PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Kedatangan Ibnu


__ADS_3

Pagi ini sesuai apa yang direncanakan oleh Ibnu dan Satya, keduanya sudah berada di parkiran kampus, melihat dua pria matang terlihat masih tampan itu membuat beberapa mahasiswa memperhatikan sambil berbisik.


"Tampan ya, kira-kira sudah ada yang punya belum yang memakai baju abu-abu itu," kata-kata itu walau sampai di telinga keduanya tetap sama tidak mempengaruhi kedua pria itu menuju ruang dekan.


Pak Bambang dan Bu Tini menyambut pemilik kampus itu dengan senang dan terlihat ikhlas karena sudah lama Satya tidak datang ke universitas.


Setelah mengobrol banyak dengan perkembangan dan apa yang harus diperbaiki Satya hendak pamit, tapi seseorang masuk keruangan Ibnu tanpa mengetuk pintu.


"Kakak kenapa sudah seminggu ini enggak masuk dan tidak membalas pesanku," kata Desti tanpa dia sadari ada orang lain di sofa ruangan Ibnu.


"Lagi liburan sama istri," jawab Ibnu tanpa melihat wajah Desti.


Desti yang merasa ada yang berbeda dengan Ibnu merasa penasaran.


"Kakak kenapa sih?" tanya Desti.


Ibnu menarik napas panjang, kini ditatapnya wajah cantik Desti yang begitu mirip dengan Rahma.


"Sebaiknya kamu jauhin aku karena aku sudah ada istri," ucap Ibnu dingin.


"Apa ini semua karena istrimu itu, istri yang tidak mengerti lelahmu selama ini, Kak?" tanya Desti dengan raut wajah memerah karena merasa marah.


Ibnu tersenyum tipis, ia tahu gadis kecil itu tidak berubah masih sama seperti dulu.


"Lo mau pulang enggak," kata Satya yang sudah jenuh dengan tingkah wanita yang membuat Ibnu sudah lupa akan istrinya.


Mendengar itu Desti menjadi merasa salah tingkah ternyata ada pria yang lebih tampan dari Ibnu mantan Kakaknya  dulu.


"Hai, kenalkan aku Desti," katanya sambil menjabat mengulurkan tangannya ke arah Satya.


Satya bukannya membalas tapi dia langsung  pergi keluar begitu saja, Ibnu melihat itu sempat ,mengulum senyum, tapi secepat mungkin dia ubah raut wajahnya.


Ibnu keluar diikuti oleh Desti, melihat Ibnu masuk mobil yang sama dengan  pria tadi membuatnya penasaran , "Tampan, sombong."


Di dalam mobil wajah Satya terlihat begitu dingin, pria itu kesal kenapa Ibnu masih menjawab apa yang ditanyakan  gadis itu tadi, Ibnu tahu kalau Satya masih marah gara-gara apa yang dilihatnya tadi.


"Sat, gue turun di sana saja," tunjuk Ibnu ke kafe itu.

__ADS_1


"Elo mau ngapain?" tanya Satya heran.


"Deo nunggu di sana," jawab Ibnu.


"Oke enggak apa-apa," kata Satya.


Mobil yang dikemudikan Satya sampai di depan kafe, Ibnu segara turun sedangkan Satya langsung menuju toko untuk mengambil pesanan istrinya.


Ibnu melihat Deo sedang memainkan ponselnya tanpa bicara apa-apa langsung menatap Deo.


"Langsung ke bandara saja, Pak," ajak Deo sedangkan Ibnu hanya mengangguk.


Keduanya menuju mobil di mana ada Leo dan Alan di dalamnya, mobil yang dikemudikan oleh Alan langsung meluncur menuju ke bandara Juanda Surabaya.


"Ingat pesan gue," kata Leo.


"Cih, Dea mikir buat hubungan Lo," ujar Alan.


Deo hanya tersenyum, sedangkan Ibnu hanya diam menyandarkan kepalanya di jok mobil belakang.


"Kak, Lo enggak apa-apa?" tanya Leo yang terlihat sekali mengkhawatirkan Ibnu.


Mendengar itu ketiganya merasa lega, karena dosen killernya itu masih baik-baik saja.


Tak lama mobil sampai di bandara, Ibnu dan Deo langsung masuk. Karena sekarang yang ada dipikirkan pria itu hanya secepatnya bertemu dengan istrinya.


