Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Sick?


__ADS_3

Internasional High School


Gadis itu beranjak ke tempat duduk nya, sedangkan remaja yang mengikuti nya juga baru saja masuk ke dalam kelas.


Mack melihat ke arah kedua nya, yang satu menghindar mata orang lain yang satu nya lagi datang dengan senyuman cerah.


"Ada apa nih? Cerita dong..." seru nya dengan mata yang penuh akan rasa penasaran untuk mendengarkan cerita baru dari kedua teman nya.


"Dasar! Tukang gosip!" decak Emily dan membuat kedua remaja tertawa kecil.


Emily pun langsung kembali menutup wajah nya dan tidur dengan menyembunyikan wajah cantik ke meja.


Mack menyentuh tangan Axel lalu menunjuk dengan dagu nya ke arah gadis itu, "Kenapa?" tanya nya tanpa suara.


Axel menaikkan bahu nya dengan kecil sembari memasang wajah cerah.


...


Bel istirahat membuat semua siswa mulai keluar ke kantin dan ke tempat lain nya sedangkan tiga sahabat itu hanya duduk di kelas karna teman cantik mereka yang biasanya cerewet itu kini hanya diam saja.


"Ly? Ayo ke kantin..." ajak Mack pada gadis itu.


"Gak mau ah! Lemes tau!" tolak gadis itu sembari membuang wajah nya yang mengernyit.


"Lemes apa sih?! Gak ngapa-ngapain juga! Dari tadi kamu tuh cuma dateng terus duduk abis itu tidur," cibir Mack pada gadis itu.


"Biarin!" jawab Emily tak mau kalah.


"Yauda! Aku sama Axel aja, kamu sendirian!" ucap Mack pada gadis itu.


"Axel? Kita aja yang pergi," ucap nya pada teman nya yang duduk di samping gadis itu.


Axel diam sejenak dan menatap ke arah gadis cantik itu, "Kau mau ku belikan roti sama susu nanti?" tanya nya mendekat ke arah gadis yang masih melipat dan menyembunyikan wajah nya ke meja dan tangan nya itu.


Emily menoleh menatap wajah pria itu yang berada di dekat nya karna Axel yang bicara setengah berbisik dengan nada rendah.


Iris yang membesar membuat gadis itu kembali bersemu merah, "I-iya..." jawab nya lirih.


"Pantesan Lily sekarang males, semua nya tinggal bilang sama Axel!" ketus Mack pada gadis itu.


"Biarin! Iri ya?" ledek Emily pada teman nya itu.


Mack mengernyit, tangan nya beranjak menarik pipi gadis yang masih menyandarkan kepala nya ke meja dengan memangku tangan nya.


"Auch!"


"Mack!"


Ucap Emily kesal karna teman nya itu menarik pipi nya.


"Nangis tuh, nangis! Abis itu itu ngadu ke Axel!" ledek Mack tertawa sembari melepaskan cubitan nya pada gadis itu.


Wajah yang mengernyit kesal itu membuat nya menatap tajam, "Axel..." ucap nya tanpa sadar karna ia memang biasanya mengadukan pada remaja itu ketika terjadi sesuatu.


"Kan, ngadu kan?" ledek Mack lagi dengan tawa nya pada gadis itu.


"Aduh! Sakit!"


Pekik Mack tiba-tiba ketika teman nya itu mulai mencubit pipi nya juga, "Aduh! Axel!" ucap nya sembari memukul tangan remaja yang seperti capit kepiting di pipi nya.


Melihat Axel yang membalas teman jahil nya itu membuat Emily tertawa, "Rasain!" ucap nya dengan wajah yang mengejek ke arah Mack.


Axel melepaskan tangan nya dan menatap ke arah teman nya yang tengah mengusap pipi nya yang memerah begitu ia lepaskan.


Ia tertawa melihat Mack yang terlihat kesal, "Axel belain Lily terus!" ucap nya dengan kesal.


"Kamu sih, gangguin dia terus." jawab remaja tampan itu yang lebih membela teman perempuan nya.


"Yauda kalian aja yang temenan aku gak usah!" ketus Mack yang kesal pada dua teman nya itu.


"Ih ngambek," ledek Emily yang masih dengan tawa nya, "Padahal nanti waktu pulang aku mau traktir pizza loh." sambung gadis itu lagi.


