PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 131


__ADS_3

Ranga yang merasa enggak enak badan, ia segera pamit kepada Satya dan Senja. setelah kepergian Ranga Satya menghampiri istrinya.


"Yang, istirahat lagi," ucapnya sambil tersenyum menatap wajah pucat istrinya.


"Bby maafkan Mmy ya, yang terlalu kekanak-kanakan," bisik dengan lirih di telinga suaminya.


"Jangan menggoda Bby sayang, jangan sampai di Bby khilaf," balas Satya sambil mengecup kening istrinya lembut.


Satya kini memeluk, wanita yang selalu membuatnya nyaman saat di sampingnya.


Satya mengusap perut Senja dengan lembut.


"Sayang sudah enggak sabar melihatnya ada di dunia ini," kata Satya.


"Sabar yang, empat bulan lagi," jawab Senja.


"Baik-baik di dalam ya, Nak. Papi sabar menunggumu," bisik Satya.


Senja tersenyum, sambil mengusap kepala suaminya yang sedang mencium perutnya, ada rasa gelayeran yang aneh di rasakannya


Satya akhirnya menghentikan keusilannya, karena sudah ada yang memberontak di bawah sana. Namun, wanita itu pura-pura tidak peka dengan apa yang diinginkan suaminya.


Satya yang mengingat kehamilan istrinya memasuki lima bulan, harus itu sudah aman, tapi lebih baik nanti ia konsultasi dengan dokter kandungan terlebih dahulu.


“Bby jadi kapan kita akan ke Singapore?” tanya Senja.


“Sayang Bby punya dua pilihan untukmu, kita mau ke Singapore atau ke rumah Ayah dan ibu Jakarta.” Katanya dengan lembut.


Senja menutup mulutnya tidak percaya saat mendengar suaminya menawarkan dua pilihan, tidak berpikir panjang wanita yang sedang hamil itu langsung mengatakan pilihannya.


“Mmy, memilih ke Jakarta, sudah kangen dengan ibu dan Ayah,” katanya sambil meneteskan air matanya.


“Baiklah…kita ke Jakarta tiga bulan karena Bby akan mengambil alih perusahaan yang ada di Jakarta,” jawabnya.


“Hah….serius, terus om Arga bagaimana?” tanya Senja yang terkejut.


“Arga mengantikkan Bby ke Singapore, jadi kita deal ya sayang ke Jakarta,” kata Satya karena ia harus konfirmasi ke Ayah Nugraha.


Senja tak menjawab, tapi ia hanya menganggukan kepalanya. Istri Satya itu sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan kedua orang tuanya.


Akhirnya nanti bisa bertemu ibu dan Ayah, jadi makin sayang sama Bby, tapi bagaimana dengan Bunda nanti, karena bunda berjanji akan mendampingi saat ia melahirkan, batin Senja. 


Satya yang kini tengah sibuk dengan laptopnya sampai tidak memperhatikan istrinya yang  sedang menatapnya. 

__ADS_1


“Suamiku, kalau sibuk pergi saja ke kantor,” kata Senja sambil tersenyum yang paksakan.


Satya mengalihkan pandangannya ke istrinya yang sedang sembunyi di dalam selimut, pria itu hanya bisa menarik nafas dalam. Ia bingung harus menyelesaikan kerajaannya Minggu  ini jadi saat istrinya pulang dari rumah sakit bisa langsung bertolak ke Jakarta.


Satya kembali lagi fokus ke kerjaan-nya, yang penting  saat ini ia ada di samping istrinya.


Senja yang masih kesal dengan suaminya hanya bisa menangis, kadang wanita itu heran kenapa dirinya sekarang merasa cengeng sekali kalau tidak dapat perhatian dari suaminya. Apakah ini termasuk hormon saat ia hamil berubah-ubah.


Wanita itu merasa sudah tidak pernah mual lagi di saat pagi, makan pun sudah terasa enak sudah tak hambar lagi. Senja melirik suaminya yang masih fokus dengan laptopnya.


Tanpa terasa air matanya mengalir lagi di pipinya. Senja segera berbaring membelakangi suaminya ia menutup mulutnya saat tangisnya tak bisa ia bendung lagi.


Tubuhnya bergetar menahan tangisnya, karena lelah menangis Senja akhirnya tertidur, setelah tiga jam Satya bisa menyelesaikan laporannya. Ia merasa lega saat melihat ke arah istrinya yang tengah tertidur.


