PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 32


__ADS_3

Setelah Senja meminum air putih, sudah mulai tenang, Mentari memeluk anaknya, kemudian meminta maaf kalau tadi sudah membuat Satya dan Senja marah dan tersinggung.


Tengah sedang asik mengobrol suara bel berbunyi.


Ting...tong....Ting...tong, mendengar itu Mentari segera berdiri menuju pintu, saat Mentari membuka pintu terkejut melihat dua orang berseragam polisi sudah berdiri di depannya.


"Selama pagi, Bu," sapa Polisi itu.


"I..ia, pagi Pak," jawab Mentari dengan gugup.


"Pak Yoganya ada Bu?" tanya salah satu polisi itu.


Yoga yang menunggu Istrinya tidak segera kembali segera menghampirinya, Yoga terkejut melihat ada dua orang polisi datang kerumahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Yoga kepda Istrinya.


"Pagi Pak, kami dari pihak kepolisian, sengaja datang karena kami menemukan mobil Bapak menabrak pohon besar di jalan xx," ucap Polisi itu.


Yoga dan Mentrari sama-sama terkejut mendengarnya, Yoga yakin kalau Satya yang membawa mobilnya.


"Bagaimana dengan korbannya Pak?" tanya Mentari


"Korban sudah di bawa kerumah sakit terdekat, Bapak dan Ibu bisa langsung untuk melihatnya.


Setelah polisi pergi, Yoga memeluk istrinya yang sedang menangis, Senja melihat Ibunya menangis menghampirinya.


"Ibu kenapa, Yah?" tanya Senja melihat Ibunya duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu harus sabar ya, Nak," kata Yoga kemudian mengambil kunci mobil lain.


"Ayah mau kerumah sakit mau lihat kondisinya, Senja kamu jagain Ibu sebentar," ucap Yoga yang akan melangkah keluar, tapi langsung berhenti karena tangannya di cekal oleh Senja.


"Siapa yang di rumah sakit, Yah?" tanya Senja


Yoga membalikkan badannya menghadap Senja, ada rasa khawatir jika nanti senja shock mendengarnya.


"Mobil yang di bawa Satya menabrak pohon, Ayah mau lihat keadaan Satya di rumah sakit," jawab Yoga.


Senja hanya diam mematung, tapi air matanya mengalir di pipinya yang putih, melihat itu Mentari memeluk anaknya.


"Biarkan kami ikut, Mas." kata Mentari kemudian mereka menuju mobil untuk melihat keadaan Satya.


Selama di dalam mobil hanya hening, Yoga menghubungi Arga, tapi tidak di angkat.


Yoga mengirim pesan ke Arga.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit Yoga sampai rumah sakit segera ke UGD, sampai UGD Yoga Melihat ada beberapa polisi duduk di ruang tunggu dengan lelaki paruh baya.


"Selamat siang, dengan pak Yoga," ucap polisi itu menghampiri Yoga, keduanya saling berjabat tangan.


"Ia Pak, bagaimana dengan keadaan menantu saya, Pak," ucap Yoga yang begitu khawatir.


"Dokter sedang menangani, Bapak dan keluarga batu doa saja.

__ADS_1


Yoga mengajak anak dan istrinya untuk duduk di ruang tunggu, dari jauh terlihat Arga setengah berlari sambil menggemgam tangan gadis muda Suci.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Arga yang terlihat Khwatir.


"Dokter belum keluar," jawab Yoga.


Arga mengajak Suci untuk duduk di samping Senja, Suci melihat Senja begitu prihatin, keduanya saling tatap, Senja berhambur kepelukan Suci, hanya pelukan yang di butuhkan Senja. Suci mulai memenangkan Senja.


Di Surabaya.


Hari Minggu seperti biasa Ranga yang tinggal bersama keluarga Nugraha sedang asik menonton televisi di temani Bunda.


Bunda dari tadi terlihat begitu gelisah, entah kenapa perasaannya tidak enak, Ranga yang melihat Bundanya gelisah menghampirinya.


"Bunda kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Ranga


"Perasaan Bunda dari pagi tadi tidak enak, Nak," jawab Bunda sambil tersenyum tidak ingin melihat anaknya bersedih.


Walaupun Arga dan Ranga bukan anak kandungnya, Bunda sangat menyayanginya seperti menyayangi Satya. Tak lama handphonenya Ranga berdering.


Kring...kring. kring Ranga melihat nama Abangnya di ponselnya, Ranga menatap Bundanya, Bunda hanya tersenyum menanggapi tatapan anaknya.


"Halo Bang," ucap Ranga saat mengangkat telepon.


"Lo lagi dimana?" tanya Arga.


"Di rumah Bunda, kenapa Bang?" tanya balik Ranga.


Arga menarik nafas panjang dan menceritakan kalau Satya mengalami kecelakaan, mobilnya menabrak pohon, Arga juga memberi tahu kalau sampai sekarang belum tahu bagaimana kondisi Satya.


Ayah Nugraha melihat Ranga mematung langsung menepuk bahunya, untuk menyadarkan Ranga, Ranga yang terkejut menatap Ayah dan Bundanya, Ranga bingung bagaimana cara menjelaskan pada kedua orang yang sudah merawatnya sejak kecil itu.


"Ada apa Nak?" tanya Bunda dengan lembut.


"Bunda, Ayah mobil yang dikemudikan Satya hilang kendali menabrak pohon," jawab Ranga.