Mack kembali melirik ke arah gadis itu, "Yauda nanti waktu pulang kita beli!" seru nya dengan semangat.


"Kata nya gak mau temenan sama kita lagi?" tanya Axel pada teman nya itu.


"Kapan aku bilang begitu? Gak ingat tuh?" tanya Mack yang mulai memakai mode pikun nya.


"Tadi barusan, suara nya aja masih gantung tuh di udara." ucap Emily menambahi sembari tertawa.


Mack hanya mendengus kesal namun ikut tertawa setelah nya.


......................


3 Hari kemudian.


Pria itu menatap ke arah wanita yang tersenyum lebar di ponsel itu serta suara dari remaja yang tersambung di sebrang sana.


"Mommy sama paman lagi?" tanya Axel ketika panggilan video itu masih berlanjut.


"Iya, lagi sama Paman. Axel mau bicara sama paman?" tanya wanita itu pada putra nya.


"Gak mau! Axel kan mau nya bicara sama Mommy!" ucap nya sembari memasang raut kesal pada sang ibu membuat wanita itu tertawa kecil.


Sean hanya menahan senyum nya, ia dapat mendengar suara ketus itu dan tentu nya juga bisa membayangkan wajah yang mengernyit dengan kesal itu hingga membuat nya ingin tertawa.


"Mommy kapan pulang? Axel kangen." ucap nya pada sang ibu.


"Masih empat hari Mommy pergi, udah kangen?" tanya wanita itu tersenyum pada putra nya.


"Iya! Axel kan sendiri di sini, waktu hari pertama aja Lily nginap abis itu udah enggak lagi." ucap nya pada sang ibu.


"Mommy sih mending ada paman Sean aku gak ada, makan sendiri, semua nya sendiri." keluh nya pada sang ibu.


"Kalau Mommy di rumah kita makan bareng nya juga cuma waktu malam sama sarapan?" ucap wanita itu pada putra nya.


"Iya! Tapi beda Mom!" ucap Axel karna ia juga masih terlalu banyak bergantung pada sang ibu lebih tepat nya akan merasa begitu kehilangan ketika wanita yang ia tau selalu bersama nya tak ada.


"Dua hari lagi Mommy pulang yah? Kan kemarin ada bencana jadi terhalang satu hari." ucap nya dengan lembut pada putra kesayangan nya.


"Paman gak mau bawa Mommy kamu pulang tuh! Biar kamu sendirian aja," ucap pria itu yang mulai bersuara.

__ADS_1


Axel pun terlihat mendengar nya dari panggilan video yang masih terhubung itu.


"Enak aja! Mommy kan Mommy aku! Gak boleh di bawa lari!" protes nya yang langsung terpancing candaan pria itu.


Pria itu langsung tertawa mendengar nya dan ia berhasil mengganggu remaja tampan itu dengan godaan nya.


"Yauda, Nanti Mommy telpon lagi yah?" ucap Ainsley sebelum menutup panggilan video nya.


"Hati-hati yah Mom," ucap nya pada sang ibu.


"Iya, nak..." jawab Ainsley tersenyum karna mengira putra nya mengingatkan nya untuk berhati-hati di luar.


"Hati-hati sama paman nanti Mommy di bawa kabur!" sambung Axel yang membuat wanita itu tertawa lepas.


"Mommy kan besar, gimana paman mau bawa kabur Mommy?" tanya nya dengan tawa.


"Gak tuh! Mommy tuh kecil banget! Tinggal di masukin ke karung udah bisa!" ucap nya pada sang ibu.


Wanita hanya tertawa mendengar ocehan putra kesayangan nya itu.


"Bye, Axel..." ucap nya sembari melambaikan tangan nya dengan senyuman cerah sebelum menutup ponsel nya.


"Bye, Mom..." jawab Axel yang juga tersenyum pada sang ibu.


Setelah menutup ponsel nya, wanita itu kembali meminum teh di depan nya dan menatap pria yang tengah memandang nya dengan tersenyum.


"Kenapa?" tanya nya mengernyit.


"Kalian lucu yah? Gemesin," ucap nya pada wanita itu.


"Tentu, dia kan anak ku!" jawab Ainsley dengan penuh senyuman pada pria itu.


