakiti nya?"
"Apa seperti aku dulu?" gumam nya yang terus bertanya-tanya pada di kepala nya.
"Apa seharusnya aku memang tidak mendekati mereka lagi? Tapi aku juga kan tidak ber-"
Deg!
Ia tiba-tiba tersadar, ia memang ingin melepaskan, ia hanya ingin melihat dan juga hanya sekedar menemui putra wanita itu.
Namun semakin lama ia juga menginginkan yang lain nya, ia ingin dari sekedar hanya melihat atau memperhatikan menjadi berteman.
Lalu setelah pertemanan ia marasa kurang dan menginginkan lebih lagi.
"Ku rasa aku jadi egois lagi sekarang..." gumam nya lirih saat sadar akan sesuatu.
......................
Pria kecil itu tertidur di pangkuan nya ketika ia mengusap kepala nya dengan lembut.
Sedangkan bawahan nya yang selalu berada di pihak nya pun berdiri di depan nya.
"Kau belum menemukan yang sesuai?" tanya Richard lagi.
Liam masih diam mendengar ucapan pria itu, karna sangat sulit untuk menemukan jantung yang sesuai apalagi jika kondisi si penerima donor sudah sangat parah.
"Jantung yang waktu itu, apa mereka sudah memasang nya?" tanya nya lagi.
"Sudah tuan," jawab Liam pada tuan nya.
"Apa menurut mu kita mengambil nya saja?" tanya Richard lagi sembari sesekali melihat ke arah laptop nya.
"Dia memakai narkotika dan juga meminum alkohol pasca operasi dan saya pikir mungkin..." jawab Liam pada tuan nya.
Richard diam sejenak, ia tau maksud Liam yang tak mungkin memakai jantung yang seperti itu sedangkan jantung yang benar-benar sehat saja mungkin tidak akan cocok juga pada istri nya.
"Jaringan aplikasi data penduduk, coba untuk retas juga." ucap nya pada Liam.
Mata Liam membulat sempurna mendengar nya, ia tau dan sadar jika mereka memang sudah bekerja sama dengan beberapa kepemerintahan maka dari itu mereka tetap bisa tinggal dan aman walaupun begitu banyak tindak kriminal yang di lakukan.
"Data penduduk? Kalau kita ketahuan, ini tidak akan menjadi masalah yang ringan," ucap Liam seketika.
Mungkin jika hanya orang kecil tak akan terlalu masalah namun yang menjadi masalah adalah dalam satu negara akan ada begitu banyak orang-orang berada di kalangan atas dan juga akan masuk ke dalam masalah negara.
Bahkan masalah negara juga akan dapat bocor dan tentu nya hal itu sangat berisiko pada mereka.
Yang mungkin nanti nya akan menimbulkan masalah yang tak akan bisa di tangani lagi.
"Aku sudah retas sebagian," ucap Richard dengan datar saat melihat wajah bawahan nya yang begitu terkejut mendengar perkataan nya.
"Apa?!" tanya nya yang terkejut mendengar nya.
"Pelan kan suara mu, Axel bisa bangun!" ucap nya dengan mata tajam dan menatap ke arah pria itu.
Liam pun langsung menutup mulut nya dan menatap pria yang duduk di depan nya.
"Kita hampir tidak punya pilihan? Anda tidak bersikap rasional seperti biasa nya," ucap Liam yang tau jika waktu mereka di ujung tanduk.
Apapun yang di lakukan mungkin tetap saja akan memiliki akhir yang sama.
Richard tertawa mendengar nya, "Tidak rasional? Ini keputusan yang paling rasional yang ku buat, dia hampir mati setiap detik dan kau mau hanya diam saja melihat nya?" tanya pria itu menatap pria di depan nya.
"Tapi tetap saja, Anda bukan Tuhan atau Dewa yang memegang ataupun mencegah nyawa orang lain," ucap Liam pada pria itu.
Memang sedikit kasar untuk di katakan pada pria yang ia hormati namun hal itu adalah kebenaran nya.
Tuan nya bukan lah Dewa atau Tuhan yang bisa dengan mudah mengembalikan kehidupan orang lain dengan sesuka hati.
"Anda mungkin bisa membunuh seseorang, tapi menghidupkan seseorang yang telah mati anda tidak akan bisa melakukan nya," sambung nya lagi pada pria itu.
Hal yang bagi nya tak akan berguna dan hanya menimbulkan resiko yang mengancam pada hal yang tak pasti.
Richard mengepal mendengar nya, ia mengambil teh di samping laptop nya dan melempar ke arah pria di depan nya yang bagi nya sudah lancang.
Prang!
Gelas yang berhamburan serta kepala yang mulai mengalirkan cairan merah kental membuat pria itu terdiam.
Sedangkan Axel langsung terbangun begitu mendengar suara yang mengejutkan nya dengan tiba-tiba.
"Seseorang yang telah mati? Kau pikir dia sudah mati? Dia masih hidup! Berani sekali kau mengatakan dia sudah mati!" ucap nya dengan geram.
"Daddy?"
__ADS_1
Suara yang terdengar lirih tengah merengek pada nya ketika ia terkejut.
Pria itu langsung tersadar begitu mendengar suara putra nya, "Axel bangun?" tanya nya yang langsung berubah lembut seketika.
Axel pun mengangguk dengan wajah yang masih terlihat sangat mengantuk namun terkejut secara bersamaan.
"Daddy? Kenapa malah?" tanya nya lirih sembari memeluk sang ayah.
Richard diam sejenak, rasa emosi nya perlahan turun ketika merasakan pelukan dari putra nya.
"Daddy gak marah kok, Axel jadi takut yah?" tanya nya dengan lembut sembari menggendong putra nya.
