
Ainsley akhirnya memilih kembali ke mansion pria itu, ia memang risau di sepanjang perjalanan.
"Dia marah tidak yah? Kalau ku jelaskan pasti tidak akan marah kan? Sean aja dulu gak pernah marah," gumam nya lirih.
Saat melihat jalanan yang bergerak menuju mansion, ia takut namun ia tetap berpikir semua akan baik-baik saja seperti saat dulu ia menghilangkan barang yang di berikan oleh mantan kekasih nya saat mereka masih berpacaran.
Walaupun kesal karna ia seperti tak mwnjaga barang pemberian pria itu namun pria itu juga tak pernah sampai memarahi nya dengan keras kecuali hal yang bersangkutan dengan pria lain.
...
Mansion Zinchanko
Ainsley kembali, hari sudah gelap dan ia pun memasuki kamar nya.
"Dia sudah pergi?" gumam nya lirih sembari melihat di sekitar mansion dan kamar bahian ruang kerja suami nya namun masih tak ada juga pria itu.
Ia pun memutar langkah nya dan berjalan ke arah pelayan, "Paman, maksud ku Richard mana?" tanya Ainsley pada pelayan di mansion tersebut.
"Tuan tadi pergi sekitar dua jam yang lalu, tadi tuan menyampaikan pesan katanya beliau akan pulang secepat mungkin." jawab pelayan tersebut dengan sopan.
Ainsley mengangguk ia sedikit bernapas lega mendengar nya, "Axel?" tanya nya lagi.
"Tuan muda Axel berada di kamar dengan pengasuh," jawab pelayan tersebut.
Ainsley pun langsung beranjak ke kamar putra nya, melihat bocah menggemaskan itu yang tengah di jaga oleh pengasuh nya.
Ia pun tersenyum dan kembali ke kamar nya, setelah mandi dan memakai piyama tidur nya ia pun beranjak kembali ke kamar putra nya.
"Sudah aku saja yang jaga," ucap Ainsley sembari mengambil putra nya dari gendongan si pengasuh.
Tangan nya menggendong lembut dan bermain dengan putra nya, sesekali ia mencium pipi bulat yang wangi bayi itu dengan gemas.
"Main di kamar Mommy yah," ucap nya sembari menggendong putra nya.
...
Suara tawa yang menggemaskan pun terdengar, di balik bantal dan selimut Baby Axel tertawa saat sang ibu bermain cilukba pada nya.
"Ih ketawa nya anak Mommy," ucap Ainsley tersenyum sembari terus bermain dengan putra nya.
Memang obat yang paling ampuh untuk menghilangkan stres nya adalah bermain dengan sang putra.
"Axel? Nanti Daddy mu marah tidak yah? Mommy hilangin cincin nya, Mommy kan gak sengaja." ucap Ainsley sembari melihat putra nya yang terus tertawa tanpa beban.
"Ketawa terus sih? Mommy nya lagi pusing tau?" tanya Ainsley sembari mencubit gemas pipi bulat putra nya.
Waktu mulai berlalu setelah lelah berada di luar dan bermain dengan bayi menggemaksna itu ia pun perlahan tertidur dengan Axel yang masih berada di sebelah nya dan ikut terlelap.
......................
Pukul 01.45 am.
Senapan panjang dan juga mata yang melihat ke arah target nya sembari memegang pelatuk di jari nya.
DOR!!
Suara yang memecah dan di barengi dengan teriakan saat peluru tersebut menembus kepala seseorang.
"Banyak sekali lalat si*lan ini!" decak Richard karna ia segera kembali ke mansion nya.
Baginya setiap kali istri keluar maka saat kembali harus melakukan hal itu dengan nya, ia marah dan kesal jika membayangkan orang lain berbicara ataupun melihat wanita nya, dan takut jika wanita tertarik pada pria lain juga.
Bugh!
Ia tak melihat siapa yang mendekat namun dari jadwal yang ia janjikan dengan bawahan nya jika mereka akan berpencar dan kembali sekitar 15 menit lagi maka bukan ini waktu sehingga ia memukul siapa saja yang mendekat pada nya.