Walaupun ia memiliki pekerjaan yang padat begitu juga dengan pria di depan nya namun mereka masih memiliki waktu untuk sedikit bernapas.


Sean juga tak pernah mengungkit kembali malam di hari salju pertama turun tahun itu. Ia tau jika mengungkit nya hanya akan membuat wanita itu menjauh dan kembali merenggang pada nya.


"Kau mau langsung kembali hari ini?" tanya pria itu pada wanita yang terlihat memandang ke arah luar.


Cahaya yang tetap datang walau pun trotoar jalanan masih penuh dengan tumpukan salju.


"Ada tempat yang mau ku kunjungi," ucap nya tersenyum lirih sembari memandang ke arah lain dan terlihat jelas ia tengah memikirkan sesuatu di kepala nya.


"Kemana? Mau ku antar?" tanya pria itu.


"Cukup jauh dari sini tapi aku mau pergi sendiri aja," tolak Ainsley dengan senyuman.


"Kenapa?" tanya nya dengan menatap bingung karna biasanya wanita itu jarang menolak ajakan nya.


"Hari ini..." ucap nya lirih, "Hari tanggal pernikahan ku," sambung nya dengan nada rendah pada pria itu.


Sean diam beberapa saat mendengar nya, ia tau wanita itu juga masih memerlukan waktu untuk dirinya sendiri dan juga memiliki masa lalu yang tidak di bisa di hapuskan dari ingatan atau hidup nya.


"Jadi aku mau menemui nya," ucap wanita itu sembari menatap wajah pria yang diam memandang nya.


"Cukup jauh dari sini, apa kau tidak apa-apa?" tanya pria itu karna tau jarak tempat pemakaman dengan tempat mereka saat ini dan takut wanita itu kelelahan.


Ainsley mengangguk pelan atas pertanyaan pria itu, "Tidak apa-apa kan? Kalau aku pergi?" tanya nya lirih.


Sean lagi-lagi diam sejenak sebelum menjawab nya, "Kau kan tidak perlu izin ku untuk pergi." ucap nya pada wanita itu.


Ainsley memagngguk mendengar nya, ia menarik napas nya dan kembali tersenyum, "Besok aku selesai rapat jam dua siang, kita pulang setelah nya."


Sean membalas senyuman yang terlihat kembali mengalihkan pembicaraan dan suasana, "Iya..."


Ia tak menanyakan apapun karna tau jika ia masih tak memiliki hak apapun untuk melarang ataupun mengizinkan wanita itu pergi kemana pun.


...


Sebuket bunga mawar putih dan gladiol putih di letakkan di atas makam yang berada di depan nya.


"Happy 18th wedding anniversary," ucap nya lirih dan tersenyum tipis setelah meletakkan bunga putih yang harum tersebut.


"Kau, apa sekarang sudah baik-baik saja di sana? Aku datang lagi, aku tidak lupa dengan mu..." ucap nya pada sesuatu yang tak akan bisa menjawab nya itu.


"Richard," panggil nya lirih.


"Kau bilang aku boleh hidup sesuka ku kan? Apa aku boleh sedikit serakah sekarang?"


"Aku..."


"Seperti nya kembali menyukai nya, dan ku rasa sekarang perasaan itu semakin kuat. Aku juga melalukan sesuatu yang mungkin akan membuat mu marah..."


"Tapi, karna kau bilang kau akan melepaskan ku seharusnya tidak apa-apa kan?" tanya nya lagi.


"Axel sekarang tumbuh dengan baik, dia masih sering bilang kalau dia rindu dengan mu. Dia juga kadang mirip sekali dengan mu." ucap nya lirih.


"Aku semakin sibuk sekarang, jadi juga semakin jarang mengunjungi mu." sambung wanita itu.


"Tapi walaupun aku sekarang jarang datang aku masih tidak lupa dengan mu kok!" ucap nya sekali lagi.


Suasana hening yang begitu diam membuat nya, menarik napas nya dengan lirih.


"Kalau kita nanti bertemu lagi, mungkin..."


"Entah itu nyata atau tidak, ataupun di tempat lain sama sekali tidak kita tau..."


"Aku janji..."


"Kalau waktu seperti itu datang, aku akan mencintai mu dengan semua yang ada dari ku." sambung nya lirih


Ia meninggalkan senyum nya sebelum kaki nya melangkah menjauh dari tempat tersebut.


