PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Kedatangan Yoga


__ADS_3

Satya lalu menceritakan semua kejadian sampai sang istri akan dijadikan target selanjutnya. Ayah Nugraha menatap putranya dan berkata."Jadikan Senja umpan."


"Ayah, tidak mungkin Satya lakukan itu!" serunya.


"Ini hanya umpan," jelas Ayah Nugraha,


Satya menggelengkan kepalanya karena itu terlalu membahayakan istrinya, ide dari Ayahnya itu tidak masuk akan menurutnya.


"Ayah Satya tidak mau," kata Satya.


"Lalu bagaimana caranya anak itu keluar dari persembunyiannya, hem. Coba kamu pikir apa Yogi akan kembali ngampus?" tanya Ayah Nugraha.


Satya terdiam, pria itu mengusap wajahnya kasar, ia saja belum dapat jalan keluar untuk mengatakan jika sahabatnya itu sudah meninggal.


Ayah Nugraha menatap putranya dan berkata."Apa kamu lupa jika istrimu itu juara satu di sekolahnya saat lomba karate."


Satya mengangguk, Ayah Nugraha melihat itu hanya tersenyum tipis dan berucap."Kurangi mesummu itu, Nak."


Mendengar itu Satya terkekeh karena baru kalinya pria yang dikagumi nya itu mengatakan jika ia mesum. Keduanya keluar bersama dengan senyum mengembang dari bibir keduanya.


"Ada yang lucu?" tanya Bunda.


"Ayah cuma bilang untuk menghilangkan kadar mesumnya," ujar Ayah Nugraha membuat Arga dan Faisal yang masih ikut bergabung langsung tertawa.


"Karena aku mesum Senja makin cinta," bela Satya.


"Is, Mas itu yang ada dulu aku duluan karena nasib punya suami kaku kayak kanebo," kata Senja kesal.


Faisal semakin pecah tawanya karena baru kali ini pria itu tidak berkutik, Satay hanya mengusap tengkuknya rasanya ada benarnya istrinya mengatakan itu dulu ia begitu jual mahal kepada istri kecilnya.


Arga hanya tersenyum, Satya dulu yang begitu kaku dengan lawan jenisnya tidak menyangka jika akan memiliki istri yang jauh umurnya darinya.


"Nak, nanti kamu jemput mertuamu," kata Ayah Nugraha.


"Iya Yah," jawab Satya.


"Yang, jam berapa Ayah sampai?" tanya Satya kepada istrinya.


"Jam dua siang, nanti ikut boleh Mas?" tanya Satya.


Satya menatap istrinya ada rasa khawatir saat istrinya harus ikut karena ia yakin jika Yogi tidak akan melakukan tindakannya sendiri.


"Kamu di rumah saja," kata Satya lembut.


Wajah Senja langsung murung karena ia benar-benar mau ikut, Satya hanya menarik napas dalam. Bunda yang melihat itu menatap menantunya sambil tersenyum.


"Kita nanti lebih dulu ke rumah Rendy," ujar Bunda.

__ADS_1


"Bun!"seru Satya.


Ayah Nugraha yang paham akan kekhawatiran  putranya akhirnya  ikut berkata." Jangan khawatir  kita pergi sama-sama nanti."


Satya hanya mengangguk, pria itu keluar  dan berbicara kepada anak buah Leon untuk mengawali keluarga nanti. 


Satya dan Arga langsung masuk mobil untuk menjemput  Yoga dan Mentari.


"Ar, Ayah memiliki  ide jika Senja di jadikan umpan," kata Satya dengan nada berat.


Arga terdiam, pria itu tahu atas kegundahan  Satya. Namun, ia tidak ingin kalau sampai Senja di jadikan  umpan. Siapa yang akan menjamin keselamatannya nanti.


"Kita ke kantor Leon, anak buahnya sudah ada laporan." Satya memutar mobilnya untuk ke kantor Leonardo  terlebih dahulu.


Setelah menempuh perjalanan selama  tiga puluh menit mobil yang dikemudikan  Satya sampai di lobby. 


Keduanya  segera turun dan memberikan kunci mobil kepada petugas keamanan.


Tanpa menunggu lapor ke resepsionis Satya dan Arga langsing  masuk lift khusus petinggi perusahaan. Kini keduanya sudah sampai ke lantai 15 di mana ruang Ceo berada.


