
Rintik gerimis yang mulai hilang, suara isakan lirih yang kini mulai tenang.
Wanita itu mengusap air mata nya, ia pun mulai perlahan menyadari lingkungan nya yang basah serta genangan lembab dari air yang jatuh.
"Hujan?" gumam Ainsley lirih sembari melihat ke arah sekitar nya.
Ia pun mulai bangun, di atas heels nya yang tidak terlalu tinggi itu.
Payung hitam dengan punggung yang basah berjalan menjauh dari nya, ia hanya melihat tanpa memanggil sama sekali.
"Nyonya? Anda masih belum kembali?"
Suara yang membuat fokus nya kembali teralihkan dan melihat ke arah suara.
"Maaf, aku akan kembali sekarang." ucap Ainsley pada Liam.
Liam pun diam dan mengikuti langkah wanita itu lalu membuka kan pintu mobil berwarna hitam itu.
......................
Mansion Zinchanko
Seperti tak ada yang berubah ketika ia kembali ke tempat itu setelah pengobatan ataupun pemakaman suami nya.
"Mommy?"
Suara kecil yang lirih terdengar memanggil nya, mata yang masih bengkak karna terus menangis dan juga mengecil karna kantuk namun tak bisa tidur.
"Axel? Kenapa belum tidur nak?" tanya Ainsley sembari mendekat pada putra kecil nya yang tengah mengusap mata nya.
"Axel tungguin Mommy," ucap nya lirih sembari menjatuhkan tubuh kecil nya untuk memeluk sang ibu.
Ainsley memeluk nya sejenak, ia ingin menggendong nya namun tubuh nya masih belum sanggup untuk melakukan pekerjaan yang memiliki beban berat itu.
"Iya, maaf yah Mommy pulang nya lama."
"Sekarang tidur sama Mommy yuk," ajak Ainsley pada putra kecil nya.
Axel pun mengikuti tangan halus yang menggandeng tangan kecil nya.
Wanita itu menidurkan putra nya, dan menutupi nya dengan selimut. Tangan mungil yang langsung memeluk nya dengan erat sepertu begitu takut kehilangan nya.
"Axel kangen Daddy Mom," ucap nya lirih di dalam pelukan sang ibu.
Tak ada yang bisa ia katakan pada pria kecil itu, ia hanya mengusap punggung putra nya dan mengecup kepala nya sesekali hingga anak itu jatuh tertidur.
Mata nya tak bisa tertutup, ia sedikit bingung bagaimana dengan perasaan nya.
Sedikit terasa kosong karna ia sudah terbiasa dengan pria itu, walaupun cenderung kasar dan sering memaksa nya namun ia sudah mulai biasa.
......................
Dua hari kemudian.
Sation Company
Haicchi!!!
"Sudah saya katakan air hujan tidak bagus untuk kesehatan," ucap sekertaris Jhon ketika mereka baru saja memasuki ruangan nya setelah rapat.
"Kau ini kenapa cerewet sekali?" tanya Sean pada pria itu.
Sekertaris Jhon hanya menghela napas nya mendengar ucapan pria itu.
Pergi dan pulang membawa payung namun sekujur tubuh nya bisa kuyup.
__ADS_1
"Anda sudah melihat mereka kemarin?" tanya sekertaris Jhon pada pria yang baru saja kertas dokumen di atas meja nya.
"Lihat," jawab Sean singkat sembari memperhatikan tulisan di depan nya.
"Anda ingin mencoba nya lagi?" tanya sekertaris Jhon pada pria itu.
Sean diam sejenak, ia menutup dokumen di depan nya.
"Entah lah, ku rasa akan sulit." jawab nya lirih mengingat raut sedih di wajah wanita itu di hari pemakaman.
"Lalu anda akan melakukan nya?" tanya pria itu lagi.
Sean tak menjawab ia hanya memberikan senyuman tipis pada jawaban pria itu, "Kau bisa keluar dan lanjutkan pekerjaan mu."
