
Leon mengerjapkan matanya. Merasa begitu asing dengan tempatnya sekarang. Ia belum menyadari sepenuhnya sekarang tengah ada di mana.
Leon mulai mengingat apa yang terjadi sebelumnya, pria itu merutuki dalam hati. Kini ia mengingat jika wanita itu akan menghabiskan Sari .
Tak lama pintu terbuka, Bunda Fifi masuk dengan membawa makan untuk Ferdinand yang kini tengah tertidur di sofa. Ia berjalan mendekati ranjang, matanya melebar saat melihat keponakannya sudah sadar berkata."Sayang, kamu sudah sadar, bentar Bunda panggil dokter dulu."
"Bunda," panggil Leon dengan suara lemah.
"Iya, Nak. Ada apa?" tanya Bunda Fifi menghampiri ponakannya itu setelah menekan tombol.
"Haus," jawab Leon seperti anak manja kepada wanita itu.
Bunda Fifi tersenyum, ia segera mengambil air mineral dan membantu Leon untuk minum, tak lama Dokter dan perawat masuk. Ferdinand merasa tidurnya terusik membuka matanya, dilihatnya ada dokter dan suster membuatnya panik dan langsung berdiri di samping Bunda Fifi.
"Fi, apa yang terjadi?" tanya Ferdinand tidak menyadari kalau sekarang bertanya kepada adik iparnya itu.
Bunda Fifi tertegun, ia tak kuasa menjawabnya karena baru kali ini pria sombong dan arogan itu menegurnya setelah adiknya memutuskan untuk menikah dengannya dulu.
Ferdinand menatap mata indah walau sudah termakan usia itu, Bunda Fifi langsung memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ferdinand .
"Kondisinya stabil, sebaiknya bisa buat miring posisinya," ujar dokter.
Bunda Fifi dengan lembut membantu Leon untuk merubah posisinya, pria itu masih merasakan nyeri di punggungnya, hingga ia memejamkan matanya untuk menahan sakit.
Mata Leon bertemu dengan mata Papanya, ia terdiam ada rasa takut kalau Bundanya akan diusir oleh Papanya.
"Nak, Papa keluar sebentar mau cari makan," kata Papa Ferdinand.
"Mas, aku bawakan sarapan apa mau?" Bunda Fifi memberanikan diri untuk menawarkan kepada Kakak iparnya itu.
Ferdinand terdiam , pria itu tidak menyangka akan ditawari makan. Ditatapnya wajah Leon yang mengangguk berharap Papanya mau menerimanya.
"Baiklah," jawab Ferdinand singkat lalu kembali lagi duduk di sofa diikuti oleh Bunda Fifi.
Terlihat senyum tipis di bibir Leon melihat Bunda dan Papanya kini terlihat sudah mulai dekat, karena ia tidak tahu apa yang menyebabkan Papanya itu begitu tidak menyukai Bundanya itu.
Fifi dengan sabar mulai menyiapkan makanan, dibukanya tempat nasi dan sayur itu untuk pria yang kini duduk di depannya, Ia juga mengambilkan nasi dan lauk untuk Ferdinand.
Wajar adikku rela meninggalkan warisan untuk menikah denganmu, Fi. Karena kamu begitu cekatan untuk melayani saat makan seperti ini.
"Sudah, Mas. semoga suka." Bunda Fifi meletakan piring di depan Ferdinand.
"Terima kasih," jawab singkat Ferdinand.
Leon melihat itu hanya tersenyum getir, kanebo itu begitu kaku saat mengucapkan terimakasih. Bunda Fifi tersenyum dan menghampiri Leon kini ia duduk di samping ranjangnya.
"Apa kamu butuh sesuatu, Nak?" tanya Buda membuat dua pria itu menatap ke arahnya semua.
"Leon masih ngantuk, Bun." Leon langsung memiringkan tubuhnya dan menari selimut lalu memejamkan matanya.
Bunda Fifi tersenyum saat melihat Ferdinand makan begitu lahap karena ia tahu kalau Kakak Iparnya menyukai makanan kebalikan dari almarhum suaminya dulu. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Ferdinand yang baru selesai makan sarapannya itu.
Ferdinand baru ini merasakan makan yang selahap ini, pria itu tersenyum hangat saat Fifi duduk di depannya.
__ADS_1
"Mas pulang saja, biar aku yang di sini," kata Bunda Fifi.
"Apa kamu enggak apa-apa?" tanya Ferdinand lembut.
Fifi tersenyum, wanita itu hanya mengangguk dan berkata." Iya, Jangan Khawatir aku akan menjaganya."
"Maaf merepotkan," kata Ferdinand.
Ferdinand langsung keluar karena putranya sudah tidur, entah mengapa langkahnya sekarang lebih ringan dari sebelumnya dan senyum mengembang dari bibirnya.
*****
Di kediaman Ayah Nugraha.
Pagi ini Suasana rumah sudah ramai akan tangisan Jingga yang baru selesai dimandikan. Senja tertawa saat anaknya diangkat dari bak mandinya menangis.
"Kamu masih bayi maunya main air." Senja memberikan minyak telon untuk putrinya.
Satya terbangun dilihatnya jam masih menunjukan pukul enam tiga puluh menit, Ia selesai sholat tidur lagi karena merasa masih lelah dan mengantuk.
"Assalamualaikum, Papa," kata Senja menirukan suara anak kecil saat sudah memakaikan baju untuk putrinya.
