PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 52


__ADS_3

Yoga terkejut melihat istrinya menangis sambil menerima telepon, di papahnya Istrinya ke sofa.


"Sayang, ada apa?" tanya Yoga.


"Papa Mas," kata Mentari.


"Papa kenapa?" tanya Yoga.


"Badan papa kejang lagi, ayo kita kerumah sakit Mas," ajak Mentari


"Ia sudah Mas bangunkan Senja dan Mama dulu," kata Yoga.


Yoga segera berlari ke lantai dua untuk membangunkan anak dan mertuanya,


setelah itu mereka segera masuk mobil.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang Yoga sesekali melihat istri dan Mama mertuanya dari spion.


Senja sudah terlihat cemas, Yoga mengemgam tangan anaknya supaya lebih tenang.


Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, mereka sampai ke rumah sakit langsung menuju ke ruang ICU.


Sesampai di ruang ICU, Senja langsung memeluk suaminya. Rendy menghampir Mamanya sambil memapah untuk duduk.


"Apa yang terjadi?" tanya Mama Marni.


"Tadi waktu kami masuk ruangan, tiba-tiba tubuh Papa kejang," kata Rendy


"Kita berdoa saja semoga Papa tidak apa-apa," ucap Yoga.


Semuanya menganguk menangapi ucapan Yoga, tak lama Dokter Intan keluar dari rumah ICU dengan wajah yang tegang.


"Pak Rendy bisa ikut keruangan saya sekarang," kata Dokter Intan.


Tanpa menunggu lama Rendy bersama Satya segera mengikuti Dokter Intan menuju keruangannya.


"Silahkan duduk," kata Dokter intan.


"Bagaimana Dok?" tanya Satya.


Dokter Intan menatap keduanya pria yang duduk didepannya bergantian.


"Malam ini akan dilakukan operasi Transplantasi hati, Karen kalau menunggu besok kami takut terlambat," kata Dokter Intan.


"Apa sudah dapat pendonor yang cocok Dok?" tanya Rendy.


"Alhamdulillah." jawab Dokter Intan.


"Lakukan yang terbaik buat Papa saya Dok," ucap Rendy.


Setelah itu seorang Suster masuk meminta Rendy menandatangani berkas untuk operasi. Kemudian keduanya keluar dari ruang Dokter Intan segera menghampiri yang lain yang masih di ruang tunggu ICU.


"Bagaimana, Nak?" tanya Mama Marni


"Malam ini Papa harus dioperasi Mam, kita doakan semoga Transplantasi hatinya berhasil," kata Rendy.


"Amiin," kata mereka bersamaan.

__ADS_1


Semua pindah ke ruang tunggu operasi, tak lama kemudian lampu menyala. Satya yang sudah merasa lelah duduk di pinggir sambil mengotak-atik handponenya.


Senja segera menghampiri Suaminya dan duduk di sebelahnya. dia mengemgam tangan Satya sambil sesekali menguap.


Satya tersenyum melihat istrinya yang masih mengantuk disandarkannya kepala Senja di bahunya, tak lama Senja terlelap.


Rendy duduk di samping Mama Marni, "Mam, apapun hasilnya kita sudah berusaha." kata Rendy.


"Ia Mama paham," jawab Mama.


Rendy menarik nafas panjang, harapannya sebagi seorang anak operasinya berhasil.


Sudah 1 jam lebih lampu operasi belum juga padam, Rendy sudah bolak-balik dari duduk dan kembalikan lagi berdiri. Rendy menghampir Satya keduanya saling pandang.


"Ada apa?" tanya Satya.


"Gue butuh Popy," jawab Rendy.


Satya langsung memukul lengan Rendy , Rendy hanya tersenyum menatap sahabatnya yang sekarang menjadi ponakannya.


"Durhaka lo," kata Rendy sambil menahan sakit.


"Lo bisa telepon dia," kata Satya.


"Gue belum berani telepon di depan Mama," jawab Rendy.


"Cemen Lo." ledak Satya sambil menahan tawanya.


Sebenarnya mereka bercanda untuk mengurangi kegundahan hatinya, menunggu hasil operasi.


Yoga datang dengan membawa teh hangat dibagi-baginya ke yang lain.


Satya hanya tersenyum melihat istrinya tidur dengan bersandar pada bahunya, Sat lo ada lektop di mobil," kata Yoga.


"Ada kenapa?" tanya Satya.


"Besok gue pinjam," jawab Yoga.


