PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 46


__ADS_3

Suara azan dzuhur berkumandang tandanya sebagai umat muslim untuk menghentikan segala aktivitas dan melaksanakan sholat, Satya meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian dia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri / mandi junub.


Setelah lima belas menit Satya keluar kamar mandi, dilihatnya Senja sudah duduk diatas ranjang.


"Sayang mandilah segera, habis itu sholat dzuhur." kata Satya.


"Ia Bby," jawab Senja singkat.


Satya hanya tersenyum melihat istrinya masuk kamar mandi sambil menguap. Keduanya sholat berjamaah dengan khusyuk.


"Bby, ayo kita turun." ajak Senja sambil melipat sajadahnya.


"Ia sayang, pasti sudah lapar ya!" goda Satya sambil mengecup kening istrinya.


"Ia, bahkan kita belum sarapan pagi tadi," kata Senja dengan cemberut.


"Maafkan Bby, sayang," ujar Satya.


Keduanya menuruni tangga dengan beriringan, Satya melihat wanita paruh baya seumuran dengan Bundanya sedang menonton televisi di ruang keluarga.


"Siang Nek," ucap Senja langsung memeluk Nenek Marni.


"Siang sayang, wah kayaknya sebentar lagi Nenek segera dipanggil Buyut," goda Nenek saat melihat Cucunya rambutnya basah.


"Doakan saja Nek," sahut Satya yang menghampir keduanya.


"Pasti sayang, Nenek harap masih dikasih umur panjang untuk bisa bermain dengan cicit Nenek," senyum bahagia terlihat diwajah wanita paruh baya itu.


Senja hanya tersenyum menanggapi ucapan dan doa wanita yang sangat disayanginya.


"Nek, Kakek mana?" tanya Senja.


"Kakek pergi kerumah sakit sama Om Rendy," jawab Nenek Marni.


"Kenapa dengan Kakek, Nek?" tanya Senja yang khawatir.


"Kakek hanya cek up sayang," ujar Nenek Marni.


Senja bernafas lega saat mendengar kalau Kakeknya hanya cek up rutin. Satya tersenyum melihat istrinya yang begitu khawatir dengan anggota keluarganya.


"Sayang ajak suamimu makan dulu, apa kalian tidak lapar?" tanyan Nenek sambil tersenyum.


Tidak menunggu lama keduanya menuju meja makan yang sudah disiapkan oleh salah satu pelayan di rumah Kakek Roby. mereka makan dengan tenang.

__ADS_1


Setelah selesai Senja dan Satya kembali lagi duduk di ruang keluarga, tapi sudah ada Kakek dan Rendy yang baru pulang dari rumah sakit.


"Kakek Senja kangen," ucapnya sambil memeluk lelaki paruh baya itu dengan manja.


"Kakek juga kangen sayang, kapan kalian akan memberikan kami cicit," kata Kakek sambil menaikkan alisnya satu.


"Lagi proses Kek," jawab Senja sambil tersenyum menatap suaminya.


"Alhamdulillah, Kakek menunggu kabar baiknya." ujar Kakek Roby.


"Tapi Senja masih mau kuliah dulu, nanti kalau hamil enggak bisa kuliah," ucap Senja.


"Kata siapa tidak boleh! dulu ibumu kuliah saat hamil," ucap Nenek.


Satya hanya diam, entah mengapa ada perasaan yang menyentil hatinya saat Senja ingin kuliah dulu. Senja yang menyadari perubahan diwajah suaminya menjadi tidak enak hati.


"Bby, bukan maksud Mmy tidak ingin punya anak dari Bby!" kata Senja


Satya menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskan dengan kasar, mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Ia Bby mengerti," jawab Satya berusaha kalau semuanya baik-baik saja.


"Satya ada yang mau Kakek bicarakan berdua saja denganmu!" kata Kakek Robby kemudian melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju ruang kerjanya.


"Mmy disini saja, insyaallah semua akan baik-baik saja," ujar Satya.


Senja menganggukkan kepalanya tanda setuju, walau dalam hati tidak rela suaminya berbicara berdua saja dengan Kakeknya.


