PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Senja Kecewa


__ADS_3

Siang ini Senja sedang menidurkan Jingga, tidak lama mertuanya datang dan berkata, "Sayang, kita akan ke rumah Rendy karena untuk membantu menyiapkan buat nanti malam."


"Iya Bun," jawab Senja.


Setelah Jingga tertidur Senja keluar kamar, semenjak kejadian tembakan itu Satya tidak ingin membawa istrinya di kamarnya melainkan kembali lagi tidur di kamar tamu. Wanita itu berjalan menuju ruang keluarga, dimana ada Diana dan Suci.


"Jingga sudah tidur?" tanya Suci kepada Senja.


"Sudah," jawab Senja.


Senja menatap Diana yang sedang asik memainkan ponselnya, ada yang ingin ia tanyakan kepada sahabatnya itu. Diana yang merasa diperhatikan menatap Senja dan bertanya."Ada apa?"


"Diana boleh aku tanya sesuatu," ucap Senja kepada sahabatnya itu.


"Boleh, tentang apa Senja," kata Diana lalu meletakan ponselnya.


"ini soal Sasa. Apa kamu tahu apa alasannya Sasa membenciku selama ini?" tanya Senja.


Apa yang Diana takutkan akhirnya terjadi, dari kedatangan Ilham di rumah Nugraha ia begitu takut pasalnya ia pernah pergi ke markas Yona di tempat terpencil. Di mana ia pergi bersama Sasa, Diah dan Yeni. Namun, saat Sasa bertemu Ilham Diana hanya mengintipnya saja.


"Apa yang akan kamu tanyakan, Ja. A-aku." Diana menjawab dengan terbata-bata seakan menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa kamu gugup, apa ada yang kamu sembunyikan Diana?" tanya Senja dengan suara lantang.


"Senja maafin aku, tapi aku terpaksa melakukannya karena kalau tidak ia akan menghabisi Bunda," tangis Diana pecah dan wanita itu perlahan turun dari kursi rodanya dan langsung berlutut ia begitu merasa bersalah karena sudah membantu Yona untuk memberikan informasi kemana saja Senja keluar.


"Apa salahku padamu Diana, jawab Diana selama ini aku menganggapmu sebagai sahabat yang tulus," Senja berteriak  sambil menangis begitu kecewa.


Ayah Nugraha dan istrinya mendengar teriakan dari luar langsung keluar kamar dan bertanya." Ada apa ini?" 


Bunda melihat Diana yang sedang berlutut di lantai begitu iba, dipeluknya tubuh yang bergetar karena menangis itu dan berkata."Senja kenapa kamu jadi suka kasar dan berteriak, hah. Apa belum cukup karena kamu rumah ini tidak nyaman!"


Bun," sela Ayah Nugraha

__ADS_1


Senja hanya diam, wanita itu langsung masuk kamar dan membereskan semua barang-barangnya, ia keluar dari kamar dengan menggendong Jingga dan meminta pak Yanto untuk mengeluarkan koper dari kamar tamunya.


Bik Sum melihat itu meraih Jingga dan mengikuti Senja, ia tidak ingin ada apa-apa kepada wanita itu. iya sudah yakin ada yang tidak beres dari Diana karena mendengar istri Ranga itu menghubungi orang dengan sembunyi dan berbisik.


Bunda dan Ayah Nugraha tertegun saat Senja keluar begitu saja dari rumah  dan bertanya."Senja kamu mau kemana, Nak?"


"Senja nggak mau tinggal dengan penghianat Bun, " jawab Senja.


Ayah Nugraha menahan tangan menantunya dan berkata."Selesaikan baik-baik Nak dan tunggu suamimu."


"Maaf yah, ini demi keselamatan Jingga, Diana bisa melakukan apa saja biar Bunda Fifi selamat dari Yona, aku juga bisa berbuat apa saja demi putriku!" kata Senja menatap  Diana tajam.


Diana makin menggelengkan kepalanya dengan air mata yang menganak sungai, walau Bunda Fifi dan Ferdi sedang bukan madu. Diana yakin anak buah Yona tidak akan tinggal diam.


Senja berjalan menuju pintu keluar, wanita itu tidak memperdulikan teriakan Bunda dan Ayah Nugraha, ia tidak habis pikir Diana yang dulu ia kira benar-benar berubah. Namun, semua salah.