Keduanya sudah di dalam pesawat, seorang pramugari sedang menjelaskan cara menggunakan pelampung yang benar tapi Ibnu memilih hanya memejamkan matanya, tubuhnya sudah terasa tidak enak.


Ibnu merasa tidurnya terganggu oleh suara seseorang, saat dia membuka mata terkejut Karan tinggal dirinya dan Deo saja dalam pesawat beserta dua pramugari yang terlihat tersenyum menatapnya.


Ibnu tepat jam empat sore sudah sampai Bandung bersama Deo, Keduanya langsung naik taksi menuju dimana kos milik Dea kembaran dari Deo tinggal.


"Apa masih jauh?" tanya Ibnu.


"Bentar lagi sampai, Pak," jawab Deo.


Ibnu hanya mengangguk, dia sudah tak sabar untuk bertemu istrinya.

__ADS_1


Sesampainya di depan kos Dea Ibnu keluar lebih dulu, sedangkan Deo akan pergi menuju apartemen sahabatnya.


Ibnu perlahan berjalan menuju rumah yang ditujukan oleh Deo tadi.


Sampai depan pintu Ibnu mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membukanya.


Tiba-tiba hujan begitu deras disertai angin yang kencang.


Sari yang baru terbangun, merasa ada yang mengetuk pintu, apa mungkin Dea tidak membawa kunci," kata Sari Lirih.


Sari membuka pintu, matanya seketika melotot siapa yang dilihatnya, Ibnu sudah basah kuyup, dengan wajah terlihat pucat.


Melihat istrinya baik-baik saja, Ibnu merasa lega, tapi tiba-tiba pintu ditutup dengan keras oleh Sari.


Melihat itu Ibnu hanya tertegun, air matanya bercampur dengan air hujan, ia merasa tubuhnya kian lemas saat ini. Namun, dia harus kuat Demak mendapatkan maaf dari istrinya.


Sari menangis terisak saat, tau kalau suaminya sedang ada di luar, dia merasa kasihan. Namun, dia harus tegas dengan pria itu.


"Maafkan mama sayang," kata Sari sambil mengusap perut yang sudah mulai membesar karena masuk enam bulan itu.


Terdengar ketukan pintu, tapi begitu lirih, Sari mengintip suaminya siapa tahu sudah pergi Karan di luar hujan sangat deras.


Tebakan Sari salah, suaminya masih berdiri dengan menyandar di pintu, karena angin kencang baju suaminya basah semuanya.


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, Sari yang akan memakan masih terhenti, apa suaminya sudah pergi apa belum. namun, rasanya sudah pergi walau di luar hujan deras.


Sari yang penasaran ia mengintip dari gorden merasa lega karena sudah tidak ada lagi orang depan pintunya. Wanita itu merasa lega berarti suaminya sudah pergi, tetapi tanpa sepengetahuan Sari kalau Ibnu sudah terduduk sambil bersandar di pintu.


Sari mendapatkan pesan dari Dea kalai sahabatnya itu tidak pulang karena hujan begitu deras. Perlahan Wanita itu berjalan menuju ke kamarnya setelah mengunci pintunya.


Sari merasa perasaannya tidak enak karena melihat wajah pucat suaminya tadi, ia berharap Ibnu baik-baik saja, jangan sampai dia demam. Ia kini menatap foto Ibnu doi ponselnya, foto waktu keduanya jalan-jalan waktu itu.


Sari tersenyum manis menatap suaminya terlihat begitu bahagia, tapi semua itu kini semua. Ia berjalan menutup gorden jendela, ia berharap di luar ada mobil suaminya, tapi nyatanya tidak ada.


Sari ingin sekali tahu kemana suaminya sekarang tapi dia tidak ingin semudah itu untuk kembali kepada suaminya, luka di hatinya begitu dalam. Tapi kenapa saat ini dia ingin sekali melihat wajahnya.


Diusapnya perutnya, apa anaknya yang ingin bertemu, karena sudah seminggu ini wanita itu merasa baik-baik saja, tapi entah mengapa sekarang ada rasa yang membuncah saat melihat suaminya tadi.

__ADS_1


"Mas, aku begitu kangen," kata Sari lirih.


bersambung ya...


__ADS_2