
Air matanya membasahi kedua pipinya yang sudah mulai termakan akan usianya itu, ia harus mencari Senja dan begitu yakin jika menantu dan cucunya pulang ke rumah Rendy.
Ayah Nugraha melihat istrinya yang sudah menangis itu, dadanya begitu sesak.
Pria paruh baya itu keluar, dilihatnya putranya mondar-mandir dekat mobilnya.
"Nak, masuklah dulu!"kata Ayah Nugraha tidak ingin masalah ini berlarut-larut.
Satya menatap Ayahnya, kemudian pria itu mengangguk. Kini keduanya berjalan beriringan. Satya duduk di samping Arga, Ranga masih dengan siaga melindungi istrinya hal itu membuat Satya menatap datar saudaranya itu.
"Ayah harap masalah ini tidak membuat silaturahmi kita terpecah, "kata Ayah Nugraha.
Satya hanya diam, tidak lama Ranga berbicara."Lo kalau marah lampiaskanlah sama gue, kalau saja Diana cerita apa yang terjadi pasti gue akan memberitahunya."
Arga sadari hanya diam. Ia harap adiknya bisa bersikap dewasa dan mampu membimbing sang istri untuk lebih baik.
"Maafkan Bunda, Nak. Andai saja Bunda tidak membentak Senja, istrimu tidak akan pergi," ujar Bunda sambil mengusap air matanya.
Satya hanya menarik napas, ia ingin marah. Namun, wanita yang sudah melahirkannya terlihat begitu menyesal.
Arga mengusap bahu Satya, tidak lama Leon datang bersama Ilham. Pria itu sudah tahu karena Satya memberitahunya.
"Kita diam saja, kamu tetap balas jika Yona bertanya sesuatu," kata Leon.
Diana hanya mengangguk, wanita itu langsung memeluk Leon tangisnya pecah.
"Aku minta maaf ya, kak. Harusnya aku bicara dengan Mas Ranga. Namun, aku terlalu takut kalau Bunda kenapa-napa." Diana masih terisak.
Ilham menatap Satya, pria itu memberi kode kepada suami sahabatnya itu.
Satya yang paham akan kode dari Ilham langsung berjalan ke arah taman.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Kalau Senja sudah mengatakan tidak usah mencarinya itu artinya ia baik-baik saja." Ilham berharap Satya mau mengerti.
__ADS_1
"Gue nggak bisa jauh-jauh dari anak dan bini gue, Ham," ucap Satya frustasi.
Ilham hanya mengangguk, ia yakin kalau Satya begitu mencintai sahabatnya itu. Namun, sayangnya Satya orangnya tidak bisa jauh dari anak dan istrinya entah apa yang akan terjadi kepada pria itu.
Ilham sengaja ingin. membuat Satya belajar jika istrinya tidak bisa diremehkan begitu saja. Pria itu yakin kemarahan Senja kepada mertuanya akan hilang seiring berjalannya waktu.
Satya hanya diam, ia bingung apa yang akan ia katakan kepada kedua mertuanya apalagi malam ini ada acara syukuran anak Rendy.
Ilham menatap Satya yang terlihat begitu terpuruk padahal belum ada 24 jam istrinya pergi. Pria itu berjalan menuju mobil Leon, siapa yang akan melindungi Senja dan Jingga. Jika Satya jauh dari keluarganya.
Leon menatap Ilham yang sedari tadi hanya diam, pria itu merasa ada yang disembunyikan oleh pria yang kini duduk di sampingnya.
"Ada apa?"tanya Leon.
"Senja hanya perlu menenangkan diri, kalau Satya bisa bersabar sebentar saja." Ilham yang tahu betul jika sahabatnya itu bukan tipe pendendam.
"Satya begitu mencintai keluarganya kini ia harus memilih Senja dan Jingga atau Bundanya." Leon menjelaskan kepada Ilham.
"Mertua Senja karena shock spontan langsung marah dan mengatakan jika ini tidak mengerti karena Senja rumahnya yang damai menjadi tidak nyaman. Itu juga bukan maunya Senja, "ujar Ilham.
"Iya," kata Ilham.
