
Bunda melihat itu tersenyum dan berkata, "Kamu luar biasa, Nak. Pasti Mamamu bangga di atas sana."
Leon tersenyum tipis, ditatapnya Sari yang sedang menatapnya juga. Perlahan Leon menghampirinya dan berkata."Kamu harus bertanggung jawab karena membuat aku luka di mana-mana."
Sari merasa malu jika ia mengingat bagaimana tadi membuat pria itu berantakan.
"Kenapa?" tanya Leon karena Sari hanya senyum-senyum.
"Siapa namanya?" tanya Ayah Nugraha melihat dua bayi yang begitu lucu.
"Awan dan Alfa," jawab Ibnu.
"Nama yang bagus," jawab Ayah.
Ibnu tersenyum, ia tidak menyangka jika diberikan amanah anak kembar. Ditatapnya sang istri yang sudah terlelap.
"Apa sudah kasih tahu Mamamu, Nak?" tanya Bunda.
"Sudah Bun, besok mama datang dengan tante," jawab ibnu.
"Kami pamit dulu," kata Bunda dan Ayah Nugraha keluar dari ruang rawat diikuti Ranga dan Leon.
Tinggal Ibnu dan Sari yang tertidur, sedangkan si kembar sedang tidur dengan nyenyak.
Ibnu beranjak dari duduknya, ditatapnya putranya satu persatu. Ia baru sadar kalau anaknya mirip Sari dari pada dirinya.
"Awan dan Alfa, Ayah tidak tahu apa alasan Bundamu memberikan nama itu kepada kalian." Ibnu mencium putranya satu persatu.
Diusapnya wajahnya yang begitu lelah tidak lama dua orang perawat datang untuk membawa putranya ke ruang bayi.
"Sus, jangan sampai ke tukar," kata ibnu.
"Enggak, Pak tenang saja," kata Perawat itu.
Ibnu kini duduk di samping brankar istrinya karena merasa lelah ia tertidur di dekat Sari.
****
Di kediaman Ayah Nugraha.
Ayah Nugraha yang baru sampai hanya tersenyum melihat putranya yang sedang duduk mengobrol dengan Arga. Ranga yang melihat dua pria itu menatap datar dan bertanya."Lo pada kemana tadi?"
"Pesan kamar," jawab Arga.
Ranga membulatkan matanya. Pria itu menggelengkan kepalanya saja melihat dua orang yang sudah begitu akut mesumnya itu.
"Mas ini tehnya," kata Suci yang baru bergabung.
"Ci, Diana mana?" tanya Ranga.
"Di kamar mau istirahat," ucap Suci.
__ADS_1
Ranga tanpa bicara apa-apa langsung pergi begitu saja, Satya melihat itu tersenyum. Ayah dan Bunda yang sudah siap membersihkan diri langsung bergabung.
"Lancaran Bun?" tanya Satya .
"Alhamdulillah semua lancar anak dan ibunya selamat," jawab Bunda.
Satya hanya mengangguk, wanita itu ingat Rendy saat Senja membawa nampan berisi cemilan dan bertanya."Apa kabar Rendy?"
"Baik kok Bun, tidak minta mama karena tidak bisa hadir," kata Senja.
"Iya Bunda paham sayang," jawab Bunda.
Ayah Nugraha yang sedari tadi diam, akhirnya berkata."Ayah ingin nanti kita umroh bersama anak dan cucu."
"Itu Arga dengar dengan Cucu, Jadi yang tidak membawa cucu tidak boleh," kata Satya.
"Mas!" Senja begitu geram karena suaminya itu suka sekali membuatnya kesal.
Arga hanya tersenyum dan menjawab."Kami ingin pacaran dan jalan-jalan dulu."
Bunda tersenyum, karena umur Suci juga masih muda walau masih lebih muda Senja dan Diana. Ia tidak pernah menuntut putra-putranya kapan untuk memberikan cucu kepadanya.
Bagi wanita itu hanya ingin melihat Satya, Ranga, Arga bahagia, Ia juga tidak akan ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya.
"Bun, kata Ayah dan Ibu akan datang besok karena minggu depan akan mengadakan syukuran anak Om Rendy." ujar Senja.
"Alhamdulillah anak-anak Bunda berkumpul," kata Bunda begitu senang.
"Iya Yah," jawab Arga.
