
Pagi ini Mentari dan Rendy pergi ke rumah pengacara almarhum papa Roby, tapi bedanya saat ini Yoga tidak ikut dengannya. Entah alasan apa Yoga lebih memilih berkunjung rumah Satya. Sesampainya di rumah anaknya Yoga melihat bik sum sedang menyiram bunga.
“Assalamualaikum Bik,” ucapnya sambil tersenyum.
“Eh….waalaikumsalam ayo masuk, Nak,” ajaknya sambil tersenyum,.
“Kemana pasangan itu, Bik?” tanya Yoga.
“Tadi Senja, kram perutnya terus di bawa ke Dokter pagi tadi.” Katanya sambil tersenyum
Yoga terdiam, kenapa bisa kram bukannya kandungannya masih kecil, batin yoga. Kini ia sedang duduk di ruang keluarga tak lama bik sum menghidangkan kopi dan cemilan untuk menemaninya.
“Sudah lama mereka pergi Bik?” tanya Yoga ikut tersenyum.
“Baru Pukul 8 tadi ,” jawabnya
Yoga hanya mengangguk, dan ia kini duduk sambil menonton televisi, bik Sum segera mengerjakan kerajaannya
yang tertunda tadi.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti, Yoga hanya menarik nafas saat suara tertawa dari sepasang suami istri itu kian mendekat. Senja yang melihat ada Ayahnya terkejut, ia segera memeluk Ayah Yoga, senyumnya
mengembang saat melihat orang yang begitu ia rindukan datang.
“Ibu mana?” tanyanya sambil melihat ke arah belakang.
“Ibu enggak ikut, karena ada janji bertemu dengan pengacara dari almarhum Kakek,” jawabnya.
Senja hanya mengangguk mengapi ucapan dari Ayahnya, sedangkan Satya yang dari tadi diam hanya menjadi pendengar setia kedua orang di depannya.
“Bagaimana kata dokter?” tanyanya sambil menatap anak dan menantunya bergantian.
“Enggak apa-apa? Hanya terlalu capek saja,” jawabnya sambil tertunduk.
__ADS_1
Yoga merasa ada yang aneh kepada anaknya, kemudian ia beralih ke Satya. Satya hanya menaikkan bahunya tanda tak mengerti.
“Apa kamu sering bergadang ngerjain tugas?” tanyanya sambil menatap ke arah anaknya.
“Ayah tenang saja, Insha’Allah masih baik-baik saja.” Jawabnya, enggak mungkin Senja memberitahu terjadi kontraksi karena olahraga tadi malam bersama suaminya.
Ia juga baru tahu saat hamil harus mengurangi hubungan suami istri, setelah dokter menjelaskan tadi. Namun, Dokter merekomendasikan wanita hamil tak melakukan berhubungan dulu saat usia kandungan masih 2 bulan.
Pasalnya, usia kehamilan 2 bulan termasuk dalam trimester awal kehamilan. Di mana, usia kehamilan ini masih dalam tahap perkembangan awal baik janin maupun plasenta (ari-ari).
“Apa ada yang kalian sembunyikan dari Ayah?” tanyanya
“Enggak ada Yah,” jawabnya lembut
Yoga hanya memgaguk, tapi ia yakin kalau pasangan suami istri ini telah menyembunyikan sesuatu darinya.
Namun, Yoga tidak aka memaksa keduanya untuk jujur.
“Ada yang mau Ayah beritahukan, kalau ibumu Mentari juga sedang mengandung dua minggu,” ujarnya.
Tiba-tiba ia tertawa lepas bagaiman tidak, harusnya yang di panggil tante oleh anaknya nanti umurnya lebih muda dari ponakannya. Hal itu membuat Satya dan Yoga menatapnya langsung.
Saat menyadari dirinya menjadi perhatian ayah dan suaminya senja segera menutup mulutnya, kemudian ia berdiri menuju ke belakang, lagi-lagi ia tertawa di depan bik Sum dan bik Ida membuat dua wanita itu merasa heran dengan Nonanya.
Kini Senja baru bisa diam saat melihat kedua artnya menatapnya dengan horor, Senja hanya mengaruk kepalanya merasa malu karena sudah dari tadi tertawa tanpa mereka ketahui apa yang membuatnya lucu.