"Kedua pria itu hanya diam dan bertanya."Apa kamu sudah bertanya kepada Diana?" tanya Leon
"Belum, hari ini sudah ada Bunda. Yang akan menemani Diana," jawab IIham
Leon hanya tersenyum, ia tahu kalau Ilham ada hati dengan istri Satya itu. Namun, karena Senja sudah menikah akhirnya pria di sampingnya itu menyerah.
"Apa Bunda Fifi akan baik -baik saja?" tanya Ilham.
Leon hanya mengangguk, pria itu harus melindungi Papa dan Bundanya karena dari info anak buahnya ada dua orang yang mencurigakan mengikuti kedua orang tuanya.
"Apa kamu tahu sebesar apa wanita itu berkuasa?" tanya Leon.
Ilham hanya diam, ia ingat bagaimana Yona menggunakan segala cara hingga memberikan pengawet kepada orang tuanya dan semua itu ia lakukan menjadi budak Yona hanya ingin Senja tidak ada yang menyakiti.
__ADS_1
Ilham ingat apa kata Bundanya untuk menjaga Senja, pria itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua untuk bisa melihat Senja dan hanya satu ia harus dekat dengan Sasa dan pura-pura menjadi kekasih yang begitu mencintai Sasa.
Ilham baru tahu jika Sasa bukan hanya yang mencintainya, tapi gadis itu memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri jika ia tidak bersedih atas perceraian kedua orang tuanya karena hadirnya pihak ketiga.
Ilham tahu jika Sasa benar-benar mencintainya. Namun, cara Yona begitu membuatnya merasa ada yang janggal.
Mobil yang dikemudikan Leon memasuki rumah mewah kedua orang tuanya. Besok ferdi dan Fifi akan datang dari bulan madu.
Leon meminta salah satu pelayan untuk menunjukan kamar Ilham, pria itu begitu sampai depan kamarnya mengucapkan terimakasih kepada salah satu pelayan.
Ilham menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk di rumah Leon, pria itu tersenyum getir karena ia tidak bisa mengunjungi tempat di mana Senja berada. Walaupun bik sum meminta Ilham untuk dentang.
Ilham tidak ingin Satya semakin terpuruk atas apa yang terjadi dengan perginya Senja, Ilham tahu cara sahabatnya salah langsung pergi begitu saja dari rumah suaminya karena rasa sesak akan kata mertuanya.
"Senjaku harap kamu tidak sampai satu bulan dalam semedi." ujar Ilham yang tahu bagaimana sifat sahabatnya itu.
Bisa saja Ilham memberi tahu Leon dan Satya, tapi pria itu yakin Senja tidak akan mau pulang jika bukan karena kemauannya sendiri.
Ada rasa bersalah saat Satya mengirimkan pesan menanyakan apa sudah ada kabar dari istrinya karena ingin bertanya kepada Yoga pria itu agak takut jika mertuanya akan murka kepadanya.
Ilham menatap jam di ponselnya ia dilarang oleh Leon untuk keluar sendiri karena anak buah dari Yona menyebar untuk menangkapnya. Yona benar-benar akan menghabiskannya saat ini.
Leon datang dengan memberikan senjata api kepada Ilham, membuat ia terkejut. dan bertanya."Ada apa?"
"Rumah Rendy sedang banyak yang mengawasi," kata Leon.
"Bukannya Om Rendy tidak ada musuh?" tanya Ilham.
Leon masuk mobil dan langsung mengemudikan dengan kecepatan tinggi, dari jauh Leon bisa melihat dengan jelas jika kedua pria itu sedang melaporkan hasil pengawasan. Pria itu akan pergi setelah mengatakan maaf dan berkata."Anak buahku ada yang lihat ada yang menyelinap di kediaman Rendy."
Leon menodongkan pistol kepada salah satu anak buah Yona dan dua pria yang berdiri dengan tato seperti huruf L itu. Namun, keduanya harus waspada.
Ilham menatap pintu mobil yang baru ditutup oleh Leon, pria itu tidak ingin ikut campur.
Andai saja boleh memilihnya cukup sekali ia membunuh orang, tapi kali ini harus melindungi dari musuh yang mengincar nyawanya.
__ADS_1
Bersambung ya....