PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 30


__ADS_3

Suara Alarm mengejutkan Senja dari istirahatnya, Senja membuka mata berlahan saat dirinya terbagun langsung tersenyum karena pertama yang dilihatnya wajah tampan suaminya.


Senja segera duduk dan sudah menjadi kebiasaannya langsung membaca doa bangun tidur sebagai rasa syukurnya ke pada Allah SWT.


"Alhamdulillahilladzii akhyaana ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur." kemudian Senja segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Satya terbangun saat mendengar suara gemericik air di kamar mandi, lima belas menit kemudian Senja keluar tersenyum ke arah Suaminya, Satya yang melihat istrinya sudah segar, segera masuk kamar mandi.


Kemudian keduanya sholat berjamaah, selesai sholat Senja segera keluar kamar untuk membantu Ibunya menyiapkannya sarapan, sedangkan Satya lanjut dengan membaca ayat suci Alquran.


Saat Senja hendak menuruni tangga, tidak sengaja mendengar suara Nenek Wati sedang menelepon. Senja menghampiri Nenek Wati yang seperti ketakutan sambil menangis.


Saat Senja sampai Nenek Wati buru-buru menghapus air matanya, karena takut Senja akan mencurigainya.


"Nenek kenapa?" tanya Senja.


"Eh....i..itu," ucap Nenek Wati gugup.


Senja yang merasa aneh dengan sikap Nenek Wati hanya tersenyum," ya sudah, ayo kita kedapur," ajak Senja.


Keduanya berjalan beriringan, dengan tangan Senja yang memeluk lengan Nenek Wati, Mentari yang lebih dulu bangun hanya tersenyum melihat tingkah laku Senja yang manja.


"Pagi, Ibuku yang cantik," ucap Senja sambil memeluk tubuh Ibunya.


"Lepaskan sayang, nanti sayurnya tumpah," ujar Mentari.


Senja langsung melepaskan pelukankan dari tubuh Ibunya, Nenek Wati melihat itu tersenyum hangat, jujur dirinya merindukan suasana waktu suaminya masih hidup, tanpa terasa air matanya menetes, dengan cepat Nenek Wati segera mengusapnya sebelum ketahuan Mentari dan Senja.


"Ibu, apa ibu sudah menghubungi Nenek?" tanya Senja.


"Belum sayang, Ibu belum siap."jawab Mentari dengan nada yang sedih.


Senja yang menyadari sudah membuat Ibunya sedih, memeluk sang Ibu dengan erat, keduanya saling berpelukan untuk saling menguatkan.


"Boleh Ayah ikut bergabung," ucap Yoga yang baru datang dengan Satya.


Mentari dan Senja melepaskan pelukannya, kemudian keduanya menghampiri suaminya masing-masing, dan berpelukan dipagi hari, tanpa mereka sadari Nenek Wati mengabadikan keharmonisan keluarga yang sudah sangat baik itu padanya.


Kemudian mereka menuju meja makan, yang sudah ada Nenek Wati sambil tersenyum, Nenek Wati sepertinya tidak asing saat melihat suaminya Senja. Sedangkan Satya yang merasa di perhatikan menoleh ke arah Nenek Wati sambil mengangguk dan tersenyum.


Nenek Wati membalas senyuman Satya, setelah selesai sarapan Senja dan Mentari membereskan meja makan di bantu Nenek Wati, setelah selesai mereka segera menuju ruang keluarga.


"Maaf Nak, sepertinya Nenek enggak asing sama wajahmu," ujar Nenek Wati kepada Satya.

__ADS_1


"Apa Nenek sebelumnya sudah pernah bertemu dengan suamiku," kata Senja.


Nenek Wati yang mendengar ucapan Sanja terlihat gugup, melihat itu Yoga dan Satya saling pandang. tak lama bunyi bel rumah berbunyi.


Ting tong.... ting tong....


"Biar Senja saja yang buka," ucap Senja kemudian melangkah menuju ke pintu.


Senja membuka pintu langsung melotot melihat siapa yang datang kerumah orang tuanya, Senja menatap tajam dengan waspada.


"Mau ngapain Om kesini!" bentak Senja sambil berkacak pinggang.


Arnold terkejut melihat anak Yoga, sepertinya tidak mudah untuk mempengaruhinya, Satya yang mendengar suara teriakan Istrinya segera menghampirinya.


