
Mama Tika menatap putranya seperti itu merasa sedih, ia berharap Sari segera ditemukan.
Ibnu berjalan tertatih menuju pintu keluar, belum sampai membuka pintu, tapi pintu terbuka terlebih dahulu oleh Leo.
"Ada apa?" tanya Leo melihat Kakaknya yang terlihat berantakan.
"Sari pergi," jawab Ibnu lemah.
"Leo kamu temani dia mencari istrinya!" perintah mama Tika.
Leo menatap wajah kakak sepupunya itu sambil mengangguk, entah kenapa ia ingat Ibnu yang dulu.
Kedua berjalan beriringan menuju mobil Leo, Ibnu yang biasa protes saat tidak memakai mobilnya sendiri, kini hanya diam.
Seakan Sari pergi membawa separuh jiwanya, Ibnu menatap kosong jalanan hal itu membuat Leo menggerutu tak jelas.
Leo mengirimkan pesan kalau Sari kabur dari rumah si killer berharap yang lain ikut membantu mencarinya.
"Kita cari kemana dulu?" tanya Leo.
"Ke rumah mertua gue," jawab Ibnu datar.
Leo hanya mengangguk, mobil sport yang ia kemudian langsung meluncur dengan kecepatan tinggi, hal itu membuat pengendara lain mengumpat dan membunyikan klakson ke padanya.
Ibnu hanya diam, ia sama sekali tidak peduli yang dia pikirkan sekarang hanya mencari istrinya dan meminta maaf kepada Sari.
Mobil sampai di gerbang yang tinggi dan kokoh, keduanya langsung turun. Pintu terbuka karena penjaga tahu kalau menantu dari keluarga Erlangga berkunjung, Ibnu dengan dingin langsung masuk, ia tahu Kedua mertuanya tidak ada di rumah.
"Bik, Sari mana?" tanya Ibnu.
"Tidak ada datang, Den. Cuma tadi sopir disuruh jemput dua koper pakaian Non Sari, Den," jawab asisten rumah tangga di keluarga Erlangga.
Ibnu langsung masuk kamar Sari, ia takut asisten itu berbohong, tapi semua itu benar hanya ada dua tas di dalam kamar itu. Ia kembali lagi turun, melihat di dekat mobilnya sudah ada Alan, dan Deo.
"Siapa teman Sari yang lain?" tanya Ibnu sambil menatap ketiga mahasiswanya itu.
"Dea, tapi rasanya tak mungkin," kata Leo.
Alan dan Leo menatap Deo inténs, "Apa, gue enggak tahu?"
__ADS_1
"Cih, gue belum tanya juga," umpat Alan.
Kini mereka naik mobil Alan dan Deo mengikuti kemana mobil Leo.
"Ini ke rumah Senja," kata Deo.
"Hem," jawab Alan pendek.
Mereka turun dan langsung masuk karena pintu sudah terbuka.
"Assalamualaikum," kata ketiga pria muda itu.
"Waalaikumsalam warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Ayah dan Bunda bersamaan.
"Apa Sari langsung pulang?" tanya Bunda menatap ke empat pria itu.
Semau menggelengkan kepalanya, tak lama Satya dan Yoga yang baru keluar dari ruang kerja mantap heran dengan tamu yang tak diundang itu.
"Senja mana?" tanya Ibnu.
"Bini lo yang kabur kenapa cari bini gue, Lo!" kata Satya kesal.
"Gue mau tanya, apa Sari ada menghubungi Senja?" tanya Ibnu.
"Gue enggak tahu," jawab Satya.
Ayah Nugraha melihat itu akhirnya berbicara," kamu panggil istrimu, Nak."
"Baik Yah," jawab Satya langsung beranjak dari duduknya.
Selama kepergian Satya hanya ada keheningan di ruang keluarga.
Senja sambil menggendong anaknya menuruni tangga di bantu oleh suaminya.
"Senja, apa Sari ada menghubungimu, Nak?" tanya Ayah Nugraha.
Senja yang ditanya merasa bingung, karena yang ia tahu kalau Sari pulang ke rumahnya, ditatapnya Ibnu yang juga sedang menatapnya sambil menjawab," Sari, tidak ada telepon."