"Bun, Suci ke kamar dulu," pamitnya .
Arga merasa ada sesuatu yang terjadi kepada istrinya, pria itu segera mengikutinya, sesampainya di kamar dilihatnya istrinya menangis tersedu sambil telungkup.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arga.
Tangis Suci semakin pecah, ia menatap suaminya dan bertanya."Mas nggak akan ninggalin aku' kan?"
"Kamu kok mikir gitu sih, siapa yang mau ninggalin kamu?" tanya Arga yang terkejut karena istrinya berpikir yang tidak-tidak kepadanya.
Kini keduanya duduk berhadapan, mata Suci masih mengeluarkan butir bening itu sedari tadi, Arga mengusapnya dan memberikan kecupan.
"Mas, maaf aku belum bisa hamil sampai sekarang dan aku takut kamu mencari wanita lain," kata Suci.
"Astagfirullah, kamu itu bicara apa. Kita ini baru juga menikah. Kalau Diana dan Hanum hamil lebih dulu Alhamdulillah. berarti kita harus lebih memantaskan diri untuk bisa mendapatkan amanah." Arga mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab itu.
"Ingat yang, jangan berpikir terlalu jauh. Aku hanya akan menjadi milikmu," kata Arga sambil memeluk tubuh istrinya.
"Mas kita konsultasi aja biar cepat bisa punya anak," kata Suci
"Sayang, aku tidak ingin kata-kata Satya tadi menjadi beban. Percayalah pasti Allah akan memberikan hambanya amanah asalkan tidak lupa akan perintahnya."Arga tidak hentinya membuat istrinya tenang.
__ADS_1
"Iya, Mas. Maafkan aku." Suci membalas pelukan Suaminya begitu erat.
Arga tersenyum, walau ia begitu menginginkan anak sekarang. Namun, ia tidak ingin membebani istrinya nanti. Biarlah ia dan Suci berusaha. kalau masalah hasil kembali kepada Sang Pemberi.
Diusapnya kepala istrinya dengan lembut dan berkata."Kamu jangan masukan dalam hati kata-kata Satya dan Ranga."
"Iya Mas, tapi mas janji nggak akan menduakan aku' Kan?" tanya Suci lagi.
"Mas Janji," kata Arga.
"Aku takut kayak yang dibilang-bilang di kampus, ada Papanya menikah lagi karena ada wanita idaman lain." Suci menceritakan awalnya ia begitu takut jika tidak memiliki anak.
Arga gemas mencubit hidung istrinya, Arga kini duduk bersandar di sandaran ranjang, hari sudah mau magrib. Suci berjalan akan menutup jendela seketika tubuhnya menegang saat melihat bayangan hitam bergerak cepat ke arah kamar Senja karena kamarnya dan Satya bersebelahan.
Wanita itu terpaku, ia yakin begitu jelas melihatnya. Arga yang melihat istrinya diam seperti patung merasa heran. Ia beranjak dari ranjang dan memeluk Suci.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arga yang melihat istrinya hanya diam seperti patung.
"Suci!" bentak Arga membuat wanita itu langsung menoleh.
"Kamu kenapa?" tanya Arga melihat istrinya pucat.
"Mas aku takut," kata Suci sambil menangis.
Arga memeluk istrinya, iya yakin ada yang dilihat istrinya," kamu melihatnya lagi?"
"Iya Mas," jawab Suci.
"Kemana dia?" tanya Arga.
"Kamar Senja," jawab Suci.
Arga membawa istrinya keluar dari kamarnya secepatnya ia langsung membuka kamar Senja. Namun, matanya melotot karena kamar itu sudah berserakan baju dari lemari sudah keluar semua.
"Satya," suara Arga menggema membuat yang lain di ruang keluarga begitu terkejut.
Satya , Ranga dan Leon yang baru saja sampai langsung naik ke lantai dua, semuanya terkejut melihat kamar seperti kapal pecah.
"Jingga mana?" tanya Arga.
"Ada di bawah sama Senja," jawab Satya.
"Aku rasa ada yang menyelinap," ujar Leon.
"Apa kamu punya musuh?" tanya Arga.
"Tidak," jawab Satya.
Ayah Nugraha yang penasaran langsung ikut naik diikuti istrinya dan bertanya."Ada apa ini?"
bersambung ya….
__ADS_1