PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 164


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat Senja dan anaknya diperbolehkan pulang juga oleh dokter, selama istrinya dirawat Satya tak pernah sedikitpun meninggalkan anak dan istrinya. begitu juga Yoga merupakan kebahagiaan yang patut disyukuri secara bersamaan anak dan cucunya lahir selamat tanpa kekurangan satu pun.


Ayah Nugraha beserta istrinya langsung menyiapkan dua kamar untuk kedua cucunya, lelaki paruh baya itu begitu senang walaupun putranya menikah dengan anak Yoga, tapi masih menganggap besannya itu seperti anaknya tidak ada yang berubah dari perhatian pria itu.


Bunda juga melarang Mentari untuk pulang ke rumahnya karena disana hanya ada dua pelayan, karena setelah menikah Rendy menempati apartemennya sesuai keinginan Popy istrinya.


Kebahagiaan begitu terlihat dari keluarga Ayah Nugraha, Arga dan Suci sudah langsung terbang ke paris untuk bulan madu sedangkan Ranga memilih pergi ke kampung halaman Bunda Fifi di Yogyakarta.


Satya yang masih membereskan baju istrinya dibantu bik Sum sedangkan Senja sedang memberikan asi ke putrinya, "sayang sisain papa dong ...."


"By apaan sih!" kata Senja melotot ke arah suaminya.


Satya hanya tersenyum, entah kenapa melihat benda favoritnya itu rasanya tidak ingin berbagi dengan putrinya, tapi dia tidak boleh egois karena itu hak anaknya dan kewajiban istrinya untuk memberikan asi.


"Non, ayo Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang tunggu," kata Bik Sum sambil membawa tas Senja.


"Ayah sudah siap mengambil obatnya, Bik?" tanya Senja.


"Sudah Non," jawab Bik Sum.


"Yang, mau pakai kursi roda," tawar Satya.


Senja terdiam, tapi akhirnya mengangguk menyetujuinya, Satya langsung keluar mencari perawat untuk meminjam kursi roda untuk istrinya.


"Kenapa Non?" tanya Bik Sum.


"Pedih Bik," jawab Senja.


"Bukan yang dibawah, tapi ini," kata Senja sambil menunjuk dadanya.


"Apa lecet, Non?" tanya Bik Sum.


"Iya," jawab Senja sambil meringis saat bajunya menempel di dadanya.


"Non enggak pakai dalaman?" tanya Bik Sum melotot.


"Pakai," jawab Senja.


Satya yang melihat istri dan Bik Sum hanya bengong saja, tak lama membantu istrinya untuk duduk di kursi roda.


Ketiganya berjalan keluar dari ruang rawat Senja, sampai di ruang tunggu Yoga sudah menatap kesal kepada anak dan menantunya.


"Maaf Yah, tadi beresin lama," kata Senja merasa tidak enak saat melihat tatapan Ayah ke suaminya.

__ADS_1


"Hem," jawab Yoga dingin.


"Baru tiga hari puasa sudah uring-uringan!" ejek Satya sambil memasukan tas istri dan Ibu mertuanya.


Yoga menatap tajam Satya," Lo sama mertua enggak ada sopan-sopannya."


Satya hanya tersenyum saat Yoga kesal kepadanya, tak lama Satya duduk di belakang kemudi sedangkan Yoga di sampingnya di belakang ada Bik Sum dan Senja serta Mentari. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Setelah empat puluh menit mobil sampai di kediaman Ayah Nugraha yang langsung disambut oleh Bunda dan Bik Ida .


"Ayo Nak masuk," ajak Bunda memapah Senja sedangkan Mentari bersama Bik Ida.


Kini semua berkumpul di ruang keluarga, ada rasa yang tidak dapat di artikan oleh wanita paruh baya itu. Anak yang dulu begitu dingin dan tidak tersentuh kini sudah menjadi orang tua dari cucunya.


"Bunda," kata Senja saat melihat mertuanya meneteskan air matanya.


"Maafkan Bunda Sayang, " katanya sambil mengusap air matanya.


Senja memeluk wanita itu dari sampingnya, ia tahu kelahiran putrinya merupakan hal yang begitu berharga bagi kedua mertuanya. Apa lagi baik ayah Nugraha dan Bunda tidak ada yang mempermasalahkan anaknya yang lahir laki-laki ataupun perempuan itu katanya tidak masalah yang penting sehat dan ibunya juga selamat.