Ruangan yang besar dan terlihat kosong saat sekertaris nya keluar, cahaya yang masuk melintasi jendela kaca yang lebar membuat pencahayaan yang terasa baik.
"Bisa saja dia sudah menyukai nya," gumam nya sembari menutup mata nya dan merelaksasi kan otot di tubuh nya.
......................
Mansion Zinchanko
Karna keributan yang mulai terjadi di beberapa wilayah serta perusahaan saat mereka tau tak ada yang menempati posisi teratas membuat nya mulai membagi warisan dari tuan nya.
Liam mulai menjelaskan tentang pembagian warisan, harta, dan juga semua yang di tinggalkan oleh wanita itu.
Richard yang meninggalkan beberapa bagian untuk istri, putra nya, bawahan setia nya yang sudah seperti adik nya dan juga ibu angkat istri nya karna ia takut operasi tak berhasil.
"Bagian yang dia tinggalkan untuk ku, alihkan saja ke Axel. Ku rasa dia membuat nya karna takut operasi nya tidak berhasil." ucap Clarinda pada Liam karna ia tau apa yang ada di pikiran pria itu saat mencantumkan nama nya.
"Baik, saya akan mengurus nya." jawab Liam dan pengacara pun mulai mencatat nya.
Ainsley masih diam, jujur saja ia tak begitu rakus akan harta karna ia sudah merasa cukup dengan apa yang ia miliki.
"Apa Axel akan melakukan hal yang seperti kalian lakukan?" tanya nya lirih yang merasa khawatir akan putra nya melakukan pekerjaan berbahaya yang di penuhi musuh.
"Aku tau," jawab Ainsley lirih.
"Saya tau ini keterlaluan, tapi nyonya harus mulai hadir Minggu depan." ucap Liam pada wanita itu.
Yah memang realita adalah sesuatu yang tak bisa mengikuti keinginan seseorang.
Waktu yang membuat nya menjadi kejam, bahkan mungkin tanah pemakaman belum kering sama sekali dan air mata masih terjatuh namun ia harus mengesampingkan itu semua karna hidup tetap harus berjalan.
"Baik, aku akan ikut setelah kontrol dengan dr. Terry." ucap nya pada pria itu.
Clarinda pun mulai beranjak, ia tak bisa meninggalkan negara nya terlalu lama karna status nya yang masih bangsawan dan belum lepas dari urusan kenegaraan.
"Mamah sore ini pulang yah, kamu gak apa-apa sendiri?" tanya Clarinda pada putri nya.
Ainsley mengangguk pelan mendengar ucapan sang ibu, namun sejujurnya ia masih ingin wanita itu ada bersama nya.
Tapi ia tau jika ibu angkat nya tak hanya mengurus nya namun memiliki banyak kesibukan lain nya.
Tangan nya memeluk wanita itu dengan erat, ia seperti masih membutuhkan sandaran namun perlahan melepasnya.
"Iya, hati-hati yah Mah." ucap nya nya sembari melepaskan ibu angkat nya yang sangat ia sayangi.
Clarinda hanya memberikan senyuman tipis dan mengusap wajah putri nya.
"Yang kuat, kamu punya Axel..." ucap nya sembari melihat ke arah mata putri nya.
"Mamah nanti juga bakal sering ke sini, kalau kamu ada libur bawa Axel ke sana lagi." sambung nya pada Ainsley.
"Iya, Mah." jawab Ainsley tersenyum.
__ADS_1
Setelah wanita itu pergi dan juga beberapa pengacara yang ada karna menjelaskan tentang perihal pembagian harta kini hanya tinggal wanita dan bawahan dari mendiang suami nya di tempat itu.
"Aku ingin pindah rumah," ucap Ainsley memecah keheningan.
Liam langsung mengernyit mendengar nya, wanita yang bagi nya harus berduka itu malah ingin meninggalkan tempat yang paling banyak kenangan bersama tuan nya.
"Apa maksud anda?!" tanya nya pada wanita itu.