"Ngapain pinjam Mas, punya menantu takjir minta beliinlah," goda Rendy .


"Kompor lo," sungut Satya.


Mereka hanya bisa tersenyum, supaya tidak ribut-ribut. Senja terbangun karena terkejut dengan teriakan Randy yang di pukul lagi oleh Satya.


"Ayah, panggil Senja.


"Ia Nak, ada apa?"tanya Yoga.


Tak lama Senja tidur lagi, ketiganya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Senja yang mengigau.


"Apa sering dia seperti itu," tanya Yoga.


"Selama nikah baru kali ini, biasanya dia gue bikin mendesah," kata Satya cuek.


"Astagfirullah," kata Rendy. Yoga hanya mendengus menangapi ucapan Satya.


Tak lama Dokter Intan keluar dari ruang operasi, semua langsung menghampirinya. Terlihat wajah khawatir menunggu asik operasi Papa Roby, Senja yang baru bangun di papah oleh Satya.

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Mentari.


"Alhamdulillah hasilnya bagus, sekarang kami akan memindahkan ke ICU dulu, besok bagi baru kami pindahkan ke ruang rawat." kata Dokter Intan.


"Baik Dok, terimakasih banyak," ucap Rendy.


Semuanya bisa bernafas lega, terlihat begitu letih wajah mereka.


"Apa sebaiknya sebagian pulang dulu." kata Yoga.


"Rendy ajak Mama pulang, biar Kakak dan Mas Yoga tinggal," kata Mentari.


"Baik Kak," jawab Rendy.


"Lo juga pulang Sat," ucap Yoga kepada anak dan menantunya.


"Ia, Yah." jawab Satya.


Mereka segera keluar dari rumah sakit, Satya dan Rendy duduk didepan sedangkan Nenek Marni dan Senja duduk di belakang.


Selama perjalanan hanya ada keheningan saja, Senja yang biasa hebohpun diam menatap gelapnya malam yang dihiasi lampu remang-remang.


Mereka sampai ke rumah Kakek Roby, Rendy segera mengantarkan Mamanya untuk istirahat karena jam sudha menunjukkan jam 3 dini hari.


Satya yang langsung masuk kamar bersama istrinya segera merebahkan badannya karena sudah begitu lelah akhirnya keduanya tertidur.


Di rumah sakit.


Yoga dan Mentari melihat kondisi Papanya yang baru dipindahkan keruang ICU, kedua bisa bernafas lega saat melihat wajah Papa Roby sudah tidak sepucat tadi.


"Alhamdulillah ya Mas, operasinya berhasil," kata Mentari setelah keluar dari ruangan.


Yoga memang tidak tahan bau di dalam ruang rawat, entah kenapa seperti waktu lahirannya Senja hanya bertahan satu jam ia menunggu.


Mentari yang begitu mengerti bagaimana Suaminya hanya diam, tapi masih bersyukur kalau Yoga mau menemani dirinya di rumah sakit seperti saat ini.


Yoga yang melihat istrinya melamun segera menyadarkannya, di usapnya pipi Mentari dengan lembut. Membuat lamunan Mentari langsung buyar, Yoga tersenyum melihat istrinya terkejut karenanya.


"Apa Mas," tanya Mentari.


"Kamu mikirin apa sayang," tanya Yoga.


"Entahlah Mas, aku sendiri saja bingung," jawab Mentari.


"Jangan ikut bingung sayang, cukup aku saja yang bingung selama 18 tahun hidup sendiri," kata Yoga.


Mentari terdiam, merasa bersalah kepada suaminya. Yoga yang melihat perubahan di wajah istrinya merasa ada yang salah dengan ucapannya.


"Sayang, maaf kalau membuatmu tidak nyaman," kata Yoga.


Mentari tersenyum, keduanya kembali lagi diam.


Yoga menyandarkan kepala Istrinya kebahunya,


supaya bisa istirahat, Mentari tersenyum sambil memeluk lengan Suaminya.


Yoga sambil mengecek email yang dikirimkan oleh Adrian, Yoga menghembuskan nafas pelan, banyak sekali perkejaan yang ditundanya.

__ADS_1


Satu-satu Yoga mulai membuka dokumen yang isinya hanya angka-angka laporan keuangan Perusahaannya, sesekali Yoga memijit pelipisnya saat menemukan kejanggalan lagi di setiap laporan.


Bersambung y jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like dan votenya 🙏


__ADS_2