Satya mendorong pintu, melihat itu Leon hanya menatap datar. Keduanya duduk di sofa warna abu-abu. Setelah mematikan laptopnya  Leon ikut bergabung  dan memberikan map warna coklat.


"Itu rumah lamanya, besok kita kesana untuk mengecek karena anak buahku tidak dapat menemukannya kedua orang tua Yogi di mana sekarang."Leon  menatap Arga dan Satya bergantian.


"Bukannya mereka  pindah keluar negeri?" tanya Satya.


"Maksud lo." Arga menatap Leon penuh selidik.


"Sudah direncanakan, para pelaku sudah tahu apa saja kegiatan  Senja dan Ilham," jelas Leon.


Leon juga mengatakan  jika bukti yang ia temukan yogi juga yang melakukannya. 


Satya mengusap wajahnya kasar, ia tidak habis pikir dengan mahasiswa dari kampusnya  itu.


Dilihatnya  jam sudah menunjukan pukul dua Satya  dan Arga langsung pamit. 


"Minta data sama Ibnu," kata Arga.


"Iya, kenapa sekarang baru muncul anak itu, selama ini kemana Yogi," kata Satya  begitu frustasi  karena istrinya  yang akan di targetnya.


Mobil yang kini dikemudikan oleh Arga melaju membelah kota Surabaya. Hanya butuh waktu empat puluh menit mobil sampai di bandara  Juanda. 


"Cih, lihat itu sudah tua masih bergaya," cibir Arga melihat  Yoga yang memakai kacamata hitam sedangkan  Mentari  mendorong kereta putranya.


"Biasa saja," ujar Satya karena kepalanya  begitu pusing.


Mobil berhenti  di samping  Yoga, Satya turun dan langsung memeluk  Yoga dan memeluk Mentari.

__ADS_1


"Senja nggak ikut?"tanya Mentari.


"Nggak Bu, nanti langsung  ke rumah  Kakek," jawab Satya. 


"Sat, lo kenapa?" tanya Yoga karena menantunya  terlihat begitu banyak masalah.


"Hanya lelah Saya, Yah, jawab Satya.


Yoga mencibir, entah kenapa ia kurang suka jika dipanggil  Ayah oleh Satya. Walau ia tahu pria itu sekarang menjadi menantunya.


"Mas, kita langsung ke rumah Papa?" tanya Mentari yang baru siap memberikan asi kepada  Elvano.


"Iya Sayang," jawab Yoga menatap anaknya yang langsung memejamkan matanya setelah selesai  mengisi energinya.


Yoga yakin ada masalah serius yang terjadi, ia harus mengajak anak menantunya untuk berbicara.


Mobil kini sudah memasuki  kompleks perumahan elit setelah sepuluh menit  mobil Satya sampai di depan Rumah Kakek Roby.


Senja yang sedang menggendong  Jingga melihat mobil suaminya datang matanya langsung berbinar.


Sosok yang begitu ia rindukan  kini sedang tersenyum menatapnya


Yoga langsung menggendong  cucunya,  sedangkan Senja memeluk  Ibunya. Diajaknya Ibun dan suaminya serta Arga untuk masuk. 


Rendy yang melihat Kakaknya sudah sampai begitu senang, di pelukan Mentari dan mencium Elvano.


"Mas," kata Rendy menyapa Yoga.


"Selamat ya sudah menjadi Papa," kata Yoga tulus.


"Terimakasih Mas," kata Rendy.


Semua berkumpul di ruang Keluarga, begitu juga dengan keluarga Nugraha. Bunda menghampiri Mentari yang sedang di dapur bersama Senja dan Bik Sum.


"Masak apa?" tanya Bunda yang kini sudah ada Suci yang baru bergabung.


"Buat soto saja ya, Bun." Mentari memberikan usul kepada besannya itu.


"Boleh juga," jawab Bunda yang ikut membantu Senja memotong sayur.


Bunda yang melihat putranya, sedang menatap Senja langsung berkata."Nak, lihat suami mesummu belum kamu kasih jatah."


Senja langsung menoleh ke arah ruang keluarga di mana suaminya selalu menatapnya, wanita itu menatap Satya yang sedang menatapnya. Dengan iseng Senja mengedipkan matanya ke suaminya melihat itu Satya mengulum senyum.


Bunda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami istri itu, tidak lama Satya beranjak dari duduknya untuk menghampiri istrinya dan berkata."Bun, pinjam menantu Bunda dulu."


bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2