"Aku ingin hidup yang baru, aku akan besarkan Axel dengan cara ku." jawab Ainsley dengan wajah yang datar pada pria itu.
Mungkin keputusan nya terdengar tergesa-gesa, namun ia juga ingin melukai sesuatu yang baru.
Memang dalam kehidupan rumah tangga nya banyak kenangan manis yang tersimpan namun ada juga kenangan buruk di dalam nya.
Dan ia ingin keluar dari semua itu lalu hanya membawa ingatan yang terbaik bersama suami nya yang telah tiada.
Tinggal di mansion itu membuat perasaan nya menjadi tak menentu, ia semakin merasa sulit menerima keadaan nya yang seperti ini.
"Anda ingin melupakan tuan?" tanya Liam yang tentu merasa tak terima.
"Tidak, aku tidak akan melupakan nya bahkan kalaupun aku ingin." jawab nya pada pria itu.
Ia memiliki banyak hal yang ia pikirkan di kepala nya, ia ingin kesehatan mental nya membaik dengan sempurna agar bisa membesarkan putra nya dengan baik juga.
"Lalu aku ingin tanya satu hal," ucap Ainsley pada pria itu.
"Apa yang ingin nyonya tanyakan?" tanya Liam pada nya sembari menatap wanita yang di inginkan tuan nya mati-matian.
"Bukan nya kau sudah bisa terbebas, tidak ada alasan untuk mu tetap terikat dengan ku ataupun Axel." tanya wanita itu pada pria di depan nya.
"Saya tau, tapi saya menanggap jika Axel seperti keponakan saya sendiri maka dari itu saya tetap akan mendampingi nya sampai dia dewasa." ucap nya pada wanita itu.
Ainsley mengangguk sejenak mendengar nya, "Tapi istri mu sedang hamil kan sekarang?"
"Selamat atas anak pertama mu, maaf aku terlambat mengucapkan nya." ucap Ainsley yang memang berniat mengatakan nya lebih awal namun begitu banyak masalah yang terjadi bahkan sampai di hari penculikan dan juga saat ia bunuh diri.
"Mungkin ini terlambat tapi ku ingat Richard membeli sesuatu untuk istri mu, tapi ku rasa dia belum memberikan nya." ucap Ainsley lagi sembari mengingat barang yang di katakan suami nya dulu ingin di berikan untuk bawahan nya masih berapa di tempat yang sama di sudut kamar nya.
"Aku juga akan memberikan hadiah nya, akan ku kirim kan nanti ke rumah mu."
"Terima kasih nyonya," jawab pria itu pada wanita di depan.
Ainsley pun bangun dari duduk nya, banyak hal yang harus mulai ia lakukan sekarang.
*Aku akan memulai nya dari awal...
Karna kau mengatakan aku bisa hidup sesuka ku...
Aku akan melakukan nya*...
...****************...
Oh iya buat yang bingung atau mungkin kapan si Liam nikah, memang ga othor buat tapi dia memang uda ada pacar nya yah.
Lupa di eps betapa othor buat, pokok nya waktu si Axel baru" lahir deh.
maka nya othor pernah buat penjelasan kali dia itu punya mantan yang dia suka tapi meninggal dan dia bisa dapat ganti nya atau jantung cinta lagi, maka nya dia nyuruh Richard lepasin si Ainsley aja waktu itu biar ga donorin jantung nya.
Dan buat yang merasa kecewa atau giman, atau mungkin mau si Richard nya idup lagi yah ganti horor dong cerita nya๐
Jadi yang suka Richard nanti ada spin off nya, dan apa dia bakalan jadi baik nanti?
Yah othor itu sebenrnya gak bisa buat pemeran utama pria nya baik wkkw, pasti bakalan gesrek dan sedikit dajal kayak serumpun Hazel, Louis, James, Richard, dan Sean.
Yang baik kan pemeran cowok cuma Baby Zayn ๐
__ADS_1
Yang ga tau siapa mereka, mereka adalah pemeran di nopel lain nya yah wkwk
Happy reading๐๐๐