Ctak!
Pistol yang di arahkan pada pria yang jatuh dengan hidung berdarah tersebut.
DOR!!
Tanpa bertanya ataupun basa-basi ia langsung menembakkan peluru nya dan menghabisi beberapa orang yang menyerang nya malam itu.
...
"Tuan," panggil Liam setelah beberapa saat menghampiri pria yang tengah berdiri diatas mayat dan lumuran darah.
"Saya sudah mengepung mereka tapi kami tidak menemukan memory card nya," ucap Liam lagi.
Richard menginjak dan seakan bermain dengan bola pada kelapa yang terlihat bolong dengan senapan itu.
"Di tubuh mereka?" tanya nya sembari menoleh.
"Mereka tidak membawa nya," jawab Liam lagi.
Pria itu tersenyum dengan seringai nya, "Kulit atau bongkar perut mereka, kau tau kan orang seperti itu suka menaman sesuatu di tubuh."
"Saya sudah berencana seperti tapi saya perlu-"
"Sudah ku beri izin, lakukan saja dan kau bisa sendiri kan? Aku mau kembali." ucap nya sembari mendekat dan meminta sapu tangan untuk menghapus darah yang berada di wajah nya.
"Baik tuan," jawab Liam menunduk setelah memberikan sapu tangan bersih pada pria itu.
Richard pun kembali, ia tak sabar ingin pulang dan memeluk tubuh hangat serta kecil dari istri nya.
......................
Mansion Zinchanko
Aroma amis dan anyir yang mengikuti nya pulang setelah membunuh orang lain pun langsung ia bersihkan begitu kembali.
Ia tak bisa segara memakan tubuh kecil itu saat sudah terlanjur terlelap dalam tidur nya.
"Axel di sini juga?" gumam nya sembari mengambil dan menggendong pelan putra nya agar tak terbangun saat ia ingin kembali memindahkan nya ke kamar.
__ADS_1
Tangan nya mengusap pelan punggung putra nya yang menggemaskan sembari memindahkan nya ke kamar yang sudah ia buat.
"Axel tidur di sini, Mommy tidur nya sama Daddy..." ucap nya dengan lirih sembari mengecup kening putra nya.
Setelah memindahkan putra nya pria itu pun kembali ke tempat tidur nya dan beranjak ke samping sang istri yang terlelap.
Perlahan ia masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh kecil itu, "Padahal tadi aku mau minta main rupanya sudah tidur," ucap nya sembari mengusap rambut Ainsley.
Ia pun mulai membenarkan selimut nya namun mata nya mengernyit saat melihat sesuatu yang harus nya ada.
"Cincin nya mana?" gumam pria itu sembari melihat jemari tangan wanita itu yang kosong.
"Ainsley? Ainsley?" panggil nya langsung yang ingin membangunkan wanita itu.
Namun Ainsley hanya menggeliat dan kembali tertidur, Richard pun akhirnya memilih untuk menayangkan nya pagi nanti.
"Dia tidak menghilangkan nya kan? Atau dia tidak mau pakai karna tidak mau di kira sudah menikah?" Otak nya langsung berpikiran buruk.
Ia bahkan berpikir jika Ainsley sengaja melepasnya agar orang lain tak tau ia sudah menikah dan bisa dekat lagi dengan pria lain nya.
Walaupun ia tau jika wanita itu tak akan melakukan nya namun tetap saja pikiran seperti itu selalu datang dan membuat nya curiga setiap saat.
...
Mata nya mulai menerjap bangun, dan membulat seketika saat melihat sang suami sudah berada di samping nya.
"Dia sudah pulang?" gumam nya yang langsung bangun.
Ia pun dengan segera ingin langsung pergi namun tangan nya langsung tercegah.
"Mau kemana? Buru-buru sekali?" tanya Richard sembari mencekal tangan wanita nya dan mulai bangun.
"Mau mandi," jawab Ainsley tak pikir panjang.