Senja kembali lagi ke ruang keluarga ia membawa air dingin, kini dia duduk di samping suaminya yang sedang membicarakan masalah kerja sama antara Rendy dan Satya.
Yoga juga mengatakan kalau setelah 7 hari papa Roby ia akan segera kembali ke Jakarta, hal itu membuat Senja sedih. Ingin rasanya ia mengatakan kalau kedua orang tuanya untuk menetap di Surabaya saja.
“Ayah, apa enggak mau menetap di Surabaya saja,” kayanya sambil menatap iba.
“Maaf sayang, ayah hanya ingin memimpin perusahan itu, kalau perusahan kakek ada Rendy yang bisa di percaya,” jawabnya.
__ADS_1
Senja hanya mengangguk , walau dalam hatinya ia kecewa. Yoga yang sudah mulai tahu sifat anaknya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Satya yang melihat istrinya bersedih segera memeluknya di depan mertuanya.
Hal itu yang membuat yoga menjadi risi, bisa-bisa nya anak dan mantunya berpelukan di depannya. Satya tersenyum waktu melihat yoga menggelengkan kepalanya. ia yakin mertuanya itu mengumpat dalam hati, tapi dengan dipeluk istrinya bisa tenang.
“Sat..nanti lo datang enggak ke acara pernikahan Arnold dan Shinta,” ucapnya.
“Gue belum tahu, kondisi Senja saat ini kandungannya lemah,” ucapnya sambil menatap istrinya yang bersandar di bahunya..
“Kalau enggak bisa jangan di paksakan, tapi sepertinya Ranga dan Ayah bunda akan pergi untuk menjadi saksi dari pihak Arnold,” kata Senja sambil tersenyum.
Satya yang mendengar itu merasa terkejut dari mana istrinya bisa tahu, jika bund adan Ayah akan pergi ke Jakarta. Namun, ia tidak ingin menanyakan sekarang.
“Ayah ada aman kalau ibu nanti naik pesawat?” tanya Senja sambil mengambil bolu yang dibikin bik sum.
“Masalah itu nanti Ayah konsultasikan lagi ke Dokter nya,” jawabnya.
Satya mulai faham kalau wanita hamil harus konsultasi terlebih dahulu saat mau naik pesawat, sedangkan Senja saat mendengar penjelasan dari ayahnya hanya tersenyum. Ia juga belum terlalu paham aturannya untuk wanita hamil yang hendak berpergian naik pesawat.
Mungkin lain waktu , saat ia kontrol akan menanyakan hal ini nantinya. Ia juga harus banyak membaca artikel tentang kehamilan. Seperti dengan apa yang di katakan oleh bundanya, Senja hanya ingin nantinya saat melahirkan ada kedua orang tuanya dan suaminya saja.
Namun ia rasanya tidak mungkin, karena ibunya juga sedang hamil tak jauh dari usia kandungannya.
Wanita muda itu mulai berfikir alangkah bagusnya kalau ia dan ibunya sama-sama saat melahirkan nanti, senyum terukir di bibinya saat membayangkan suami dan ayahnya menghadapi persalinan yang bersamaan antara istri dan anaknya bersamaan.
Hal itu yang membuat Satya mulai bingung dengan istrinya, yang ia tahu hormon wanita hamil itu bisa berubah-ubah. Namun, apa yang terjadi kepada istrinya sebaliknya. Kadang ia senyum-senyum sendiri terkadang juga menangis. Kalau ditanya kenapa , hanya menjawab ia juga tidak tahu.
“Mmy, kenapa senyum-senyum lagi apa ada yang lucu?” tanyanya sambil menaikkan alisnya.
“Mmy hanya membayangkan kalau saja kami melahirkan bersama-sama,” ucapnya sambil tersenyum.
Satya dan Yoga mendengar itu seketika tertawa, bagaiman bisa sama sedangkan umur kandungannya berbeda batin Satya. Ia yakin istrinya hanya membayangkan saja .
“Mana mungkin lahir sama, Nak.” Kata Yoga sambil tersenyum.
__ADS_1
Senja juga ikut mengagukan kepalanya bagaimana mungkin kan hanya beda beberapa minggu saja kehamilannya dengan ibunya. Kini Senja hamil umur dua bulan itu berarti bulan depan perutnya akan mulai terlihat membuncit.
Wanita itu tidak terbayang saat teman-temannya yang lain tahu kalau dirinya hamil di usia muda