Walaupun ia tak rutin datang mengunjungi makam dari mendiang suaminya namun bukan berarti ia melewatkan hari beberapa hari besar yang harus nya di rayakan bersama ketika pria itu masih hidup.


......................


Dua hari kemudian.


Sation company


Sekertaris Jhon datang sembari mengetuk pintu ruangan atasan nya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sean mengernyit pada pria itu karna melihat sekertaris nya terburu-buru.


"Tuan besar ingin menemui anda," ucap nya pada pria itu.


"Dia sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Sean mengernyit.


Sekertaris Jhon memberikan satu anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu.


Sean membuang napas nya sejenak dan meletakkan dokumen yang berada di tangan nya.


"Cegah dia masuk," perintah pria itu yang langsung merasakan denyut di kepala nya ketika tau sang ayah datang.


"Bagaimana cara nya?!" tanya sekertaris Jhon tak mengerti karna ayah dari atasan nya itu tentu nya memiliki posisi yang lebih tinggi dari nya dan tak bisa ia usir.


"Terserah mu, bagaimana dengan cara yang mau kau lakukan." ucap Sean yang tak ingin ambil pusing, "Kau lupa sesuatu? Karna kau aku jadi kena imbas nya kan?" tanya Sean yang mengingatkan atas satu kesalahan sekertaris nya.


"Saya kan terpaksa melakukan nya!" sekertaris Jhon membela diri, "Lagi pula itu juga sudah sangat lama!" sambung nya lagi.


"Kau itu sekretaris ku atau sekertaris nya? Dulu kau bekerja sama dengan pria tua itu sekarang pun seperti nya juga," sindir Sean lagi.


Ia melihat ke arah teh yang berada di meja nya, Sekarang ini apa? Apa akan ada obat bius nya lagi? Lalu kalian mau memberi ku wanita?" tanya nya lagi.


"Jadi saya harus bilang apa pada tuan besar?" tanya sekretaris Jhon yang sudah kalah telak.


"Katakan kalau aku sedang rapat, tidak bisa di ganggu." ucap nya pada sekertaris nya.


"Rapat sialan! Kau mau menunggu Papa mu sampai meninggal dulu baru kau akan melihat nya?!"


Suara yang tiba-tiba menyambar masuk membuat kedua pria itu memandang ke arah pintu, sekertaris Jhon pun menunduk dan membiarkan pria itu berbicara pada ayah nya.


"Ada apa?" tanya Sean sembari menatap ke arah sang ayah.


"Kapan nikah?" tanya Daniel tanpa berbasa-basi.


"Jangan bertanya untuk pernyataan yang menyebalkan, anda lupa anda sudah melakukan kesalahan tiga tahun lalu?" tanya Sean memandang ketus.


"Kesalahan apa?! Kau sudah tidak mau menikah dan tetap memasang prosedur sialan itu?! Tentu saja harus di lepas!" ucap Daniel dengan nada geram pada putra nya.


"Tunggu! Kau pasang lagi?!" tanya nya kembali menatap ke arah putra nya.


Tiga tahun yang lalu ia membuat putra nya kembali menjalani prosedur untuk membuka vasektomi yang pernah di lakukan dengan cara memasukkan bius di teh yang biasa di minum oleh putra nya karna tau Sean tak akan curiga ataupun takut ia beri racun apalagi ia yang bekerja sama dengan sekertaris kepercayaan dari putra nya itu.


Sean tak menjawab namun setelah prosedur melepaskan vasektomi itu ia tak melakukan nya lagi karna memiliki beberapa resiko.


Dan karna tau sang ayah yang bertindak sesuatu atas diri nya bahkan di luar kehendak nya membuat nya dengan kesal dan mengatakan jika ia sudah tertarik lagi dengan wanita.


Hal yang mengejutkan itu tentu nya membuat pria yang sudah berumur itu langsung tekanan darah tinggi dan langsung di bawa kerumah sakit bahkan sering masuk ke rumah sakit setelah itu.


"Anda kan tau saya suka nya dengan pria bukan wanita," ucap nya dengan nada santai pada sang ayah.


"Dasar anak ini!" ucap Daniel geram sembari memegang tengkuk nya terasa sakit ketika tekanan darah nya ingin meninggi lagi.