"Siapa sayang," ucap Satya lembut.


Satya berdiri disampingnya Senja langsung mengerutkan keningnya, Satya menghela nafas panjang sambil memeluk pinggang Istrinya.


"Masuklah bro," ajak Satya


"Tapi Bby....dia," ucapan Senja langsung berhenti saat Satya mengecup bibirnya.


"Woei..., gila lo ya," teriak Arnold terkejut saat melihat adegan di depannya.


Tak lama Yoga datang bersama Mentari dengan membawa teh, Mentari belum menyadari siapa tamu yang datang kerumah suaminya sepagi ini, saat meletakkan cangkir di depan Arnold, Mentari yang terkejut sampai tangannya menyenggol teh yang baru saja di letakan di atas meja. Arnold yang kakinya terkena teh panas langsung berdiri sambil mengumpat ke Mentari.


"Meta, kenapa lo dari dulu selalu ceroboh!" teriak Arnold sambil mengusap kakinya yang terasa panas.


Mentari segera ingin berlalu, saat tahu siapa yang datang, tapi Yoga mencekal tangan Mentari membuatnya berhenti.


"Ikut duduk, biar kamu tahu semuanya," ucap Yoga lembut.


Mentari menatap Arnold yang masih mengusap kakinya, sedang Senja dan Satya tetap asik berdua tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Sayang, aku ambil obat dulu," kata Mentari sambil tersenyum menatap suaminya.


"Perlu bawa ke Dokter enggak?" tanya Yoga karena melihat luka di kaki Arnold sudah memerah.


"Enggak usah, nanti juga sembuh," jawab Arnold


Mentari datang membawa kotak p3k yang di ikuti oleh Nenek Wati, melihat ada Arnold Nenek Wati terkejut, melihat itu Yoga tersenyum.


"Nek sini ikut duduk," ucap Mentari.

__ADS_1


Nenek Wati hanya diam mematung melihat orang yang duduk di ruang tamu bergantian, Senja yang melihat itu jadi games, Senja memapah Nenek Wati untuk duduk di sampingnya.


"Nenek jangan takut, kami sudah tahu semuanya, Nenek juga tetap bisa tinggal di sini," ucap Yoga kemudian Yoga melihat Arnold yang duduk di lantai sambil mengolesi Kakinya yang tersiram teh tadi.


"Makanya Om, cari istri biar ada yang merawat," ujar Senja yang kasihan melihat Arnold kesusahan mengolesi kakinya.


Nenek Wati yang melihat cucunya kesusahan segera menghampirinya, Nenek ikut duduk di lantai mengambil alih saleb dari tangan Arnold.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Nenek Wati sambil mengolesi luka di kaki Arnold.


"Buat Arnold yang penting Nenek dan Suci bahagia sudah cukup, kalau orang tua itu masih seperti itu ya biarkan saja." ucap Arnold yang sudah kecewa dengan Ayahnya.


Nenek hanya tersenyum menanggapi ucapan cucunya, Arnold kembali duduk di sofa samping Neneknya.


"Sekarang kita ikuti saja dulu, bagaimana rencana Papa Roby," ucap Yoga.


"Gue setuju, takutnya kalau kita gegabah akan membuat rencana jadi berantakan," jawab Satya


"Uluh... uluhhhhh, suamiku the best," sahut Senja membuat yang lain bengong, saat sedang seriusnya, senja selalu membuat bayolan.


Satya yang mendengar ucapan istrinya hanya bisa memijat pelipisnya, Senja menatap suaminya dengan cemberut.


"Bisa kita lanjut!" ucap Yoga dengan datar.


Senja yang mendengar suara Ayahnya langsung sembunyi di belakang bahu Satya, membuat Yoga mendengus dengan kelakuan anaknya.


"Tadi Ayah gue telepon, menayakan Satya." ucap Arnold .


"Lo jawab apa tadi?" tanya Yoga.


"Gue bilang Satya ada di Jakarta, tapi setelah itu....," ucap Arnold terpotong oleh getaran di kantong celananya.


Arnold meraih Handphonenya, kemudian melihat siapa yang menghubunginya.


"Pak Roby," ucap Arnold.


"Angkat," sahut Satya .


Arnold yang mengerti maksud Satya segera mengangkat telepon, dan mengaktifkan loudspeakernya.


Bersambung ya...


jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya, bila suka berikan hadiahnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2