Richard diam tak memberikan komentar apapun dan melepaskan tangan nya sedangkan Ainsley langsung beranjak pergi secepat kilat.
"Dia menghindari ku?" gumam nya saat melihat wanita itu yang beranjak ingin langsung pergi tqnpa melihat wajah nya.
Richard masih diam bahkan hingga ke sarapan pagi mereka, sedangkan Ainsley yang melihat pria itu diam saja seperti tak biasanya mulai sedikit gugup.
"Ada yang mau kau katakan?" tanya pria itu sembari meminum jus di samping nya.
Ainsley diam sembari bernapas dengan dakam lebih dulu, "Apa? Tidak ada kok!" jawab nya gugup.
"Cincin mu mana?" tanya Richard langsung, awalnya ia ingin wanita itu yang lebih dulu mengatakan nya.
"Cincin? Itu..."
"Aku simpan!" jawab nya dengan cepat saat menemukan alasan lain.
"Simpan di mana? Kenapa tidak di pakai saja? Kenapa di simpan?" tanya Richard lagi.
"Iya, soalnya kan aku kemarin tuh nanam pohon kan, takut rusak..." jawab nya lirih berasalan, entah mengapa ia takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Takut rusak apa hilang?" tanya Richard lagi, "Atau memang sengaja di lepas biar orang tidak tau kau sudah menikah?" sambung nya memberi tuduhan.
"Tidak! Aku juga gak mungkin lepas dengan alasan begitu!" jawab Ainsley langsung saat mendengar tuduhan tersebut.
"Itu..." jawab Ainsley lirih.
"Kenapa? Hilang? Atau kau memang sengaja di hilangkan?" tanya Richard lagi.
"Oh iya dulu aku ingat kau pernah seharian di kelas karna mencari anting mu kan? Dulu kau bilang apa yah pada ku?" ucap nya sembari menyindir saat dulu Ainsley kehilangan anting nya setelah perkuliahan selesai dan waktu itu ia juga masih mengajar dan jadi dosen sementara.
"Pacar ku yang memberikan nya, Paman bantu aku cari." sambung Richard yang mengatakan apa yang ia dengar dulu.
Tentu saja ia masih mengingat ucapan bahkan suara panik dan gelisah wanita itu dulu, karna saat mendengar nya dulu ia begitu benci dan sangat ingin menarik tangan wanita itu keluar.
"Ta-tapi kan aku juga tidak dapat kan?" tanya Aianley lirih.
"Dia memarahi mu waktu itu?" tanya Richard lagi.
Ainsley menggeleng, dulu ia memang tidak di marahi karna menghilangkan anting namun di marahi karna pulang terlalu malam dan bersama pria lain.
"Tapi aku bukan dia, dan aku tidak suka dengan orang yang menghilangkan barang yang ku berikan," ucap pria itu dengan nada penekanan.
"Tidak hilang kok!" sangkal Ainsley langsung yang tanpa sadar berbohong karna takut.
"Lalu kenapa tidak di pakai? Takut rusak? Jangan alasan!" ucap Richard berdecak.
"Oh mungkin kau sengaja membuang nya?!" tanya Richard lagi.
"Tidak! Kenapa kau menuduh ku terus?!" tanya Ainsley yang selalu mendapatkan tuduhan dari pria itu.
Brak!
Suara yang langsung menggelegar membuat Ainsley terkejut sehingga berteriak tanpa sadar saat pria itu menggebrak meja dengan kuat.
"Ci-Cincin nya hilang tapi aku tidak sengaja..." jawab nya yang mulai jujur dengan suara sangat rendah.
Akh!
Wajah nya menengandah pada pria yang berdiri di depan nya saat rahang nya di cengkram.
"Sengaja kan? Atau mungkin karna kau tidak menganggap pernikahan kita? Makanya kau tidak bisa menjaga nya?!" tanya Richard lagi pada wanita itu.
Ainsley dengan cepat menggeleng atas pertanyaan tersebut.