Satya langsung masuk keruangan Kakek dan duduk tepat di depannya, dia menatap wajah Kakek dengan penuh arti. Pandangan Kekek tidak lepas dari pemuda yang sekarang menjadi suami dari cucu kesayangannya, merasa yakin akan mengabulkan permintaannya untuk melepaskan salah satu hotel bintang lima yang ada di Bandung.


"Ada apa Kek?" tanya Satya.


"Kapan kalian menepati janji kalian, untuk menyerahkan hotel kalian yang di Bandung," kata Kakek Roby dengan santai.


Satya mencoba menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, kenapa orang tua didepannya ini tidak tahu malu meminta hotel dengan menukarkan cucu kesayangannya.


"Bagaimanapun kalau saya tidak akan memberikannya kepada Kakek," talak Satya .


"Apa kamu yakin anak muda!" ucap Kakek Roby sambil tersenyum sinis menatap Satya.


"Ia saya mempertahankan peninggalan Oma saya," jawab Satya mantap.


"Boleh, silahkan pertahankan hotel itu dan kamu!" ucap Kakek berhenti karena Senja sudah berdiri di pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


"Kamu apa Kek! apa Kakek akan memisahkan kami juga, seperti apa yang sudah Kakek lakukan kepada Ayah dan Ibu," kata Senja kemudian melangkah menghampiri suami dan kakeknya.


Kakek Roby terdiam menatap cucunya yang sekarang sudah berani membantahnya, dia menatap sepasang suami istri di depannya dengan tajam.


"Apapun yang Kakek lakukan untuk kebaikan mu dan ibumu, ingat itu!" teriak Kakek Roby.


"Kebaikan seperti apa yang Kakek maksud,hah? kebaikan memisahkan orang yang saling mencintai, apa Kakek tidak berfikir kalau sekarang Kakek sudah kehilangan Ibu, apa Kakek ingin juga kehilangan Senja!" teriak Senja sambil menangis merasa dirinya lelah dengan sikap Kakeknya.


"Kamu...!" ucap Kakek menahan sakit didadanya, membuat Satya khawatir.


"Kek," panggil Satya.


Tiba-tiba Kakek Roby pingsan yang langsung ditangkap oleh Satya sebelum jatuh kelantai. Melihat itu Senja menjadi panik, segera mengikuti suaminya untuk membawa Kekeknya kerumah sakit.


Rendy yang mendengar ribut-ribut dibawah segera keluar kamar, Dia terlihat panik saat melihat Papanya diangkat oleh Satya dengan cepat segera membuka mobil untuk membantu Satya.


Mobil meluncur dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Surabaya, Satya yang melihat mobil warna merah dia yakin itu Istrinya hanya bisa menghela nafas panjang.


Mobil sampai UGD, perawat segera membawa branker untuk Kakek Roby.


"Maaf sebaiknya tunggu diluar saja," ucap Perawat yang menahan Rendy dan Satya.


Keduanya duduk dengan diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Senja yang setengah berlari dengan Neneknya segera menghampiri Suami dan Om Rendy.


"Bagaimana?" tanya Nenek


"Kita tunggu saja Mam," jawab Rendy mengajak Mamanya duduk disampingnya.


Senja berjalan bolak-balik didepan ruangan UGD membuat Rendy pusing, akhirnya menarik ponakan itu untuk duduk samping Satya.


Suasana hening tidak ada yang bersuara, sudah hampir satu jam Kakek Roby di tangani oleh Dokter belum juga keluar.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Nenek dengan menangis.


Senja menceritakan kepada Nenek dan Rendy apa yang sedang yang terjadi tanpa ada yang ditutupi, Rendy hanya bisa mengusap kasar wajahnya.


Jujur Rendy bingung yang satu Papanya yang keras kepala ingin memiliki hotel milik Satya tapi caranya itu yang tidak masuk akal dengan menukar dengan Senja keponakannya.


"Apa kita hubungi Ibu saja Om?" tanya Senja karena perasaannya tidak enak.


"Tunggu Dokter keluar dulu bagaimana keadaannya," jawab Rendy.


Senja hanya menurut, Satya memeluk istrinya yang terlihat dari wajahnya begitu mengkhawatirkan Kakeknya. Satya menjadi dilema untuk mengambil keputusan apa harus menyerahkan hotel yang sengaja ia dirikan di lahan pemberian Omanya.

__ADS_1


Jangan lupa dukung dengan like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏🙏🙏


__ADS_2