
Bunda segera memanggil yang lainnya untuk makan malam, begitu juga Rendy dan Satya yang kini duduk di samping istrinya masing-masing.
Ayah Nugraha yang baru saja turun, tersenyum menatap anaknya dan istri sudah menunggunya.
"Ayo kita makan dulu," kata bunda sambil tersenyum.
Mereka makan dengan diam cuma Senja yang suka usil mengambil lauk Rendy hal itu sudah biasa bagi keduanya.
Ranga yang anteng karena Bundanya memasak makanan kesukaannya, tapi ia melihat Satya makan sambil menatapnya merasa heran.
Ranga menaikkan alisnya ke arah Satya, suami Senja itu hanya menatap tumis cumi cabe hijau yang ada di depan Ranga. Dia tahu kalau Satya juga menginginkan.
Senja yang melihat interaksi keduanya hanya menggelengkan kepalanya, tak lama wanita itu berdiri dan mengambil mangkuk yang berisi tumis cumi masakan Bunda.
Satya tersenyum saat istrinya mengambilkan tumis cumi cabe hijau itu ke piringnya. melihat itu Ayah Nugraha hanya tersenyum.
Popy hanya menggelengkan kepalanya, dari dulu tidak berubah selalu seperti itu, setelah selesai makan kini mereka duduk di ruang keluarga.
Bunda membawa buah pepaya yang siap dipotong kecil-kecil, mereka duduk santai sambil mengobrol dan bercanda.
Ranga yang sedang menonton dengan serius, di ganggu Senja dengan mengganti channel televisinya.
"Ih.. bumil jangan di ganti!" katanya sambil menatap Senja yang duduk dekat suaminya santai.
Rendy tertawa lepas akhirnya Ranga merasakan bagaimana kejahilan ponakannya itu, karena dari dulu dia yang selalu menjadi korbannya. Namun, ada yang beda dulu saat ia dan Senja berkelahi atau cekcok papa Roby selalu menengahi.
Tanpa ada yang tahu ia meneteskan air matanya, tapi segera mengusapnya. Dia begitu rindu sosok yang berkharisma itu, Senja yang melihat omnya berwajah sendu saat menatapnya yang berebut remote dengan Ranga. Langsung terdiam, hal itu tak lepas dari perhatian suaminya.
Satya segera menghampiri istrinya yang terlihat sedih, ia tahu sampai sekarang belum bisa mengantarkan istrinya untuk pergi ke makam kakek Roby. Senja tersenyum menatap suaminya, sebagai tanda kalau ia baik-baik saja dan jangan khawatir.
__ADS_1
Karena malam telah larut Rendy dan Popy segera pamit untuk pulang kepada Ayah Nugraha dan Bunda, Senja dan Satya mengantarkan sampai teras rumah. Setelah mobil Rendy tidak terlihat lagi barulah sepasang suami-istri itu masuk.
Sampai ruang keluarga sudah tidak ada siapa-siapa? Keduanya segera naik ke lantai dua untuk istirahat. Sampai kamar Senja segera masuk kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka, sedang Satya langsung naik ke ranjang.
Senja tersenyum melihat suaminya duduk di tepi kasur menunggunya, Senja yang merasa lelah segera berbaring dan memeluk suaminya. Tak berapa lama keduanya langsung terlelap.
Pagi hari yang cerah, Senja terbangun, dilihatnya jam masih jam lima subuh. Wanita itu segera membersihkan diri untuk sholat subuh di lihatnya suaminya sudah tidak ada di ranjang, seperti biasa kalau tidur tempat bunda, Satya selalu diajak oleh ayah Nugraha untuk sholat berjamaah di masjid.
Senja segera shalat subuh, setelah selesai dia segera keluar kamar di mana bunda sudah sibuk menyiapkan sarapan.
“Pagi Bunda,” sapanya sambil tersenyum dan segera memakai celemek,
“Pagi sayang, udah sholat, Nak?” tanya Bunda sambil mengaduk sayur.
“Alhamdulillah sudah Bunda, Ayah sama Bby belum pulang ya, Bun?” tanyanya .