Satya yang melihat istrinya masih tidur segera menghampirinya, di usapnya rambut Senja. Saat Satya akan kembali lagi ke sofa ia mendengar suara isak dari istrinya,


Satya segera membalikkan badanya di lihatnya mata istrinya masih terpejam, tapi ada air mata yang masih mengalir di sudut matanya.


Pria itu tertegun melihat istrinya yang wajahnya masih sembab, ia baru menyadari kalau sedari tadi wanitanya menangis. Satya mengecup kening istri dengan sayang.


“Maafkan Bby, Sayang,” katanya lirih.


Satya naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya, ada perasaan bersalah karena sudah membiarkan istrinya sedari tadi sendiri. Satya kira yang penting dirinya ada di sisinya cukup, tapi istrinya  butuh perhatiannya juga.


Tak lama pintu ruang rawat Senja terbuka datang Sari dan Ibnu sambil tersenyum. Sari melihat sahabatnya yang masih tidur tersenyum,


Wanita itu kini duduk di samping Senja sedangkan Satya dan Ibnu duduk di sofa keduanya sedang membicarakan masalah beasiswa yang akan melanjutkan s2 bagi mahasiswa yang berprestasi.


Senja yang merasa badannya pegal segera meregangkan otot-ototnya. Wanita itu terkejut saat melihat sahabatnya ada di sampingnya.


“Sari, sudah lama kenapa enggak bangunin gue,” kata Senja.


“Lo…tidurnya nyenyak sekali,” jawabnya sambil tersenyum.


“Ah..iya maaf ya, gue kesal sama lelaki tua yang pakai baju warna biru itu,” kata Senja.


Sari mengikuti arah pandang sahabatnya, lalu ia tertawa, dia baru menyadari kalau dirinya dan Senja pecinta lelaki tua.


“Lo kenapa cengengesan ,” tanya Senja.


“Kita ini pecinta lelaki tua,” jawabnya lirih,


Senja melotot ke arah sahabatnya, ia juga baru menyadari kalau Ibnu suami Sari seumuran dengan suaminya, keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


“Biar tua kalau main kuda-kudanya kuat,” kata Sari,


Peletak….


Senja langsung menyentil kening sahabatnya yang mulai ngomong mesum semenjak sudah menikah.


“Sakit tahu bumil,” ucapnya sambil mengusap keningnya,


“Lo sejak menikah kalau ngomong nggak disaring dulu!” kata Senja kesal.


“Lagian gue ngomong sama lo, yang sudah tahu rasanya bikin lagi dan lagi,” jawabnya kepada sahabatnya yang membuat Senja semakin melotot ke arahnya.


Keributan keduanya menarik perhatian lelaki tua di sofa, karena merasa diperhatikan Senja melengos saja dari tatapan suaminya.


Satya yang tahu istrinya masih merajuk, hanya tersenyum, yang membuat Ibnu menatapnya heran.


“Lo masih ribut sama dia?” tanya Ibnu.


“Heheh…seperti yang lo lihat wanita hamil lebih susah dikendalikan,” jawabnya.


Ibnu menganggukan kepalanya saat mengerti maksud ucapan Satya. Namun. Ia memperhatikan kedua wanita itu tertawa. Entah apa yang keduanya bicarakan.


“Sayang, mau pizza enggak?” tanya Satya yang mencoba membujuk istrinya supaya tidak marah dan kesal lagi kepadanya.


Senja hanya mengangguk, walau ia marah dengan suaminya tak sampai hatinya di depan dosen killernya mengabaikan suaminya.


Satya tersenyum menatap istrinya, ia merasa lega saat istrinya masih mau di ajak bicara saat ada temannya.


“Lo harus lebih sabar dengan bini lo, Sat.” Kata Ibnu yang melihat mata Senja sembab.


“Iya gue dari tadi selesaian laporan sampai tiga jam karena urgent harus di kirim hari ini, eh nggak tahunya dia sudah menangis sampai ketiduran.


“Resiko punya bini lebih muda dari kita,” kata Ibnu sambil tersenyum.


“Lebih enak punya bini muda dan masih polos, tapi kalau lagi ngambek bikin kepala pusing.” Kata Satya.


“Gue setuju kalau itu.” Sahut Ibnu


Dasar si tua dan si muda selalu punya obsesi sendiri-sendiri!


Maaf ya up nya lama, saya pribadi mengucapkan terimakasih banyak atas doanya, Alhamdulillah saya sudah sehat dan bisa up, semoga bisa up seperti di takdir cinta Khansa ya, sehari 2-3 bab, dan tidak teler lagi.


Kayanya lagi pada sibuk bikin nastar nih…boleh dong author icip-icip Heheh…

__ADS_1


__ADS_2