"Putra anda kan tidak saya saja, anda masih punya satu lagi." ucap nya pada sang ayah.


Ia memang terdiri dari tiga bersaudara, namun kakak tertua nya telah meninggal dan ia yang memiliki kakak kedua yang kini masih hidup namun hanya menjadi sampah masyarakat yang tidak berguna.


Daniel tentu tau perkataan itu, namun sejujurnya pria di depan nya lah anak yang paling ia sayangi karna berasal dari wanita yang ia cintai walaupun tak pernah ia berikan status yang jelas bahkan sampai wanita itu meninggal.


Dan lagi putra yang memiliki otak yang cerdas, tak banyak bertingkah serta kemampuan itu hanya putra nya yang berada di depan nya tentu membuat nya hanya semakin menyayangi pria itu saja.


Namun sayang putra yang menjadi harapan terakhir nya malah mengatakan jika ia sudah belok dan tak lurus lagi karna menyukai sesama gender nya.


Dan tentu nya ia tak setuju karna garis keturunan nya akan hilang.


"Kau bicara tentang penjudi sialan itu?" tanya Daniel dengan mengumpat pada putra kedua nya.


"Setidak nya kan dia normal," jawab Sean asal karna ia pun masih kesal.


"Setidaknya coba tiduri satu wanita! Kalau begini terus bagaimana Sation bisa punya penerus!" ucap Daniel dengan kesal.


"Apa peduli ku? Memang nya Sation yang anda sayangi ini bisa melindungi wanita yang anda cintai dulu?" tanya nya sembari menyindir sang ayah atas yang pernah di lakukan pada ibu nya.


"Oh? Atau saya harus menikah seperti anda lalu membuat orang yang saya sukai sebagai simpanan? Atau mengurung nya? Seperti yang pernah di lakukan seseorang?" tanya nya lagi yang semakin menyindir sang ayah.


"Anak ini! Apa aku harus mengikat mu dan memberi mu obat! Agar kau mau tidur dengan wanita!" ucap Daniel yang kesal.


"Anda tidak menjawab pertanyaan yang saya katakan, apa anda benar-benar ingin saya seperti anda dulu?" tanya nya lagi.


"Lagi pula kalau anda melakukan nya seperti saya tetap tidak akan menikah, karna saya tidak mau membuat seseorang menjadi simpanan, dan lagi kalaupun saya berhasil memiliki anak saya tidak akan mengakui nya." ucap nya pada sang ayah yang mengancam nya dengan berbuat nekat.


"Kau! Kau!" Daniel kehabisan kata-kata mendengar nya, kepala nya kembali sakit ketika mendengar ucapan putra nya yang menandakan tekanan darah nya seakan ingin naik kembali.


"Anda seperti nya sakit, saya harap anda berobat lebih dulu dan pulihkan diri anda." ucap nya pada sang ayah.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Apart Venelue'ca


"Mommy kenapa?" tanya nya pada sang ibu yang terlihat tak sehat selama beberapa hari sebelum ia duduk ke kursi nya guna memulai sarapan nya.


"Mommy gak apa-apa," jawab nya dengan senyuman lembut pada putra nya.


Axel hanya diam dan melihat sang ibu yang tampak begitu lelah salam beberapa hari terakhir.


"Kalau Mommy lelah, biar Axel bantuin Mommy, Mommy istirahat aja dulu." ucap nya lagi yang menatap khawatir.


"Gak apa-apa nak..."


"Mommy sehat aja kok," ucap nya pada putra kesayangan nya.


"Beneran? Mommy beneran baik-baik aja?" tanya lagi pada sang ibu.


"Iya, Mommy gak ap- Hoek!" ucap nya yang langsung beranjak ke wastafel.


Remaja itu pun mengikuti sang ibu sembari mengambilkan air hangat.


"Tuh kan! Mommy sakit lagi!" ucap remaja itu sembari mengusap punggung sang ibu dengan pelan.


Ia ingat dulu ibu nya juga pernah seperti ini karna kelelahan hingga jatuh sakit.

__ADS_1


Mudah lelah dan memiliki masalah yang sama persis seperti sekarang dan menganggap nya jika hal ini pun masih sama seperti yang sebelum nya.


"Iya, nanti Mommy ambil libur dua hari." jawab Ainsley pada putra nya yang mengomel dengan khawatir.


__ADS_2