"Aku memang tidak sengaja! Kemarin waktu acara nya selesai terus aku cuci tangan uda tidak ada! Aku juga uda cari tapi gak dapat!" jawab Ainsley sebisa mungkin mengatakan apa yang terjadi saat itu.
"Oh ya? Yang aku tau kau kemarin cuma tertawa dengan pemain biola si*lan itu! Kalian bicara tentang apa? Hm? Atau mungkin kau mengaku belum menikah dengan nya?!" tuduh pria itu lagi.
"Tidak! Aku tidak begitu! Kau sendiri tau kan aku tidak seperti itu! Tapi kenapa?!" tanya Ainsley yang langsung menyangkal tuduhan tak mendasar tersebut.
"Terus kenapa kau bicara pada nya?! Dan setelah itu cincin kita hilang?!" tanya Richard lagi dengan nada penuh penekanan.
"Aku bisa bicara dengan siapa pun kan?! Lagi pula aku memang tidak sengaja kan?!" jawab Ainsley lagi saat ia mulai merasa sesak karna cengkraman di rahang nya mulai membuat nya sesak.
Uhuk!
__ADS_1
"Le-lepas..." napas nya mulai tercekat sedangkan pria itu sudah mulai mencengkram bahkan mencekik leher jenjang berwarna putih itu sekuat tenaga.
Telpon nya mulai berderit namun ia tak mendengar nya dan hanya menatap tajam ke arah wajah wanita yang mulai memerah karna ia mencekik leher nya.
Richard pun melepaskan nya dengan kasar sembari menatap tajam ke arah Ainsley dan mulai mengangkat telpon nya.
Wajah nya mengernyit sejenak, "Aku akan datang," jawab nya singkat.
Ia kembali melirik ke arah Ainsley yang tengah mengambil napas nya sembari memegang leher nya.
Auch!
Ringis nya saat ia belum selesai bernapas namun sudah di tarik rambut nya dan di seret dengan paksa kembali ke kamar mereka seperti membawa barang.
Bruk!
Pria itu menghempaskan tubuh kecil itu ke lantai di ruangan kamar mereka.
"Tunggu di sini sampai aku kembali," ucap Richard dengan tatapan tajam dan berbalik pergi.
Ainsley meringis menahan sakit di kepala nya sekaligus rasa nyeri di leher nya yang membiru dan untung saja ia tak memuntahkan ataupun tersedak saat pria itu beralih mencekik nya saat mereka tengah sarapan.
"Aku harus temukan cincin nya! Tapi di mana? Apa aku buat yang baru saja, yang mirip dengan cincin ku?" gumam nya yang ingin menemukan cincin tersebut sebelum Richard kembali agar meredakan amarah pria itu.
Ainsley pun beranjak ingin keluar dari kamar nya namun ia tak bisa dan kembali terkunci.
"Richard? Kau di luar? Kenapa di kunci?" tanya Ainsley yang mulai mengetuk pintu nya.
Ia pun tak kehabisan akal, ia mulai mencari kunci cadangan agar bisa membuka pintu tersebut.
Ia mengambil ponsel nya dan bertepatan Gio pun kembali menelpon nya.
Ainsley tak menjawab panggilan tersebut namun karna Gio memanggil nya berulang kali ia pun mulai menjawab nya.
"Maaf, saya sed-"
"Anda sudah menemukan cincin anda?" potong pria itu segera.
"Anda menemukan nya?" tanya Ainsley yang langsung bersemangat.
"Tidak, tapi saya kenal dengan seseorang yang bisa membuat cincin sesuai dengan design yang kita inginkan, jadi anda bisa membuat yang sama dan suami anda tidak akan marah," ucap nya pada Ainsley.
Ia memang tau jika ada tempat yang bisa membuat cincin pesanan dengan waktu singkat dan ia sengaja mengatakan demikian agar bisa kembali bertemu di luar selain urusan bisnis atau rekan.
Ainsley diam sejenak ia takut keluar dan ketahuan namun jika berhasil ia dapat meredakan marah pria yang tadi nya meledak-ledak.