Mobil yang dikemudikan Senja membelah jalan kota Surabaya. Jingga yang di pangku bik Sum sedang tidur.


"Kita mau kemana ,Nak?" tanya bik Sum.


"Apa kita tidak apa-apa kesana?" tanya Bik Sum karena khawatir jika Satya akan marah pada dirinya.


"Aku kecewa bik, tadi Bunda dan Ayah begitu melindungi Diana dan keluarga itu terusik karena adanya aku." Senja tidak perlu khawatir dan berharap Satya membaca suratnya.


Senja melajukan mobilnya menuju kota Malang, ia juga mematikan ponselnya. Senja ingat sering mentransfer uang dari suaminya ke rekeningnya. Akhirnya ia membutuhkan uang itu sekarang, ia ingat saat mertuanya berteriak kepadanya ini pertama kalinya wanita itu membentaknya.


Selama empat jam Senja mengemudikan mobilnya sendiri, hingga ia tiba di rumah yang masih begitu terawat. Bik Sum keluar dari mobil, ia berharap mobilnya tidak dipasang GPS oleh suaminya.


Pintu terbuka wanita paruh baya yang mirip bik Sum keluar dan langsung berkacak pinggang menatap Senja dan bik Sum bergantian.


"Dasar punya adik tidak tahu diri, masih ingat pulang kamu, Sum!" teriak Jumiati  kakak kandung Bik Sum.


"Aku nggak kasih masuk Bik Jum?" tanya Senja.

__ADS_1


"Kamu juga sudah nikah nggak pernah datang!" kata Jum ketus.


Senja terkekeh dan kampung memeluk wanita yang sudah dianggap seperti neneknya, tapi paling nggak suka dipanggil nenek dan minyak dipanggil bik Jum.


*****


Di kediaman Nugraha.


Setelah kepergian Senja Ayah Nugraha meminta Satya untuk pulang, setelah tiga puluh menit ketiga pria tampan datang Arga, Satya dan Ranga.


"Ada apa  Ayah?" tanya Satya.


Duduklah Nak, Ranga menghampiri istrinya yang masih ditenangkan oleh Bunda, Suci benar-benar bingung dengan apa yang terjadi semua begitu tiba-tiba membuatnya bingung mana yang akan berpihak.


"Suci apa kamu dari tadi di sini, ceritakan kepada kami, Nak. Ayah Nugraha menatap istri Arga itu.


Suci menarik napas dalam dan menceritakan apa yang di debatkan  oleh Senja dan Diana, mendengar itu Satya menatap tajam kepada Diana, Ranga melihat itu langsung melindungi istrinya yang sedang hamil itu.


"Satya ini bisa kita bicarakan baik-baik," kata Arga.


Satya beranjak dari duduknya dan melangkah dengan cepat. Namun, langsung dihentikan oleh Ayah Nugraha dengan berkata." Terlambat Senja sudah membawa putrimu pergi dari rumah ini.


Deg, Satya tidak peduli. Ia  masuk kamar tamu yang biasa digunakan. Tubuhnya merosot saat membaca surat dari Senja karena  merasa gagal melindungi istri dan anaknya. Dibacanya kembali suratnya


Buat Suamiku.


Mas, maaf aku pergi maaf sudah membuat keluargamu menjadi terganggu gara-gara aku. Aku pergi dari rumah karena tidak ingin tinggal dengan penghianat. Jangan mencariku karena aku akan semakin menjauh.


Aku mencintaimu, Mas.


Senja-Jingga


Satya meremas  surat dari Senja, pria itu kini keluar dari kamar tanpa menyapa semua yang berada di ruang tamu. Ayah Nugraha yang tahu putranya sudah kecewa kepadanya hanya bisa menarik napas. Bunda menatap sendu punggung putranya hingga menghilang di balik pintu. Wanita paruh baya itu tidak menyangka sudah membentak menantunya hingga ia harus terpisah dengan cucunya.

__ADS_1


Air matanya membasahi kedua pipinya yang sudah mulai termakan akan usianya itu, ia harus mencari Senja dan begitu yakin jika menantu dan cucunya pulang ke rumah Rendy.


bersambung ya...


__ADS_2