Ibnu mengusap wajahnya, ia bingung mau mencari istrinya kemana lagi. Kalau sampai tidak membawa Sari pulang dia tidak akan berani pulang ke rumahnya. Sudah dipastikan kalau Mama Tika akan marah.
__ADS_1
"Sekarang sebaiknya cari Sari, di mana tempat biasa dia menyendiri jika sedang sedih," kata Bunda merasa iba melihat Ibnu.
"Iya, Bun, tapi dimana?" tanyanya balik menatap ketiga teman istrinya bergantian.
"Kita cari di taman, dan lo Leo cari di dekat arena balap," kata Alan.
Ibnu menatap tajam ke arah Alan, mana mungkin Sari pergi ke arena balap dengan perut yang sudah membuncit. Namun, dia langsung ditarik oleh Leo untuk mencari di mana sahabatnya itu untuk mencari ketenangan.
Satya hanya yang melihat Ibnu seperti waktu lima tahun yang lalu, dia menatap dengan tatapan yang berbeda. Senja menatap suaminya, jujur dia masih kurang paham.
"Mas, Sari kabur?" tanya Senja.
Ayah dan Bunda langsung menatap Senja, jadi selama kejadian barusan menantunya itu belum paham dengan apa yang terjadi.
"Jingga, itu kamu minum asinya banyak sekali sampai Mamamu, jadi seperti itu," kata Satya.
"Huss, kamu itu anak minum asi banyak itu bagus!" kata Bunda gemes dengan Putranya itu.
Yoga mendengar itu rasanya ingin sekali membuang menantunya ke simpang yang banyak wanita jadi-jadian. Ayah Nugraha hanya tersenyum melihat sikap Satya dan Senja. Walaupun keduanya sering ada percekcokan, tapi untuk komunikasi Senja yang lebih suka mengalah dari pada putranya sendiri.
"Satya, Yoga dalam rumah tangga itu harus ada komunikasi, dan saling terbuka," kata Ayah Nugraha.
"Iya Yah," jawab keduanya bersamaan.
"Apalagi sekarang kalian sudah ada anak, bukan berarti urusan didik anak kamu limpahkan kepada Senja dan Mentari. Seorang Ayah itu begitu berperan besar atas pertumbuhan dan perkembangan anak nantinya," ujar Ayah Nugraha.
Kedua pria itu hanya diam, kata-kata Ayah seperti tamparan untuk Yoga. Karena selama Senja lahir sampai sudah memiliki suami tidak pernah memberi perhatian kepada anak sulungnya itu.
Senja meneteskan air matanya, semua apa yang dikatakan mertuanya itu benar. Karena itu dia tidak ingin adik dan anaknya nanti mengalami apa yang dirasakan selama ini. Satya mengusap kepala istrinya ia tahu kalau wanita di sampingnya mengalami, walau Ayahnya masih ada.
Yoga beranjak dari duduknya, melihat itu Satya mengambil alih putrinya dari tangan Senja. Air mata Yoga mengalir begitu saja saat menatap putrinya yang tak pernah ia gendong saat kecil.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah gagal menjadi orang tua yang baik buatmu," kata Yoga sambil memeluk putrinya.
Suasana haru terjadi di ruang keluarga, Bik Sum dan bik Ida ikut menangis melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Tangis Mentari pecah saat dia mendengar apa yang sedang dikatakan Ayah Nugraha. Dia akan mengambil minum di dapur, tapi tidak sengaja mendengar obrolan itu.
Bik Sum langsung memeluk wanita yang terduduk di lantai itu. Kalau suaminya merasa gagal sebagai orang tua bagaimana dengan dirinya yang kabur dari rumah, dan menjadikan putrinya yang berumur delapan belas tahun harus menggantikannya menikah dengan pria yang awalnya tidak dicintainya itu.
Hati Mentari begitu sakit, takdir yang membuatnya harus berpisah dengan suaminya selama delapan belas tahun. Namun, kini keduanya bisa bersatu lagi karena kekuatan dan kesetiaan keduanya.
__ADS_1
Bersambung ya….