"Seberapa lama siap nya? Apa bisa siang ini juga?" tanya Ainsley lirih.
"Bisa!" jawab Gio dengan semangat.
Bukan nya memberikan cincin yang ia dapat namun malah membuat alasan agar dapat bertemu secara pribadi.
"Cafe perpustakaan di jalan xx jam 9," ucap nua yang memberi tau tempat bertemu dan mematikan ponsel nya.
Ainsley bimbang namun ia juga takut pada pria yang tadinya terlihat sangat marah pada nya.
"Aku buat cincin pengganti nya saja, setelah itu memaksakan sesuatu untuk nya dan minta maaf dia tidak marah lagi kan?" gumam nya yang berpikir untuk membujuk pria itu.
Ia pun segara mengganti pakaian nya dengan sweater yang menutup leher agar tak terlihat bekas biru dari cekikan suami nya dan hanya memakai pelindung matahari serta memakai kaca mata agar tidak terlihat cantik sama sekali.
Sehingga saat nanti Richard tau ia bisa mengatakan kalau memang sedang tidak berniat macam-macam bahkan ia keluar tanpa make up di wajah polos nya.
...
Ainsley mengambil satu buku dan menunggu pria itu di meja sembari termenung karna masih memikirkan cincin nya.
"Anda sud-" Gio terdiam sejenak melihat wabita itu duduk dengan termenung.
Wajah nya memerah melihat wajah wanita itu yang tak memakai make up namun malah semakin membuat nya jatuh hati karna tampilan polos dan lugu yang semakin sesuai dengan tipe idaman nya.
Ia pun mendekat dan menarik kursi di depan Ainsley.
"Anda sudah datang?" tanya nya sembari tak bisa menatap dengan lekat karna jantung nya berdebar keras.
Ainsley terperanjat dan menghilangkan semua lamunan nya, "Tempat nya dimana? Kita kesana sekarang!" ajak Ainsley yang tak ingin buang-buang waktu.
Gio pun membuang napas kecewa karna ia ingin memiliki lebih banyak waktu namun ia menahan nya.
"Ayo," jawab nya tersenyum agar tak terlihat kecewa.
Setelah itu mereka pun pergi ke toko perhiasan yang di maksud.
....
Sementara itu, Richard mendapat panggilan jika istri nya keluar sendiri walaupun sudah ia kurung dalam kamar.
Ia memang tak meminta pengawal berjaga ataupun mencegah wanita itu pergi karna ia tak menyangka jika sang istri punya kunci cadangan untuk keluar dari kamar mereka.
"Berani sekali dia keluar!" decak nya dengan kesal.
Setelah urusan nya selesai ia pun langsung beranjak ingin kembali ke mansion nya.
Deg!
"Berhenti!" ucap nya segera pada supir yang berada di mobil nya.
"Ainsley?" gumam nya yang masih belum jelaa karna hanya melihat siluet dari belakang tubuh wanita itu yang berada di dalam toko perhiasan.
Namun semua nya semakin jelas saat wanita itu berbalik dan membuat Richard semakin memanas, ia pun segara turun dan menghampiri wanita itu.
"Sedang apa di sini?!" ucap nya dengan tajam sembari mendekat dan menarik tangan wanita itu.
Ainsley tersentak, ia terkejut dan hampir saja menjatuhkan cincin yang ia beli.
Ia memang berencana untuk membuat duplikat nya namun karna akan selesai dalam waktu yang memakan satu hari satu malam ia pun membeli cincin yang baru dan untuk mengganti cincin pernikahan mereka lalu setelah itu membujuk suami nya namun sebelum ia membujuk nya pria itu sudah lebih dulu menemukan nya.
"Kaki mu memang harus di patahkan!" ucap nya dengan mata tajam sembari sembari menyeret Ainsley dengan kasar ke mobil.
__ADS_1
Sedangkan ia melirik tajam ke arah Gio, bagi nya ia sudah benar-benar mengingat wajah pria itu dan sudah menandai nya.