Ayah Nugraha keluar dari ruang kerjanya, senyum mengembang dari bibirnya saat melihat kedua cucunya berada di boks yang bersebelahan itu.


"Cucuku," kata langsung menciumnya satu persatu.


"Apa kalian sudah menyiapkan namanya?" tanya Ayah Nugraha kepada Satya dan Yoga.


Ayah Nugraha hanya mendesah mendengar jawaban keduanya, pria itu menatap kedua cucunya ada rasa yang tidak bisa diucapkan seandainya Roby masih hidup pasti akan begitu bahagia melihat cucu dan cicitnya kini sudah lahir.


"Yah kapan Arga dan Ranga pulang?" tanya Bunda.


"Seminggu mereka bulan madu," jawab Ayah.


"Bilang ke Arga jangan langsung ke Jakarta, karena minggu depan akan buat syukuran kedua cucu kita," ujarnya.


"Iya nanti Ayah bilang," jawab Ayah Nugraha.


Ayah Nugraha menatap kedua putranya bergantian, "Ajak istri kalian untuk istirahat," 


Satya dan Yoga langsung mendorong boks kecil yang ada di depannya, diikuti Senja dan Mentari dari belakang.


"Jangan salah kamar lagi," sindir Bunda sambil terkekeh mengingat keduanya salah masuk ruang bersalin waktu itu.


Satya dan Yoga saling pandang jika mengingat kejadian itu keduanya merasa orang paling bodoh sedunia saat panik sampai salah masuk kamar.

__ADS_1


"Senja hanya mengerutkan keningnya begitu juga dengan Mentari. Kedua wanita itu hanya diam tidak ingin bertanya sekarang mungkin nanti saja.


"Mas," panggil Senja menatap suaminya setelah membaringkan putrinya.


"Hem," jawab Satya.


"Kapan salah kamar, pasti masuk kamar wanita berpakaian seksi ya?" tanya Senja penuh curiga.


Satya menatap istrinya lekat, entah dari mana dia akan cerita. Namun, mau tak mau pria itu harus memberi tahui istrinya. Dipelukanya tubuh istrinya yang sekarang agak berisi itu.


Satya menceritakan bagaimana Ade dan memberitahunya kalau istrinya dibawa ke rumah sakit, dan sampai salah masuk kamar bersalin karena keduanya tidak bertanya kepada perawat mana kamar bersalin Senja dan Ibunya terlebih dahulu.


Senja mendengar itu tertawa terbahak membuat Satya mencibirkan bibirnya, saat sang istri tertawa sampai keluar air mata karena tidak berhenti menahan tawanya.


"Apa Ibu juga tidak tahu?" tanya Senja.


Satya tidak menjawab, tapi pria itu menaikan bahunya saja. Senja melihat itu hanya menatapnya jengah. Diperhatikannya suaminya yang sedang melingkari kalender di atas nakas  samping ranjangnya.


"Buat apa, Mas?" tanya Senja menatap suaminya yang sedang melingkari angka-angka di kalender.


"Masa nifas," jawab Satya santai.


Senja hanya bisa menarik napas panjang, suaminya kini menjadi mesum. Satya yang melihat istrinya diam hanya tersenyum.


"Jangan marah, biar kamu enggak lupa," kata Satya lembut sambil mencium pipi istrinya.


"Itu yang kamu pikirkan, Mas!" seru Senja lirih.


"Jadi?" tanya Satya.


Senja tiba-tiba menangis, dia pun tidak tahu sebabnya. Satya melihat itu merasa iba, dipeluknya istrinya dengan lembut. Namun, bukannya diam tangis Senja semakin pecah di pelukan suaminya.


"Maaf kalau aku ngomong salah," kata Satya.


Senja hanya menggelengkan kepalanya, membuat Satya mengusap lembut rambut istri kecilnya itu.


"Mas?" tanya Senja lirih.


"Iya sayang," jawab Satya lembut.


"Apa aku enggak bisa kuliah lagi nantinya?" tanya Senja.


"Bisa tapi setelah kamu sehat, lagian masih satu semester lagi kamu cutinya," ujar Satya.

__ADS_1


Senja hanya mengangguk, dipeluknya tubuh Satya dengan erat. Hal itu membuat pria itu menahan sesuatu yang tak seharusnya.


Bersambung ya..


__ADS_2