PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
episode 87


__ADS_3

Di salah satu ruko tingkat dua, wanita yang masih terlihat cantik walau umurnya tidak muda lagi sedang membersihkan ruangan yang akan ia gunakan untuk menyimpan koleksi desainnya.


"Assalamualaikum, Bunda," ucapnya saat masuk ruangan.


"Waalaikumsalam sayang, bagaimana apa perlu perbaikan lagi," ujarnya sambil memperhatikan sekeliling.


"Diana rasa sudah cukup, insyaallah nanti ada beberapa baju yang siap di jahit datang," ucapnya sambil duduk di kursi plastik depan meja kerja.


"Insyaallah lusa bisa mulai buka," katanya dengan semangat.


"Amiin."


Kini keduanya mulai keluar ruangan untuk melihat hasil renovasi yang akan digunakan untuk memajang baju untuk di jual.


Diana tersenyum ia merasa puas atas hasil kerja orang-orang suruhan Om Nugraha.


Dia yakin kali ini akan turun langsung, karena Bunda tidak akan cari kariawan terlebih dahulu.


"Sayang apa kamu yakin, kita tidak mencari karyawan?" tanyanya.


"Sementara kita handle dulu, Bun,"ucapnya sambil tersenyum.


"Bunda ikut saja, Nak," katanya sambil memeluk Diana erat.


Diana segera siap-siap karena hari ini ada kuliah siang, ia segera pamit kepada Bundanya.


"Bunda jangan capek-capek, biar nanti Diana yang melanjutkan," katanya sambil pergi naik ojol yang sudah dipesannya.


Bunda Fifi hanya tersenyum melihat anaknya pergi, ia yakin kalau Diana mulai berubah ditambah lagi sekarang dia memutuskan memakai hijab.


Harapannya putri satu-satunya itu, bisa lulus kuliah dengan baik dan menjadi lebih sukses dari Ayahnya dulu, tapi terkadang ada rasa takut di hatinya sampai kapan bisa mendampingi Diana.


Setelah suaminya berpulang, keluarga besarnya mulai mengacuhkannya, seakan-akan dia akan menjadi beban untuk mereka.


Bunda Fifi baru menyadari, kalau mereka dulu dekat karena suaminya yang punya usaha sendiri. Kini terbukti tidak ada satupun diantara mereka datang memberikan bantuan atau sekedar menjalin silaturahmi dengannya.


********


Ojol yang dinaiki Diana sudah sampai depan kampus, saat ia akan masuk gerbang seketika berhenti.


Diana melihat Senja yang baru datang diantar oleh suaminya, ia berniat menunggu wanita yang dulu dibencinya.


"Assalamualaikum, Ukhti," sapa Senja sambil tersenyum menatap Diana yang berdiri sambil tersenyum menatapnya.


"Waalaikumsalam, Nona Satya," balasnya.


"Husssttt jangan ngomong gitu nanti fansnya protes dan demo," ujarnya sambil berbisik.


Keduanya saling pandang lalu tertawa bersamaan, tak lama ada suara tepuk tangan mendekat dan langkah seseorang dari belakang.

__ADS_1


Senja dan Diana tak perduli, keduanya dengan santai melangkah menuju kelasnya.


Sasa dan kedua temannya begitu geram melihat Diana kini berteman dengan Senja.


Sampai kelas Senja langsung duduk di bangku tengah yang diikuti oleh Diana, Sari yang baru datang tersenyum melihat Senja sudah datang.


"Senja...gue tadi lihat pemilik kampus ini datang dengan asistennya," kata Sari begitu bahagia.


"Menurut lo orangnya bagaimana?" tanya Senja.


"Ehmm...dia tampan, dingin dan huwaaaa gue ceritain dia saja deg...degan," ujarnya sambil menutup wajahnya malu.


Diana dan Senja saling pandang dan akhirnya tawa keduanya pecah melihat reaksinya Sari. Semua yang ada dikelas begitu terpana melihat tiga wanita yang paling cantik dikelas mereka.


Diana, Sari dan Senja tampil berbeda dengan mahasiswi lain. Ketiganya tampil natural dan sederhana, berbanding terbalik dengan penampilan Diana dulu waktu berteman dengan Sasa.


Diana lebih terlihat muda jika tampil tanpa make-up berlebih, tapi yang menambah dia semakin manis jilbab yang menutupi kepalanya.