“Mungkin sebentar lagi, Nak.” Jawab bunda.
Saat Senja sedang menyiapkan kopi, bunda melarangnya karena sudah menjadi kebiasaan ayah dan anak itu akan lari pagi keliling komplek.
Satya segera turun tangga saat melihat istrinya yang membantu bundanya menyiapkan sarapan.
“Sayang, Bby lari pagi dulu,” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
“Iya hati-hati, sayang.” Kata Senja.
Satya begitu gemes dengan istrinya itu, tapi ia sudah berjanji kepada ayahnya untuk lari pagi bersama. Tak lama ayah Nugraha terlihat menuruni tangga dengan pakaian olahraganya yang diikuti oleh Ranga.
Setelah suami dan mertuanya serta Ranga pergi, Senja segera ke dapur untuk melihat bundanya membuat kue untuk cemilan. Bunda tersenyum saat anak mantunya datang menghampirinya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Sudah pergi mereka, Nak?” tanya bunda .
“Iya sudah, Bun.” Jawabnya sambil memasukan kue nastar yang sudah dingin ke dalam toples.
“Bunda kalau lebaran bikin kue sendiri ya?” tanyanya sambil sesekali memasukan kue itu ke dalam mulutnya.
“Iya sayang, ayahmu kurang suka kalau beli jadi kuenya.” Jawab bunda tersenyum.
Senja ikut tersenyum, suatu saat apa bisa ia seperti bunda, suaminya ketergantungan padanya dari kue lebaran harus bunda yang buat, walau di rumah ada art. Namun, bunda tetap memasak untuk suaminya.
Wanita itu harus banyak belajar dari bundanya itu, jujur wanita mana yang tak mau bisa dalam segala hal seperti mertuanya ini.
“Melamun apa sayang?” tanya bunda yang melihat menantunya bengong sambil menatapnya.
“Bunda ajarin Senja seperti bunda, biar suami tidak lagi mau makan di luar seperti ayah Nugraha,” katanya .
Wanita itu tertegun saat mantunya mengatakan hal yang tidak ia duga sebelumnya, kemudian senyum mengembang di bibirnya. Tiba-tiba bunda memeluk Senja dengan erat,
“Sayang, kamu tahu dari dulu bunda ingin mempunyai anak perempuan, ingin seperti orangtua yang lainnya punya anak perempuan rambutnya panjang, apa lagi lihat anak tk yang rambutnya diikat dua,” katanya terhenti karena menahan tangisnya.
Senja terkejut melihat mertuanya menangis terisak dalam pelukannya, di usapnya bahu mertuanya dengan lembut.
“Bunda bisa anggap Senja sebagai anak bunda sendiri,” ucapannya sambil mengusap air mata yang masih menetes itu.
“Terimakasih sayang, bunda bangga padamu.” Jawabnya sambil mengecup kening Senja.
“Bunda sudah pernah menyuruh Ayah untuk menikah lagi, supaya bisa mendapatkan anak perempuan. Namun, ayahmu tidak mau,” ujarnya.
Senja bisa merasakan bagaimana perasaan wanita, saat menyuruh suaminya untuk menikah lagi. Di saat rahimnya tidak ada lagi, wanita yang kini tersenyum di depannya adalah wanita yang kuat selalu bisa menempatkan dirinya untuk selalu bahagia. Walau sebenarnya rapuh.
__ADS_1
Hidup di dunia ini yang paling membuat wanita menderita adalah tetap tersenyum dan pura-pura bahagia, itu sangat menyiksa batinnya. Di sisi lain saat ia ingin diperhatikan, tapi keadaan yang membuatnya harus berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya, kadang ia rela hanya makan nasi saja yang penting anak-anaknya bisa makan pakai lauk.
Tidak semua wanita bisa mempertahankan sebuah tali rumah tangga yang sudah mulai tidak sehat, yang membuatnya bertahan adalah karena ikatan buah hatinya. Di saat wanita lain bisa shopping dan nyalon, ada wanita yang harus mencari rezeki di teriknya sinar matahari, apapun itu akan dikerjakan asal halal dan anaknya bisa makan tiap hari.