Anak lima tahun menggemaskan itu pun mengangguk dengan pertanyaan sang ayah.
"Sekarang Axel tidur lagi yah," ucap nya pada putra nya lalu kembali menidurkan anak menggemaskan itu lagi.
Axel yang memang mengantuk pun mulai kembali memejam ketika berada di gendongan sang ayah yang terus menepuk punggung nya dengan lembut.
"Kau lebih baik perhatikan lagi ucapan mu," Richard yang berbicara sembari memincing tajam pada bawahan nya itu.
"Baik tuan," ucap Liam sembari menundukkan tubuh nya meminta maaf dan keluar dari tempat itu.
Ia tau, ia membuang napas nya dengan kasar, melihat tuan nya yang bersikap bodoh dan ceroboh dengan mengambil keputusan tergesa-gesa.
Ia tau jika waktu yang mereka miliki sangat sedikit apalagi dengan kondisi Ainsley yang semakin memburuk dari hari ke hari.
Tidak ada siapa yang tau apakah hari esok akan tetap ada detak yang sama di dalam monitor pengantau nya.
...
Pip...pip....pip...
Suara yang saling bertaut, tubuh kecil yang gemetar ketakutan begitu melihat para pria dengan jubah putih yang datang ke ruangan sang ibu.
"Siapa yang melepas ini?!" tanya dr. Terry saat tau salah satu alat penyokong yang di gunakan di tubuh wanita itu di matikan dengan cara melepaskan salah satu kabel pada mesin.
Richard pun datang ketika ia mendengar kabar tentang kondisi sang istri.
"Daddy?" panggil Axel yang menangis ketakutan memeluk sang ayah.
"Axel tadi yang lepas, Axel gak tau..."
"Mommy kayak gak nyaman makanya Axel mau coba bantuin..." ucap nya polos dengan tangis tersedu-sedu.
"Axel!" panggil Richard frustasi.
Kondisi yang sudah memburuk kini semakin di perparah dengan kecerobohan putra nya.
Ia menghela napas nya, mungkin saja hal itu bukan lah kesalahan putra nya melainkan kesalahan nya yang tak mengawasi dengan benar dan membiarkan anak kecil berada di tempat itu sendirian.
"Sorry Dad..." tangis Axel yang merasa sangat bersalah.
Sedangkan dr. Terry yang tengah berusaha untuk mengembalikan situasi agar terkendali semakin kesulitan.
"Berikan," ucap nya pada pada perawat yang telah menyiapkan obat di tangan nya dan juga alat dengan bentuk jarum yang panjang.
Namun nihil, angka yang keluar bersama dengan gravik yang datang bukan lah yang sesuai keinginan nya.
Ia pun berbalik ke arah Richard yang tengah melihat putra nya yang menangis dan meminta maaf.
"Bisakah kita bicara?" tanya nya pada pria itu.
Richard pun mengangguk, ia menggendong Axel dan memberikan nya pada Clarinda yang baru saja sampai.
"Ainsley kenapa?" tanya Clarinda dengan suara serak karna tangis nya saat berlari dengan cepat ke tempat itu.
Richard tak menjawab dan hanya menyerahkan putra nya lalu beranjak pergi.
dr. Terry pun terlihat menarik napas nya dan mempersiapkan perkataan yang akan ia keluarkan pada pria yang sangat keras kepala tersebut.
"Sebaik nya anda mempersiapkan diri anda, saya harap anda bisa segara melalui semua ini." ucap nya pada pria itu.
Richard mengernyit menatap pria di depan nya.
"Apa maksud perkataan mu?!" tanya Richard menatap pria itu dengan hawa gelap yang menyelimuti nya.
"Ibu Ainsley tidak akan bertahan lagi," ucap dr. Terry dengan lirih.
Deg!
Dada pria itu seperti tersambar petir mendengar nya, tentu saja ia tak menerima ucapan tersebut.
"Bukan nya kau bilang dia bisa selamat jika dapat jantung?!" tanya Richard seketika.
"Benar, tapi sampai sekarang ibu Ainsley masih belum mendapatkan yang sesuai dan lagi waktu pencocokan, pengambilan kedua jantung serta pemasangan nya tak akan cukup dengan waktu yang sangat singkat ini," ucap dr. Terry langsung, ia mengatakan hal tersebut agar pria di depan nya menyerah pada hal yang akan sia-sia.
"Jantung ku? Bukankah jantung kami cocok?" tanya nya seperti hilang akal.
Ia tak mampu memikirkan apapun lagi, sekarang ia tau rasanya di pisahkan dengan seseorang yang sangat di sayangi.
Ia kini dapat mengerti betapa putus asa nya wanita itu ketika ia tak mengizinkan nya untuk menemui putra nya hingga memilih untuk mati.
dr. Terry terdiam, selain ilegal untuk mengambil jantung orang yang masih hidup dan sehat ia juga mempertimbangkan kondisi Ainsley yang mungkin saja tetap tak akan selamat walaupun sudah mendapatkan jantung baru.
"Itu terlalu beresiko, anda harus pikirkan putra anda juga." ucap nya yang tak ingin anak kecil menggemaskan itu malah kehilangan kedua orang tua nya.
"Berapa lagi waktu nya?" tanya Richard yang seperti tak menghiraukan saran dari pria berkacama di depan nya.
"Dua kali dua puluh empat jam, mungkin itu waktu terlama jika ibu Ainsley tetap dapat bertahan." ucap dr. Terry lagi.
Ia sudah mengisyaratkan dari setiap kata nya bahwa tidak ada kepastian jika wanita itu akan bertahan walaupun sudah mendapat kan jantung baru.
__ADS_1
"Aku tidak bisa kehilangan nya," ucap Richard bergumam mendengar nya.