Bunda yang terkejut tiba-tiba jatuh pingsan, melihat itu Ayah dan Ranga segera mengangkat tubuh Bunda ke kamar terdekat. Ranga segera menghubungi Dokter.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ayah yang terlihat begitu khawatir.


"Belum ada kabar dari Bang Arga yah, Yoga dan Senja sudah ada juga di rumah sakit," jawab Ranga.


Tak lama Dokter Faisal datang dengan buru-buru, langsung menuju kamar tamu yang di beritahukan oleh asisten rumah tangga tadi.


"Kenapa bisa begini?" tanya Faisal setelah membuka pintu kamar.


Faisal memeriksa wanita yang masih terlihat cantik itu, wanita yang selalu ada untuknya. selesai memeriksa Faisal menatap Ranga dan Ayah Nugraha.


"Ada apa?" tanya Faisal.


"Mobil yang di kendarai Satya menabrak pohon," jawab Ranga.


"Astagfirullah, kapan? terus bagaimana keadaannya?" mulut Faisal tidak berhenti memberondong pertanyaan ke Ranga.

__ADS_1


Ranga hanya menghela nafas panjang, melihat sahabatnya yang tidak berhenti bertanya, Faisal terlihat kesal karena Ranga tidak menjawab pertanyaannya.


Tak lama Bunda sadar, langsung menangis meminta pergi ke Jakarta melihat anaknya, Ayah Nugraha yang tidak tega melihat istrinya segera menyuruh Ranga mencari penerbangan ke Jakarta.


Setelah dapat Ranga segera mengambil kunci mobil, Faisal, Bunda dan Ayah Nugraha menyusul ikut Naik mobil menuju Bandara Juanda.


Ranga terus mengumpat saat jalan yang begitu macet, tak selang lama mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Bunda panik.


Faisal langsung memukul lengan Ranga dengan kuat, supaya melambatkam mobilnya. Ranga minta maaf karena tidak menyadarinya kalau tadi sudah membuat Bunda takut.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit mobil yang di kemudikan Ranga sampai di Bandara. Setelah selesai menurunkan Faisal, Ayah, dan Bundanya, Ranga segera mengurus kalau mobil yang di bawanya menginap. Setelah selesai Ranga segera menghampiri Ayah Nugraha.


Ke empatnya sudah menunggu di ruang tunggu, menunggu sekitar lima belas menit lagi baru akan naik pesawat. Ranga mengirimkan pesan ke Yoga kalau dirinya sudah di pesawat, tapi Ranga tidak memberitahu kalau dirinya datang bersama orang tua Satya.


Jakarta.


Sudah satu jam lebih Dokter belum juga keluar dari ruang UGD, membuat Senja dan yang lainnya begitu terlihat Khawatir. Arga melihat Senja yang begitu mengkhawatirkan Satya mengambil handphonenya, diam-diam mengambil foto Senja yang terlihat gelisah. Tak lama Dokter keluar, dari ruangan UGD menghampiri keluar Yoga.


"Maaf dengan keluarga pasien?" tanya Dokter.


"Ia Dok, saya mertuanya," jawab Yoga.


Dokter melebarkan matanya mendengar ucapan Yoga, karena setahu Dokter Pasien umurnya sama dengan pria yang mengakui sebagi mertuanya.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Arga.


Dokter menarik nafas panjang, sebelum menyampaikan keadaan pasien. Senja berdiri menghampiri Dokter yang terlihat seumuran dengan suaminya.


"Dokter saya mohon selamatkan suami saya, huwaaa Bby...," tangis Senja langsung pecah.


Suci berdiri untuk membantu Senja duduk dan mendengarkan apa yang akan Dokter sampaikan, Senja hanya bisa mengangguk.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, karena benturan yang begitu kuat membuat kepalanya..." ucapan Dokter terpotong oleh teriakan Senja yang memanggil Bby sambil menangis.


"Lanjutkan Dok," sahut Arga.


"Di kepala pasien ada gumpalan darah, Alhamdulillah kami bisa mengeluarkannya," ucap Dokter dengan tersenyum melihat Senja yang terdiam mencerna ucapan Dokter Yang bernama Diki.


"Tapi suami saya baik-baik saja'kan, Dok?" tanya Senja sambil menghampiri Dokter Diki.


"Alhamdulillah, baik-baik saja, dan akan segera di pindahkan keruang rawat." jawab Dokter Diki sambil tersenyum menatap semuanya.


Saat Dokter Diki akan pergi Senja memanggil Dokter yang sudah berjuang menyelamatkan suaminya.


"Dok," pangil Senja.


"Ia," jawab Dokter Diki sambil membalikkan badannya, tiba-tiba Senja berhambur memeluknya dengan erat.


Dokter Diki yang terkejut hanya mematung, saat Senja memeluknya, semua yang ada di situ terkejut dengan apa yang dilakukan Senja.


"Eh, maaf Dok saya terlalu bahagia," jawab Senja santai sambil melepaskan pelukannya.


Dokter Diki yang wajahnya sudah memerah langsung pergi meninggalkan Senja dan yang lainnya, karena jantungnya berdegup kencang saat Senja memeluknya, terasa begitu hangat dan nyaman.

__ADS_1


Bersambung ya....


Jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like dan votenya biar semangat aa up dua bab sehari 🙏🙏🙏


__ADS_2