Tak berapa lama datang Alan, Deo dan Leo mereka segera menghampiri ketiga wanita yang kini sedang asik bercerita.


"Lagi ngomongin apaan?" tanya Leo yang kini duduk di samping Diana.


"Eh...jangan dekat-dekat, lo bukan mahramnya," kata Sari dengan wajah seriusnya.


Deo hanya tertawa melihat sahabatnya yang di tarik oleh Sari, Leo hanya bisa mengerutu.


"Semoga si killer enggak kasih tugas lagi, jujur gue stress ngerjain tugas dari ayang Ibnu," ujar Sari.


Senja tersenyum mendengar ucapan Sari, tak jauh beda dengan Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Eh...ayang Ibnu itu masih lajangkan?" tanyanya sama sahabat-sahabatnya.


"Kayaknya ia, bagaimana coba mau punya pacar orangnya killer gitu," kata Deo.


"Jodoh itu hanya Allah yang tahu, ini buktinya gue baru ketemu sama Senja," ucapnya sambil mengedipkan matanya ke arah Senja.


Diana melihat itu terkejut, sedangkan Senja yang menatapnya menggelengkan kepalanya. Diana yang tahu maksud Senja hanya mengangguk, hal itu membuat Leo curiga.


"Ada yang kalian berdua sembunyikan!" ucapnya sambil menatap Senja dan Diana bergantian.


Senja dan Diana sama-sama menggelengkan kepalanya, tapi sepertinya Leo tidak percaya.


Tak lama Dosen killer yang mereka bicarakan tadi muncul sambil menenteng tas laptopnya, suara yang tadinya bising kini senyap seketika.


Ibnu memperhatikan mahasiswanya satu persatu, kemudian ia mengeluarkan kertas yang sudah ia foto kopi untuk dibagikan.


"Sari dan Alan tolong bagikan satu-satu," ucapnya.


Setelah itu mereka semua memperhatikan lembaran kertas itu dengan heran, Pak Ibnu segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Kini ia berdiri dan tak lama , masuk seseorang yang para mahasiswi kagumi.

__ADS_1


Senja masih belum menyadari, kalau ada suaminya di ruang kelasnya.


"Semua sudah dapat, itu untuk kerja kelompok hasil seminar yang akan di sampaikan oleh beliau," kata Ibnu.


"Pak ini anggotanya boleh pilih sendiri," tanya Deo.


"Iya boleh," jawab Ibnu.


"Yes...," ucapnya, sektika ruangan jadi riuh.


Ibnu segera melerainya, kemudian Satya tersenyum ia berdiri didekat meja Ibnu sambil menyalakan lektopnya yang sudah terhubung dengan proyektor.


"Terimakasih atas waktunya," kata Satya.


Senja seakan-akan mendengar suara suaminya, tapi tidak mungkin kemudian ia kembali fokus membaca lembaran kertas yang di bagikan tadi.


Satya hanya tersenyum saat matanya melihat istrinya yang sedang fokus membaca lembaran kertas yang dibagikan oleh temannya.


"Apa bisa saya mulai," ucapnya.


Seketika mata Senja melotot saat melihat kedepan, berarti tadi bukan halusnya. Sari yang duduk samping Senja tunjuk tangan.


"Pak boleh perkenalkan diri dulu," kata Sari sambil salah tingkah.


Satya tersenyum, kemudian ia menuliskan namanya dan perkerjaan.


"Sudah cukup," katanya


"Status pak?" tanya salah satu mahasiswi lainnya.


"Saya sudah menikah, dan sebentar lagi akan punya anak," jawab Satya.


Mendengar itu banyak mahasiswi yang mengeluh, Sari hanya diam ia tertunduk lesu. Air matanya menetes ia begitu sedih mendengar lelaki tambatan hatinya sudah menikah, Senja melihat itu ikut sedih.


"Tolong yang di belakang jangan ribut," ucap Satya sambil berbalik badan untuk menulis materi yang akan ia sampaikan.


Namun, ia tersenyum melihat istrinya cemberut saat ditegurnya tadi. Kini Satya menjelaskan begitu detail materinya, dan memberikan tugas untuk dikerjakan kelompok.


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain


🌾 Takdir Cinta Khansa


🌾 Menikah Muda

__ADS_1


__ADS_2