"Waalaikumsalam ,sayang." Satya mengecup kening istri dan anaknya begitu lembut.
Hatinya menghangat, saat sang istri meletakan tubuh mungil putrinya di pangkuannya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya sekarang.
"Mas, hari ini jadi mengantar Ayah pulang?" tanya Senja.
"Iya sayang, karena ayah tidak bisa meninggalkan kantor semakin lama kasihan Adrian," ujar Satya.
"Enggak kayaknya, Sayang. Karena Ayah bilang akan menunggu umur El satu bulan dulu," Satya sambil menimang-nimang putrinya.
Senja hanya mengangguk, lalu wanita itu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, Satya membawa putrinya keluar kamar. Saat menuruni tangga ia melihat Bundanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Nenek," kata Satya mengikuti gaya Senja saat memanggilnya.
Bunda langsung tergelak dan begitu gemas mengambil alih cucunya, Arga sedari tadi menahan senyum karena melihat tingkah Satya yang baru kali ini dilihatnya lain.
"Lo kenapa?" tanya Satya karena Arga hanya menahan senyum.
Arga yang sudah tidak tahan akhirnya tawanya pecah yang langsung dicubit oleh istrinya pinggangnya.
"Agih, sakit yang," kata Arga sambil mengusap pinggangnya.
"Lihat Jingga jadi terbangun," kata Suci kesal.
Satya hanya tersenyum tipis, ia baru tahu kalau Arga ternyata agak gender kalau lihat istrinya marah. Pria itu duduk samping Ayahnya.
"Senja mana, Nak?" tanya Bunda.
"Mandi Bun," jawab Satya.
Ayah Nugraha tersenyum saat melihat bibir cucunya seakan masih menyusu itu, Diraihnya tubuh Jingga dari pangkuan istrinya.
"Sat, nanti Ayah masih biasa request satu lagi ya," ujar Ayah.
__ADS_1
"Ayah mau apa?" tanya Satya.
"Cucu laki-laki," jawab Ayah Nugraha.
Satya tersenyum dan berkata." Selesai empat puluh hari, Yah." Satya menjawab dengan santai tanpa berdosa.
"Kalian ini, dipikir hamil melahirkan itu mudah main menunggu empat puluh hari gitu saja!" kata Buda kesal.
"Ayah hanya minta, Bun," bela Ayah.
"Satya hanya mengabulkan," sahut Satya.
"Mengabulkan apa?" tanya Yoga yang baru bergabung.
"Buat adik Jingga," jawab Satya.
Yoga menatap datar menantunya itu, ia pikir anaknya cetakan kue jadi satu lalu cetak lagi. Pria itu duduk di dekat Arga dan berkata."Lo pikir Senja cetakan Kue."
"Sudah jangan ribut, Sat. Kalau mau nambah lagi tunggu Jingga sudah umur tiga tahun," ujar Bunda.
"Sejadinya Bun," jawab Satya.
"Jadi apa, Mas?" tanya Senja yang baru datang bersama Mentari.
"Jadinya adiknya Jingga," kata Satya tersenyum melihat istrinya yang sekarang tambah padat tubuhnya.
"Astagfirullah, Jingga saja belum ada sebulan," kata Mentari.
Senja hanya tersenyum, ia tahu kalau suaminya itu sedang menahan apalagi sampai empat puluh hari, tetapi tak seharusnya dibahas di dekat kedua mertuanya.
"Senja, kamu harus memakai pencegah kehamilan," kata Mentari.
Satya tertawa karena melihat mertuanya yang panik, Ayah Nugraha hanya tersenyum. Karen masih pagi keluarganya sudah saling canda dan tawa.
Rangga dan Diana yang baru keluar dari kamar sudah terlihat rapi, hal itu membuat yang lain menatapnya semua.
"Mau kemana, Nak. Sarapan dulu?" tanya Bunda.
Diana hanya tersenyum dan mendekati mertuanya itu, ia mencium Jingga yang sedang tertidur di pangkuan Neneknya.
"Mau ke rumah sakit, Bun. Leon sudah sadar kata Bunda," ujar Ranga.
"Alhamadulilah, semoga semua baik-baik saja. Sampaikan salam Ayah dan Bunda ya," kata Bunda.
"Iya Bunda, kami pamit," kata Ranga.
Bunda menatap anak bungsunya itu, ia berharap Diana sabar menghadapi bagaimana sikap kekanak-kanakan dari suaminya nanti. Ayah Nugraha melihat istrinya melamun langsung mengusap tangannya.
Bik Sum mengambil Alih Jingga dan Bik Ida mengambil El, karena majikannya akan segera sarapan. Mereka berjalan menuju meja makan.
Ayah Nugraha begitu senang melihat semuanya berkumpul, walaupun tidak ada Ranga dan istrinya karena harus menjenguk Leon pasca operasi. Sarapan tanpa ada yang berbicara, hanya ada keheningan dan dentingan sendok. Senja begitu terampil sekarang melayani suaminya begitu juga dengan para istri yang lainnya.
Selesai sarapan Satya langsung ke kamar karena akan bersiap mengantarkan Yoga ke bandara. tak lama ia turun hanya memakai kemeja warna abu dan celana warna hitam. Melihat itu Senja tersenyum dan berbisik."Jaga hati hanya buat istrimu."
Bersambung ya...
__ADS_1